Dua Gempa Besar, 16 Kali Gempa Susulan

Menurut catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Badann Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sedikitnya terjadi dua gempa dengan kekuatan diatas 8 skala ritcher (SR). Bersyukur, kejadian seperti tsunami 2004 tidak terulang.

Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan ada 16 kali gempa susulan dengan gempa awal berkekuatan 8,5 SR pada pukul 15.38. Dari gempa pertama itu lantas diikuti dengan lima gempa susulan yang kekuatannya lebih rendah. “Setelah itu, gempa susulan menguat menjadi 8,8 SR pukul 17.43,” ujarnya.

Nah, dari gempa kedua yang sangat besar itu diikuti dengan
gempa susulan sebanyak 11 kali. Tidak hanya BMKG, besarnya kekuatan gempa membuat beberapa instansi seperti Pacific Tsunami Warning System (PTWC) di Hawaii juga mengeluarkan peringatan dini Tsunami.

Peringatan untuk waspada dan menghindari daerah tepi laut juga berlaku di beberapa negara tetangga. Mulai dari Malaysia, Myanmar, Thailand, India, hingga Sri Lanka. Bersyukur, air bah tidak terjadi hingga dicabutnya peringatan tsunami menjelang malam. Namun, Sutopo mengatakan tsunami sempat terjadi meski kecil.

Dia menjelaskan, tsunami tersebut dilaporkan oleh Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) terjadi pukul 17.00. Diawali dengan surutnya air laut di beberapa tempat lantas terjadi tsunami di Lahewa, Nias Utara setinggi 1 meter, dan Meulaboh 1,02 meter.

Sedangkan versi BMKG, di jam yang sama terdeteksi tsunami di Sabang setinggi 0,06 meter dan Meulaboh pukul 17.04 tidak lebih tinggi dari 0.8 meter. Di luar beberapa tempat itu dilaporkan tidak terjadi Tsunami. “Meski gempanya besar, tsunaminya tidak terlalu besar,” imbuhnya.

Bukan tanpa alasan kenapa air bah tidak menyapu beberapa lokasi di pantai barat Aceh dan Sumatera Barat. Kenapa? Berdasarkan analisis beberapa pakar gempa dari ITB dan Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR), gempa disebabkan sesar geser. Bukan sesar naik (bukan mega trust) sehingga potensi tsunami tidak terlalu besar.

Apalagi, lokasinya di bagian luar dari daerah pertemuan lempeng (outer rise earthquake). “Kejadian gempa 8,5 SR yang diikuti dengan gempa 8,8 SR dua jam kemudian terjadi di bagian lempeng Indo Australia. Makin menjauhnya gempa ke barat maka potensi tsunami juga berkurang,” tuturnya.

SBY Bersyukur Early Warning System Berjalan
Gempa bumi yang mengguncang Aceh menjadi bahan perbincangan saat pertemuan bilateral Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron. Saat gempa terjadi, Cameron baru saja tiba di Istana Merdeka dalam rangkaian kunjungan kenegaraannya.

“Saya ingin menyampaikan satu hal karena beliau menanyakan kepada saya seputar terjadinya gempa bumi yang terjadi di wilayah aceh atau tepatnya di baratdaya Aceh,” kata SBY di awal keterangan usai pertemuan bilateral.

SBY mengaku sudah bisa berkomunikasi dengan pangdam tidak lama setelah gempa terjadi. Namun belum berhasil menghubungi gubernur Aceh.

“Situasinya terkendali, under control. Memang ada sedikit kepanikan tapi masyarakat Aceh bisa menuju ke tempat-tempat yang aman,” katanya.

Presiden langsung menugaskan kepala BNPB segera terbang ke Aceh untuk memastikan situasi dan mengambil tindakan yang diperlukan. “Early warning system was working well,” katanya.

Saat giliran berbicara PM Cameron menyatakan kesiapannya untuk memberikan bantuan kepada Indonesia dalam musibah gempa bumi di Aceh. “Saya sangat concern dengan laporan gempa bumi di Aceh. Inggris siap membantu dan kita akan berdiri bersama rakyat Indonesia dan pemerintah Indonesia,” katanya. (dim/wir/fal)

Berita terkait: