Warga Jawa di Sumut Bersatu Dukung GPN

Gelar Wayang Kulit
Jumlah warga jawa di Sumatera Utara (Sumut) tumbuh cukup siginifikan, di tengah kondisi itu paguyuban warga jawa pun turut tumbuh. Kondisi ini sebaiknya dipersatukan agar warga jawa bisa memimpin Sumut dengan memenangkan H Gatot Pujo Nugroho ST (GPN) sebagai satu-satunya Calon Gubernur Sumut berasal dari warga jawa.

BERAKSI: Para pemain sedang beraksi  pagelaran wayang kulit  Pasar V Medan Selayang.

BERAKSI: Para pemain sedang beraksi dalam pagelaran wayang kulit di Pasar V Medan Selayang.


Penegasan dukungan Gerakan Silaturahim Warga Jawa Sumut kepada Gatot Pujo Nugroho (GPN)  menjadi Gubsu Periode 2013-2018 disampaikan langsung oleh Ketuanya, Sudiyono Praka pada acara pagelaran Wayang Kulit di Pasar V, Kecamatan Medan Selayang dalam rangka menyambut bulan Muharram 1434H, Jumat (23/11) malam.

Dia mengatakan, tidak bisa dipungkiri keberadaan warga Jawa merupakan aset bagi Sumut. Bahkan warga Jawa sudah berasimilasi sejak ratusan tahun lalu dengan warga setempat, sehingga keberadaan warga Jawa sudah tidak terpisahkan dengan penduduk yang lebih dahulu mendiami wilayah ini.

Praka menyebutkan, di era demokrasi, kesempatan dan persamaan hak setiap warga adalah sama. Salah satu kesempatan itu adalah untuk menjadi Gubernur Sumut sudah terbuka lebar. Oleh karena itu Gerakan Silaturahim Warga Jawa Sumut ingin membangun kebersamaan dikalangan warga dan paguyuban Jawa untuk mempersatukan langkah dan tujuannya.

Kegiatan ini sebagai upaya untuk melestarikan budaya Jawa di wilayah multi etnis ini sekaligus mendukung GPN.

“Sekaranglah waktunya warga Jawa menjadi Gubernur di Propinsi Sumut sebagai satu-satunya wilayah multi etnis di Indonesia. Majunya H Gatot Pujo Nugroho sebagai satu-satunya calon Gubernur yang berasal dari warga Jawa, sudah seharusnya menjadi komitment seluruh warga Jawa untuk mengangkat harkat dan martabat orang Jawa lebih baik lagi di Sumut,”  ujarnya.

Ketua Gerakan Silaturahim Warga Jawa itu memaparkan, pasangan GPN dan T Erry Nuradi merupakan pasangan yang memiliki dua sisi keuntungan. Pertama, Gatot Pujo Nugroho adalah orang Jawa sedangkan Tengku Erry Nuradi adalah orang Melayu yang mengabdikan dirinya untuk seluruh masyarakat Sumut yang multi etnis, sehingga kepemimpinannya jauh dari kepentingan etnis maupun wilayah.

Selanjutnya, paparnya Gatot Pujo Nugroho berpasangan dengan Tengku Erry Nuradi karena keduanya telah berpengalaman memimpin suatu wilayah, sehingga diharapkan program kerjanya lebih realistis bukan menabur janji-janji yang hanya dimulut dan di atas kertas.

“Jangan karena diimingi-imingi sesuatu yang tidak seberapa lantas rela menjual marwah bahkan mempermalukan warga Jawa sendiri. Gatot Pujo Nugroho dan Tengku Erry Nuradi merupakan pemimpin yang sangat jelas telah menunjukkan kinerja dan intergritasnya membangun Sumut lebih baik dan terbukti telah mengangkat kesejahteraan warga Sumut,” katanya.

Lebih lajut, Sudiyono Praka mengatakan pagelaran wayang kulit akan terus digelar Gerakan Silaturahim Warga Jawa Sumut di berbagai wilayah Sumut untuk menumbuhkembangkan rasa cinta akan budaya di kalangan warga Jawa di Sumut.

Acara pagelaran Wayang Kulit ini juga dalam rangka Muharram 1434H tersebut yang digelar oleh Gerakan Silaturahim Warga Jawa Sumut dan dihadiri masyarakat Medan Selayang, Medan Baru, Medan Tuntungan dan sekitarnya dimulai dengan sambutan dari Ketua Panitia, Dilanjutkan dengan tausiah Muharram .

Hadir selain tokoh-tokoh masyarakat dan Muspika setempat, juga hadir paguyuban Condong Raos, mBanyuwangi Gels, Joko Tingkir,  Pendawa, Pujakesuma, GPMJ Sumut, dan warga Jawa yang antusias mengikuti pagelaran wayang kulit tersebut.

Sedangkan wayang kulit khusus didatangkan dari Pematang Siantar dengan dalang Ki Joko Santoso. Pada kesempatan tersebut Sudiyono Praka menyerahkan sebuah wayang kepada dalang Ki Joko Santoso. (ril)

Berita terkait:

FEATURE

DBL Indonesia North Sumatera Series
PLN Bottom Bar