Anwarsyah Nur Doktor ke-21 IAIN Sumut

INSTITUT Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut menghasilkan doktor ke-21 yakni Dr Anwarsyah Nur, Rabu (8/5). Promosi doktor Program Pascasarjana (PPs) IAIN Sumut ini dipimpin Rektor IAIN Sumut Prof Dr H Nur Ahmad Fadhil Lubis MA didampingi Prof Dr Syahrin Harahap MA, Prof Dr Katimin MA, Prof Dr Nawer Yuslem MA, Prof Dr Amraini Derajat MAg dan Prof Dr Hasan Bakti Nasution MA. Rektor IAIN Sumut Prof Dr H Nur Ahmad Fadhil Lubis MA mengatakan, melalui pengujian dalam promosi doctor, akhirnya Anwarsyah Nur dengan disertasi berjudul Din-I-Ilahi: Pemikiran Sinkretis Keagamaan Sultan Akbar The Great (1556-1605) ini dinyatakan lulus dalam ujian promosi doktor sehingga berhak menyandang gelar doktor. Menurut Rektor IAIN Sumut, mantan Sekretaris Jurusan pada Fakultas Ushuluddin IAIN Sumut tahun 2000-2004 dan mantan Kepala Pusat Pembinaan Bahasa IAIN Sumut tahun 2004-2010 ini menjadi doktor ke-21 yang dihasilkan PPs IAIN Sumut.

Ia berharap Anwarsyah dapat terus mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga dapat memberi manfaat lebih besar kepada masyarakat.Prof Dr Syahrin Harahap MA mengemukakan, menciptakan kerukunan merupakan hal penting. Namun, lanjut Syahrin yang pernah menjadi Rektor Universitas Al-Washliyah (Univa), kerukunan antar-umat beragama jangan sampai pluralisme liberal yang memandang kesamaan semua agama.

‘’Pengalaman upaya menegakan kerukunan di India yang semacam ini yang pernah dilakukan Sultan Akbar tidak terjadi di Indonesia dimana kerukunan tidak memandang etika,’’ ujarnya.Guru Besar IAIN Sumut yang pernah menjadi Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Medan ini mengatakan sinkretis yang mencomot hal-hal tertentu yang semata mencari keuntungan dalam menjaga kerukunan tidak dapat diterapkan di Indonesia.  ‘’Kita harap Dr Anwarsyah Nur dapat mendirikan pusat kajian meneliti kerukunan umat beragama di Indonesia,’’ imbuhnya.

Dalam disertasinya, Anwarsyah Nur mengutarakan penelitian bertujuan merekontruksi motivasi Sultan Akbar di India. Din-I-Ilahi yang digagas Akbar merupakan sebutan bagi kebijakan di bidang keagamaan yang diterjemahkan oleh penulis Barat dari Tauhid-I-Ilahi dalam karya Abul Fazl Ain-I-Akbari.’’Hasil penelitian menunjukan bahwa secara teologis, konsep Din-I-Ilahi dianggap telah menyimpang jauh dari aqidah Islam. Secara politik, ide tersebut didasarkan semata-mata atas pertimbangan untuk stabilitas keamanan negara. Secara psikologis, gagasan ini merupakan cerminan konflik spiritual yang demikian dalam,’’ kata warga Kompleks Pertiwi Residence Medan tersebut. (dmp)

Berita terkait:

FEATURE

DBL Indonesia North Sumatera Series
PLN Bottom Bar