Panen 13 Bulan, Hasil 7,5 Ton per Rante

Karang Taruna Tebingtinggi Pelopori Budidaya Singkong Gibot Sistem Tekhnik Mukibat
Upaya untuk mensejahterakan kehidupan pengurus Karang Taruna Kota Tebingtinggi dengan melakukan kerjasama pihak koperasi, Karang Taruna membudidayakan penanaman ubi kayu (singkong) dengan sistem tehnik mukibat (sistem sambung). Hasil panen selama masa tanam 13 bulan bisa mencapai 50 kilogram (kg) dalam satu pohon batang ubi.
“Untuk pelopor pertama penanaman ubi secara tekhnik mukibat adalah Karang Taruna Kota Tebingtinggi. Ini nantinya akan dikembangkan pada pananaman yang lebih luas, perdana kita menanam 15 rante dengan jumlah tananaman pohon singkong sebanyak 2.250 batang,”jelas Ketua Karang Taruna Tebingtinggi Emila Zola didampingi Sekretaris Ramadhanto dan Bendahara Supra Madya SE kepada Sumut Pos, Jumat sore (8/2) di lahan pertanian kebun singkong sistem pinjam pakai (sewa) di Jalan Soekarno Hatta Kelurahan Tambangan Hulu Kota Tebingtinggi.

UBI SAMBUNG PUCUK: Ketua Karang Taruna Kota Tebingtinggi Emila Zola (pakai topi kanan) bersama pengurus  pengelola tanaman singkong sistem sambung pucuk memperlihatkan hasil tanaman singkong umur 2,5 bulan, Jumat (8/2).//Sopian/sumut pos

UBI SAMBUNG PUCUK: Ketua Karang Taruna Kota Tebingtinggi Emila Zola (pakai topi kanan) bersama pengurus dan pengelola tanaman singkong sistem sambung pucuk memperlihatkan hasil tanaman singkong umur 2,5 bulan, Jumat (8/2).//Sopian/sumut pos


Sistem ini kita kembangkan untuk peningkatan hasil panen lebih melimpah, dengan prinsip menanam pada lahan sempit bisa menghasilkan panen jumlah besar.

Tetapi semua tergantung dengan sistem pengelolahan tanah agar tanaman singkong menjadi subur, yaitu penggunaan pupuk organik Bokashi campuran dari kotoran hewan,solid sawit yang dipermentasi dengan mol. “Kita berharap panen tahun 2013 mendatang bisa sukses, target panen tanaman karang taruna ini seluas 15 rante bisa menembus 112,5 ton,”jelas Emila Zola.

Pengelola sistem tanam singkong sambung pucuk, Thamrin Usni didampingi Das Ekayono menerangkan bahwa sitem penanaman dengan cara menyambung pucuk batang pohon singkong induk jenis ubi roti dengan jenis singkong ubi bunga dilakukan pada saat tanaman ubi pertama berumur 1,5 bulan dan itu melihat kondisi kesuburan tanaman, ujung batang singkong dipotong kemudian dibelah dibagian tengah disambungkan dengan tanaman ubi jenis bunga yang ujungnya diruncingkan, kemudian disambung menggunakan dan di ikat menggunakan tali plastik.

“Dalam seminggu, sambungan singkong (antres) bisa dibuka dan dibiarkan hingga tumbuh mencapai ketinggian 1,5 meter , dibiarkan terus hingga mencapai panen masa tanam 13 bulan,”kata Thamrin Usni yang juga menciptakan pupuk organik Bokashi.

Untuk sistem ubi sambung singkong Gibot (gedi abot) ini bukan saja menggunakan sistem cara sambung pucuk, tetapi bisa juga dengan sistem entres mata, sambung batang.

Hasil panen sangat menggiurkan, dalam satu batang ubi yang sudah dilakukan sambung pucuk perbatangnya minimal bisa menghasilkan ubi sebanyak 50 kg, bahkan bisa juga menembus 70 kg perpohonnya dengan pemupukan menggunakan pupuk organik Bokashi sebanyak empat kali dalam 13 bulan masa tanam ubi.

“Keunggulan sistem sambung pucuk, batang pohon ubi tidak mudah tumbang, hidup lebih subur dan lebih mudah daalam melakukan perawatan. Sistem jarak tanam batang singkong dengan lainnya 1,5×1,5 meter dengan metode sistem tanah memakai gulutan (gundukan),”kata Thamrin.

Untuk media lokasi tanam harus didataran sedikit lebih tinggi tidak terkontaminasi dengan air, tanah harus kering dan tidak basah (lembab) dan lebih memungkinkan tanah berwarna kuning lebih cocok untuk media tanam singkong jenis sistem sambung pucuk.

“Prinsipnya begini, di Kota Tebingtinggi lahan terbuka cukup sempit, tetapi sistem penanam singkong sambung pucuk bisa mengahsilkan panen lebih banyak. Kita menanam singkong seluas 1 rante, tetapi bisa menghasilkan panen ubi seluas 5 rante. Kalau tanaman ubi biasa hanya bisa menghasilkan perantenya 1,2 ton,”bilang Thamrin.

Mengapa singkong ini kita beri nama singkong gibot? maksudnya singkong ini dalam bahasa jawa dibilang gedi abot (besar dan berat), karena mutu dari hasil panen ubi tersebut bisa mencapai panjang 75 cm dengan bobot mencapai 5 kilo perbuah ubi. “ Dilahan ini, tanaman singkong baru berusia 2,5 bulan, dalam perpohon singkong ditaksir mencapai berat 5 kg, “katanya. (ian)

Berita terkait: