Sumut Pos Pertemukan Tumino-Prof Dr Harun Al Rasyid
MEDAN-Perjuangan Tumino (57) mencari adik kembarnya yang terpisah sejak 34 tahun lalu, akhirnya menemui titik terang. Meski belum bisa bertatap muka dengan kedua adik kembarnya itu, Supriadi dan Supriono, namun dia merasa lega karena tugas yang dibebankan bapak dan ibunya, alm. Gimin dan Sugiyem, agar terus mencari keberadaan adik kembarnya itu hampir tuntas.
Wartawan Sumut Pos, Rabu (16/2), berhasil mempertemukan Tumino dengan Prof Dr Harun Al Rasyid, dokter spesialis ginjal RSUP H Adam Malik yang selama ini merawat dan membesarkan Supriadi dan Supriono. Pertemuan itu berlangsung di salah satu ruangan rumah sakit milik pemerintah pusat itu.
Sebelumnya, upaya mempertemukan Tumino dengan dokter yang merawat dan membesarkan adik kembarnya itu melalui jalan berliku. Penelusuran yang berlangsung selama tiga hari itu, awalnya nyaris menemui jalan buntu. Berkat bantuan beberapa pihak, akhirnya pertemuan yang dinanti selama bertahun-tahun itu bisa terwujud.
Kepastian pertemuan diterima wartawan koran ini Rabu pagi sekira pukul 09.00 WIB. Seseorang yang bersedia menjadi fasilitator menelepon wartawan koran ini. Dia bilang, pertemuan dengan Prof Dr Harun Al Rasyid bisa dilakukan sekira pukul 12.00 WIB. Wartawan koran ini kemudian menelepon Tumino yang saat itu masih berada di rumahnya di KM 19, Kelurahan Tunggo Rono, Binjai Timur.
Tumino langsung sumringah mendapat kabar itu. Diapun bergegas. Bersama anggota tim wartawan koran ini, mengendarai sepeda motor, meluncur ke RSUP Adam Malik sebagai lokasi pertemuan. Dalam perjalanan hampir 1 jam menuju Kota Medan, banyak hal yang diceritakan Tumino. Dia mengaku berdebar, menebak-nebak apa saja yang bakal terjadi saat pertemuan nanti.
Pria kelahiran 1954 ini juga membawa beberapa surat yang lusuh. Katanya sebagai bukti, jikalau ada pihak yang tidak mempercayai statusnya sebagai abang kandung Supriono dan Supriadi. Di antaranya surat serah terima adik kembarnya yang ditandatangani kepala kampung, dr Chairuddin P Lubis, dan dicap jempol kedua orang tuanya, almarhum Gimin dan Sugiyem. Kedua, kartu keluarga yang mencantumkan nama-nama kelurganya, termasuk nama Supriadi dan Supriono. Kedua bukti otentik bertahun 1977 itu sudah sangat lusuh, bahkan ada sobek di sana-sini karena dimakan usia.
“Yang menerima adik saya waktu itu dr Chairuddin, kok bisa dirawat dan dibesarkan Prof Dr Harun Al Rasyid? Ya, sudahlah, yang penting adik-adik saya dalam kondisi sehat dan bisa bertemu dengan mamak,” katanya.
Sekira pukul 10.00 WIB, Sumut Pos dan Tumino tiba di RSUP Adam Malik. Namun karena pertemuan baru dilakukan pukul 12.00 WIB, warung yang berderet di depan rumah sakit tersebut menjadi pilihan tempat untuk menunggu. Tumino tampak nervous menunggu saat-saat yang dianggap bersejarah bagi keluarga besarnya itu.
Dua jam kemudian wartawan koran ini dan Tumino dipersilahkan fasilitator menuju satu ruangan di RSUP Adam Malik. Tak lama kemudian muncul Prof Dr Harun Al Rasyid. Beberapa saat kemudian, sejumlah orang berada dalam ruangan tersebut. Pembicaraan pun mengalir dengan hangat dan penuh rasa kekeluargaan sekira dua jam. Sesuai permintaan Prof Dr Harun Al Rasyid, banyak hal yang dibicarakan dalam ruangan tersebut tidak dipublikasikan dengan alasan tertentu, menyangkut privasi kedua belah pihak, demikian juga dengan foto.
Kepada Tumino, Prof Harun Al Rasyid mengatakan, bahwa kedua adik kembar Tumino memang benar dirawat dan dibesarkan olehnya penuh dengan kasih sayang, sama sekali tidak ada perbedaan dengan anak kandungnya. Keduanya bahkan mendapatkan pendidikan profesi yang paling tinggi hingga menjadi dokter spesialis. “Tidakpun dicari, sebenarnya saat ini sedang dalam proses untuk mempertemukan mereka dengan ibu kandungnya. Karena itu harus dilakukan, pertalian darah tidak boleh dihilangkan,” katanya.
Penjelasan tentang keberadaan Supriono dan Supriadi hanya sampai di situ. Atas permintaan kedua belah pihak, hal-hal lainnya menjadi privasi, hanya untuk konsumsi keluarga. Setelah itu akan ada proses selanjutnya untuk mempertemukan Sugiyem dengan kedua putra bungsunya. “Saya sebagai abang yang paling besar hanya mau mengatakan, kami sekeluarga sangat bahagia sudah ada titik terang tentang keberadaan Supriadi dan Supriono. Tinggal mempertemukan mereka dengan mamak, setelah itu tugas saya tunai saya kerjakan sesuai pesan almarhum bapak dan sesuai permintaan mamak,” katanya.
Dalam ruangan itu, Tumino juga mengungkapkan, mereka sama sekali tidak akan meminta atau mengganggu hal-hal yang selama ini sudah ada dan berjalan. “Saya dan keluarga juga tidak meminta apa-apa, kami malah berterimakasih kepada Pak Prof yang telah menjadikan adik kami hingga menjadi orang besar. Hanya satu yang kami mohon, kalau boleh sebelum mamak menyusul bapak, dia dapat bertemu sekali saja dengan anak kembar yang setiap saat selalu ditanyakan kepada saya, Piye No, adikmu wis kepethuk? (Cemana No, adikmu sudah ditemukan?, Red). Kalau sudah begini, sayapun enak menjawabnya,” ujarnya.
Dalam pertemuan itu juga disepakati, secepatnya Sugiyem yang saat ini dalam kondisi sakit untuk segera mungkin dibawa ke RSUP Adam Malik agar segera mendapat perawatan. Seluruh biaya akan ditanggung oleh Prof Dr Harun Al Rasyid. “Terimakasih Pak, secepatnya mamak akan kami bawa kemari,” tambah Tumino. Setelah dua jam di ruangan itu, pertemuan pun usai. Pertemuan selanjutnya akan dikordinasikan keluarga kedua belah pihak.
Usai pertemuan itu, wartawan koran ini mengajak Tumino untuk makan siang di warung depan komplek rumah sakit itu. Dia langsung mengabari adik-adiknya yang tinggal di Aceh Tamiang, juga mengabari ibunya. “Alhamdulillah, sudah ketemu. Profesor Harun orangnya sangat baik, sangat baik. Supriadi dan Supriono sudah jadi orang besar. Mereka juga sudah berumah tangga,” ujarnya memberi penjelasan kepada keluarganya.
Sambil makan siang di warung itu, masih banyak hal yang dibicarakan Tumino terkait adik kembarnya itu. Dia berharap Supriadi dan Supriono bisa memaklumi dan memahami kondisi orang tuanya, hingga akhirnya mereka berdua dirawat dan dibesarkan Prof Harun Al Rasyid. Dia dan keluarga pun memahami sikap Prof Dr Harun Al Rasyid yang belum terbuka. “Kami memahami sepenuhnya kalau kami belum diberi penjelasan di mana adik kami tinggal dan siapa namanya sekarang. Tapi yang harus diingat, mamak sangat merindukan mereka berdua, selama puluhan tahun mamak tetap ingat dan berupaya ketemu, namun masih baru akan terwujud. Sekarang tinggal bagaimana mereka berdua. Tuhan Maha Adil, Maha Kuasa, semua ada hikmahnya,” ujarnya. (her/uma/dan)
—-
Tumino: Mak, Adik Wis Kepethuk…
“Lega, akhirnya lapang dada ini. Beban berat itu akhirnya dapat terselesaikan dengan baik. Aku sudah punya jawaban kalau mamak bertanya soal tugas yang diberikan ke pundakku sebagai anak lelaki yang paling besar.”
Ucapan itu berkali-kali diungkapkan Tumino, abang kandung Supriadi dan Supriono usai bertemu Prof Dr Harun Al Rasyid yang selama 34 tahun merawat dan membesarkan adik kandungnya. “Mak, adek wis kepethuk (Mak, adek udah ketemu, Red),” ujarnya berkaca-kaca sambil menyebut ibunya yang kini terbaring sakit karena usia senja di Aceh Tamiang.
Tumino berkali-kali mengucapkan terimakasih. “Untuk adik-adik dari Sumut Pos, saya mewakili keluarga mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam,” katanya.
Usai bertemu Prof Dr Harun Al Rasyid, wartawan koran ini mengajaknya menikmati makan siang di warung depan RSUP Adam Malik. Di tempat itu, Tumino pun mengisahkan pencariannya terhadap sang adik kembarnya yang telah dilakukan intensif sejak tahun 2004 lalu.
“Sebenarnya sejak bapak (almmarhum Gimin, Red) wafat 1996, pencarian adik sudah dimulai, karena memang ada pesan bapak untuk mencarinya. Bukan untuk meminta kembali adik kami, pencarian dilakukan untuk mengetahui kondisi adik kami sekarang, juga agar pertalian darah tidak hilang,” katanya.
Pencarian intensif dilakukan sejak 2004, setelah seorang bidan RSU Tembakau Deli bernama Dede Hartati datang ke rumahnya. Kedatangan bidan itu memberitahukan kedua adik kembarnya ingin bertemu keluarganya.
“Aku pun langsung ke Aceh, menemui mamak yang sejak tahun 1978 pindah ke sana. Mamak kemudian memberikan surat bertahun 1977 yang menerangkan adik kami diserahkan agar dirawat dengan baik. Karena saat itu mamak masih dirawat di RSU Tembakau Deli karena baru operasi rahim, kondisi ekonomi bapak yang hanya buruh kebun tembakau bisa dibilang jauh dari sederhana. Mamak bilang sangat berat berpisah dengan adik, namun karena ada dokter RSU Tembakau Deli yang berkali-kali menyatakan ingin merawatnya, mamak merelakannya. Apalagi saat itu, Supriono, yang paling kecil menderita sesak napas,” kisahnya.
Harapan ibunya yang sangat merindukan adik kembarnya itu luar biasa besar.
Pencarianpun intensif kemudian dilakukan. Penelusuran dilakukan mulai dari keluarga kepala kampung yang ikut menyaksikan penyerahan adik kembarnya hingga ke RSU Tembakau Deli. Dari buku telepon lama, Tumino menemukan beberapa nama dan alamat yang diprediksi sebagai orang yang merawat adiknya. Namun meski telah menemukan alamat tersebut, dia tak pernah berhasil bertemu orang yang ia duga merawat adik kembarnya.
“Sejak 2004 aku berusaha menemukan adik, namun tak pernah berhasil. Bebanku semakin berat, karena mamak hampir setiap waktu selalu bertanya. Tumino, adikmu wis kepetuk? Sebelum dipanggil yang Kuasa, mamak yang kini berusia 76 tahun, ingin bertemu dengan adik, meski hanya sekali. Setiap mamak bertanya aku merasa terpukul karena aku belum berhasil menunaikan tugas itu. Akhirnya ada jalan yang ditunjukkan Tuhan, adik-adik dari Sumut Pos akhirnya membantu saya dari beratnya beban ini,” katanya. (her/uma/dan)