Ditangkap di Jakarta, Hari Ini Dibawa ke Medan

Pembunuhan Bidan Didalangi Bos Ekspedisi di Batam

MEDAN- Idawati Pasaribu (IP) yang diduga sebagai aktor intelektual atau otak pelaku pembunuhan Bidan Puskesmas Teladan, Nurmala Dewi Boru Tinambunan, akhirnya ditangkap di Jakarta, Selasa (5/3). Namun, bos bisnis jasa ekspedisi di Batam itu hingga kini belum bisa dihubungi pengacaranya karena akses ditutup pihak kepolisian.

Ketika dikonfirmasi, kuasa hukum IP, Niko SH, mengamini kliennya telah diamankan tim Unit Jahtanras Polresta Medan di Jakarta Utara. “Kita belum bisa mengambil langkah apa pun. Kita masih harus konsultasi dulu kepada klien kita. Tapi kita memang sudah dikabari Kanit Jahtanras Polresta Medan, AKP Antoni tadi,” ujar Niko.

Dijelaskannya, dia sudah meminta untuk berkomunikasi dengan IP meski via seluler. Tetapi, AKP Antoni dan timnyan
belum memperbolehkan dengan alasan masih dalam pemeriksaan.

“Kata Antoni, kemungkinan klien kita masih di Jakarta sampai besok (hari ini, Red). Ya katanya, besok (hari Ini, Red) juga mau dibawa ke Medan. Tapi begitu pun, tahulah polisi. Bisa saja mungkin sudah dibawa ke Medan. Kita nggak bisa pastikan. Karena kita masih belum dikasih akses untuk bicara dengan klien kita,” ujarnya.

Niko berharap, pihaknya bisa segera berkomunikasi dengan IP. Tujuannya agar mereka bisa mengambil langkah-langkah, terutama guna mendampingi IP dalam setiap pemeriksaan.

Lantas, seperti apa sosok IP? Menurut Pu, seorang karyawan yang sudah bertahun-tahun mengabdi di perusahaan jasa ekspedisi milik IP di Batam, bosnya itu dalam seminggu banyak menghabiskan waktunya dengan keluar kota seperti ke Medan dan Jakarta.

Sepekan lalu, IP pamit kepada karyawannya pergi ke luar kota karena ada urusan bisnis ekspedisi.

“Sudah seminggu ibu itu sering keluar kota. Tiga hari lalu, beliau baru datang dari Medan. Di Batam hanya sebentar-sebentar saja sore datang, paginya pergi lagi keluar kota urusan bisnisnya,” ujar Pu kepada Batam Pos (grup Sumut Pos), belum lama ini.

Bahkan pagi kemarin, Pu mengatakan, bosnya itu masih sempat main ke rumahnya bercerita dan bergurau di Kampung Agas Seiharapan. Tak lama setelah bercerita dan bergurau dengan anak buahnya, Idawati langsung berangkat menuju Bandara Hang-Nadim Batam hendak terbang ke Jakarta pukul 09.00 WIB.

“Kalau beliau memang benar dijadikan buronan Polda Sumatera Utara, kenapa waktu keluar kota bahkan tadi pagi (kemarin) saat berangkat ke bandara kok tak dicekal,” terang Pu.

Di mata Pu, Idawati adalah sebagai sosok yang sangat dermawan dan dekat dengan anak buahnya. Ia paling tak bisa melihat keluarga anak buahnya kesusahan dalam hal ekonomi.

“Saya sudah lima tahun mengabdi ke beliau, belum ada satu pun anak buahnya yang minta tolong ataupun ngutang uang tak dikasihnya. Tinggal keberanian karyawan saja menyampaikan keluhan langsung ke beliau, pasti langsung dikasih itu uang. Beliau pun tak pernah memberikan batas waktu ke anak buahnya uang itu harus dikembalikan,’ terang Pu.

Meski Idawati bukan muslim, masjid yang saat ini berdiri megah di Kampung Agas Seiharapan dan digunakan warga sana, semua dana pembangunannya hingga berdiri kokoh dari uang pribadi Idawati Pasaribu.

