Semalam di Pulau Pribadi Tommy Winata (1)
17:06 | Wednesday, 3 June 2009Oleh: Indrawan, Lampung
Sabtu (30/5), begitu turun dari pesawat di Bandara Radin Inten II, Lampung, terpaan udara sejuk langsung terasa di kulit. Bandara Raden Inten II baru-baru ini menyandang predikat sebagai bandara internasional. Runway (landasan pacu) bandara itu kelihatan baru. Landasan pacu baru saja diperpanjang untuk bisa menampung pesawat berbadan lebar. Panjang runway di bandara itu sekitar 2.250 meter. Bandara Radin Inten II sebenarnya tergolong di bawah kelas bandara berskala internasional, seperti Bandara Soekarno-Hatta. Maskapai penerbangan yang melayani rute Jakarta-Lampung hanya Merpati Nusantara Airlines, Sriwijaya Air, dan Batavia Air. Dengan frekuensi penerbangan pada pagi dan sore hari. Tidak ada flight langsung ke luar negeri. Lampung memang unik. Sebab, hampir tak ada penerbangan langsung dari seluruh penjuru kota di Indonesia. Jika ingin ke Lampung harus via Jakarta. Begitu juga jika ingin keluar dari Lampung melalui jalur udara. Fasilitas bandara itupun belum termasuk bagus.
Bangunan bandara yang melayani rute domestik hanya satu yang dibagi menjadi terminal kedatangan dan keberangkatan. Sarana transportasi pendukung lainnya belum memadai. Gedung utama di bandara itu sangat sempit. Sarana pendukung transportasi lain pun belum tersedia. Bus Damri, khusus angkutan bandara, juga belum ada yang melayani ke bandara itu. Sehingga penumpang harus menggunakan kendaraan pribadi atau taksi. Biaya taksi juga relatif mahal. Untuk tujuan jarak dekat, seperti Natar, mencapai Rp65.000, sedang jarak jauh, seperti Krui Lampung Barat, mencapai Rp800.000. Jalan ke arah bandara itu adalah jalan lintas Sumatera. Sehingga, hampir semua truk dan bus yang menuju Jawa atau ke daerah Sumatera lainnya selalu melintas di depan bandara tersebut. Hal itu mengakibatkan jalan ke bandara itu sering macet. Yang cukup melegakan yaitu kondisi jalan yang tergolong bagus meski kecil dan bergelombang. Jarang ditemukan jalan berlubang. Bandara Radin Inten II adalah bandara domestik utama dan satu-satunya di Provinsi Lampung. Nama bandara itu awalnya Branti, dan pernah diubah menjadi Bandara Asih Triranti, yang diambil dari nama salah seorang pramugari pesawat yang tewas akibat jatuh di bandara itu. Namun nama itu kurang dikenal, hingga kemudian resmi diganti dengan nama pahlawan nasional asal Lampung, Radin Inten II.
Satu komentar untuk “Semalam di Pulau Pribadi Tommy Winata (1)”
Beri komentar
3. Menurut Anda Apa Latar Belakang yang Cocok bagi Calon Wali Kota yang akan Memimpin Medan 5 Tahun Mendatang?
- Profesional (45%, 73 Votes)
- Akademisi (13%, 21 Votes)
- Birokrat (11%, 18 Votes)
- Politisi (11%, 18 Votes)
- Pengusaha (11%, 17 Votes)
- Lain-lain (9%, 14 Votes)
Total Voters: 161


assalamualaikum pak Pimred, banyak pitis kalo jalan-jalan ke Pulau Tomi Winata