Korban Selamat Berenang di Antara Mayat
11:45 | Thursday, 2 July 2009KOMORO-Identitas korban yang selamat dalam musibah jatuhnya pesawat A 310-200 milik Yemeni Air juga jatuh di Samudra Hindia, dekat Moroni, ibukota Kepulauan Komoro yang tak jauh dari Madagaskar akhirnya diketahui bernama Bahia (Baya) Bakari (bukan bocah berusia 5 tahun melainkan gadis remaja berusia 14 tahun, Red)
Kini Bahia dirawat di rumah sakit El Marouf, Moroni, Kepulauan Komoro.
Sebelum ditemukan tim pencari dan penyelamat (SAR), satu-satunya penumpang selamat ini, berenang di antara mayat yang mengapung. Koordinator Marseille untuk Serikat Solidaritas Komoro, Abdallah Ibrahim, mengatakan, gadis itu tinggal bersama keluarganya di Marseille, Prancis Selatan. Saat musibah itu terjadi, dia berada di pesawat bersama ibunya.
“Tergantung pada kondisinya, dia bisa dievakuasi ke Prancis dan Madagaskar,” kata Ibrahim seperti dilansir Reuters, Rabu (1/7). Anak Baru Gede (ABG) tersebut berhasil diselamatkan petugas SAR saat sedang berenang di laut. Dia terlihat sedang berenang di antara sejumlah jasad korban dan serpihan pesawat.
Gadis tersebut saat ini masih dirawat di rumah sakit. “Dia sadar, dia bisa bicara. Namun kami berusaha membuatnya hangat karena dia menggigil,” kata dokter Ada Mansour.
“Kondisi kesehatannya tidak membahayakan. Dia sempat syok tapi bisa ditenangkan,” tambah Ben Imani dokter rumah sakit El Marouf, kemarin.
Polisi menyatakan perempuan itu ditemukan sekira pukul 04.00 pagi waktu setempat atau Selasa pukul 09.00 WIB. Diperkirakan, remaja putri berusia 14 tahun ini berenang di antara mayat dan serpihan pesawat lebih tiga jam. “Kami sempat melempar tali, namun dia tak berhasil menangkapnya. Dia terus berenang, berenang di antara gelombang dan kami mendapatkannya,” kata seorang polisi.
Hingga kemarin, belum diketahui pasti bagaimana Bakari bisa selamat dari pesawat Yemeni Air A310 yang berpenumpang 153 orang (termasuk 11 kru). Kantor berita AFP memberitakan, Bakari ‘terlempar’ dari pesawat naas itu dan menyebutnya sebuah keajaiban.
Deputi Kepala Penerbangan Yaman, Mohammed Abdul Qader, menjelaskan bahwa remaja putri ajaib ini terbang bersama tiga balita dari Perancis. Qader menolak berspekulasi soal penyebab musibah ini. “Hanya saja cuaca sangat buruk ketika pesawat akan mendarat. Angin bertiup sangat kencang. Ini pula yang menyebabkan sulitnya evakuasi. Angin berkecepatan 40 mil perjam atau sekitar 61 km per jam,” kata Qader.
Selain penumpang warga Komoro, pesawat Airbus 310-300 juga mengangkut penumpang warga negara Indonesia, Kanada, Prancis, Ethiopia, Maroko, Palestina, Filipina dan Yaman. Ini merupakan musibah pesawat Yaman yang kedua. Pada 31 Mei lalu, Airbus A330-200 jatuh di Lautan Atlantik, menewaskan 228 penumpang dan awak, dalam perjalanan dari Rio de Janeiro (Brasil) menuju Paris.
Komoro merupakan kawasan yang terdiri atas tiga pulau yang terletak 3.000 km di selatan Yaman. Posisinya berada di antara pantai tenggara Afrika dan Madagaskar.
Menurut Jenderal Bruno de Bourdoncle de Saint-Salvy, komandan senior Pasukan Perancis di Lautan Hindia, menjelaskan bahwa pesawat ini jatuh di perairan dalam atau sekitar 14.5 km (9 mil) di utara pantai Komoro atau Bandara Moroni di Komoro.
Tim penyelamat sejauh ini telah menemukan beberapa jasad korban dan serpihan pesawat. Enam puluh enam penumpang pesawat adalah warga negara Prancis yang terbang dari Sana’a, ibukota Yaman ke Komoro. Laporan resmi dari Kepulauan Komoro menyatakan 120 penumpang adalah warga negara Komoro yang baru pulang dari Prancis, sementara 20 orang lagi berkebangsaan Prancis.
Laporan kantor berita AFP menyebutkan upaya mencari kotak hitam itu dimulai kemarin. “Sinyal dari kotak hitam telah diketahui Selasa kemarin pada 16.30 waktu setempat oleh antena patroli, sekitar 40 km dari Grande Comore,” kata juru bicara seorang menteri, Alain Joyandet.
Kapal Prancis telah dikirim ke lokasi untuk memulai operasi pencarian, tambah juru bicara tersebut. Menteri transportasi Prancis sebelumnya mengatakan pesawat Airbus 310 sebelumnya sudah dilarang terbang oleh Perancis karena dianggap “bermasalah”. Mengutip Menteri Negara Urusan Transportasi Prancis, Dominique Bussereau, www.jjd.fr memberitakan bahwa pesawat milik perusahaan penerbangan Yaman itu tidak masuk di dalam daftar hitam (black list).
“Seandainya masuk, pesawat tersebut jelas tak akan mendapat izin dari otoritas Roissy,” kata Bussereau. Roissy adalah sebuah bandar udara internasional di Paris tempat di mana Yemenia mulai berangkat.
Prancis dan negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa (UE) selama ini sangat ketat dalam memberi izin bagi pesawat-pesawat milik maskapai asing untuk bisa terbang ke sana. Jika suatu negara dianggap buruk dalam sistem keselamatan transportasi udaranya, UE akan melarang penerbangan dari negara itu untuk masuk.
Perusahaan penerbangan Kepulauan Komoro termasuk di dalam daftar hitam perusahaan penerbangan, yang telah dilarang terbang dari dan ke wilayah Eropa.
Semua penumpang dilaporkan telah naik pesawat Yemenia A330 dari Roissy pada Senin (29/6). Setelah singgah sebentar di Marseille, Prancis, pesawat itu melanjutkan penerbangan ke Sana’a, dan di sana mereka mengganti pesawat dan naik A310 yang jatuh itu.
WNI Pramugari Tamatan Jogjakarta
Salah satu korban pesawat Airbus milik maskapai Yemenia yang jatuh di Samudera Hindia adalah WNI. Dia adalah pramugari bernama Richa Dwi Margaretha (21). Richa adalah anak kedua dari tiga bersaudara putri pasangan Suyono dan Dwi Nuryanti. Richa lahir pada tahun 1988. Ibu Rika saat ini berada di Hongkong sebagai TKW dan sudah 10 tahun berada di negara tersebut.
Kerabat Richa, Samani menuturkan pihak keluarga mendapat mendapat kabar kalau Richa menjadi korban pada pukul 15.00 WIB, Selasa (30/6) kemarin. Yang mengabarkan keluarga kata dia adalah pihak Departemen Luar Negeri (Deplu).
“Bapaknya mendapat telepon dari Deplu kemarin sore,” ungkapnya kepada wartawan di depan rumah Richa di di RT 6 RW 1 Desa Duyung, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Rabu (1/7).
Saat ini ayah Richa sedang meluncur ke Jakarta untuk mengikuti perkembangan nasib anaknya. “Bapaknya sekarang berangkat ke Jakarta tadi pagi,” kata Samani. Keluarga hingga kini masih berharap keajaiban. Keluarga mengaku hingga kini belum ada kepastian dari pihak terkait tentang keadaan Richa. Keluarga berharap, Richa bisa selamat dari kecelakaan yang menimpanya.
“Hingga saat ini pihak keluarga belum dapat kepastian apakah Richa menjadi korban tewas atau korban selamat. Pihak maskapai yang ada di Jakarta hanya memberi tahu jika pesawat yang ditumpangi Richa kecelakaan,” ujar Kadimin, paman Richa, Rabu (1/7).
Menurutnya, sejak kabar kecelakaan pesawat tersebut, pihak keluarga hanya dapat memantau perkembangan keadaan Richa lewat berita di televisi. Para anggota keluarga berharap segera ada kepastian dari pihak terkait tentang keadaan Richa.
“Semua anggota keluarga di Magetan sekarang cemas karena belum ada kepastian tentang nasib keponakan kami. Kami berharap, Pemerintah Indonesia dan maskapai penerbangan segera mengurusnya dan memberi kejelasan,” katanya.