“Pada saat penggusuran dulu, dan hearing dengan DPRD Batam, ibu Idawati langsung memberikan ganti rugi kepada penghuni rumah yang kena gusur itu satu keluarga sebesar Rp6 juta. Bukan itu saja, ibu juga memberikan kavling orang yang rumahnya kena gusur secara gratis. Coba kalau pengusaha lainnya yang menggusur, jangankan memberikan ganti rugi tanah kavling, ganti rugi uang saja mungkin tak akan dikasihnya,’
ujar Pu.

Idawati menggeluti dunia bisnisnya, kata Pu, sejak 2000. Dari pernikahnnya terdahulu Idawati punya tiga anak. Dua anaknya saat ini berada di Jakarta. Sedangkan satu anak bungsunya masih sekolah di Batam.

Dari Jakarta, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) meminta dengan tegas kepolisian jangan mengistimewakan tersangka oknum polisi yang diduga pelaku pembunuhan Bidan Puskesmas Teladan, Nurmala Dewi Boru Tinambunan. Demikian juga dengan otak pelaku berinisial IP yang disebut-sebut telah berhasil ditangkap di Jakarta, pada Selasa (5/3).

“Kita minta supaya mereka jangan diistimewakan. Harus diperlakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Jadi tidak boleh ada keistimewaan walau sekecil apapun,” ujar anggota Kompolnas, Edi Sahputra Hasibuan, kepada koran ini di Jakarta, Selasa (5/3).

Menurutnya, kalau benar oknum pelaku pembunuhan sampai melibatkan dua oknum kepolisian, ini tentu sebuah peristwa yang sangat luar biasa. Karena kepolisian yang seharusnya pengayom masyarakat, justru melakukan perbuatan yang benar-benar sangat tercela karena sampai menghilangkan nyawa orang lain. Karena itu ia berjanji Kompolnas akan serius mengawasi proses penanganan kasus ini.

“Mereka ini kan seharusnya sebagai pelindung. Jadi kalau memang benar-benar terbukti, maka yang paling utama mereka harus dipecat terlebih dahulu. Dan kemudian harus menjalani hukuman sebagaimana yang diatur dalam kitab perundang-undangan yang berlaku,” katanya yang mengaku kaget, karena sebelumnya tidak mengetahui adanya kasus ini.

Diberitakan sebelumnya, dugaan keterlibatan dua oknum polisi dalam kasus pembunuhan Bidan Dewi, diketahui setelah dua oknum polisi ditangkap di Padang, Selasa (26/2) lalu. “Kedua oknum polisi penembak bidan itu merupakan seorang Polwan Brigadir GB, di Polda Sumbar dan Bripda A yang juga berdinas di Polda Sumbar. Sedangkan seorang lagi sipil berinisial G,” ujar Kasubbid Bid Humas Poldasu AKBP MP Nainggolan, Rabu (27/2) di Mapoldasu.

Ketiga tersangka ditangkap setelah tim penyidik gabungan dari Direktorat Res Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Sumut dan Sat Reskrim Polresta Medan melakukan pengembangan dari hasil pemeriksaan saksi-saksi dan olah TKP di kediaman korban, Jalan Pertahanan, Gang Indah, Dusun 6 Desa Patumbak Kampung, Kecamatan Patumbak, Deliserdang. Diduga motif pembunuhan terkait cinta segitiga. Pembunuhan dilatar belakangi kecemburan IP kepada korban.

Hubungan asmara itu diceritakan IP kepada pekerja salon (kini jadi target polisi, Red) tempat dia langganan. Nah, pekerja salon ini kemudian menceritakan permasalahan itu kepada temannya seorang Polwan Brigadir GB yang berdinas di Polda Sumbar, Padang. Kemudian Polwan GB menceritakan masalah itu kepada rekannya Bripda A. Pembicaraan kemudian mengarah kepada perencanaan pembunuhan terhadap Dewi Nurmala Tinambunan, di mana Bripda A diminta untuk mencari eksekutornya, yang kemudian menunjuk G. Aksi pembunuhan ini terjadi pada Kamis (7/2) lalu. Korban yang baru saja pulang dari kerja, ditembak persis di depan kediamannya saat baru turun dari angkot. Pelaku diduga telah mengikuti korban sejak dari tempat kerjanya di Puskesmas Teladan Medan. (tim/gas/gir/jpnn)

Berita terkait:

FEATURE