Mengasihi Dengan Perbuatan

09:50, 14/02/2010

oleh: Pdm. Edison Sinurat

1 Yohanes 3:18
“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”
Hari Kasih Sayang, diperingati setiap tanggal 14 Februari yang lebih populer dengan Valentine’s Day (Hari Valentine). Hari yang istimewa bagi kawula muda ditandai dengan mengirim kartu Valentine, coklat dan bunga sebagai pernyataan cinta kasih sayang. Sebenarnya kasih sayang harus dinyatakan setiap saat bukan hanya pada satu saat tertentu saja. Sebagai orang Kristen, kita harus menjalani hidup ini dengan kasih, mengasihi Tuhan dengan segenap hati, kekuatan, akal budi dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Itu artinya senantiasa, selamanya kita perlu kasih sayang dan kesempatan bagi kita untuk menyatakan kasih sayang.

Menurut sebuah situs kristiani bahwa asal-usul hari Valentine berbeda sama sekali dengan simbol-simbol cinta seperti kita lihat hari-hari ini. Valentine sebenarnya adalah seorang biarawan yang menjadi martir. Pada tanggal 14 Februari 269 Valentine dihukum mati oleh kaisar Claudius II karena menentang peraturan yang melarang pemuda Romawi menjalin hubungan cinta dan menikah karena mereka akan dikirim ke medan perang.

Belakangan hari itu diperingati sebagai hari Kasih Sayang. Momentum ini dimanfaatkan oleh banyak orang untuk menyatakan cinta atau kasih sayang kepada orang yang dikasihinya. Itu baik, setidak-tidaknya kita diingatkan kembali apakah kita sudah melakukan apa yang difirmankan Tuhan yaitu mengasihi sesama. Bukankah kita harus menunjukkan kasih kita kepada semua orang? Itulah ajaran Kristus yang telah memberi teladan bagi kita. Tetapi bukan hanya sekedar mengasihi dengan kata-kata belaka, melainkan harus membuktikan kasih itu sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.

Jauh sebelum peristiwa Valentine, sebuah tindakan kasih telah dinyatakan di bumi ini. Kasih yang begitu besar telah diberikan kepada manusia, Kasih yang Tuhan nyatakan dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal agar setiap orang yang mau menerima-Nya diselamatkan. Kasih yang bukan hanya dirasakan sesaat saja melainkan kasih yang menyelamatkan dan membawa kehidupan kekal. Kalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Mengasihi sesama seperti Yesus mengasihi kita. Ada buktinya, bukan sekedar kata-kata.

“Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1Yohanes 3:16-18)

Kepekaan terhadap penderitaan orang lain akan mendorong kita untuk berbuat kasih. Yesus Kristus, selama pelayanan-Nya di bumi ini selalu memperhatikan dan peka terhadap kebutuhan orang-orang. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan ketika Ia menelusuri kota dan desa dalam menyampaikan Kabar Sukacita, Injil Kerajaan Sorga. Kasih-Nya tidak berhenti sampai di situ, bahkan sebagai klimaks dari pelayanan-Nya Ia berikan hidup-Nya sebagai korban persembahan di kayu salib Golgota yang menjadi bukti kasih-Nya akan dunia ini.

Kasih adalah memberi. Kala kita memberi berarti ada sesuatu yang berkurang dari diri kita, bukan bertambah. Hidup yang demikianlah yang akan memperlihatkan kepada dunia ini bahwa Allah ada di dalam kita yaitu jika kita mau memberi sesuatu kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia. Selama kita hidup menjadi kesempatan bagi kita berbagi kasih, berbagi hidup seperti yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (*)

Beri komentar

 
PLN Bottom Bar