Tali, Kembang Tanjung

Oleh: Andy Moe 
Selalu, pada setiap pagi gadis itu ada disana. Membungkuk seperti melihat. Ah, lebih tepatnya mencari sesuatu. Entah apa. Di tangan kirinya sebuah kantong plastik tergantung dengan sebelah cangklong.
Nampaknya sengaja ia biarkan begitu karena ia ingin memasukkan sesuatu ke dalam plastik itu. Apalagi warna plastik yang hitam semakin memberikan rasa penasaran yang kuat untukku tahu apa yang ia lakukan disana. Ini pagi entah yang keberapa aku melihat gadis itu. Aku tak tahu dari mana asalnya. Yang jelas ia bukan warga kampungku. Aku hanya mengenalinya dari rambutnya yang panjang, selain pagi yang selalu karib mempertemukan mataku untuk melihatnya di bawah pohon itu. Pohon besar yang ada di taman segitiga, di jalan utama menuju kampungku.

Pohon tanjung.

Hari masih lumayan gelap membungkus tubuh kecilku ke arah taman segitiga. Sengaja aku pergi ke taman ini sebelum subuh datang sebab rasa penasaranku terhadap gadis berambut panjang itu telah menyita pikiranku beberapa hari ini. Kadang aku juga tak mengerti kenapa aku harus memikirkannya. Bukankah ia tak pernah kukenal?. Apa pentingnya juga aku memikirkannya?. Pertanyaan itu selalu datang semenjak pertama aku melihat gadis itu. Rambut panjang itu. Juga kantong plastik hitam di tangan kirinya. Tapi tampaknya rasa penasaran yang besar itulah yang membuatku membunuh sendiri pertanyaan-pertanyaanku. Segera kupanjat batang pohon tanjung itu perlahan. Aku harus berhati-hati karena subuh telah membuat kulit batang tanjung ini berlumur embun.

Salah sedikit aku bisa tergelincir dan jatuh berdebam di tanah. Mataku menatap dengan seksama pada setiap cecabang, berharap menemukan tempat yang tepat untuk bersembunyi agar gadis itu tak menemukanku ketika ia datang nanti. Akhirnya aku temukan batang cabang yang kurasa tepat menyembunyikan tubuhku dari penglihatan gadis itu. Batang berbentuk ketapel yang kurasa juga cukup kuat menopang tubuhku, apalagi daun-daunnya rimbun.

Tenyata di atas sini tak senyaman dugaanku. Tubuhku disatroni nyamuk.

Seperti tak menyukai kehadiranku nyamuk-nyamuk itu mengantup beberapa bagian tubuhku yang terbuka dan sukses membuat bintil merah serta mengusik kenyamananku bersembunyi. Tapi aku harus bertahan. Demi jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku. Penasaranku.

Karena sebentar lagi gadis itu akan datang.

Dari jalan kecil di sebelah selatan jembatan jerujuk sesosok bayangan kecil terlihat olehku. “Apa ia gadis itu?” Pikirku. Entahlah. Aku tak bisa meyakinkan diri sendiri, sebab jalanan masih lumayan gelap menutup pandang. Apalagi aku berada di atas pohon ini. Sesosok bayangan itu terlihat makin mendekat menuju taman segitiga tempatku bersembunyi. Semakin dekat, bayangan itu seperti membesar menyalip tubuh nyatanya.

Tepat ketika sesosok tubuh itu hendak masuk ke taman segitiga ini dengan meloncati selokan yang mengelilingi taman, barulah aku yakin bahwa bayangan itu memang gadis berambut panjang yang aku tunggu. Aku sangat yakin karena saat kaki gadis itu meloncati selokan, sebagian wajahnya terkena sorot lampu taman yang masih menyala.

Di atas pohon aku berusaha tak banyak bergerak. Meskipun semakin lama, kakiku terasa kesemutan. Tapi lagi-lagi aku harus bertahan sebab aku tak ingin semua usahaku menjadi kacau untuk mencari tau siapa gadis itu. Dari atas, gadis itu terlihat mulai mencari tempat. Matanya begitu fokus ke arah tanah bundar yang tak ditumbuhi rumput. Tepat di bawahku.

Ia mulai membungkuk. Tangannya seperti tengah mulai sibuk menyortir jatuhan kembang tanjung antara yang masih segar dan yang sudah layu dan kering. Aku bisa tau dari bagaimana cara gadis itu memilih kembang tanjung itu. Kembang yang berwarna kecoklatan penuh ia abaikan. Sedang yang masih terlihat putih dari bagian tengah kelopak dan hanya ujung-ujung kelopaknya yang coklat yang kemudian ia pungut dan segera ia masukkan ke kantong plastik hitam masih di tangan kirinya seperti yang biasa aku ketahui. Aku tersenyum karena merasa satu pertanyaan yang aku cari telah menemukan jawaban.

Pada kesempatan berikutnya aku mengikutinya. Kemana ia pergi selepas dari taman segitiga. Dan barulah aku tau bahwa ia berasal dari kampung sebelah., 2 kilometer dari kampungku.

Rumahnya kecil. Tidak, mungkin lebih tepatnya gubug. Hanya ada dinding dari bilik bambu. Dari atap rumahnya nampak asap mengepul dari selasela lubang genteng.

Sepertinya asap dari sebuah tungku masak. Di depan ada sebuah lincak yang kemudian aku lihat digunakan gadis itu untuk melepas lelah.

Diluruskannya keduakakinya, sementara tangannya mengusap keringat yang berbulir dari jidat dan lehernya.

Ah, hari memang sangat panas.

Seorang perempuan tua terlihat keluar dari dalam gubug. Jalannya pelan memegang tongkat. Tertatih menghampiri gadis. Gadis itu terperanjat dan segera berdiri setelah menyadari kehadiran perempuan itu.

Diraihnya bahu perempuan tua itu untuk kemudian ia bantu duduk di lincak. Sesaat gadis itu menyodorkan kantong plastik hitam tempat kembang tanjung yang ia kumpulkan pada perempuan itu. Perempuan itu tersenyum menerima. Dikeluarkannya kembangkembang tanjung itu lalu ditaruhnya di sebuah tampih.

Begitu lama aku mengintai gadis dan perempuan itu. Maka jika ada yang harus aku sesali hari ini adalah kenapa pada saat itu, aku tak berani untuk menyapanya. Bertanya siapa dia?.

Hingga saat ini penyesalan ini semakin berasa. Ketika sudah tiga hari ini aku tak pernah melihatnya lagi. Di taman segitiga. Di bawah pohon tanjung.

Aku sebut saja gadis itu: Kembang Tanjung.

*** Orang-orang berkerumun di pinggiran sungai jerujuk. Gaduh sekali suara mereka. Beberapa orang saling pandang dan berargumen. Tapi, entah apa. Yang lain seperti terpaku ke arah sungai. Aku yang masih mengenakan seragam sekolah berusaha menerobos kerumunan orang-orang itu. Dari dasar sungai, terlihat lima laki-laki tengah menyeret sesosok manusia. Tubuhnya besar. Mengapung. Setelah sampai di bibir sungai sesosok manusia yang mengapung tadi yang nampaknya juga sudak tak bernyawa, diangkat oleh kelima orang lakilaki dengan di Bantu beberapa orang dari atas bibir sungai. Tubuh mayat itu sudah membengkak. Pucat. Terbujur di tanah. Dan alangkah terkejutnya aku ketika mayat itu ditelentangkan. “Bukankah, dia Tali? Pikirku. Astaga!”. Orang- orang di sekelilingku juga tak kalah kaget. Ada yang menangis iba. Ada yang ramai menebakterka penyebab kematian tali.

Ya, dia Tali. Nama lengkapnya Sutali.

Si dekil yang gila. Tubuhnya tinggi besar dengan rambut kribo yang kumal.

Bajunya compang-camping bertumpuk-tumpuk di badannya. Kau tak akan percaya bila melihat Tali makan. Ia bisa menghabiskan dua nampan nasi seorang diri. Tak heran, jika banyak spekulasi tentangnya. Dari bahwa ia dirasuki roh, kelaparan dan lainnya. Kadang dari saku bajunya keluar sejumlah uang dengan nominal yang lumayan besar seukuran orang gila. 20 sampai 50 ribu rupiah. Tapi jangan salah, ia tak pernah meminta uang dari orang-orang yang ditemuinya. Setauku dan juga warga di sini, Tali, yang juga pendiam dan tak pernah mengacau itu tak pernah memintaminta. Uanguang itu ia dapatkan dari pemberian orang-orang yang iba padanya, yang ia temui di jalan-jalan. Ciri khas dari Tali adalah karet gelang di tubuhnya.

Ia memiliki ratusan atau bahkan ribuan karet gelang. Ia memang terkenal suka mengumpulkan karet gelang.

Dari bekas bungkus nasi, jalanan, atau diberi seseorang di warungwarung tempat ia dan becak ringseknya berkelana.

Sejurus kemudian, sebuah ambulans datang. Memecah konsentrasi kerumun orang-orang yang melihat jasad Tali. Tak lama diangkatlah jasad Tali ke atas ambulans beramai-ramai.

Seperti mereka, tiba-tiba ada rasa iba di hatiku melihat jasad Tali masuk ke ambulans itu. Tangannya yang masih penuh dengan karet gelang berwarnawarni kaku membujur.

*** Lama sekali aku tak melihat gadis itu.

Aku pernah nekat pergi ke gubugnya beberapa hari yang lalu. Tapi tetap saja tak ada. Hanya perempuan tua yang bisa kutemui. Perempuan yang waktu itu menampih kembang tanjung.

Ia mengaku nenek dari gadis itu.

Tak banyak yang bisa kudapat dari nenek itu. Sebab ia terlalu sepuh.

Pikun. Aku kecewa. Kemana lagi harus kucari dia? Akhirnya, aku memilih pulang. Berjalan dengan kecamuk hati. Aku susuri tegalan dan sawah menuju kampungku.

Langkahku terhenti di sebuah lahan pekuburan. Suara burung yang bercericit pagi ini hanya samar terdengar.

Tak bisa mengubah lanskap hening pekuburan ini. Pekuburan liar. Ditumbuhi ilalang panjang. Ada suara tangisan yang kudengar dari arah sana. Sayup-sayup. Merintih. Aku penasaran dan kuputuskan menyibak setapak jalan ilalang untuk mencari tahu. Terkadang kakiku terantuk pada beberapa nisan yang tertutup ilalang dan tak tertangkap mataku.

Suara rintihan itu semakin dekat denganku.

Semakin lara juga terdengar.

Aku tajamkan pendengaranku. Sambil melihat sekeliling dimana asal tangisan itu. Astaga! Rambut panjang itu. Kantong plastik itu. Bukankah ia gadis itu? Dia meringkuk di sebuah makam. Makam baru. Setidaknya urukan tanah di nisan itu yang menjelaskan padaku. Yang membedakan, taburan bunga di makam itu. Jika biasanya sebuah makam baru dipenuhi dengan mawar, melati dan sejenisnya, maka di atas makam itu hanya ada taburan kembang tanjung.

Ia masih terduduk sambil mengusapi nisan makam itu. Isaknya semakin jadi. Tampaknya makam itu adalah makam dari seseorang yang berarti baginya. Tapi siapa? Aku bingung.

Apa yang harus aku lakukan? Apa mungkin aku bisa menghiburnya? Belum lagi aku jawab pertanyaanpertanyaan dalam otakku itu, kakiku sudah beberapa depa melangkah.

Mendekat ke gadis itu. Pelan dan pelan.

Sampai tepat di belakangnya aku berdiri.

“Hei,” kataku, berusaha menyapa.

Tapi tak ada balasan. Ia hanya terus menangis meski menyadari kehadiranku.

Aku juga ikut terdiam kemudian.

Salah tingkah. Sebentar kemudian ia mencoba menghentikan tangisnya.

Disapunya airmata di pipinya dengan ujung baju yang ia kenakan.

Lalu ia berdiri. Ia membalikkan badan hingga kini berhadap-hadapan langsung denganku. Matanya bengkak.

Merah. Tajam memandangku. Aku tertegun. Menunduk dan berpikir ia akan marah padaku. Aku salah, ia hanya menatapku tajam dan dingin kemudian berlalu meninggalkanku.

Beberapa langkah tubuhnya berlalu dari tubuhku, aku memberanikan diri bertanya dengan segala kecamuk pikiranku. “Hei…sebenarnya siapa dirimu? Lalu makam siapa yang kau tangisi ini?” Ia menghentikan langkah. Tanpa menoleh ia lalu berkata, “Makam itu, makam ayahku. Sutali. Dan aku anaknya.

Karet gelangnya.” Segera ia teruskan langkahnya pergi. Tangan kanannya merogoh kantong plastik di tangan kirinya. Kali ini bukan kembang tanjung, tapi ratusan karet gelang yang ia keluarkan dan ia tabur di sepanjang jalan ilalang pekuburan.

Aku tercengang. Tak percaya. Ia meninggalkan aku begitu saja dengan pertanyaanku yang mungkin telah terjawab tentang dirinya. Atau mungkin tidak samasekali. Serupa kantong plastik di tangan kirinya. Hitam bahkan sangat hitam.

* Andy Moe, Lahir di Bangkalan- Madura. Mencintai seni dan sastra sejak SMP. Kini aktif bergiat di Komunitas Bingkai Seni (Bis Kota) dan Rumah Tulis : Kita Bangkalan.

Berita terkait:

FEATURE

DBL Indonesia North Sumatera Series
PLN Bottom Bar