Rindu Keluarga, tapi Tetap Kejar Cita-cita

11:56, 25/08/2009
Rindu Keluarga, tapi Tetap Kejar Cita-cita

Bencana tsunami lima tahun lalu masih tetap terekam di benak mereka. Gumpalan ombak besar itu menyapu bumi Aceh dan Nias. Banyak anak yang seketika menjadi Yatim Piatu. Sebaliknya, banyak orangtua yang harus rela kehilangan buah hatinya.

MUHAMMAD Tazli , Medan

Sebuah lembaga sosial berupaya mengumpulkan anak-anak korban bencana alam ini di Rumah Anak Madani (RAM) Simaklah kisah mereka di bulan ramadan ini? 

RAM merupakan wadah sosial yang menampung anak-anak korban bencana alam, yatim piatu maupun anak terlantar. Kegiatan anak-anak di RAM yang terletak di Jalan Veteran Pasar VII Desa Manunggal Deli Serdang ini selama bulan Ramadan memang tak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Untuk mengisisi waktu-waktu anak yang diasuh di rumah pendidikan RAM ini, malam hari anak-anak mengadakan tarawih bersama dan tadarus.

“Kegiatan seperti biasa saja, karena mereka siang atau sore bersekolah. Jadi kalau malam mereka tarawih dan tadarus bersama. Dan Kultum (kuliah tujuh menit) seperti ceramah, diperbanyak di bulan ramadan ini,” ujar Hendri, Kepala Pengurus RAM yang akrab disapa anak-anak dengan sebutan Abi.

Hendri bilang, sebagian anak sudah ada yang kembali ke Aceh, sedangkan penambahan terus terjadi. “Di sini, anak-anak yang diasuh tidak hanya anak yang berasal dari korban tsunami Aceh saja, melainkan banyak juga yang berasal dari anak-anak yang tidak mampu,” bilang Hendri.

RAM ini berfungsi sebagai rumah asuh yang mendidik anak secara informal, sedangkan pendidikan formal diserahkan ke sekolah anak masing-masing yang telah dipilih.

Anak-anak yang diasuh di RAM ini terlihat tetap tegar dan mandiri. Walaupun mereka harus berjauhan dari orangtua dan saudara. Mereka hidup tanpa belaian tangan orangtua. Tentu saja rasa rindu yang mendalam harus mampu mereka pendam. Demi tercapainya cita-cita.

Kebanyakan anak RAM ini bersekolah di sekolah terdekat seperti PAB atau Sinar Husni. Lilis Ulzaiti, seorang korban tsunami Aceh lima tahun lalu ini kini telah menjadi seorang remaja. Ia kini kelas I SMA di PAB Helvetia. Masih jelas diingatannya peristiwa yang merenggut nyawa kakak dan adiknya yang berada di dalam gendongan ibunya saat badai tsunami itu menerjang.
“Kalau bulan puasa begini, sangat terasa berbeda dengan bulan puasa sebelum tsunami. Kalau dulu, menghabiskan waktu sama adik, ngangguin dia sama kakak. Sekarang sendiri aja lah,” katanya.

Lilis bilang, rasa rindunya pada keluarga sedikit terobati saat ayahnya menjenguknya beberapa hari lalu, menjelang puasa. Meski tak bersama ibunya, ia maklum. Itu pun sudah cukup mengobati rindunya. “Biasanya menjelang puasa, ibu yang datang. Tiap tahun. Kemarin itu gantian, ayah pula yang menjenguk. Tapi tak apalah, mungkin ibu lagi sibuk,” ungkapnya dengan mata berkaca.

Lilis adalah seorang korban tsunami yang sempat kehilangan ayah. Sebab, saat itu sang ayah sedang melaut. Lilis akhrinya menemukan ayahnya setelah beberapa hari kemudian. Sempat juga Lilis kehilangan ibu, tapi tak berselang lama. Namun, adik dan kakaknya sampai kini tak tahu kemana kabarnya.
Saat ditanya apakah ia betah di tempat ini, Lilis mengaku berupaya untuk membetahkan diri, demi terwujudnya cita-cita agar orangtuanya tak kecewa padanya. Ia menyadari kalau dirinya harus mampu hidup sendiri, mandiri tanpa sentuhan orangtua kandungnya. “Di sini kan ada orangtua asuh, jadi seperti ayah dan ibu sendiri. Di sini juga banyak kawan-kawan,” ungkapnya.
Setelah selesai menempuh pendidikan di SMA, Lilis berencana mengikuti ujian tes PMP, masuk Universitas tanpa testing UMB, yang ada di sekolahnya kini. “Ya mudah-mudahan lulus tanpa testing, biasanya PMP dari sekolah, kalau enggak USU, IAIN,” jelasnya.(bersambung)

Beri komentar

 
PLN Bottom Bar