Mahfud MD: Kebaktian Jadi Modal Pembangunan Negara

Natal Oikumene dan Tahun Baru 2013 Sumut
Ribuan umat Kristiani memadati Stadion Teladan Medan, Minggu (20/1) untuk mengikuti perayaan Natal Oikumene dan Tahun Baru 2013 Sumatera Utara. Terik matahari siang tidak menurunkan semangat umat mengikuti perayaan kelahiran Yesus Kristus.

OIKUMENE: Ribuan jemaat  mengikuti prosesi kebaktian  Natal Oikumene  Stadion Teladan Medan, Minggu (20/1).//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS

OIKUMENE: Ribuan jemaat mengikuti prosesi kebaktian pada Natal Oikumene di Stadion Teladan Medan, Minggu (20/1).//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS


Tidak hanya tribun, umat yang hadir dari berbagai daerah di Sumut juga memenuhi kursi di tengah lapangan dan luar stadion. Acara dimulai pukul 11.30 WIB, dimulai dari masuknya para hamba tuhan dalam prosesi yang diiringi marching band dari Gereja Methodis Indonesia.

Hadir dalam perayaan itu di antaranya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho diwakili Asisten Tata Pemerintahan Hasiolan Silaen, Ephorus HKBP Pdt WTP Simarmata.

Selanjutnya, hadir juga Anggota DPR RI Nurdin Tampubolon dan anggota DPD RI Parlindungan Purba, mantan KSAD Jendral (Purn) Luhut Panjaitan, Kepala Kejaksaann Tinggi Sumut Noor Rachmad, Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, Wakil Wali Kota Medan Dzulmi Eldin, RE Nainggolan, dan Effendi Simbolon, serta dua pendeta dari berbagai denominasi.

Usai ibadah, acara dilanjutkan dengan hiburan oleh artis Ibukota dan Sumut, di antaranya, Jack Marpaung, Victor Hutabarat, Trio Erpado, Roris Band.

Pada kesempatan itu, Mahfud MD menyampaikan kata sambutan dalam perayaan tersebut. Dia mengatakan kebaktian atau ibadah menjadi modal dalam pembangunan negara. Ibadah merupakan kesadaran kolektif yang penting, baik untuk orang yang melakukannya, dan bangsa itu sendiri. “Tidak satu agama pun mengajarkan kebencian, ibadah mengajarkan kebaikan dan saling mengasihi,” katanya.

Dia menegaskan, pentingnya kesadaran ibadah, akan menimbulkan kesadaran untuk berbuat baik kepada manusia dan alam. Kasih sesama yang diajarkan dalam ibadah akan menghalau tindakan kekerasan. Bimbingan agama selalu menjadi aspirasi dalam bernegara, seperti apa yang telah diajarkan oleh nenek moyang sebelumnya.

“Sangatlah salah besar jika ada kelompok yang mengatakan dirinya paling benar, sehingga bertindak secara psikis, dengan kekerasan untuk menyatakan dirinya yang paling benar.

U memberikan kebebasan setiap orang memilih agama dan kepercayaan,” paparnya.

Sementara itu, Ephorus HKBP, Pdt WTP Simarmata dalam ibadah mengangkat tema Allah Mengasihi Kita, mengatakan, Allah mengajarkan kasih ke seluruh umat manusia. Tapi, kini sangat sedikit orang yang mampu menebarkan kasih antarsesama.

“Hanya kasihlah yang mampu menyatukan seluruh umat manusia. Kasih menjadi kekuatan yang membuka sekat-sekat antara manusia, kelompok dan golongan,” ucapnya. “Bangunlah persaudaraan sejati, tanpa melihat latar belakang. Dengan kasih, kita jadikan Sumut menjadi teladan kerukunan umat di tengah bangsa ini,” tambahnya.

Menunjukkan keberagaman Sumut, turut ditampilkan tarian delapan etnis yang ada di Sumut. Pelepasan merpati sebagai lambang kedamaian dan kesetiaan dan pesta kembang api sebagai bentuk suka cita menjadi bagian dari acara yang berlangsung hingga sore hari.Ketua Panitia Penyelenggara Natal Oikumene dan Syukuran itu, Sanggam Bakara mengatakan, Natal merupakan bukti rasa kesetiakawanan Tuhan yang bersifat universal, tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, sosial, jabatan dan kekayaan.

“Sukacita dan kedamaian itu berfungsi menghalau kebencian dan iri hati yang sering menggerogoti kesucian hidup manusia. Ketulusan doa anak bangsa akan menenangkan gelombang dan masalah, sehingga menjadikan Sumut lebih sejahtera, rukun, religius dan berkualitas,” ungkapnya.

Sedangkan, Plt Gubernur Sumut, diwakili Hasiolan Silaen berharap perayaan Natal tidak sekadar seremoni dan tradisi semata. Tapi menjadi perekat kebersamaan, dalam memperkokoh keimanan, dalam turut melaksanakan pembangunan di Sumut.

“Harus ada makna dalam kegiatan spritual yang bisa diimplementasikan di tengah masyarakat. Khususnya, untuk mewujudkan Natal sebagai pondasi rasa persatuan dan kesatuan, sehingga tercipta rasa damai, aman, dan penuh persaudara, dalam menghidupkan kebersamaan bangsa,” kata Silaen.

Lebih lanjut, Silaen menambahkan, di tengah keberagaman etnis, marilah sama-sama menciptakan suasana kondusif untuk Sumut yang lebih baik pada masa akan datang. (ril)

Berita terkait:

FEATURE