Keluarga David Hartanto, setelah Empat Bulan Kematian yang Misterius Itu

11:42, 02/07/2009

Ratusan juta rupiah sudah dihabiskan keluarga Hartono Widjaja untuk membiayai perjuangannya mencari keadilan bagi anaknya, David Hartanto Widjaja, yang terbunuh di Singapura. Hingga kini, sudah empat bulan berlalu, kematian mahasiswa Nanyang Technological University (NTU) itu masih bersaput misteri.

ZULHAM MUBARAK, Jakarta

WAJAH Hartono tampak lelah. Pria 56 tahun itu beberapa kali mengelap kacamatanya yang berembun dengan sapu tangan. Saat mengelap itu, tangan kanannya terlihat bergemetar.

”Hati saya rasanya disilet-silet setiap kali mendengar orang membicarakan dan bertanya perihal anak saya,’’ ujarnya lirih. ‘’Seakan-akan dia masih hidup dan ada di samping kami,’’ sambungnya sambil mengelus dada.

Siang itu Hartono, didampingi tim pengacara yang diketuai O.C. Kaligis, memiliki agenda untuk memaparkan temuan dan data seputar kematian David kepada wartawan. Keterangan pers itu diberikan di sela waktu menunggu keputusan sidang koroner di Singapura yang menangani kasus kematian David.
Seperti diberitakan, tubuh David ditemukan tewas di kampusnya, NTU Singapura, pada 2 Maret lalu. Semula media massa di sana menyebut kematian David karena bunuh diri. Pemuda 22 tahun itu diberitakan melompat dari lantai enam kampusnya setelah berusaha menikam dosennya, Prof Chan Kap Luk. Tapi, belakangan berita itu semakin janggal. Ini setelah pihak keluarga gigih mengungkap satu per satu fakta yang memperkuat dugaan bahwa David dibunuh. Selanjutnya, kasus ini pun disidangkan di Singapura.

Setiap kali sidang, keluarga David selalu hadir. Tapi, sejauh ini, fakta yang diangkat di sidang sangat mengecewakan Hartono dan keluarga. Ada kesan kuat bahwa pemerintah Singapura tidak serius menangani kasus tersebut, dan ada juga kesan adanya fakta yang ditutup-tutupi.

Meski demikian, Hartono tak pernah lelah untuk terus memperjuangkan keadilan bagi putranya. Kemarin, di depan wartawan, dia kembali menunjukkan kumpulan foto yang diambil sesaat pasca David tergeletak tak bernyawa. Pada foto-foto itu, tergambar ilustrasi posisi mayat David yang berkaus kuning dan bercelana krem dalam posisi tertelungkup.

Pada sebagian besar tubuh David terlihat luka-luka sayatan dan bekas luka tusuk yang letaknya merata di sekujur tubuh. Otot tendon di pergelangan tangan kanan David terputus dengan luka menganga. Di telapak tangan David juga ada sejumlah luka sayatan yang terlihat masih merah oleh darah.

‘’Hasil otopsi membuktikan bahwa ditemukan 36 luka, 14 di antaranya karena pisau. Umumnya di bagian tangan, sisanya luka memar, termasuk di bagian leher dan luka dalam. Bagaimana bisa dia dibilang bunuh diri?’’ terang Hartono.
Sejumlah kejanggalan juga ditemukan. Misalnya, posisi pisau yang ditemukan di TKP (tempat kejadian perkara), letak jatuhnya 150 meter dari posisi tubuh David. Selain itu, bercak darah justru ditemukan di sekitar ruang Profesor Chan Kap Luk, bukan di tempat David menuju balkon tempat dia menjatuhkan diri. ‘’Bagaimana bisa seorang dengan tendon putus dan kaki tertekuk berjalan dan melompat. Justru dosen yang mengaku akan dibunuh malah sehat dan segar bugar,’’ terangnya.

Hartono mengatakan, fakta-fakta itulah yang selama ini memotivasi dia dan seluruh anggota keluarga untuk terus berjuang mencari keadilan. Sampai saat ini, dia mengaku sudah menghabiskan uang ratusan juta rupiah atas upayanya tersebut. Biaya itu dibelanjakan untuk mitigasi dan transportasi Indonesia-Singapura. ‘’Untuk biaya pengacara asal Singapura Sashi Nathan saja kami membayar SGD 50 ribu (sekitar Rp 354 juta). Itu pun belum terbayar semua,’’ ujarnya.

