Idawati boru Pasaribu (Nenek), Otak Pelaku Penembakan Bidan Teladan

Pengusaha Sukses yang Dikenal Dermawan

Idawati boru Pasaribu (60) atau lebih akrab disapa dengan nama Nenek, kini mendekam di penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sebagai otak pelaku penembakan bidan Teladan, Dewi.

Ditangkap: Kapoldasu mengintrogasi 8 pelaku, salah satunya Nenek (kiri) sebagai otak pelaku pembunuhan bidan Nurmala Dewi.//AMINOER RASYID/SUMUT POS

Ditangkap: Kapoldasu mengintrogasi 8 pelaku, salah satunya Nenek (kiri) sebagai otak pelaku pembunuhan bidan Nurmala Dewi.//AMINOER RASYID/SUMUT POS


Namun dibalik sifat kejinya itu, Nenek yang merupakan pengusaha ekspedisi di Batam ini dikenal sebagai seorang yang dermawan. Begitulah pengakuan penasehat hukum Nenek, Niko Nixon Situmorang di Medan, Kamis (7/3) siang.

Pria berkucir tersebut menceritakan pri-badi Idawati. Katanya, dulunya Nenek ada-lah seorang pedagang biasa yang sering mangkal di Pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta.

Dia menjual berbagai macam dagangan kepada pengunjung yang akan menum-pang Kapal Tamponas. Setelah dagangannya laris, Nenek mengembangkan bisnis lainnya, yakni menjual pakaian.

Bisnis pakaiannya bukan hanya dijualnya di Jakarta saja, tapi juga ke Pulau Sumatera dengan menggunakan kapal Tamponas. Jerih payahnya berhasil, bisnisnya berkembang pesat. Banyak pengusaha senang berbisnis dengannya. “Waktu itu dia bangun setiap pagi jam 5 untuk berjualan di sekitar pelabuhan Tanjung Priuk dan hingga saat ini kebiasaannya pun masih berlangsung juga,” terangnya.

Peristiwa teggelamnya kapal laut Tamponas, membuat Nenek mengganti jasa kapal dengan kapal Kelud. Karena kapal Kelud tujuannya sampai ke pulau Sumatera melewati pulau Batam, timbullah niat istri marga Sigalingging tersebut untuk berbisnis di pulau Batam.”Dia pertama membuka dagangannya di pelabuhan Sekupang pulau Batam. Di sana dia dikenal pedagang yang tidak kenal lelah. Dia berdagang mulai pukul 5 pagi hingga malam hari.

Bisnis pakaiannya pun melonjak, pesanan dari Sumatera, Batam dan Jakarta pun membludak. Karena bisnisnya melaju pesat, akhirnya Nenek membangun rumahnya di Jalan Kampung Agas, Kecamatan Tiban- pulau  Batam. Di rumah besar tersebut, Nenek tinggal bersama keluarga dan anak-anaknya. Dia pun membuat kamar-kamar untuk di kos. Kian hari bisnis Nenek semakin laris. “Nenek lalu mendirikan perusahan besar bernama PT Marsada Jaya yang bergerak di bidang export dan import. Gudang besarnya terdapat di Jakarta,”ujarnya.

Kemajuan perusahaan Nenek berdampak positif bagi pendapatan Kota Batam. Setiap kapal bergerak, Nenek selalu mengirimkan barang bisnisnya dengan beban pajak minimal Rp500 juta sekali angkut dan  minimal Rp4 miliar dalam sebulan.

Karena bisnisnya maju pesat, dia pun mencari jasa porter (pengangkut barang) di sekitar pelabuhan Sekupang Batam. Portir-portir tersebut mendapat upah dari Nenek bila mengangkat barang-barang miliknya. Seluruh portir yang ada di pelabuhan Sekupang kenal dengan sosok Nenek karena sering membantu ekonomi portir dan karyawannya bila kesusahan.”Semenjak Nenek ditangkap, para Portir mencarinya karena mereka tidak percaya dengan kasus yang menimpa Nenek,” ucapnya.

Ternyata, kedermawaan Nenek bukan hanya dirasakan oleh karyawan dan portir saja, masyarakat yang mengenalnya juga sering dibantunya. Bahkan, nama Idawati sempat diusulkan menjadi nama sebuah masjid di Jalan Kampung Beringin, Sekupang Pulau Batam.

“Dia menyumbang untuk pembangunan sebuah masjid. Karena itu warga sekitar dan pengurus Mesjid menawarkan kepada Idawati untuk membuat nama “ Masjid Aida”. Namun Nenek menolak dengan alasan dia iklas,”.

Niko juga menjelaskan, meski Nenek pengusaha sukses, namun penampilan Nenek sangat sederhana. Salah satu buktinya, tempat tinggal Nenek di Kampung Agas adalah kawasan ruli (rumah liar) yang sewaktu-waktu siap digusur pemerintah setempat.

Pengurus-pengurus serikat tolong menolong (STM) juga sering mendapatkan kedermawan Nenek. “Klien kita ini tidak bisa melihat orang susah. Jiwa sosialnya sangat tinggi. Kalau ada yang mengeluh butuh sesuatu, dia pasti langsung membantunya dengan iklas,” ujar Niko yang didampingi rekannya sesama kuasa hukum, Binhot Manalu SH.

Siapakah Berton?

Siapa Berton di mata Nenek? Kata Niko, Berton adalah anak dari tulang (paman) kandungnya. Berton didudukkan sebagai Direktur Operasional PT Marsada Jaya, perusahaan milik Nenek. Namun sekitar 2011 lalu, Berton menghilang. Selain membawa sejumlah uang perusahaan, Berton juga meninggalkan banyak beban tugas serta tanggung jawab selaku direktur operasional.

Lanjut Niko, seiring menghilangnya Berton, Nenek secara resmi melaporkannya ke polisi dengan tuduhan penggelapan. Atas laporan ini, katanya, Berton kini sudah menyandang status sebagai buronan. “Nah, Nenek menduga, Berton memberikan uang kepada korban atau kepada keluarganya. Hal itu diduga terkait adanya uang Rp100 juta yang diberikan Berton kepada korban (bidan Dewi). Karena diduga menyimpan, makanya Nenek menyuruh orang untuk mencari korban,” katanya lagi.

Disinggung soal suruhan untuk membunuh, Niko meminta agar semua pihak menggunakan azas praduga tak bersalah. “Katakan memang ada peristiwa sebelumnya, tapi apakah ada kaitannya dengan peristiwa ini? Apalagi para tersangka masih membantah semua tuduhan kok. Biar nanti pengadilan yang membuktikan,” katanya. (gib/smg)

Berita terkait: