Benarkah Airbus Pesawat Maut?
18:16 | Thursday, 2 July 2009
ADAKAH pabrik pesawat buatan Eropa, Airbus, menghasilkan pesawat yang tidak aman? Itulah yang hinggap di pikiran awam begitu mendengar berita ketiga kalinya selama tahun ini, pesawat buatan Airbus jatuh dan menewaskan seluruh isi pesawat.
RATUSAN orang tewas akibat jatuhnya tiga pesawat Airbus itu. Pesawat airbus terakhir jatuh Selasa 30 Juni dan mengangkut 153 penumpang dari Yaman ke kepulauan Komoro di Samudra Hindia.
Kecelakaan pesawat Airbus pertama tahun ini terjadi di New York. Karena bertabrakan dengan sekawanan burung, dua motor pesawatnya jatuh, tapi untungnya pesawat milik maskapai penerbangan US Airways itu berhasil mengadakan pendaratan darurat di Sungai Hudson. Tak seorangpun cedera.
Sebulan lalu, pesawat Airbus milik maskapai penerbangan Air France jatuh di Samudra Atlantik, menewaskan 228 orang penumpang dan awaknya. Sekarang jatuh pesawat ketiga di kepulauan Komoro.
Secara statistik tidak ada masalah dengan pesawat Airbus. Jumlah pesawat jatuh itu membantah emosi yang mengecam Airbus. Airbus membangun pesawat yang sangat aman yang dengan disain moderen dan perlengkapan elektronikanya berhasil terbang sampai jutaan kilometer per tahunnya.
Dalam hal ini, tidak banyak beda antara Airbus dengan Boeing, perusahaan Amerika saingannya. Kabar burung bahwa pilot Airbus tidak bisa campur tangan karena sistem kendali otomatis fly-by-wire dan sistem elektronika canggihnya tidak lebih dari omong kosong belaka.
Mengemudikan pesawat Airbus dengan tangan memang repot, tapi tetap mungkin. Dalam jenis barunya, Boeing juga menggunakan sistem yang sama. Tahun-tahun belakangan jumlah kecelakaan pesawat rata-rata sama di antara pelbagai perusahaan pesawat.
Kecelakaan pesawat Ilyushin dan Tupolev justru lebih sering. Tapi itu karena kurangnya perawatan di negara-negara yang banyak menggunakan pesawat Rusia ini.
Seperti disarikan dari situs Radio Nederland Wereldomroep dituliskan ada persamaan antara kecelakaan pesawat Airbus milik Air France dengan milik Yemenia. Pada keduanya cuaca sangat buruk berperan penting. Dalam kasus Air France kemungkinan pesawat Airbusnya terjebak dalam cuaca sangat buruk. Pilot seharusnya bisa menghindari wilayah bercuaca buruk ini, tapi mengingat besarnya wilayah itu, penghindaran ini bisa berarti bahwa belok sampai sejauh 1.000 kilometer.
Ketika hampir mendarat, pesawat Airbus milik maskapai penerbangan Yemenia terjebak dalam cuaca sangat buruk. Bandara lain sebagai ganti bandara Maroni, terletak beberapa ratus kilometer dari situ, dan jalur pendaratannya juga terlalu pendek.
Sama seperti para pilot pesawat Air France, pilot Yemenia tampaknya juga memutuskan untuk menghadapi saja cuaca buruk itu.
Sekitar 60 persen kecelakaan terjadi pada saat mendekati bandara atau menjelang pendaratan, 56 persen kecelakaan terjadi karena pilot membuat kesalahan prakiraan, 17 persen disebabkan oleh gangguan di bandara tujuan dan sisanya 13 persen lagi akibat cuaca buruk. (RNW/val)
Beri komentar
3. Menurut Anda Apa Latar Belakang yang Cocok bagi Calon Wali Kota yang akan Memimpin Medan 5 Tahun Mendatang?
- Profesional (45%, 73 Votes)
- Akademisi (13%, 21 Votes)
- Birokrat (11%, 18 Votes)
- Politisi (11%, 18 Votes)
- Pengusaha (11%, 17 Votes)
- Lain-lain (9%, 14 Votes)
Total Voters: 161

