Maknai Perpisahan Sekolah

Jauhi Kenakalan Remaja Melalui Kegiatan Pentas Seni

TEBINGTINGGI- Hello Sobex, Met berpisah dan jumpa lagi di sekolah lain, paling enak cerita perpisahan dengan teman kelas, guru pada kegiatan positif. Berbicara perpisahan sekolah setelah melaksanakan Ujian Nasional (UN) memang terasa sedih, dimana kita harus meninggalkan sekolah sekaligus guru yang telah membimbing selama tiga tahun. Nah, bukan itu saja, rasa galau dalam penantian menunggu hasil SKHU atas kelulusan tersebut juga menghantui para siswa-siswi.

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Sekolah MTSN Jalan AMD Kota Tebingtinggi kelas IX merayakan perpisahan antar siswa, guru dan adik kelas. Imam Jurjawi (14) sang juara umum sekolah MTSN tersebut mengakut perpisahan sekolah bukanlah pemutus hubungan silatuhrami dengan guru, adik kelas, tetapi perpisahan ini hanya semata-mata cermin hati atas kerinduan sekolah yang selama tiga tahun mendapat ilmu pengetahuan.

“Perpisahan bertepatan dengan Hardiknas, kami merayakan dengan penuh semangat adanya penampilan berbagai pentas seni seperti drama kolosal, sendra tari daerah dan membaca puisi. Ini semua dilakukan pelajar kelas IX MTSN yang telah melaksanakan UN. Pesta narkoba dan sex bebas, No Way bagi Kami,jauh-jauh seperti itu, apalagi ngebut dijalanan dan ugal-ugalan, kembali kami katakan No Way,”jelas Imam.

Lanjut Imam, untuk masalah kelulusan, dirinya tidak menampik ada rasa Galau, dimanakala hasil pengumuman kelulusan belum di ketahui, banyak rencana dipikirkkan setelah mendapat kelulusan nantinya, Imam akan melanjutkan ke sekolah tingkat atas dan ingin menjadi duta sekolah asal tempat menempuh ilmu pendidikan.

“Ya, tidak tenanglah perasaan ini, kalau istilah anak sekarang Galau, memikirkan kelulusan, tetapi saya yakin akan lulus, karena materi UN sebelumnya dengan mudah dikerjakan sesuai dengan apa yang selama ini dipelajari di sekolah,”ujar Imam kepada Sumut Pos, Kamis (2/5).

Lain halnya, Diana Yusuf (14) juara umum kedua disekolah tersebut, sedikit mengomentari permasalahan perpisahan enaknya memberikan suguhan atau hadiah kepada guru sebuah hiburan-hiburan, dari pada kongkow-kongkow sama teman ditempat wisata tiada guna, mendingan menyalurkan bakat melalui media pemetasan seni tari. “Hadiah tarian tor-tor batak sengaja kami berikan kepada guru dan sekolah, kami hanya siswa-siswi dari keluarga dengan penghasilan kecil. Selama ini guru telah memberikan ilmu dunia dan ilmu akhirat disekolah ini, bagaimana kita bisa membalasnya?,”terang Diana.

Ungkap Diana kembali, taria-tarian yang kami sajikan ternyata woi keren, ungkap beberapa guru, tetapi bukan itu yang kami harapkan sebagai anak-anak didik, tetap perasaan puas kami menimbah ilmu selama tiga tahun di sekolah ini menjadi harapan masa depan. “Kami bangga dengan sekolah MTSN satu-satunya di Kota Tebingtinggi, walaupun tidak menjadi sekolah faforit di kota itu, tetapi kami setelah lulus nantinya akan menjadi duta kesekolah lain, bahwa sekolah kami yang terbaik untuk menimbah ilmu,”pinta Diana gadis berjiblab itu mengakhiri.(ian)

Berita terkait: