Gara-gara Piutang Rp400 Ribu

Perang Geng di Lapas, 3 Luka

Medan-Kerusuhan kembali terjadi di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Tanjunggusta Medan. Dua puluh narapidana (napi) dari geng Syahputra Sitepu alias Dewa dan Asiong terlibat ‘perang’ di lapangan lapas. Tiga napi terluka parah. Perkelahian ini dipicu persoalan utang-piutang senilai Rp400 ribu.

DIPINDAHKAN: Para narapidana digiring petugas Lapas menuju mobil untuk dipindahkan dari  Lapas Tanjung Gusta Medan, Jumat (26/4). Pemindahan tersebut buntut dari bentrokan antarnapi.//aminoer rasyid/SUMUT POS

DIPINDAHKAN: Para narapidana digiring petugas Lapas menuju mobil untuk dipindahkan dari Lapas Tanjung Gusta Medan, Jumat (26/4). Pemindahan tersebut buntut dari bentrokan antarnapi.//aminoer rasyid/SUMUT POS


Informasi yang diperoleh, bentrokan itu terjadi sekira pukul 09.00 WIB. Awalnya, anggota geng Dewa menagih utang kepada Asiong sebesar Rp400 ribu. Tak tahu bagaimana, Asiong dipukul. Mengetahui Asiong dipukul, pendukungnya tak senang. ‘Perang’ terbuka pun terjadi. Masing-masing napi membawa senjata berupa balok bahkan sikat gigi yang telah diruncingkan.

“Awalnya mereka (napi) bentrok di depan kolam ikan, tetapi sempat dipisahkan oleh petugas. Kemudian sekitar dua jam lewat, mereka main lagi di lapangan voli,” ujar seorang petugas kepolisian, Jumat (26/4) yang tak ingin disebutkan namanya.

Akibatnya, Cemy alias Alexander dari kubu Dewa mengalami luka parah pada bagian kepala. Karena kondisinya cukup serius, dia pun langsung dibawa ke RS Bina Kasih Sunggal. Di sisi lain dari kubu Asiong, Murdianto mengalami luka tikam pada bagian punggung kiri dan Suprianto mengalami luka di bagian pelipis.

Akibat keributan ini, dua truk personel Dalmas Polresra Medan masuk ke Lapas Tanjunggusta. Sejumlah pejabat Polresta Medan pun tampak hadir di sana.

Hingga siang hari, baik kepolisian maupun pihak Lapas Klas I Tanjung Gusta Medan, susul menyusul memasuki Lapas. Sekira pukul 13.30 WIB, Kapolresta Medan Kombes Pol Monang Situmorang didampingi Kasat Intel Polresta Medan Kompol Faisal Napitupulu dan Kasat Sabhara Polresta Medan Kompol Tris Lesmana Zeviansyah juga terlihat datang dan langsung masuk ke dalam Lapas.

Berdasarkan pantauan sekira pukul 15.00 WIB empat mobil tahanan berplat merah langsung dijejerkan menghadap pintu masuk Lapas Tanjunggusta Medan. Kemudian 17 narapidana secara bertahap dipindahkan ke empat UPT (Unit Pelaksana Teknis) Lapas yang ada di Sumut. Ke-17 narapidana itu diboyong dengan empat mobil tahanan yang telah disiapkan tadi.

Dengan pengawalan ketat petugas kepolisian, dari dalam Lapas empat orang tahanan dibawa menuju mobil tahanan yang telah menunggu mereka. Keempat narapidana yang sebelumnya menghuni Blok T ini di antaranya Syahputra Sitepu alias Effendi alias Dewa, Tarkelin Ginting, Enosta Tarigan, dan Ramlan Barus. Mereka dipindahkan ke Lapas Klas II A Pematangsiantar.

Tidak itu saja, jam besuk di Lapas untuk Jumat (26/4) ditiadakan. Jam besuk Sabtu (27/4) pagi pun ditiadakan karena rencananya akan diadakan upacara hari bakti pemasyarakatan. Kejadian ini juga membelokkan perhatian wartawan ke Lapas Klas I Tanjung Gusta Medan. Sebelumnya, sejumlah wartawan menunggu kedatangan Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi ke Lapas Anak Tanjung Gusta Medan yang ada di belakang Lapas Klas I Tanjung Gusta Medan.

Istri Dewa Pingsan

Saat diboyong oleh petugas kepolisian, Dewa sempat menyeletuk saat beberapa fotografer mengabadikan wajahnya. “Jangan yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan,” ujar pria bertato di lengan kanan dan kirinya. Istri Dewa pun histeris dan pingsan saat melihat petugas menggiring Dewa ke dalam mobil tahanan.

Pengunjung Lapas, Ani yang biasanya menjenguk suaminya mengatakan dirinya cukup lama mengenal Dewa. Di depan gerbang Lapas, Ani mengatakan bahwa Dewa biasanya dikawal dua orang anak buahnya. “Dia lah ketua di Blok T itu. Biasanya kalau berjalan kemana-mana dia harus dikawal dua anak buahnya. Tapi setahu saya dia orangnya baik. Karena dia yang paling mencolok, makanya saya kenal. Kadang, kalau dia lagi kesal, dia hukum anak buahnya supaya lari-lari keliling lapangan. Tapi setelah itu dia ngajak mereka makan-makan,” ujar Ani.

Selanjutnya, setelah empat orang tahanan tadi diboyong, beberapa petugas Polresta Medan memakai seragam lengkap terlihat memasuki Lapas Tanjunggusta Medan. Kemudian, 13 narapidana lainnya juga dipindahkan secara bertahap ke masing-masing UPT yang telah ditentukan. Mereka semua dalam keadaan diborgol. Dimana empat orang narapidana dipindahkan ke LP Klas II B Lubukpakam Kabupaten Deliserdang. Keempat narapidana ini juga diboyong dengan mobil tahanan yang telah disiapkan. Mereka membawa perlengkapan seadanya. Selanjutnya, lima narapidana di pindahkan ke Lapas Binjai dan terakhir empat narapidana juga dipindahkan ke Lapas Klas II B Tebing Tinggi.

Sementara itu, Kadiv Permasyarakatan Kanwil Kemenkumham Sumut, Amran Silalahi mengatakan ke-17 narapidana tersebut dipindahkan karena dapat memicu bentrokan susulan. “Karena kita menilai akan membahayakan, supaya tidak terjadi bentrok susulan kita pindahkan 17 orang ke UPT yang ada di jajaran Kemenkum dan HAM Sumut,” kata Amran Silalahi.

Amran sempat memberi penjelasan soal penyebab bentrok antar narapidana ini. Dia membenarkan pemicunya adalah pemukulan terhadap napi bernama Asiong, terkait utang piutang. “Kemudian simpatisan kedua belah pihak mencoba melanjutkan,” jelas Amran.

Lanjutnya, karena rekan sekamar Asiong menanyakan pemukulan itu sehingga berbuntut pemukulan berikutnya. Dalam kejadian ini, seorang napi bernama Murdianto terluka di pelipis. “Setelah penusukan sebenarnya sudah ada penyelesaian, tapi ada yang mencoba memanaskan, yaitu Alexander. Dia sebenarnya tidak termasuk dalam dua kelompok ini. Terjadi pengeroyokan hingga akhirnya dia dibawa ke RS Bina Kasih,” jelas Amran.

Amran menyatakan Asiong yang pertama kali dipukuli tidak termasuk dalam rombongan narapidana yang dipindahkan. Salah seorang narapidana yang dipindahkan adalah Syahputra Sitepu alias Dewa. Dia merupakan pimpinan kelompok yang memukuli Asiong. Amran mengakui, ada benda tajam yang digunakan dalam bentrok itu. Namun, dia membantah narapidana menggunakan belati. Kata Amran, kasus ini masih diselidiki polisi. “Masih dalam lidik,” jelasnya. (far)

Kronologi Bentrok di Lapas

Jumat (26/4) 09.00 WIB Asiong dipukuli oleh kelompok Syahputra Sitepu alias Dewa yang mengakibatkan perkelahian massal. Namun, berhasil diamankan polisi khusus lapas.
11.00 WIB Perkelahian kembali terjadi. Satu orang luka serius dan langsung dilarikan ke RS Bina Kasih Sunggal. Dua orang lainnya mengalami luka tusuk dan luka di bagian pelipis.
13.30 WIB Pihak Kapolresta Medan tiba dan masuk ke dalam lapas.
15.00 WIB 17 napi dipindahkan keempat untuk menghindari bentrok susulan

Napi yang dipindahkan ke Lapas Klas II A Pematangsiantar
1     Syahputra Sitepu alias Effendi alias Dewa
2     Tarkelin Ginting
3     Enosta Tarigan
4     Ramlan Barus

13 Napi lainnya
1 Empat napi ke Lapas Klas II B Lubukpakam
2 Lima napi ke Lapas Binjai
3 Empat napi ke Lapas Klas II B Tebingtinggi

Daftar Kerusuhan di Lapas

26 April 2013 Lapas Tanjunggusta, Medan Dua kelompok napi, Asing dan Dewa, terlibat perkelahian massal karena utang piutang. Dua orang luka serius.
19-22 Februari 2012 Lapas Kerobokan, Bali Bentrok massal napi dipicu sikap diskriminasi petugas. Sato orang luka parah. 1.000 napi diisolasi.
23 Juni 2008 Lapas Pasir Putih, Nusa Kambangan, Cilacap Dua napi asal Nigeria menjadi pelaku kerusuhan dan pembakaran di lembaga pemasyarakatan ini. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
18 Desember 2007 Lapas Kesambi, Cirebon   Kerusuhan terjadi setelah pertandingan sepak bola antarblok. Ada sentimen antarsuku. Tidak ada korban jiwa dalam pertikaian itu, beberapa orang terluka.
31 Juli 2007 Lapas Cipinang, Jakarta Persaingan antara geng napi asal Jawa Timur dengan geng Ambon, Palembang, dan Batak. Dua napi dari geng Jawa Timur tewas.
26 Mei 2003 Lapas Lowokwaru, Malang Terjadi keributan antarnapi di dalam sel. Keributan memicu kerusuhan yang menyebabkan satu orang tewas.
19 Januari 2003 Lapas Tanjung Gusta, Medan Kerusuhan disebabkan rencana napi yang akan melarikan diri. Rencana itu ditentang rekan-rekannya karena diduga diketahui oleh sipir. Tiga napi tewas.
20 Juli 2001 Rumah Tahanan Salemba, Jakarta Perkelahian disebabkan pembagian jatah makan siang. Dua orang tewas dan satu terluka.
Tagged:

Berita terkait: