Gempa di Aceh Tengah

Aceh Menangis Lagi

Suasana haru menyelimuti Aceh Tengah. Tenda-tenda pengungsian  pun terlihat di setiap sudut desa. Paling banyak berdiri di wilayah  Kecamatan Ketol, Jumat     (5/7).

JENAZAH: Sejumlah warga mengangkat jenazah korban reruntuhan bangunan saat terjadi gempa  Blang Mancung, Bener Meriah, NAD, Rabu (3/7). gempa tektonik berkekuatan 6,2 SR menewaskan sedikitnya 22 warga, 201 warga luka-luka, sementara  ribuan bangunan rubuh.

JENAZAH: Sejumlah warga mengangkat jenazah korban reruntuhan bangunan saat terjadi gempa di Blang Mancung, Bener Meriah, NAD, Rabu (3/7). gempa tektonik berkekuatan 6,2 SR menewaskan sedikitnya 22 warga, 201 warga luka-luka, sementara ribuan bangunan rubuh.


Isak tangis tak terhindarkan. Korban jiwa terus berjatuhan. Kesedihan melanda warga dua kecamatan di Aceh Tengah menyusul guncangan gempa berkekuatan 6,2 Skala Richter yang terjadi Selasa (2/7) sekitar pukul 14.30 WIB.

Ketol terletak di sebuah kecamatan di Aceh Tengah, yang menjorok di lereng gunung Burna Telong. Aksesnya menuju desa ini sulit. Ruas jalan berkelok disertai lubang yang menganga di kiri kanan membuat daerah ini terisolir.

Kesedihan semakin membuncah manakala menyaksikan puluhan anak  ramai-ramai  memnyodorkan kotak sumbangan. Mereka berharap uluran tangan dari siapa saja  yang melintasi daerah tersebut. Aksi spontan dari anak-anak berwajah lugu ini sudah berlangsung empat hari lamanya.

Malam yang dingin disergap kegelapan akibat aliran listrik yang padam. Gempa memutuskan desa ini dari cahaya terang. Desa ini terlihat kian kelam. Tiang-tiang lampu rubuh tak berdaya.  Desa Serampah seakan menyimpan kesedihan luar  biasa. Ratusan rumah warga tak berbentuk, porak-poranda akibat longsor  yang tiba-tiba datang. Kini, rumah mereka, tempat tinggal yang menyimpan seribu kenangan hilang tanpa bekas,  tertimbun longsoran ribuan kubik tanah.

Kelokan jalan yang putus, sekolah yang hancur, madrasah yang  rata dengan bumi jadi ratapan kesengsaraan ratusan warga. Wahai bumi kenapa engkau begitu kejam kepada mereka? Apa dosa mereka? Malam yang turun kian mencekam hati. Jangan-jangan genpa akan datang lagi.

Hawa dingin menyergap,   kian menambah derita warga yang jadi pengungsi di kampung sendiri. Entah sampai kapan semua kehidupan yang dulu kembali . Anak-anak menangis, histeris  memanggil anggota  keluarganya. Hati mereka hancur seperti gempa yang meluluh-lantak  kampung mereka. (*)

Berita terkait: