Jamaah Haji Hadapi Suhu Udara 48° C

800 Bungkus Snack Berjamur
MEDAN- Cuaca di tanah suci Mekah saat ini tergolong ekstrem dengan suhu udara mencapai 44-48 derajat Celcius.

“Saat ini di Mekah memasuki musim panas, dengan suhu capai 48 derajat Celsius Sementara malam harinya suhu udara sangat dingin, sehingga calhaj dianjurkan memakai jaket.

Berbeda dengan di Madinah dan Jeddah, di mana suhu udara berkisar 16-38 derajat Celcius. Begitupun, cuacanya tidak menentu dan selalu berubah-ubah,” kata Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Medan, Sazli Nasution, Rabu (26/9) di Asrama Haji Medan (Ahmed).

Menghadapi cuaca ekstrem tersebut, para jamaah calon haji (calhaj) diminta menjaga kesehatannya dengan banyak mengonsumsi air minum dan buah-buahan. Selain itu, para jamaah yang sudah dibekali 1 paket masker sewaktu berada di Ahmed, diharap menggunakannya saat bepergian.

“Kita juga minta jamaah menggunakan uang living cost-nya sebaik mungkin untuk kesehatannya. Sebaiknya jangan terlalu sering berada di luar penginapan. Pakailah selalu masker yang sudah diberikan pada setiap jamaah, dengan cara dibasahi,” jelasnya.

Menurut Sazli, hingga saat ini, pihaknya belum mendapat kabar mengenai jumlah jamaah calhaj yang sakit akibat cuaca ekstrem tersebut. “ Tapi akan terus kita pantau. Sejauh ini belum ditemukan jamaah calhaj yang dirujuk ke RS Haji di Jeddah. Tapi kalaupun ada jamaah calhaj yang sakit, pasti dibawa langsung ke Mekah mengikuti rombongan,” urainya.

Dijelaskan Sazli, cuaca ekstrem dapat menyebabkan kondisi jamaah calhaj menjadi tidak fit.

Sebab saat musim panas, debu beterbangan ke mana-mana ditiup angin dan disapu kendaraan. “Kadang-kadang, mesti tidak berbahaya, terjadi badai debu. Ini bisa menyebabkan jemaah mudah terserang batuk, demam, diare, infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), atau gangguan lain,” ucapnya.

Saat ini, kelompok terbang (kloter) 01/MES hingga kloter 06/MES sedang berada di Madinah. Dari Madinah, keenam kloter yang tergabung dalam Embarkasi Medan tersebut akan diberangkatkan menuju Mekah, untuk bersiap-siap menghadapi prosesi haji di Arafah, Muzdhalifah, dan Mina.

“Setelah melaksanakan ziarah dan salat sunat ‘arba’in di Madinah, jamaah akan diberangkatkan ke Mekah. Karena itu, jamaah harus menjaga stamina, kebugaran, dan kesehatan tubuh. Jangan melakukan kegiatan di luar kemampuan. Karena pada puncaknya, selain aspek rohani, juga sangat memerlukan kesiapan jasmani,” jelasnya.

Nantinya, saat wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, jumrah dan mabit di Mina (Armina), jamaah benar-benar diuji secara fisik, karena prosesi yang sangat melelahkan. “Jadi baik saat berada di Madinah maupun setelah ke Mekah, jamaah harus istirahat yang cukup, makan bergizi dari paket makanan yang telah disiapkan pelaksana katering,” sebutnya.

Sementara itu, pada Kamis, 27 September 2012, jamaah calhaj Kloter 07/MES berasal dari Binjai dan Tanjungbalai —ditambah calon perorangan— akan memasuki Ahmed. Kemudian pada Jumat pagi, 28 September 2012, jamaah calhaj dengan jumlah sementara 445 akan take off ke Jeddah melalui Bandara Polonia Medan sekitar pukul 08.15 WIB.

800 Bungkus Snack Berjamur
Sementara itu, sebanyak 800 bungkus snack yang akan dibagikan kepada jamaah haji, ditemukan basi dan berjamur. Roti yang belum sempat dibagikan itu akhirnya ditarik dan dikembalikan ke perusahaan katering.

Yang menemukan snack basi itu adalah tim pengawas katering. Snack berupa roti itu telah berjamur. Petugas pengawas katering tidak bisa melihat langsung isi snack karena terbungkus kertas plastik rapat.

“Jamur tidak bisa dilihat dari luar, karena bungkusnya bukan plastik transparan, sehingga tidak banyak jamaah yang mengetahui. Setelah diketahui berjamur, saya minta semua roti ditarik dan dikembalikan ke penyedia layanan katering,” ungkap Pengawas Katering Sartoyo di Kantor Misi Haji Indonesia Daker Madinah, Rabu (26/9).

Karena lebih dulu diketahui, belum ada satupun roti yang dikonsumsi jamaah. Jamaah tetap mendapatkan makanan kecil sebagai pengganti. “Soal makanan kadaluwarsa itu kan tanggung jawab penyedia katering. Mereka wajib memberikan ganti,” katanya.

Selain masalah makanan kecil yang kadaluwarsa, berdasarkan penelusuran wartawan di sejumlah pondokan, ditemukan pula pondokan yang tidak tersedia air minum. Suplai air minum adalah tanggung jawab penyedia katering, bukan hotel atau pondokan. Akibatnya, jamaah yang menginap di Golden Al Rawasi Hotel sempat mengeluh. Padahal hotel 6 lantai itu dihuni sekitar 1.140 jamaah. (far/bgs/try/net/bbs)

Berita terkait: