Berpetualang Menuju Titik Nol Indonesia

Sabang yang Menggairahkan

Ketika orang-orang memilih Bali, Jawa, atau tempat-tempat wisata alam di luar Sumatera untuk dikunjungi, Zul Arief dan keempat temannya yaitu Parlin, Abu, Oek, dan Azwar lebih memilih Sabang untuk berlibur dan melepas kepenatan selama bekerja.

Pantai Sabang, Aceh

Pantai Sabang, Aceh


rief, panggilan akrab pria berbadan tambun itu merasa tidak terlalu berat diongkos. Cukup merogoh kocek Rp2 jutaan, dia bisa menghabiskan waktu liburan Tahun Barunya menikmati panorama alam Sabang secara keseluruhan.

Berangkat pada 31 Desember dengan niat menjemput harapan baru, dia beserta rekannya bertolak dari Bandara Polonia Medan menuju Bandara Sultan Iskandar Muda. Melalui 45 ment perjalanan udara, mereka beristirahat di rumah Abu, peserta traveling yang merupakan penduduk Banda Aceh.

Esok paginya tepat di Tahun Baru 2013, mereka memulai perjalanan panjang dengan segudang rencana. Dimulai dengan perjalanan menuju Sabang dengan menggunakan transportasi penyebrangan laut dari Ulee Lheu, Banda Aceh menuju pelabuhan Balohan di Sabang dengan ongkos hanya Rp15 ribu.

Tempat pertama yang mereka kunjung di Sabang adalah Pantai Kasih, tidak jauh dari pusat kota. Butuh waktu 15 menit perjalanan darat dengan kendaraan bermotor atau transportasi umum. Akses jalan dari kota Sabang ke pantai sangat baik.

Tiba di tujuan, Arif dan kawan-kawan disuguhi pemandangan pantai dan tebing. Abu yang bertindak sebagai guide membawa Arief dan ketiga temannya turun melalui anak tangga beton yang sebagian besar sudah rusak parah. Harus ekstra hati-hati.

Menurut Arief, Pantai Kasih yang indah menyimpang bahaya untuk mereka yang tidak waspada. Karena letaknya yang langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia, ombaknya besar dan sanggup menyeret pengunjung yang lalai. Arief dan kawan-kawannya pun beberapa kali diingatkan untuk lebih berhati-hati.

Puas menikmati keelokan alam di Pantai Kasih, lima sekawan ini melanjutkan penjelajahan mereka ke bangunan peninggalan zaman Jepang yaitu Benteng Jepang, tak jauh dari pantai. Sayang, benteng terlihat tidak terawat dan nilai keindahannya sudah mulai pudar di makan usia dan terpaan cuaca.

Di tempat ini, mereka segera beranjak ketika jarum jam menunjukkan angka 10 tepat. Saat lapar mulai terasa, mereka menuju Sabang Fair, dekat pantai Paradiso. Sabang Fair tak kalah indahnya. Berburu kuliner jajanan ringan khas Sabang sekadar mengganjal lapar dan berburu pernak-pernik seperti mainan kunci khas Sabang diselingi pemandangan sekelilingnya berupa peninggalan bersejarah berupa meriam sisa perang dan benteng-benteng peninggalan tentara Jepang.  Puas berbelanja souvenir, perjalanan dilanjutkan menuju titik nol di Sabang sekitar pukul 12.00 WIB. Sebelum memasuki titik nol, terlebih dahulu mengurus sertifikat. Ya, sertifikat ini sebagai ‘meterai’ yang mensahkan wisatawan telah mengunjungi titik nol ini.

Titik nol atau sering disebut dengan kilometer nol Indonesia di Sabang terletak di Ujung Ba’u. Di sana mereka menyewa sepeda motor untuk berkeliling ke tempat lainnya. Titik nol ini sendiri adalah bangunan berbentuk tugu dengan tinggi 22,5 meter berbentuk lingkaran dan di puncaknya terdapat Burung Garuda dan lingkaran atasnya menyerupai kerucut.

Dan di tempat inipun mereka tak mau berlama-lama karena ingin menikmati perjalanan lainnya menuju Pantai Iboh, Pantai Paradiso dan Pantai Sumur Tiga.

Tak begitu banyak yang diceritakan Arief di Pantai Iboh dan Paradiso. Keunikannya berupa terumbu karang di pantai menjadi surge penghobi Snorkeling. Sedangkan Pantai Paradiso lebih menawarkan panorama alam. (mag-9)

Sumur Tiga, Balinya Tanah Rencong

Setelah menikmati indahnya Pantai Iboh dan Paradiso, misi wisata ke provinsi paling barat Indonesia dilanjutkan ke Pantai Sumur Tiga.

Versi masyarakat setempat, pantai ini disebut-sebut Balinya Sabang. Pantainya ber pasir putih berkilauan, terkenal sebagai lokasi paling asyik menikmati matahari terbit, dari ujung barat Indonesia.

Pengunjung yang pernah ke Bali, diyakini akan sepaham kalau pantai di Tanah Rencong ini pantas disetarakan dengan keindahan alam di Pulau Dewata itu. Selain itu, jumlah wisatawan asing di pantai paling panjang di Sabang ini jauh lebih banyak dibandingkan wisatawan lokal. Benar-benar persisi seperti di Bali.

Diceritakan Ar ief, keunikan di Pantai Sumur Tiga terletak pada fenomenanya. Pada bulan-bulan tertentu akan muncul hiu yang akan kawin. Itu sebabnya, saat hiu birahi di sana, wisatawan dilarang mandi dipantai.

Di pantai ini juga terdapat restoran yang menyajikan kuliner khas Sabang. Meski Arief dan rekan-rekannya tak menginap di hotel tersebut, tak ada salahnya menikmati kulinernya. Restoran ini tepat berhadapan dengan pantai. Jadi, selain menyediakan menu khas, restoran turut menyajikan pemandangan pantai yang eksotik.

Semilir angin sore membuat mereka betah berlama-lama menyicipi hidangan sea food dan aneka minuman dingin. (mag-9)

Taksasi Dana

  • Ongkos pesawat dari Bandara Polonia menuju Bandara Sultan  Iskandar Muda Rp302 ribu per orang.  Pergi-pulang Rp604 ribu  per orang.
  • Naik Ferry ke Balohan Rp15 ribu per orang, pergi-pulang  Rp40 ribu per orang.
  • Tiket masuk titik nol Rp5 ribu per orang
  • Mengurus sertifikat titik nol Rp15 ribu per orang yang menandakan bahwa kita pernah mengunjungi titik nol Sabang.
  • Sewa sepeda motor untung keliling Sabang Rp25 ribu.
  • Penginapan standar Rp250 ribu per villa.
  • Tiket masuk Pantai Iboh Rp5 ribu per orang.
  • Tiket masuk Pantai Paradiso Rp5 ribu per orang
  • Makan di Restoran Pantai Tiga Sumur Rp30 ribu per orang
  • Menikmati kuliner di Sabang Fair Rp20 ribu per orang
  • Biaya snorkeling di Pantai Iboh Rp180 ribu per orang.

Berita terkait:

FEATURE