Hasil UN SMA Sederajat Anak Medan Peringkat 2 Nasional

JAKARTA- Sumatera Utara menorehkan prestasi khusus dalam pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun ajaran 2012/2013. Siswa SMA Swasta Methodist 2 Medan, yakni Helena Marthafriska Saragi Napitu, menduduki rangking kedua nasional, dengan nilai rata-rata UN Murni 9,78.

Nilai rata-rata UN Helena ini sama persis dengan peringkat ketiga, yakni Aditya Agam Nugraha dari SMAN 1 Surakarta, yakni juga 9,78. Sedangkan untuk posisi pertama diraih siswa SMAN 4 Denpasar, yakni Ni Kadek Apriyanti dengan nilai 9,87.

Menurut Kepala Sekolah SMA Swasta Methodist 2 Medan, Pdt Paulus Subyanto STh
hasil tersebut bukan kejutan. Pasalnya, Helena Marthafriska Saragi Napitu memang siswi yang dipintar. Sejak Kelas X Helena selalu menjadi juara umum. “Helena pribadi yang baik, rajin beribadah, dan mudah bergaul sesama rekannya,” katanya, tadi malam.

Helena tercatat sebagai siswi kelas XII IPA 5, di mana kelas tersebut merupakan kelas unggulan. Paulus merasa bangga atas pencapaian yang diraih siswanya karena berhasil berhasil meraih peringkat kedua nasional yang berhasil lulus dengan nilai tertinggi.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh merilis data ketidaklulusan siswa tingkat SMA/MA/SMK untuk tahun ajaran 2012/2013 di Jakarta. Dari 195.526 siswa SMA/MA/SMK di wilayah Sumut yang mengikuti UN, jumlah siswa yang tidak lulus tahun ini didominasi siswa jurusan IPS, yakni sebanyak 2.196. Kemudian disusul siswa SMK sebanyak 1.616, SMA/MA jurusan IPA 736, jurusan Bahasa 10, Keagamaan 6 siswa. Jadi, secara keseluruhan siswa yang tidak lulus berjumlah 4.564 dari 199.886 siswa yang mengikuti UN atau setara dengan 2,51 persen.

Angka ini menempati peringkat ke-16 dari 33 provinsi. Peringkat pertama persentase ketidaklulusan ditempati Provinsi Aceh. Dari 56.405 siswa SMA/MA/SMK di bumi Serambi Mekah ini, sebanyak 1.754 siswa tidak lulus, alias mencapai 3,11 persen.

Sedang posisi terbaik di tempati Jawa Barat, dimana siswanya mencapai 208.060 siswa, yang tidak lulus hanya 1 siswa saja. Sedang Bali dengan jumlah siswa 26.241 siswa, yang tidak lulus hanya 8 siswa.

Nuh menjelaskan, ketidaklulusan siswa ini berdasar kriteria, perpaduan antara evaluasi internal sekolah yang mencakup tuntas KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), akhlak, dan ujian sekolah. “Ini diramu dengan evaluasi eksternal, yakni hasil UN,” terang Nuh di kantornya, Jakarta, Kamis (23/5).

Artinya, nilai akhir yang menentukan lulus tidaknya siswa adalah gabungan 60 persen UN murni dan 40 persen rapor. Dalam kesempatan yang sama, Nuh juga membeberkan, ada sebanyak 24 sekolah yang siswanya dinyatakan tidak lulus 100 persen. “Jadi masih ada sekolah yang siswanya tidak lulus 100 persen, ada 24 sekolah. Jumlah siswanya (di 24 sekolah itu) 899 orang,” kata Nuh.

Sementara Sekertaris Dinas Pendidikan Sumut, Hendri Siregar yang didampingi
Ketua Panitia UN, Yusri dalam temu pers, Kamis sore (23/5), mengakui kalau tingkat kelulusan tahun ini menurun. Namun begitu, Hedri belum bisa memastikan penyebab bertambahnya jumlah siswa yang tidak lulus, karena masih menunggu hasil investigasi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Dia juga memaparkan, pengumuman hasil UN tahun ini ada sedikit keterlambatan. Dijadwalkan sebelumnya pengumuman sudah akan di mulai pukul 10.00 pagi (kemarin,Red), namun baru di mulai pukul 17.30 WIB. Ini disebabkan karena proses pemindaian yang berlangsung cukup lama. “Kita patut bangga salah satu SMA dari Sumut masuk dalam 10 besar kategori nilai tertinggi,” kilahnya. (mag-8/sam)

Berita terkait: