Jauh dari Orangtua, Butuh Perhatian Pengasuh
13:19, 26/08/2009
Menjadi mandiri adalah tuntutan bagi anak-anak yang berada di Rumah Anak Madani (RAM), tempat penampungan korban bencana alam.
Meski jauh dari orangtua, tapi mereka harus tegar menjalani kehidupan, terutama di bulan Ramadan ini. Bagaimana selanjutnya?
Menjalankan ibadah puasa jauh dari orangtua dan saudara sangatlah berat rasanya. Meski pun di hari-hari biasa mampu menjalani kemandirian tinggal tanpa orangtua dan keluarga, namun di bulan ramadan sangat terasa ujian itu. Apalagi, di tahun sebelumnya, banyak kenangan atau kebiasaan yang dilakukan ketika bulan ramadan ini. Tentu kerinduan itu akan lebih mendalam.
Di RAM ini, 280 anak tinggal dan diasuh. Mereka rela meninggalkan orangtua bertahun-tahun lamanyan demi mencapai cita-cita. Ingin menempuh kehidupan dan pendidikan lebih layak, agar di hari depan, kesusahan yang mereka alami kini, tak terulang lagi.
RAM ini, awalnya didirikan sebagai lembaga sosial yang menampung anak-anak korban tsunami. Di rumah yang seperti asrama ini, tentu saja banyak didiami anak yang kehilangan orangtua, saat bencana itu terjadi. Ada pula yang masih memiliki orangtua, namun harta benda untuk menyambung hidup dan pendidikan telah habis tergerus ombak tsunami itu.
Belakangan, tempat yang dilengkapi sarana olah raga dan juga lahan pertanian ini, ditempati juga oleh anak-anak terlantar dan kurang mampu. Sesuai dengan tujuan awalnya, rumah ini didirikan memang sebagai wadah penampungan sosial, yang menampung anak korban bencana alam, anak terlantar dan anak yang orangtuanya tak mampu. Begitupun, untuk menjadi penghuni RAM ini, ada tes dan seleksi yang harus dilalui.
Di bulan Ramadan ini, aktivitas anak-anak di asrama sangat berbeda di hari biasanya, khususnya di malam hari. Sebab, jika hari biasanya di malam hari, mereka berkumpul untuk les tambahan atau mengerjakan tugas. Namun, di bulan ramadan, selain les tambahan dan mengerjakan tugas, di malam hari ada aktivitas tambahan yaitu tadarus dan taraweh bersama.
Ketika wartawan koran ini menyambangi RAM, kemarin sore terlihat anak-anak RAM sedang berkumpul di aula. Sesuai jadwal, mereka akan melakukan tadarus. Irwansyah, Syahrul Ramadani, Fahrul Rozi, Sulaiman Hakim, Ulil Amri, Mihdad Abdullah, Toni Lubis, Nussaima, Nurhayani dan Nora Ardilla adalah anak asal korban longsor Madina di tahun 2006. Mereka telah menetap di RAM ini sejak tiga tahun lalu, usai bencana longsor itu melanda. Dari mereka masing-masing, tak ada yang kehilangan orangtua dan saudara karena bencana ini, namun mereka kehilangan materi. Itulah sebabnya kenapa mereka terpaksa dikirim ke asrama ini oleh orangtuanya.
Mihdad mengatakan, dulunya di tahun pertama tinggal di rumah ini sangat terasa. Biasanya ketika berbuka puasa menyantap hidangan buatan ibu bersama-sama, di sini hanya bersama teman. “Kalau sekarang sudah terbiasa. Di sini banyak teman yang selalu buat ramai suasana,” ungkap Mihdad.
Begitu pula dengan Nursaima, ia bilang ia sudah terbiasa berjauhan dengan keluarga. Sebab, sudah tiga tahun ia lalui masa-masa seperti ini. Meski pun jarang dijenguk orangtua, ia bilang setahun sekali rasanya sudah cukup untuk mengobati rindu dan kumpul bersama keluarga. “Lebaran nanti rencananya pulang, kami mendapat jatah libur dua minggu,” kata Nursaima, putri asal Madina ini.
Meski pun mereka terlihat sudah terbiasa dengan keadaan yang memaksa mereka mandiri, namun menurut Umi Lina, seorang pengasuh yang dipercaya sebagai pembimbing psikolog ini mengatakan, terkadang mereka terlihat ingin dimanja.
Kalau dari segi psikologis, mereka tak ubahnya anak-anak pada umumnya. Hanya saja, kadang mereka mengalami masa sensitif, mungkin karena jauh dari orang-orang yang mereka sayangi.
“Jadi, sikap yang biasa tampak pada mereka, bahwa mereka terkadang memiliki kecemburuan, jika kita memperlakukan teman yang lain lebih. Misalnya si kawan sakit, kita beri perhatian, yang lain agak merasa cemburu dan terkadang juga ikut mengaku sakit. Intinya, mereka butuh perhatian lebih,” ungkap Lina.
Namun, tambah Lina, kami tak pernah kerepotan dengan sikap mereka. Mereka telah dididik disiplin dan semuanya baik-baik. (bersambung)

