Bocah Kembar Itu Sudah Jadi Dokter Spesialis

Sumut Pos Pertemukan Tumino-Prof Dr Harun Al Rasyid

MEDAN-Perjuangan Tumino (57) mencari adik kembarnya yang terpisah sejak 34 tahun lalu, akhirnya menemui titik terang. Meski belum bisa bertatap muka dengan kedua adik kembarnya itu, Supriadi dan Supriono, namun dia merasa lega karena tugas yang dibebankan bapak dan ibunya, alm. Gimin dan Sugiyem, agar terus mencari keberadaan adik kembarnya itu hampir tuntas.

Wartawan Sumut Pos, Rabu (16/2), berhasil mempertemukan Tumino dengan Prof Dr Harun Al Rasyid, dokter spesialis ginjal RSUP H Adam Malik yang selama ini merawat dan membesarkan Supriadi dan Supriono. Pertemuan itu berlangsung di salah satu ruangan rumah sakit milik pemerintah pusat itu.

Sebelumnya, upaya mempertemukan Tumino dengan dokter yang merawat dan membesarkan adik kembarnya itu melalui jalan berliku. Penelusuran yang berlangsung selama tiga hari itu, awalnya nyaris menemui jalan buntu. Berkat bantuan beberapa pihak, akhirnya pertemuan yang dinanti selama bertahun-tahun itu bisa terwujud.
Kepastian pertemuan diterima wartawan koran ini Rabu pagi sekira pukul 09.00 WIB. Seseorang yang bersedia menjadi fasilitator menelepon wartawan koran ini. Dia bilang, pertemuan dengan Prof Dr Harun Al Rasyid bisa dilakukan sekira pukul 12.00 WIB. Wartawan koran ini kemudian menelepon Tumino yang saat itu masih berada di rumahnya di KM 19, Kelurahan Tunggo Rono, Binjai Timur.

Tumino langsung sumringah mendapat kabar itu. Diapun bergegas. Bersama anggota tim wartawan koran ini, mengendarai sepeda motor, meluncur ke RSUP Adam Malik sebagai lokasi pertemuan. Dalam perjalanan hampir 1 jam menuju Kota Medan, banyak hal yang diceritakan Tumino. Dia mengaku berdebar, menebak-nebak apa saja yang bakal terjadi saat pertemuan nanti.

Pria kelahiran 1954 ini juga membawa beberapa surat yang lusuh. Katanya sebagai bukti, jikalau ada pihak yang tidak mempercayai statusnya sebagai abang kandung Supriono dan Supriadi. Di antaranya surat serah terima adik kembarnya yang ditandatangani kepala kampung, dr Chairuddin P Lubis, dan dicap jempol kedua orang tuanya, almarhum Gimin dan Sugiyem. Kedua, kartu keluarga yang mencantumkan nama-nama kelurganya, termasuk nama Supriadi dan Supriono. Kedua bukti otentik bertahun 1977 itu sudah sangat lusuh, bahkan ada sobek di sana-sini karena dimakan usia.

“Yang menerima adik saya waktu itu dr Chairuddin, kok bisa dirawat dan dibesarkan Prof Dr Harun Al Rasyid? Ya, sudahlah, yang penting adik-adik saya dalam kondisi sehat dan bisa bertemu dengan mamak,” katanya.

Sekira pukul 10.00 WIB, Sumut Pos dan Tumino tiba di RSUP Adam Malik. Namun karena pertemuan baru dilakukan pukul 12.00 WIB, warung yang berderet di depan rumah sakit tersebut menjadi pilihan tempat untuk menunggu. Tumino tampak nervous menunggu saat-saat yang dianggap bersejarah bagi keluarga besarnya itu.

Dua jam kemudian wartawan koran ini dan Tumino dipersilahkan fasilitator menuju satu ruangan di RSUP Adam Malik. Tak lama kemudian muncul Prof Dr Harun Al Rasyid. Beberapa saat kemudian, sejumlah orang berada dalam ruangan tersebut. Pembicaraan pun mengalir dengan hangat dan penuh rasa kekeluargaan sekira dua jam. Sesuai permintaan Prof Dr Harun Al Rasyid, banyak hal yang dibicarakan dalam ruangan tersebut tidak dipublikasikan dengan alasan tertentu, menyangkut privasi kedua belah pihak, demikian juga dengan foto.

Kepada Tumino, Prof Harun Al Rasyid mengatakan, bahwa kedua adik kembar Tumino memang benar dirawat dan dibesarkan olehnya penuh dengan kasih sayang, sama sekali tidak ada perbedaan dengan anak kandungnya. Keduanya bahkan mendapatkan pendidikan profesi yang paling tinggi hingga menjadi dokter spesialis. “Tidakpun dicari, sebenarnya saat ini sedang dalam proses untuk mempertemukan mereka dengan ibu kandungnya. Karena itu harus dilakukan, pertalian darah tidak boleh dihilangkan,” katanya.

Penjelasan tentang keberadaan Supriono dan Supriadi hanya sampai di situ. Atas permintaan kedua belah pihak, hal-hal lainnya menjadi privasi, hanya untuk konsumsi keluarga. Setelah itu akan ada proses selanjutnya untuk mempertemukan Sugiyem dengan kedua putra bungsunya. “Saya sebagai abang yang paling besar hanya mau mengatakan, kami sekeluarga sangat bahagia sudah ada titik terang tentang keberadaan Supriadi dan Supriono. Tinggal mempertemukan mereka dengan mamak, setelah itu tugas saya tunai saya kerjakan sesuai pesan almarhum bapak dan sesuai permintaan mamak,” katanya.

Dalam ruangan itu, Tumino juga mengungkapkan, mereka sama sekali tidak akan meminta atau mengganggu hal-hal yang selama ini sudah ada dan berjalan. “Saya dan keluarga juga tidak meminta apa-apa, kami malah berterimakasih kepada Pak Prof yang telah menjadikan adik kami hingga menjadi orang besar. Hanya satu yang kami mohon, kalau boleh sebelum mamak menyusul bapak, dia dapat bertemu sekali saja dengan anak kembar yang setiap saat selalu ditanyakan kepada saya, Piye No, adikmu wis kepethuk? (Cemana No, adikmu sudah ditemukan?, Red). Kalau sudah begini, sayapun enak menjawabnya,” ujarnya.

Dalam pertemuan itu juga disepakati, secepatnya Sugiyem yang saat ini dalam kondisi sakit untuk segera mungkin dibawa ke RSUP Adam Malik agar segera mendapat perawatan. Seluruh biaya akan ditanggung oleh Prof Dr Harun Al Rasyid. “Terimakasih Pak, secepatnya mamak akan kami bawa kemari,” tambah Tumino. Setelah dua jam di ruangan itu, pertemuan pun usai. Pertemuan selanjutnya akan dikordinasikan keluarga kedua belah pihak.

Usai pertemuan itu, wartawan koran ini mengajak Tumino untuk makan siang di warung depan komplek rumah sakit itu. Dia langsung mengabari adik-adiknya yang tinggal di Aceh Tamiang, juga mengabari ibunya. “Alhamdulillah, sudah ketemu. Profesor Harun orangnya sangat baik, sangat baik. Supriadi dan Supriono sudah jadi orang besar. Mereka juga sudah berumah tangga,” ujarnya memberi penjelasan kepada keluarganya.

Sambil makan siang di warung itu, masih banyak hal yang dibicarakan Tumino terkait adik kembarnya itu. Dia berharap Supriadi dan Supriono bisa memaklumi dan memahami kondisi orang tuanya, hingga akhirnya mereka berdua dirawat dan dibesarkan Prof Harun Al Rasyid. Dia dan keluarga pun memahami sikap Prof Dr Harun Al Rasyid yang belum terbuka. “Kami memahami sepenuhnya kalau kami belum diberi penjelasan di mana adik kami tinggal dan siapa namanya sekarang. Tapi yang harus diingat, mamak sangat merindukan mereka berdua, selama puluhan tahun mamak tetap ingat dan berupaya ketemu, namun masih baru akan terwujud. Sekarang tinggal bagaimana mereka berdua. Tuhan Maha Adil, Maha Kuasa, semua ada hikmahnya,” ujarnya. (her/uma/dan)
—-

Tumino:  Mak, Adik Wis Kepethuk…

“Lega, akhirnya lapang dada ini. Beban berat itu akhirnya dapat terselesaikan dengan baik. Aku sudah punya jawaban kalau mamak bertanya soal tugas yang diberikan ke pundakku sebagai anak lelaki yang paling besar.”

