Simulasi Transportasi ke Bandara Kualanamu

Jadwal Kereta 12 Kali Sehari

MEDAN- Seluruh moda dari sejumlah titik dinyatakan siap beroperasi mengantar penumpang ke bandara yang baru. Kesimpulan itu diperoleh setelah ratusan sukarelawan menggelar simulasi moda transportasi dilakukan pihak Angkasa Pura II, Sabtu (6/7). Simulasi yang berjalan lancar membuat PT Angkasa Pura II sebagai operator Kualanamu International Airport (KNIA) optimistis dioperasikan (soft opening) sesuai target yakni Kamis (25/7) mendatang. Kereta Api yang dipastikan menjadi moda transportasi favorit penumpang akan beroperasi 12 kali sehari, meliputi enam kali rute Medan-Kualanamu dan enam kali rute sebaliknya.

SIMULASI: Sejumlah sukarelawan  menjadi calon penumpang chek in  konter penerbangan.    //batara/sumut pos

SIMULASI: Sejumlah sukarelawan yang menjadi calon penumpang chek in di konter penerbangan. //batara/sumut pos


“Kami lihat tak ada kesulitan berarti. Kami yakin sistem yang ada sudah bisa berjalan. Apalagi bangunan bandara sudah tuntas 95 persen,” ungkap Direktur Utama AP II, Tri S Susnoko, saat acara simulasi transportasi di Kualanamu, Sabtu (6/7).

Meskipun diakui masih ada kekurangan saat ini, namun pihak PT Angkasa Pura bertekad melakukan soft operation pada 25 Juli mengingat jadwal pembukaan bandara yang baru ini terus mengalami penundaan.

‘’Kami becermin saja dengan kejadian bandara di Casablanca, Marokko. Sesudah bandara siap operasional, pemerintah setempat kelabakan karena fasilitas di luar bandara tak siap. Kayaknya mesti begitu,” kata Tri.

Hanya saja, manajemen maskapai penerbangan menyatakan kepindahan dari Bandara Polonia ke Kualanamu akan menimbulkan situasi-situasi tertentu. Salah satunya khawatir penumpang terlambat datang lantaran terbiasa menikmati waktu yang pendek untuk tiba di bandara.

“Kami ada sekitar 20 kantor di sini, yang menangani berbagai hal, mulai dari tiket hingga ground handling,” kata Regional Manager Medan Lion Airport Service, Bayu Wahyudi, kepada wartawan, Sabtu (6/7) di Bandara KNIA.

Disebutkan Bayu, persoalan teknis di bandara bisa saja muncul mengingat ini bandara baru dan belum tentu semua sistem akan bekerja secara baik pada saat operasi berlangsung. Tetapi yang jadi persoalan adalah calon penumpang.

Kultur calon penumpang yang terbentuk di Bandara Polonia, karena dekat dengan bandara sering kali datang sekitar satu jam atau bahkan 30 menit sebelum boarding. Nah, di bandara baru hal itu tidak bisa lagi.

“Pertama, karena jarak ke bandara jauh dan jika jalur darat bisa jadi ada hambatan kemacetan. Kemudian, jarak dari counter check in ke boarding room, itu relatif jauh. Nah, ini yang harus diantisipasi,” kata Bayu.

Dari pantauan Sumut Pos, seluruh moda yang menang tender sebagai alat transportasi di areal bandara KNIA ikut serta, dan siap beroperasi. Mulai dari taksi, kereta api, hingga bis. Taksi, misalnya, menempuh jarak 32 hingga 35 km dari titik nol kota Medan (Lapangan Merdeka). Lama perjalanan sekitar satu jam. Moda lain yang ikut simulasi karena sudah ditetapkan sebagai pemenang tender sebagai transportasi publik yang diizinkan beroperasi di areal bandara adalah bis milik PT ALS dengan rute Binjai-Kualanamu, serta Damri dengan rute Gatot Subroto-Kualanamu, serta Amplas-Kualanamu.

Dalam simulasi itu, bis Damri membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk tiba di bandara KNIA dari Jalan Gatot Subroto, sedangkan bis rute Amplas-Kualanamu ditempuh dalam waktu 30 menit. Untuk koridor Binjai-Kualanamu dibutuhkan waktu sekitar 2,5 jam untuk bisa tiba di bandara KNIA. Akan halnya, kereta api membutuhkan waktu sekitar 45 menit.

Terkait harga, untuk argo taksi, tarifnya berkisar Rp130 ribu sekali jalan. Harga tiket Kereta Api meskipun belum ditetapkan, namun dipastikan pada kisaran Rp80 ribu sekali jalan. Pada Sabtu (6/7) kemarin, perusahaan taksi Bluebird yang merupakan taksi bandara, menyertakan tujuh taksinya dalam simulasi. Taksi-taksi itu berangkat dari berbagai lokasi di Medan, antara lain Hotel Grand Aston City Hall, Grand Angkasa dan dari Bandara Polonia, bandara yang akan digantikan Kuala Namu. Rata-rata argo taksi itu berakhir di angka Rp130 ribu ketika taksi tiba di zona drop off bandara, tempat menurunkan penumpang.

Dari Hotel Grand Angkasa di Jalan Sutomo, Medan, taksi yang berangkat sekitar pukul 08.00 WIB, menempuh waktu sekitar 51 menit menuju KNIA. Argo menunjukkan angka Rp130.900, di luar biaya tol Rp3.000. Taksi ini masuk melalui jalur tol Tanjungselamat dan keluar di gerbang Tanjungmorawa. Sementara, taksi yang berangkat dari Bandara Polonia, membutuhkan waktu 1 jam 1 menit tiba di KNIA dengan argo Rp129.200. Taksi melalui jalur Jalan Mongonsidi, seterusnya masuk ke Jalan Sisingamangaraja, dan masuk tol gerbang Amplas dan keluar di Tanjungmorawa.

“Total jarak tempuh dari Polonia hingga drop off penumpang di KNIA sekitar 35,4 kilometer,” ujar seorang pengemudi taksi Blue Bird yang berangkat dari Bandara Polonia. Satu taksi lagi, yang juga berangkat dari Polonia namun melalui jalur Avros, kemudian lewat Jalan AH Nasution dan seterusnya masuk ke Jalan Sisingamangaraja tanpa lewat tol. Melalui jalur ini tarifnya Rp 132.000.

Dari penelusuran Sumut Pos, karena belum ada jalur tol dari Medan ke bandara KNIA, rute yang bisa ditempuh, melalui pintu tol maupun tidak, lewat jalur Simpang Kayu Besar, Tanjungmorawa. Dari sana, tinggal menempuh jarak sekitar 18 kilometer jalan yang kadang menyempit dan belum rapi hingga ke bandara KNIA. Jalan utama itu masih bermasalah karena masih terkendala pembebasan lahan.

Selain rambu yang tidak jelas, lampu jalan juga belum dipasang sekitar 3 kilometer terakhir sebelum mendapatkan bandara. Jadi malam hari, jalanan masih gelap gulita, padahal 25 Juli rencananya Bandara Kuala Namu akan beroperasi penuh.

Manajer Humas PT Kereta Api (Persero) Sumut-Aceh, Rapino mengatakan jalur kereta api dengan rute Medan- Kualanamu tetap menggunakan jalur reguler atau jalur bersama yang digunakan juga pada rute lain.

“Jalur tetap menggunakan rute reguler, artinya jalur untuk tujuan Kualanamu tidak menggunakan rel khusus,” kata Rapino di kantornya, Sabtu (6/7).

Menurut dia, PT KAI berencana membangun rel baru khusus untuk tujuan Medan-Kualanamu, namun akan direalisasikan tahun depan. Soal manajemen waktu operasi Kereta Api khusus bandara dan tujuan non-bandara, Rapino mengatakan, pada 1 April lalu PT Kereta Api sudah melakukan perombakan ulang waktu keberangkatan kereta untuk seluruh rute yang datang dan berangjkat dari stasiun besar.

“Kami sudah susun dalam Graperta atau Grafis Perjalanan Kereta Api. Setiap tahunnya waktu rute perjalanan memang wajib diatur ulang. Apalagi ada rute tambahan untuk Kerta Api khusus tujuan bandara,” jelasnya. Untuk perjalanan khusus ke Kualanamu sendiri, PT Kereta Api juga akan menggelar soft operation atau operasi bayangan pada 25 Juli nanti dan diresmikan pada September mendatang.

“Jika perjalanan dengan rute sebanyak 12 kali cukup lancar, intensitas perjalanan kami tambah menjadi 26 kali,” katanya.

Untuk kereta khusus Kualanamu sendiri, Rapino menjelaskan ada 4 buah kereta khusus yang dibeli PT Railling dari Korea tetapi kereta itu akan sampai di Medan dalam dua tahap, yakni Agustus dan September. Ada pun dua kereta yang dipakai sekarang adalah kereta dari Madiun yang menjadi kereta percobaan. (btr/mag-9/ram)

Hasil Simulasi Tranportasi dari Sejumlah Titik ke Bandara KNIA

Kereta Api, Beroperasi enam kali rute Medan-Kualanamu dan enam kali rute sebaliknya. Waktu Tempuh 45 Menit Harga tiket : Rp80.000 sekali jalan.
Bis Damri dari Jalan Gatot Subroto Waktu Tempuh 45 menit
Bis Damri dari Terminal Amplas Waktu Tempuh 30 menit.
Bis Damri dari Binjai Waktu Tempuh 2,5 jam
Taksi 1 (berangkat dari Hotel Grand Aston City Hall) Waktu Tempuh 1 jam Tarif Argo : Rp130.000 sekali jalan (diluar biaya tol Rp3.000)
Taksi 2 (berangkat dari Hotel Grand Angkasa di Jalan Sutomo) Waktu Tempuh 51 menit Tarif Argo : Rp130.900 sekali jalan (diluar biaya tol Rp3.000)
Taksi 3 (berangkat dari Bandara Polonia) Waktu Tempuh 1 jam 1 menit Tarif Argo : Rp129.200 (diluar biaya tol Rp3.000)
Tagged:

Berita terkait:

FEATURE

DBL Indonesia North Sumatera Series
PLN Bottom Bar