Ia menuturkan, Richa setelah lulus dari SMAN 6 Madiun melanjutkan sekolah pramugari di Jogjakarta dan setelah lulus bekerja menjadi pramugari sejak setahun yang lalu.
“Ia pernah pulang cuti tiga bulan lalu. Setelah itu, tugas terbang lagi hingga akhirnya kecelakaan ini. Sejak SMP, Richa telah bersekolah di Madiun. Adapun ibunya, Dwi Nuryati, saat ini sedang bekerja di Hongkong. Di Magetan, Richa tinggal bersama ayahnya, nenek, dan dua orang saudaranya,” katanya.
Richa dikenal guru-gurunya di tempat sekolahnya dulu, SMAN 6 Madiun sebagai anak yang pendiam dan sopan. “Prestasinya memang tidak menonjol tetapi dia termasuk salah satu anak pintar di kelasnya. Nilai Bahasa Inggrisnya juga di atas rata-rata kelas, di atas tujuh,” kata Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMAN 6 Madiun, Budiyono, kemarin.
Di buku induk Siswa SMAN 6, diketahui saat kelas dua dan kelas tiga dia selalu masuk rangking sepuluh besar di kelasnya. Adapun saat kelas satu, dia memperoleh rangking 11 pada semester satu dan 13 pada semester dua.
Dari foto yang ada di buku induk itu, Richa yang berambut panjang terlihat cantik. Menurut guru-gurunya, postur tubuhnya pun tinggi sekitar 1,8 meter. Selama di SMAN 6 Madiun, tidak ada guru yang tahu mengenai cita-cita Richa menjadi pramugari. Guru-guru baru tahu Richa berniat menjadi pramugari setelah di brosur iklan dari pendidikan pramugari di Jogjakarta yang disebar di SMAN 6 ada foto Richa.
“Saat dia lulus, brosur iklan pendidikan pramugari itu juga banyak disebar di sekolah, bisa jadi ketertarikannya pada pramugari karena brosur itu,” kata Enggar Widiastuti, salah satu guru di SMAN 6 Madiun , yang turut bersedih atas meninggalnya salah satu muridnya itu.
Saat ini, perwakilan keluarga sedang menuju kantor maskapai yang ada di Jakarta untuk mencari kepastian tentang keadaan Richa. Sementara itu, suasana di rumah duka digelar doa bersama. Doa bersama itu digelar setelah salat Isya di kediaman orangtua Richa di RT 6 RW 1 Desa Duyung Kecamatan Takeran, Magetan, Jatim.
Rencananya doa bersama akan diikuti oleh 50 orang kerabat dekat dan tetangga dekat Richa. “Kita persiapan saja. Doa bersama diikuti 50 kerabat, walau kita masih belum 100 persen yakin kalau Richa menjadi korban dalam peristiwa itu,” kata Badrus, salah satu kerabat Richa, saat ditemui di rumah orang tua Richa.
Badrus mengungkapkan, keluarga berharap pemerintah dan pihak terkait bisa memastikan dan menyakinkan kalau Richa benar-benar menjadi korban dalam peristiwa tersebut. “Kita berharap pemerintah memastikan dan menyakinkan kalau saudara kami jadi korban dalam peristiwa jatuhnya pesawat itu,” harapnya.
Pantauan wartawan, berbagai persiapan dilakukan oleh pihak kerabat untuk doa bersama tersebut. Lampu di atas pagar rumah orangtua Richa juga diganti.
Pihak Departemen Luar Negeri (Deplu) tengah mengupayakan agar keluarga korban bisa menuju lokasi jatuhnya pesawat di negara bekas jajahan Prancis tersebut.
“Kami mengupayakan agar keluarga bisa mendapatkan peluang terbang ke sana (Komoro),” kata Juru Bicara Deplu Teuku Faizasyah saat dihubungi, kemarin.
Faizasyah menambahkan, pihaknya kini terus melakukan komunikasi dengan KBRI di Komoro untuk memantau pencarian korban yang sedang dilakukan Tim SAR. (afp/rtr/net/bbs/jpnn)
Beri komentar
1. Apakah Anda Yakin Pembentukan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Sumut akan Efektif Menekan Potensi Korupsi Pejabat Publik?
- Tidak Yakin (61%, 118 Votes)
- Yakin (34%, 65 Votes)
- Tidak Tahu (5%, 10 Votes)
Total Voters: 193

