Tak Perlu Malu Jelaskan Seks

10:58, 11/10/2009

Sore itu Rika Kartika sedang duduk-duduk santai di halaman rumah bersama buah hatinya, Riana (5 tahun). Tiba-tiba wajah Rika menegang penuh cemas saat melihat anjing tetangga sedang kawin, tepat di depan rumahnya yang pagarnya sedang terbuka lebar. “Duh, jangan lihat ke situ Nak…,” katanya dalam hati, berharap-harap.

Tapi, tak sampai satu menit, apa yang dikhawatirkan Rika terjadi. Riana anaknya yang semula asyik bermain, tiba-tiba menoleh dan melihat proses biologis hewan berkaki empat itu. Riana yang tak pernah melihat adegan semacam itu sebelumnya, kontan saja bertanya, “Ma, anjing itu lagi ngapain tuh? Kok begitu sih?”

Tak siap dengan pertanyaan anaknya, Rika pun gelagapan dan sibuk mengalihkan perhatian, “Ke dapur yuk Nak. Kamu pasti sudah lapar kan?” Tanpa menunggu jawaban anaknya, Rika pun langsung menggiring Riana masuk ke dalam rumah. Satu kesempatan pun lewat.
Di lain waktu, ibu dua anak yang tinggal di Jalan Seikambing Medan ini menghadapi pertanyaan soal seks. Ma, tempat buang pipis Adek kok lain dengan punya abang?

“Ma, darimana datangnya Adek?” Mama dapatin Adek karena dikasih sama Tuhan ya Ma,” tanya Riana. Sontak saja Rika tergugup untuk menjawab pertanyaan bijak dari anaknya itu. Lagi-lagi, Rika tidak menjawab dan malah mengalihkan perhatian anaknya.
Padahal, menurut Fachnita Psi, Psikolog dari Galatea, kesempatan seperti itu adalah golden moment untuk melakukan edukasi seks pada anak. “Karena tidak siap, orangtua tidak merasa kalau kesempatan seperti itu adalah momen yang mahal,” kata dia.

Momen tersebut, sambungnya, bisa dimanfaatkan orangtua untuk menerangkan bahwa anjingnya sedang kawin. Dari jawaban pertanyaan pertama biasanya pertanyaan anak akan terus merembet ke pertanyaan lanjutan, mengapa, kenapa, dan seterusnya. “Memang, kalau orangtua tidak siap bagaimana caranya menjawabnya, orangtua akan gelagapan dan panik, sampai akhirnya malah memarahi anaknya,” tambahnya.

Tetapi kalau orangtua siap, lanjutnya, dia bisa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjelaskan bahwa anjing perlu kawin untuk berkembang biak, demikian juga manusia dan hewan lainnya. Dari perkawinan menghasilkan anak atau keturunan. Tetapi beda dengan hewan, manusia tidak bisa kawin sembarangan. Harus ada perasaan sayang, cinta kasih, dan sebagainya. “Di situlah nilai-nilai moral tentang seks bisa ditanamkan pada anak,” urainya mencontohkan.

Seperti Rika, menjawab pertanyaan anaknya mengenai seks merupakan salah satu tugas yang sangat ditakuti. Jangankan untuk berdiskusi dan mengedukasi anak, baru mendapatkan satu pertanyaan yang sudah menjurus ke arah seksualitas saja, banyak orangtua yang sudah merasa rikuh dan kemudian menghindar. “Edukasi seks perlu diberikan sejak dini kepada anak. Tapi harus disesuaikan dengan usia anak.

Cara edukasi seks untuk anak usia 5 tahun tentu berbeda dengan usia 17 tahun. Jadi, anak tak hanya mengetahui informasi yang jelas dan benar mengenai seks, tetapi juga mengetahui hal-hal yang baik dalam hal seksualitas, sesuai dengan norma agama dan sosial,” bilangnya.
Tak hanya pada hal-hal yang bersifat seksual, Fachnita menambahkan, pendidikan seks juga menjadi bekal untuk mempersiapkan anak-anak kita, agar kelak mereka menjadi orangtua yang baik sesuai peran jenis kelaminnya. Untuk laki-laki menjadi ayah yang baik, yang perempuan, menjadi ibu yang baik. “Tentu dengan segala aspek dan kemampuan yang lebih luas dari sekadar aspek seksuailtas tadi,” tuturnya. ebaliknya, perasaan malu, rikuh atau tabu yang diperlihatkan oleh orangtua ketika anak bertanya mengenai seks, biasanya diartikan oleh anak sebagai petunjuk bahwa orangtua tidak menyukai pertanyaan semacam itu. Karena alasan itu, mungkin anak tidak mau lagi bertanya, meskipun rasa ingin tahu itu tidak pernah berhenti. “Anak cenderung akan mencari tahu jawaban dari rasa ingin tahunya melalui berbagai macam media termasuk pada teman sebaya, yang belum tentu benar,” urainya.