Jika dihitung-hitung, Hartono dan keluarga sudah sepuluh kali wira-wiri ke Negeri Singa, baik untuk mengikuti sidang maupun proses pencarian fakta bersama tim verifikasi. Awalnya, kata Hartono, keluarganya nyaris putus asa ketika memperhitungkan besarnya biaya dan proses yang harus dilalui untuk dapat menemukan keadilan.

Beruntung, kata dia, setelah kasus David mencuat di media massa, bantuan pun datang silih berganti. Bahkan, ada sejumlah rekening yang dibuka orang-orang yang tak mau disebut namanya. Mereka lantas menyerahkan uang hasil donasi itu kepada pihak keluarga Hartono. ‘’Kami bersyukur dan sangat terbantu sehingga kami bisa kembali bangkit,’’ tegasnya.

Selama proses menncari keadilan, keluarga Hartono juga telah mengalami jalan berliku. Tak terhitung berapa kali dia dan keluarga yang berangkat memperoleh keterangan yang tidak rasional dan berliku baik dari aparat Singapura maupun pihak NTU.

Kakak David, William Widjaja, mengenang, ketika pertama mendapat berita kematian David dari staf NTU, datanya simpang siur. Ketika itu pada 2 Maret 2009 pukul 10.15 WIB keluarga mendapat informasi bahwa David jatuh dari lantai enam. Belakangan justru diralat dari lantai empat. Tak hanya itu, kata dia, pihak NTU sempat menghalang-halangi keluarga untuk bisa melihat jenazah David. ‘’Bahkan, ketika malam itu kami sampai di Singapura, TKP sudah dibersihkan tanpa ada perwakilan keluarga dan KBRI yang seharusnya ikut mendokumentasikan TKP,’’ tegasnya.

Hal lain yang cukup membekas di benak William adalah ketika melihat jenazah David pada 3 Maret lalu. Ketika itu jenazah dalam keadaan terbungkus plastik rapat dengan sejumlah bagian tubuh yang ditutupi plaster tiga lapis. Yang terjadi ketika itu juga ironis karena pihak keluarga sempat diintimidasi dan tidak diperbolehkan berlama-lama bersama jenazah. ‘’Kami ditekan agar jenazah bisa segera dikremasi dan itu sungguh menusuk hati karena kami tak sempat memberikan penghormatan terakhir yang layak,’’ kata pria 24 tahun itu.

Ibu David, Tjia Lie Khiun, mempertegas keterangan itu dan memastikan bahwa tuduhan bahwa David telah berusaha membunuh sang profesor sangat menyiksanya. Dia mengaku sempat sulit memejamkan mata hingga berhari-hari pada pekan pertama pasca kematian David. Dalam malam-malam itu Lie sering terbangun dengan tiba-tiba dan menangis karena mengenang sang putra.
Dia teringat masa-masa bahagia ketika sang putra masih mendampinginya dan mampu mengharumkan nama keluarga dan bangsa di forum internasional. ‘’Dia terlihat sangat bangga ketika menjadi salah satu delegasi Indonesia di ajang Olimpiade Matematika 2005 di Meksiko. Senyum itu terus terkenang di hati kami,’’ ucapnya.

Hartono mengatakan, keluarganya sampai saat ini belum menagih janji kepolisian Singapura untuk mengembalikan laptop dan ponsel David. Padahal, dua barang itu sangat vital dan dapat digunakan untuk melacak kemungkinan David meninggal secara tidak wajar. Kepolisian Singapura berjanji memberikan laptop David tujuh hari sebelum sidang. Tetapi, sampai saat ini laptop itu belum juga diserahkan. ‘’Mengapa tidak bisa dikloning (digandakan) data dari laptop milik David, apalagi laptop tersebut bukan sebagai alat kejahatan. Ada apa sebenarnya di balik ini?’’ terangnya.

Hingga saat ini keluarga memang telah melakukan road show ke sejumlah politisi, Mabes Polri dan bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Namun, Hartono mengatakan bahwa semua itu tinggal berita tanpa ada bentuk dukungan konkret.
Lalu sampai kapan dirinya dan keluarga berupaya mengawal proses ini? Tanpa jeda Hartono langsung menyahut tegas. ‘’Sampai kapan pun kami tak akan menyerah. Ini menyangkut nama baik dan harkat bangsa Indonesia di mata Singapura, bukan hanya seorang David,” terangnya. (kum/jpnn)

Beri komentar

 
PLN Bottom Bar