Ciptakanlah Suasana yang Menyenangkan
10:12 | Thursday, 21 January 2010Membangun Jembatan Emosi Antara Pengajar dan Siswa (1)
Mengapa jembatan emosi antara pengajar dan siswa diperlukan? Hal ini berfungsi antara lain untuk, mengajak siswa keluar dari keadaan mental yang pasif atau resisten. Menyingkirkan rintangan belajar. Merangsang minat dan rasa ingin tahu siswa.
Memberi siswa perasaan positif mengenai topik pelajaran. Menciptakan siswa yang tergugah untuk berpikir, belajar, mencipta, dan bertumbuh. Mengajak siswa keluar dari keterasingan dan masuk ke dalam ko-munitas belajar.
Rintangan belajar, merupakan hal yang paling krusial, dan yang harus disingkirkan. Unsur-unsur rintangan belajar itu adalah, tidak merasakan adanya manfaat pribadi. Takut gagal. Acuh, benci, dan bosan pada topik pelajaran. Semua rintangan ini dapat menyebabkan stress, kebas otak, dan kemampuan belajar yang merosot tajam.
Komponen yang jadi landasan, asas utama, yakni, sertifikat mengajar -atau dokumen yang memberi Anda izin mengajar- hanya memberi Anda wewenang untuk mengajar. Sesungguhnya, mengajar adalah hak untuk diraih, yang diberikan oleh siswa, bukan diberikan oleh sertifikat atau dokumen yang sejenis. Untuk mendapatkan hak mengajar, pertama-tama Anda diharuskan memiliki kemampuan untuk memba-ngun jembatan emosi, dimana Anda akan memasuki kehidupan siswa Anda. Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka, merupakan prinsip sejati, sebagai langkah awal yang memberikan Anda hak untuk mengajar.
Asas ini akan memberikan hak ke-pada guru untuk memimpin, menuntun, dan memudahkan kesadaran siswa belajar efektif Anda dapat membawa mereka ke dalam dunia Anda, dan memberikan mereka pemahaman Anda mengenai isi dunia. Di sinilah kosa kata, model, mental, rumus, dan lain-lain baru dapat dibeberkan.
Dalam sekolah yang konvensional, ada kecenderungan menarik namun sangat meresahkan. Dengan kelompok anak berkemampuan tinggi, guru cenderung banyak senyum, mengobrol dengan akrab, berbicara dengan cara lebih intelektual, penuh humor, dan bertindak lebih matang. Sementara dengan kelompok anak berkemampuan rendah, ataupun paspasan, guru cenderung berbicara lebih keras dan lamban (seolah-olah siswa tidak mendengar), pelit senyum, ketus, lebih instruksional, dan otoriter. Bahkan, ada guru yang malas masuk ke kelas, karena siswa yang akan diajarinya adalah siswa-siswa yang berkemampuan rendah.
Padahal, seyogianya, seorang guru tidak boleh berprasangka terhadap siswanya. Guru tidak boleh memberikan cap terhadap siswanya, apakah sebagai pelaku akademis tinggi, atau rendah.
Geoffery Caine dan Renate Num-mela Caine dalam bukunya Education on the Edge of Passibility (1977) mengatakan, keyakinan guru akan kemampuan semua siswa untuk belajar dan berprestasi merupakan hal penting diperhatikan. Aspek mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan pemikiran siswa yang diciptakan guru. Guru harus memahami, perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh kuat pada proses belajarnya. (bersambung)
Oleh: Ir junardi M
Kepala Cabang sekaligus Guru di Quantum Institute Medan
Tags: ruang guru
Beri komentar
1. Apakah Anda Yakin Pembentukan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Sumut akan Efektif Menekan Potensi Korupsi Pejabat Publik?
- Tidak Yakin (61%, 118 Votes)
- Yakin (34%, 65 Votes)
- Tidak Tahu (5%, 10 Votes)
Total Voters: 193

