Wadah Minuman jadi Suvenir

Khlong Hae, Pasar Apung Penjual Makanan Halal di Thailand

Khlong Hae Floating Market merupakan salah satu jujukan wisata yang populer di Hat Yai, Thailand Selatan. Di sana, pengunjung bisa menjumpai aktivitas perdagangan yang unik dengan berbagai produk lokal yang khas.
NORA ARDIANI SP, Hat Yai

APUNG: Suasana  pasar  apung Khlong Hae  Hat Yai, Thailand Selatan Thailand Selatan. //NORA ARDIANI/JAWA POS/jpnn

APUNG: Suasana pasar apung Khlong Hae di Hat Yai, Thailand Selatan Thailand Selatan. //NORA ARDIANI/JAWA POS/jpnn


Puluhan sampan berjajar rapi di tepi Sungai Khlong Hae yang terletak sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Hat Yai. Di atasnya, penjual duduk menjaga barang dagangan, berlindung di bawah payung warna-warni yang menaungi tempat usaha mereka.

Mereka ramah menyapa pengunjung sambil menawarkan dagangan. Yang dijual di pasar terapung itu khusus makanan dan minuman halal. Penjualnya adalah penduduk muslim Thailand. Kebanyakan adalah perempuan dan mengenakan tudung (kerudung).

Jika ingin membeli, pengunjung tidak perlu naik ke sampan, cukup berjongkok atau menunjuk makanan yang ingin dibeli. Penjual akan mengambil dan meletakkannya di dalam keranjang, lalu menyerahkan kepada pembeli dengan memakai tongkat panjang. Selanjutnya, pembeli membayar dengan menaruh uangnya di keranjang yang sama. Bila ada kembalian, penjual akan menyerahkannya lagi dengan bantuan keranjang serta tongkat tersebut.

Harga makanan dan minuman dibanderol cukup murah. Sebagai contoh, khanon mod, snack dari tepung beras dengan filling kacang merah, bisa dibeli dengan 20 bath (1 bath = Rp320). Otak-otak dalam porsi sedang juga cuma 20 baht per buah. Makanan disajikan dalam kemasan daun pisang atau periuk berbahan tanah liat dan bambu.

Aneka minuman dingin dijual 20-25 baht. Ada orange juice, lychee drink, es kelapa, dan lain-lain. Pembeli bisa memilih sendiri wadah yang diinginkan. Bisa gelas periuk berbahan tanah liat atau bambu. Harganya, 20 bath untuk wadah bambu dan 25 bath untuk bahan tanah liat. Bentuk wadah yang terbuat dari tanah liat lucu-lucu. Ada bentuk mug sampai karakter Doraemon dan Hello Kitty. Gelas minuman itu boleh dibawa pulang sebagai suvenir. Sebab, harga tersebut sudah termasuk kemasan.

Setelah membeli, pengunjung bisa menikmati makanan atau minuman itu di bangku-bangku yang disediakan di sekitar area floating market. Jembatan di atas pasar apung juga menjadi spot favorit untuk mengambil foto. Dari atas jembatan, terlihat aktivitas yang berlangsung di pasar apung.

Khlong Hae Floating Market yang dibuka sejak pertengahan 2008 itu merupakan pasar apung pertama di Thailand bagian selatan. Pasar tersebut hanya buka pada Jumat-Minggu pukul 16.00 sampai 21.00. Area floating market merupakan section A yang hanya menjual makanan halal dengan penjual yang merupakan penduduk Muslim Thailand. Section tersebut merupakan favorit pengunjung.

Section lain di sekitarnya terdiri atas hampir 200 stan yang menjual makanan dan minuman, kaus, sepatu, tas, serta aneka suvenir lainnya. Harga kaus mulai 120 baht dan sepatu serta tas 200-350 baht. Cokelat, jam tangan, hingga peralatan rumah juga tersedia di sana.

Selain penduduk lokal, ada pengunjung dari beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Indonesia. “Suasananya unik. Dua kali ke Hat Yai, saya selalu berkunjung ke sini. Harganya sangat murah dan kualitasnya bagus,” ungkap Cheny Tan (35), pengunjung dari Penang, Malaysia.

Menurut Nithee Seeprae, direktur Tourism Authority of Thailand (TAT), floating market merupakan salah satu daya tarik untuk turis domestik maupun asing. Kerja sama pemerintah dengan masyarakat untuk meningkatkan pariwisata di Hat Yai berlangsung cukup baik. “Penduduk lokal punya wadah untuk menjual produknya. Pengunjung pun mendapatkan suasana berbelanja yang berbeda,” tuturnya.

Untuk menuju pasar apung Khlong Hae, dari pusat kota, pengunjung bisa menggunakan kendaraan umum sejenis angkot atau tuk-tuk yang di Hat Yai disebut song taew. Tinggal bilang kepada sopir untuk mengantar ke Khlong Hae. Atau, menyewa mobil bila berombongan.

Nithee menjelaskan, Hat Yai merupakan destinasi wisata ketiga di Thailand setelah Bangkok dan Phuket. Hat Yai terletak di Provinsi Songkhla yang beribu kota di Songkhla City. Meski bukan ibu kota provinsi, Hat Yai lebih dikenal karena merupakan pusat bisnis di Thailand Selatan.

“Hat Yai ibarat pintu gerbang menuju kawasan-kawasan lain di Thailand Selatan. Aktivitas bisnis dan perdagangan lintas kota maupun lintas negara selalu melalui Hat Yai,” kata Nithee.

Hat Yai berbatasan darat dengan Penang, Malaysia. Rute itulah yang paling sering diambil turis Indonesia untuk menuju Hat Yai. Kebanyakan mereka berasal dari Medan, terbang ke Penang, lantas melanjutkan perjalanan darat ke Hat Yai. Selain Medan, penerbangan langsung ke Penang bisa dijangkau dari Jakarta dan Surabaya. Saat ini belum ada direct flight ke Hat Yai dari Indonesia.

“Tapi, angka turis Indonesia yang ke Hat Yai jika dibanding kota-kota lain di Thailand cukup tinggi, mencapai 15 persen. Floating market ini salah satu objek yang menarik bagi mereka,” lanjut Nithee.

Mayoritas pengunjung datang untuk berbelanja. Sebab, harga di sana relatif lebih murah jika dibanding Bangkok. Selain itu, pengunjung tidak melewatkan kesempatan untuk berburu kuliner khas Thailand Selatan.

Antara lain, seafood segar yang disuplai langsung dari Danau Songkhla seperti tom yum, somtum, dan kwetiauw. Ada pula penganan ringan seperti durian serta mango sticky rice (durian atau mangga yang diberi ketan dan disiram dengan santan).

Meski disebut kota terbesar di wilayah selatan Thailand, suasana Kota Hat Yai tidak terlalu sibuk. Yang ramai hanya di pusat kota serta tempat tujuan wisata. Selebihnya, tidak banyak keramaian. Jalanan pun cukup lengang meski saat weekend.

Yang tak kalah menarik di Hat Yai adalah kultur masyarakat. Penduduk Hat Yai terdiri atas warga asli Thailand, Tionghoa, dan muslim. Muslim Thailand memang banyak bermukim di wilayah selatan negeri Gajah Putih tersebut. Di Hat Yai, populasi warga muslim mencapai 30 persen.

Budaya Thailand, Muslim, dan Tiongkok berjalan berdampingan. Imlek atau Sin Cia yang kini berlangsung juga dirayakan secara meriah pada 10 Februari lalu sampai hari ke-15 atau yang disebut festival Cap Go Meh. (*)

Berita terkait:

FEATURE