Kejar Mimpi di All England

JAKARTA-Perjuangan duta bulu tangkis Indonesia di kancah All England sudah diawali. Mulai Selasa (5/3) hingga Minggu (10/3) di National Indoor Arena Birmingham, harumnya nama Indonesia di olahraga Bulu Tangkis itu ada pada pundak Simon Santoso dkk.

Merah Putih menurunkan 29 atlet di All England ini. Rinciannya tiga orang tunggal putra. Empat orang tunggal putri. Tiga pasang di ganda putra. Empat pasang di ganda putri. Serta empat pasangan di ganda campuran.

Indonesia menggondol satu mahkota tahun lalu di All England. Pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berhasil menaklukkan pasangan Denmark Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl 21-17,21-19 di partai puncak.

Nah, melihat peta persaingan menuju juara All England tahun ini, nama Owi/Butet, panggilan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, layak dikedepankan. Ganda campuran rangking dua dunia itu menjalani persiapan khusus demi mempertahakan gelar juara.

Setelah turun di Super Series Premier Korea Terbuka dan hanya mencapai babak perempat-final Januari lalu, keduanya absen di Malaysia Terbuka seminggu setelah Korea Terbuka. Di bawah Richard Mainaky mereka menggembleng diri.

“Persiapan boleh dibilang lebih berat dibanding tahun lalu. Porsi latihan naik tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya. Dalam sehari, kami bisa berlatih empat sampai lima kali,” tutur Owi sebelum bertolak ke Inggris. Dalam pandangan pemain PB Djarum Kudus mempertahankan memang lebih sulit daripada merebut.

Setelah nama Owi/Butet, nama tunggal putra Sony Dwi Kuncoro dan ganda putra Hendra Setiawan/M Ahsan menjadi sandaran Indonesia. Prestasi Sony yang terus menanjak dalam dua bulan terkahir membuatnya nangkring di posisi empat dunia. Sedang Hendra/Ahsan meski baru berpasangan Oktober tahun lalu sudah menorehkan gelar juara di Malaysia Terbuka Januari lalu.

“Kami bukan asal ngomong melihat potensi kekuatan lawan. Saya kira Hendra/Ahsan bisa minimal melaju hingga perempat-final. Drawing di All England ini pastinya susah dan menyulitkan,” kata pelatih ganda putra Herry Iman Pierngardi. (dra/jpnn)

Berita terkait: