Pentingnya Media Pembelajaran
08:57, 18/02/2010Seperti apakah gaya saya mengajar? Sudah berhasilkah saya dalam membelajarkan siswa saya? Sudah tercapaikah KKM saya?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika saya merefleksi semua kegiatan yang sudah saya lakukan. Sering kita lupa untuk merefleksi diri kita setelah kita selesai melakukan kegiatan belajar mengajar.
Kita lupa mengevaluasi diri kita sendiri. Ketika tiba hari ujian semester, kita sebagai guru sibuk mewanti-wanti siswa agar belajar di rumah dan jika hasil tes sudah di tangan kita dan ternyata hasil tes siswa tidak menggembirakan, kita langsung menyalahi dan bahkan memarahi siswa. Apakah itu sifat guru yang bijaksana ?
Sebelum menyalahkan siswa, sebaiknya kita refleksi diri kita. Kita harus mengetahui atau mengulang kembali ingatan kita tentang model-model pembelajaran. Ada 4 model pembelajaran yang dapat dikembangkan oleh seorang guru, yaitu tradisional /konvensional, media sebagai alat bantu, guru berbagi tugas dengan media, dan pembelajaran yang dimediakan.
Model pembelajaran tradisional / konvensional artinya guru menyampaikan materi tanpa media yang tentunya mengakibatkan pencapaian yang berbeda pada hasil yang diperoleh siswa.
Model pembelajaran dengan menggunakan media sebagai alat bantu, artinya guru menyampaikan materi dengan menggunakan media sehingga akan tercapai hasil yang sama antara siswa yang satu dengan yang lain. Hal yang sama juga akan terjadi jika guru melakukan pembelajaran dengan cara berbagi tugas dengan media. Namun, ada perbedaan sedikit jika guru melakukan pembelajaran yang dimediakan, yaitu hasil yang dicapai hanya menyentuh segi kognitif dan psikomotorik, tidak menyentuh pada segi afektif siswa.
Dari semua keterangan tersebut tentu kita dapat memilih model pembelajaran yang paling cocok/tepat dengan keadaan siswa kita. Dari pengalaman saya, pembelajaran dengan menggunakan media adalah yang paling tepat untuk siswa saya. Kini, muncul pertanyaan lagi, apa sebenarnya arti media?
Media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” jadi media adalah perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan.
Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Media memiliki beberapa fungsi, mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melakukan perjalanan/liburan, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
Media pembelajaran juga dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena: (a) obyek terlalu besar (b) obyek terlalu kecil (c) obyek yang bergerak terlalu lambat (d) obyek yang bergerak terlalu cepat (e) obyek yang terlalu kompleks (f) obyek yang bunyinya terlalu halus (g) obyek mengandung bahaya dan resiko tinggi.
Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik. Selain itu media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya, menghasilkan keseragaman pengamatan, menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
Tak cukup di situ, media membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar, memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak. Selain itu, media juga terbagi atas beberapa jenis yaitu, audio projected still media, dan pojected motion media (film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya).
Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media adalah bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai.
Contoh: bila tujuan atau kompetensi peserta didik yang hendak dicapai bersifat menghafalkan kata-kata, tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetaklah yang lebih tepat untuk digunakan. Kalau tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka guru dapat menggunakan media film dan video.
Setelah mengetahui kegunaan sebuah media, kini saatnya kita menentukan media yang tepat guna bagi pembelajaran kita. Kita tidak bisa memungkiri bahwa kita memang membutuhkan media dalam mengajar supaya tercapai hasil yang maksimal. Pertimbangkanlah semua aspek yang ada dalam menentukan pemakaian sebuah media, termasuk aspek biaya. Alangkah kreatifnya seorang guru itu, jika dapat membuat sebuah media dari bahan sederhana dan dengan biaya yang sangat murah. (*)
Oleh: Dra Hevy Anna Lubis
Kepala SD Namira Medan

