Polisi Buru Munar Dalimunthe
11:42 | Thursday, 2 July 2009MEDAN-Aktor intelektual di balik penyebaran fotocopy kliping media cetak berbau SARA yang merugikan cawapres Boediono, masih dikejar polisi. Kapoldasu Irjen Pol Badrodin Haiti kepada wartawan, Rabu (1/7) mengatakan, rekan tersangka Edi Zein Munar Dalimunthe dan Sukri masih diburu.
”Dalam kasus ini, dua orang rekan Edi Zein tersebut menjadi target pencarian polisi,” tegasnya usai upacara HUT Polri di Mapoldasu.
Bagaimana dengan dugaan keterlibatan Abdul Wahab Dalimunthe yang namanya sempat disebut-sebut tersangka? Ditanya begitu, Badrodin menyatakan belum bisa memberikan keterangan. “Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa dia (Abdul Wahab, Red) terlibat dalam hal ini? Sementara dua orang lagi pelaku belum kita ketahui secara resmi keterkaitannya dalam kasus ini. Nantilah kalau yang dua orang yang melarikan diri ini sudah kita tangkap, kasus ini bisa kita kembangkan, siapa yang menjadi otak pelakunya,” bilangnya.
Badrodin juga menolak jika penyebaran fotocopy kliping itu bagian dari provokasi terhadap pengamanan pilpres. “Wah, selebaran itu bukan bentuk provokasi. Janganlah kita berpikiran yang demikian,” tandasnya. Sementara Kapoltabes Medan, Kombes Imam Margono hanya memberikan komentar singkat. “Pokoknya Edi Zein sudah jadi tersangka. Itu saja komentar saya,” tandas perwira yang baru saja naik pangkat menajdi Kombes itu.
Sedangkan kubu SBY-Boediono tetap meminta JK segera meminta maaf. Permintaan tersebut kembali ditegaskan koordinator kampanye nasional Boediono, Rizal Mallarangeng, dalam jumpa pers di hotel Imperial Aryaduta, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (1/7).
“Katanya JK bisa lebih cepat, kok lama sekali pertanggung jawabannya. Kenapa hal segampang ini ia tidak mau menjelaskan, bagaimana saya bisa percaya dia mampu memimpin negeri ini,” ungkap Rizal.
Rizal sempat ditanya soal kemungkinan dirinya menggunakan hak jawab di Tabloid Monitor. Namun, Rizal tidak memberikan jawaban yang jelas. Dia malah menyebut tabloid tersebut sebagai koran kuning dan comberan.
“Ketika comberan (tabloid Monitor) itu masuk ke ruang Wapres dan mengotorinya, saya sebagai warga negara ini merasa keberatan,” kilah Rizal.
Kemarin, ratusan pendukung JK-Wiranto yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Pendukung JK-Wiranto (Kampung Jawir) mendatangi salah satu markas Tim Kampanye SBY, Bravo Media Centre (BMC), di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta.
Mereka memberi ultimatum kepada Rizal Mallarangeng agar segera meminta maaf kepada JK dalam waktu 2X24 Jam. Para peserta aksi itu menilai Rizal telah melakukan fitnah kepada JK terkait selebaran gelap yang beredar ketika JK berkampanye di Medan.
Mereka juga meminta kepada SBY supaya mencopot Rizal karena dinilai memperkeruh suasana pilpres dan memancing konflik. Dalam orasinya, mereka menuntut agar lingkungan Istana Negara bersih dari “virus flu cheli” yang mewabah dan seolah kebal hukum.
Sementara aksi berjalan dengan damai, pihak BMC menyebarkan selebaran yang berisi jawaban Rizal Mallarangeng terkait kasus di Medan tersebut. Dalam selebaran itu juga, terlihat bahwa Rizal tidak akan mencabut somasinya pada JK.
Anggota Tim Kampanye Nasional (Timkamnas) pasangan capres SBY-Boediyono lainnya, Ramadhan Pohan mengatakan, dari berbagai diskusi yang dilakukan dengan kalangan rakyat bawah, mereka bingung dengan cara-cara yang ditempuh dalam berkampanye pilpres 2009 ini.
Pohan mengaku telah berdiskusi dengan petani, pengrajin, para guru honorer, nelayan, dan kelompok masyarakat dan agama serta tokoh-tokoh masyarakat dan juga wong cilik. “Terutama berbagai kampanye negatif yang ditujukan terhadap pasangan capres SBY-Boediono dan menyeret-nyeret Herawati selaku istri Boediono yang pada akhirnya hanya menghasilkan rasa simpati, kasihan dan makin suka dengan SBY-Boediono,” kata Ramadhan Pohan di Jakarta, Rabu (1/7).
Katanya, kampanye negatif yang menjurus ke arah fitnah dan menebar benci akhirnya menjadi kontradiktif karena rakyat memang tidak menyukainya. Rakyat mempersepsi bahwa SBY sudah di jalur yang benar dalam membela kepentingan rakyat, bangsa dan negara sebagaimana yang diimplementasikan dalam program BLT, BOS, Program Keluarga Harapan, dan Raskin.
Pohan menjelaskan hal itu setelah dirinya melakukan perjalanan ulang ke daerah pemilihannya selaku Anggota DPR terpilih dari dapil VII Jawa Timur. Dapil ini mencakup Pacitan, Magetan, Ngawi, Trenggalek dan Ponorogo. “Saya menyaksikan betul betapa bingungnya rakyat menyaksikan pertengkaran politik di Jakarta. Tapi dibalik semua kebingungan itu, ada satu sikap optimis yang diperlihat rakyat di sana, yakni pilpres akan berjalan tepat waktu dan aman serta presidennya tetap SBY,” katanya.
Dikatakannya, rakyat mengakui dengan komitmen SBY terhadap good governance dan penegakkan hukum. “Terlepas dari hasil survei, ternyata rakyat puas dan percaya SBY,” tegasnya. Kurun waktu lima tahun belakangan, kata Pohan, ternyata SBY secara signifikan mampu meyakinkan rakyat dan dunia internasional. Sementara pasangan capres lainnya, secara relatif memang belum punya kapasitas dipercaya rakyat dan dunia internasional. (mag-1/sya/yan/fas/jpnn)
Beri komentar
3. Menurut Anda Apa Latar Belakang yang Cocok bagi Calon Wali Kota yang akan Memimpin Medan 5 Tahun Mendatang?
- Profesional (45%, 73 Votes)
- Akademisi (13%, 21 Votes)
- Birokrat (11%, 18 Votes)
- Politisi (11%, 18 Votes)
- Pengusaha (11%, 17 Votes)
- Lain-lain (9%, 14 Votes)
Total Voters: 161

