Belajar sampai Malaysia, Mengabdi di Columbia

dr Glugno Joshimin Foead, MMed, SpOG, Dokter Spesialis di RS Columbia Asia-Medan
Menggapai pendidikan dokter spesialis itu tidak mudah. Diperlukan lebih dari semangat, tekad kuat dan kemampuan akademik. Itulah yang dialami dr Glugno Joshimin Foead. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter selama 4 tahun dan menjadi dokter muda (koas) di RSU Dr Pirngadi dan RS H Adam Malik selama dua tahun, Joshimin beruntung ditempatkan di Tanah Karo sebagai dokter PTT. Di Kabupaten Karo itu, pengabdian Joshimin membuatnya dianugerahi sebagai Dokter Teladan se kabupaten pada 2001.

Butuh lebih dari 4 tahun baginya untuk berhasil berjuang memperoleh kesempatan pendidikan dokter spesialis. Bukan di Indonesia, dr Joshimin meraihnya di University Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Berikut petikan dialog dengan dr Joshimin di ruangannya di RS Rumah Sakit Columbia Asia Medan di Jalan Listrik No 2A.

Anda memperoleh dokter spesialis di Malaysia. Kenapa tidak ambil di USU atau di universitas lain di Indonesia?
Bagaimana yah…. Saya coba juga untuk ambil di USU atau di universitas lain. Tapi bertahun-tahun, saya belum berhasil. Pada 2004, abang saya yang ambil spesialis di University Malaya mengabarkan, ada pengumuman penerimaan pendidikan spesialis di sana. Saya coba ajukan lamaran ke University Malaya di Kuala Lumpur, sekali coba langsung diterima. Saya pilih pendidikan keahlian Obstetrics & Gynaecology.

Apakah sebelumnya merasa kesulitan mengikuti seleksi pendidikan dokter spesialis di Indonesia?
Begitulah kenyataannya.

Di Malaysia, ikut program beasiswa?
Tidak, biaya sendiri.

Soal biaya dan kurikulum, bagaimana perbandingan?
Saya kira hampir sama. Biaya kuliah di sana tidak jauh berbeda dengan di sini. Kuliah dari 2004-2008, biaya kuliah sekitar 10 ribu RM per tahun. Kalau dirupiahkan sekitar 28 jutaan. Biaya hidup juga relatif sama, tinggal bagaimana kita menyikapinya saja. Kalau mau hemat, berperilaku hidup hemat saja. Cari tempat makan yang murah atau masak sendiri, Sesederhana itu saja.

Kalau kurikulum, saya kira juga sama. Hanya saja, setelah menyelesaikan pendidikan di Malaysia, kalau ingin diakui pemerintah Indonesia, harus mengikuti program persamaan sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah dan universitas di Indonesia yang dipilih untuk penyesuaian. Pengalaman saya saat penyesuaian pada 2010, setelah melengkapi persyaratan sesuai ketentuan, termasuk melapor ke pusat, saya saya pilih penyesuaian di USU, almamater saya. Urus kelengkapan administrasi, butuh waktu sekitar 6 bulan. Satu tahun tiga bulan menjalani pendidikan, ijazah saya diakui oleh USU dan negara.

Menyelesaikan pendidikan spesialis selama 2004-2008,  ternyata Anda tidak langsung kembali ke Indonesia. Apa yang dilakukan di sana?
Saya bekerja sebagai staf pengajar di University Malaya dan di rumah sakit milik universitas sampai akhir 2009.

Bisa dikisahkan system bekerja Anda di sana?
Kami mulai bekerja pukul 08.00 hingga 17.00 tiap hari, stay di rumah sakit. Dalam seminggu, pasti dapat tugas jaga di rumah sakit.  Selesai tugas jaga, biasanya langsung bekerja sesuai jadwal lagi.

Tidak ada waktu beristirahat setelah tugas malam atau waktu untuk praktek di rumah sakit lain?
Tidak ada (tersenyum).

Bekerja seperti itu, bagaimana dengan, maaf, salary yang Anda terima?
Kita dapat salary 4.000 RM per bulan plus tunjangan spesialis 1.000 RM. Tiap kali jaga malam, pasti dapat tunjangan juga, nilainya lumayan.

Anda merasa jumlah itu cukup hingga tak perlu cari sampingan lain?
Yup. Kita juga lebih fokus menangani pasien.

Bekerja hingga 2009, akhirnya Anda memutuskan kembali ke Indonesia. Tidak betah di negeri orang?
Ada beberapa latar belakang hingga saya memutuskan kembali ke tanah air. Diantara yang sangat penting adalah saat ibu saya jatuh sakit, fraktur (patah tulang, red). Sebagai anak, enggak tega saya. Beliau sudah berumur 73 tahun dan tinggal sendiri. Walau masih sehat, pasti butuh anak-anaknya sebagai teman. Selain itu, saya memang cinta dengan kota ini, tempat saya lahir dan besar. Maka, pada 2010, saya kembali ke Medan.

Tantangan pertama yang saya hadapi adalah penyesuaian ijazah. Karena saya sekolah di luar negeri, harus melalui proses adaptasi. Total waktu yang saya butuhkan sekitar 1 tahun 9 bulan. Rinciannya, enam bulan mengurus administrasi yang berkenaan untuk itu dan sisanya menjalani penyesuaian di USU. Saya ujian nasional lagi, susun skiripsi lagi. Yah, mirip seperti kuliah lagi.

Kapan bergabung dengan RS Columbia Asia?
Sejak Juli 2011, saya bergabung sebagai dokter tetap.

Dokter tetap. Bisa dijelaskan maknanya?
Yah, sama seperti ketika saya bekerja di RS University Malaya, bekerja mulai pukul 08.00 WIb sampai 17.00 WIB. Kadang-kadang, tengah malam juga ada panggilan untuk menangani pasien (tersenyum lagi).

Mengapa pilih RS Columbia Asia?
Rumah sakit ini punya jaringan di beberapa Negara di Asia Tenggaga ini. System kerjanya mirip-mirip dengan rumah sakit-rumah sakit di Malaysia, Singapore dan Thailand. Saya cocok dengan system itu.

Soal salary?
Pasti cukup lah, sesuai. Apalagi istri saya juga dokter, dokter umum. Dia tidak bekerja di rumah sakit, buka praktek saja di rumah sambil mengurus rumah tangga.

Selain dokter tetap, apakah ada dokter tidak tetap di RS Columbia Asia ini?
Tentu ada.

Okay. Sebagai dokter spesialis, apakah Anda tidak punya keinginan untuk punya praktek sendiri? Kan duitnya banyak?
Ha… ha… ha…. Siapa sih yang tak butuh duit? Keinginan itu tentu ada, kalau saya punya duit cukup untuk membeli peralatan. Alat-alatnya mahal. Mesin USG seperti itu saja (menunjuk mesin USG 4 dimensi di ruang prakteknya), harganya miliaran rupiah.

Tetapi untuk saat ini, saya memilih konsentrasi bekerja sebagai dokter tetap di rumah sakit ini saja. Ya, saya juga punya waktu cukup bersama anak dan istri. Kebersamaan dengan keluarga itu sangat penting. Kalau saya sudah buka praktek, pasti waktunya tersita.

Apa cita-cita yang ingin segera dicapai dalam waktu dekat?
Hmmm…. Yang pasti, sya akan berusaha sebagik-baiknya bertugas melayani pasien di Rumah Sakit Columbia Asia ini. Selain itu, saya ingin menjadi subspesialis dan buka praktek bila sudah waktunya. Semoga cepat terealisasi.

Semoga. Terimakasih atas waktunya. (*)

Tentang dr Joshimin
Nama   dr Glugno Joshimin Foead, MMed (O&G) (Malaya), SpOG
Alamat    Jalan Karimun No 44, Medan
Email   glugnojoshimin@gmail.com
Tanggal lahir    Medan, 18 Juni 1975
Riwayat Pendidikan
1981 – 1987    SD Sutomo 1 Medan, Indonesia.
1987 – 1990    SMP Sutomo1 Medan, Indonesia.
1990 – 1993     SMA Sutomo1 Medan, Indonesia.
1993 – 1997     Fakultas Kedokteran Universitas  Sumatera Utara
1997 – 1999    Dokter muda (koas) di RSU Dr Pirngadi Medan dan RS H Adam Malik.
Sept 2004     Part I MRCOG
2004 – 2008     Pendidikan spesialis Master of Medicine  (Obstetrics &Gynaecology) di University Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia
2010 – 2011    Program penyesuaian spesialis Obstetrics  and Gynecology di Departmen Obstetrics and Gynecology, USU
Prestasi
1989    Juara umum kelas 2 di SMP Sutomo 1   Medan, Indonesia.
1989    Beasiswa untuk kelas 3 SMP Sutomo 1  Medan dari yayasan.
1990    Ranking dua umum EBTA/EBTANAS  se kota Medan.
1991     Juara kelas di SMA Sutomo1 Medan.
1992    Juara umum SMA Sutomo1 Medan.
1992     Beasiswa uang sekolah kelas 3 SMA  Sutomo dari yayasan.
1993     Ranking kedua kelas 3 di SMA Sutomo1   Medan.
1993     SiswaTeladan Sekolah Sutomo Medan.
2001    DokterTeladan dari Pemkab Karo
Pengalaman mengajar
 1.   Juni 1996 – Juni 1997, guru Biology SMP SUTOMO 1 Medan.
2. Juni 2008 – Juni 2009, Undergraduate teaching, tutorials, ward clinics at Faculty of Medicine, University Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.
Penelitian, presentasi dan publikasi
  1.    TH Htun, AH Abdul Razack, FG Joshimin, CB Chua. Early experience of Tension Free Vaginal Tape ( TVT ) operation at University Malaya Medical Centre, presented at 13th MUC (Malaysia Urology Conference), 17-19 December 2004, Hilton KL, KL Sentral.
  2.    G. JoshiminFoead, Eugene W.K.Leong, Siti Zawiah Omar. Birth experience and preferred mode of birth following elective caesarean section in a public malaysian tertiary hospital. Malaysian Journal of Obstetrics &Gynaecology 2007 June Vol 8, No 13; (Supplementary) presented at 17th Congress of the Obstetrical and Gynaecological Society of Malaysia, 31st May – 3rd June 2007. Shangri-La Hotel, Kuala Lumpur.
  3.    G JoshiminFoead, BK Lim, P Jayalakshmi, V. Sivanesaratnam, M.S.Naicker. Small cell carcinoma of the cervix An  experience in University Malaya Medical Center, presented at the XXth Asian and Oceanic Congress of Obstetrics and Gynaecology (AOCOG 2007), September 21 (Fri.) to 25 (Tue.), 2007, Tokyo, Japan.
  4.    Thesis “Keakuratan Indeks Resiko Keganasan-1 Dalam Membedakan Tumor Ovarium Jinak Dan Tumor Ovarium Ganas Sebelum Pembedahan Di RSUP. H. Adam Malik – RSUD. Dr. Pirngadi Medan” presented at 28th February 2011, at meeting room in Adam Malik General Hospital, Medan, Indonesia.

Berita terkait: