Tahun Ini, Krisis Listrik Selesai

Dapat Pasokan dari PLTU Nagan Raya

MEDAN-Ini kabar baik bagi masyarakat Sumut maupun kalangan industri. PT PLN (Persero) meyakini kalau krisis listrik di tengah pertumbuhan pelanggan yang meningkat akan segera dituntaskan diakhir tahun 2013.

Direktur Kontruksi dan Energi Baru Terbarulan PT PLN (Persero) Nasri Sebayang mengatakan, tahun ini krisis listrik akan selesai karena pasokan dari PLTU Nagan Raya sebesar 2×200 MW akan datang, dimana 100 MW sudah masuk April dan sisanya paling lambat masuk Juni 2013.

“Belum lagi dari Pangkalan Susu yang sedang dikebut 400 MW. Akhir tahun ini akan masuk. Kemudian pada triwulan pertama atau kedua tahun depan juga akan masuk lagi pasokan. Kalau semua ini sudah masuk, maka krisis listrik akan beres,” ujarnya di SMA 1 Methodist Medan, dalam rangka pemberian bantuan perlengkapan sekolah Bod Goes to School berupa peralatan olah-raga, kesehatan dan belajar meng ajar, Jumat (17/5).

Menurut Nasri, semua pasokan listrik yang masuk ke wilayah Sumut ini akan membantu memenuhi kebutuhan listrik pelanggan yang terus tumbuh setiap tahunnya. Namun yang paling penting diselesaikan adalah bagaimana menghubungkan secara terkoneksi mulai dari Pangkalan Susu sampai ke Sumatera Selatan (Sumsel) yang saat ini sedang dibangun dengan kapasitas 275 KV.

“Selain dari pasokan tadi, listrik juga akan masuk dari Sumsel ke Sumut. Sistemnya nanti terkonek langsung dari Lampung ke Aceh sehingga tahun 2014 pasokan listrik akan semakin mantab,” ucapnya.

Diakuinya, untuk merealisasikan penambahan kapasitas listrik ini membutuhkan biaya yang sangat besar, pihaknya sedang menggali secara maksimal khususnya untuk potensi energi terbarukan seperti PLTA dan PLTB atau panas bumi.

Permasalahan regulasi dan perizinan sering membuat terhambatnya rencana pembangunan pembangkit listrik tersebut. Apalagi sumber energi terbarukan berada di kawasan hutan apakah itu hutan lindung, hutan konservasi dan lainnya.

“Kita tidak boleh sembarangan masuk. Jadi benar-benar harus memiliki izin yang lengkap sehingga pihak investor tidak ada keraguan dalam membangun pembangkit listrik ini,” akunya.

Namun, kata Nasri, melihat pertumbuhan kebutuhan listrik di Indonesia meningkat atau sebesar 10,1% ditahun 2012, maka PLN dikejar melakukan program penambahan kapasaitas listrik dengan membangun pembangkit baru dari tahun 2012 hingga tahun 2021 sebesar 55ribu MW.

“Dan itu membutuhkan dana besar, stamina dan dukungan pihak dan itu butuh dana, stamina dan dukungan banyak pihak. Sedangkan yang sekarang baru terbangun hampir 10 ribu MW dengan jumlah pembangkitnya hing ga ratusan yang dibangun tersebar hampir selurh Indonesia,” tuturnya.

Dalam rencana program 10 tahun ini, PLN diberi tugas mengembangkan PLTA sebesar 6.300 MW dan panas bumi 5.800 MW di seluruh Indonesia, termasuk di Sumut yang PLTA-nya akan dibangun cukup besar, yakni Asahan 3 sebesar 1600 MW dan Asahan 4 yang akan dikembangkan, Batang Toru 500 MW dan PLTB di Sarnula yang saat ini sudah ditandatangi kontrak dan pelaksanaannya dimulai tahun 2016, meski rencana pengembangan pembangkit tersebut prosesnya sudah lama sudah lama dari tahun 1980-an dan baru tahun 2007 mulai dikontrak.

“Banyak masalah tapi belum bisa dikerjakan karena harus ada jaminan dari pemerintah. Dari kontrak baru 6 tahun kemudian mulai dikerjakan di lapangan. Ini karena terkendala aturan dan perizinan serta keyakinan dari investor,” tambah Nasri.

Konversi ke Gas
Selain itu, pihak PLN akan terus melakukan konversi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) ke gas sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Sebab dari nilai produksi, penggunaan gas lebih murah sehingga dapat menurunkan nilai subsidi listrik dari pemerintah yang saat ini mencaai Rp 80 triliun.

“Kita terus konversikan ini. Karena kalau menggunakan BBM harga produksi perKwh nya bisa mencapai Rp2.500 sedangkan gas hanya Rp 800/Kwh. Penggunaan minyak terlalu mahal dan sebagian juga impor. Kalau gas ada di dalam negeri, meski gas itu juga tidak ada di PLN kendalinya,” pungkas Nasri. (ila)

Berita terkait:

FEATURE

DBL Indonesia North Sumatera Series
PLN Bottom Bar