Apalagi, Fachnita bilang,  dengan berkembangnya informasi dan teknologi, anak pun dikepung dengan berbagai teknologi, seperti handphone, komputer, internet, game dan lain sebagainya. “Orangtua jangan menutup-nutupi lagi. Edukasi seks harus terbuka,” pungkasnya. (ila)

[subberita]

Jangan Panik dan Berbohong 
Perkembangan teknologi informasi membuat anak-anak kita sangat mudah mendapatkan informasi mengenai apa pun, tidak terkecuali seks. Tidak jarang, informasi yang mereka dapatkan secara bebas tersebut memicu rasa penasaran. Bagaimanakah orangtua harusnya bersikap?
Menurut Fachnita, Pikolog dari Galatea, dalam pendidikan seks, nomor satu yang perlu ditanamkan pada anak adalah kesadaran tentang dirinya, dan apa yang dimilikinya. Tekankan pada anak, bahwa apa yang dia miliki itu, tidak bisa sembarangan dipegang orang dan harus dijaga dengan baik. “Ada daerah yang benar-benar “harga mati”, yaitu daerah yang tidak boleh dipegang orang yaitu, daerah antara kedua paha, seperti paha dalam dan alat genital serta daerah di antara kedua lengan, yaitu dada, khusus untuk anak perempuan. Kecuali, karena alasan medis.

Ada juga “daerah putih”, yaitu daerah antara tangan sampai siku dan daerah antara kaki sampai lutut, yang boleh dipegang oleh orang lain. Di luar itu, tambahnya, ada daerah abu-abu”, daerah antara dengkul sampai pangkal paha. “Perlu juga disampaikan pada anak, pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik yang akan terjadi pada dirinya. Namun, sebaiknya hal tersebut diberikan secara mencicil,” katanya.
Contohnya bila sedang memandikan anak balita, orangtua bisa memberitahukan tentang akan tumbuhnya rambut lain di bagian tubuhnya bila sudah besar, misalnya, akan ada rambut di ketiak dan kemaluan anak. Ketika masuk masa puber, anak harus dipersiapkan menghadapi perubahan.

Terangkan juga, bahwa ketika anak sudah puber, hal-hal yang perlu dijaga baik-baik itu harus dipertahankan dan tidak bisa main-main lagi. Jelaskan bila mereka bermain-main di “daerah merah” yang perempuan bisa hamil, yang laki-laki sudah bisa menghamili. “Itu perlu ditanamkan pada anak, bahwa ini tidak main-main. Tetapi tentu dengan cara yang tidak membuat panik sehingga anak bisa lebih paham dan bisa menjaga dirinya,” katanya.

Jika penjelasan yang diberikan sudah cukup lengkap, sebaiknya berikan pula penjelasan tentang berbagai perilaku seks menyimpang yang perlu dihindari oleh anak-anak. Misalnya, tentang lesbian atau homoseksual. Orangtua perlu menjelaskan dengan dengan jelas, singkat dan sederhana tentunya dengan seobjektif mungkin. “Katakan pada anak kalau lesbian dan homoseksual di larang agama karena Tuhan sudah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling menyayangi,” paparnya.

Menurutnya, tidak ada usia tertentu untuk pendidikan seks. Pendidikan seks harus lebih merupakan proses, dari waktu ke waktu. Apa pun yang ingin diketahui anak, harus dijawab agar keingintahuan alami dari anak-anak terpenuhi begitu mereka dewasa.

Bila anak tidak bertanya mengenai seks, tidak berarti Anda tak perlu membicarakan mengenai seks dengannya. Saat anak berusia 5 tahun, Anda dapat memperkenalkan buku-buku mengenai perkembangan seksualitas yang sesuai dengan usia anak.

Fachnita memberikan tips edukasi seks pada anak. Kata dia, sebelum tiba waktunya, persiapkan diri baik-baik. Orangtua harus selangkah lebih maju mengenai masalah seksualitas dengan membaca berbagai informasi melalui buku-buku yang benar.

Meski pertanyaan anak mungkin mengagetkan, cobalah untuk bersikap tidak panik. Tenangkan diri dan sampaikan hal mengenai seks kepada anak dengan cara yang wajar. Gunakan bahasa sederhana sesuai usia anak.

Jawaban jangan sekali-kali berbohong. Jangan menutup diri. Sebaliknya, bukalah kesempatan terjadinya diskusi dengan anak. Bila orangtua sendiri masih kurang mampu menjelaskannya atau ragu, tidak ada salahnya mencari informasi bersama anak melalui buku yang benar dan membahasnya bersama-sama. (ila) [/subberita]

Beri komentar

 
PLN Bottom Bar