Ucapan itu berkali-kali diungkapkan Tumino, abang kandung Supriadi dan Supriono usai bertemu Prof Dr Harun Al Rasyid yang selama 34 tahun merawat dan membesarkan adik kandungnya. “Mak, adek wis kepethuk (Mak, adek udah ketemu, Red),” ujarnya berkaca-kaca sambil menyebut ibunya  yang kini terbaring sakit karena usia senja di Aceh Tamiang.

Tumino berkali-kali mengucapkan terimakasih. “Untuk adik-adik dari Sumut Pos, saya mewakili keluarga mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam,” katanya.

Usai bertemu Prof Dr Harun Al Rasyid, wartawan koran ini mengajaknya menikmati makan siang di warung depan RSUP Adam Malik. Di tempat itu, Tumino pun mengisahkan pencariannya terhadap sang adik kembarnya yang telah dilakukan intensif sejak tahun 2004 lalu.

“Sebenarnya sejak bapak (almmarhum Gimin, Red) wafat 1996, pencarian adik sudah dimulai, karena memang ada pesan bapak untuk mencarinya. Bukan untuk meminta kembali adik kami, pencarian dilakukan untuk mengetahui kondisi adik kami sekarang, juga agar pertalian darah tidak hilang,” katanya.

Pencarian intensif dilakukan sejak 2004, setelah seorang bidan RSU Tembakau Deli bernama Dede Hartati datang ke rumahnya. Kedatangan bidan itu memberitahukan kedua adik kembarnya ingin bertemu keluarganya.
“Aku pun langsung ke Aceh, menemui mamak yang sejak tahun 1978 pindah ke sana. Mamak kemudian memberikan surat bertahun 1977 yang menerangkan adik kami diserahkan agar dirawat dengan baik. Karena saat itu mamak masih dirawat di RSU Tembakau Deli karena baru operasi rahim, kondisi ekonomi bapak yang hanya buruh kebun tembakau bisa dibilang jauh dari sederhana. Mamak bilang sangat berat berpisah dengan adik, namun karena ada dokter RSU Tembakau Deli yang berkali-kali menyatakan ingin merawatnya, mamak merelakannya. Apalagi saat itu, Supriono, yang paling kecil menderita sesak napas,” kisahnya.

Harapan ibunya yang sangat merindukan adik kembarnya itu luar biasa besar.

Pencarianpun intensif kemudian dilakukan. Penelusuran dilakukan mulai dari keluarga kepala kampung yang ikut menyaksikan penyerahan adik kembarnya hingga ke RSU Tembakau Deli. Dari buku telepon lama, Tumino menemukan beberapa nama dan alamat yang diprediksi sebagai orang yang merawat adiknya. Namun meski telah menemukan alamat tersebut, dia tak pernah berhasil bertemu orang yang ia duga merawat adik kembarnya.

“Sejak 2004 aku berusaha menemukan adik, namun tak pernah berhasil. Bebanku semakin berat, karena mamak hampir setiap waktu selalu bertanya. Tumino, adikmu wis kepetuk? Sebelum dipanggil yang Kuasa, mamak yang kini berusia 76 tahun, ingin bertemu dengan adik, meski hanya sekali. Setiap mamak bertanya aku merasa terpukul karena  aku belum berhasil menunaikan tugas itu. Akhirnya ada jalan yang ditunjukkan Tuhan, adik-adik dari Sumut Pos akhirnya membantu saya dari beratnya beban ini,” katanya. (her/uma/dan)

Posted in Metropolis | Comments Off

Beli Sabu Barbut dari Oknum Polisi

Pengakuan Bandar Narkoba

MEDAN-Mengejutkan. Peredaran narkoba khususnya sabu-sabu di Medan, disinyalir dibekingi oknum aparat. Bahkan, hasil investigasi yang dilakukan Sumut Pos menemukan fakta bahwa sabu-sabu malah diperoleh bandar narkoba dari barang bukti (barbut) tangkapan polisi.

Sumut Pos pun melakukan investigasi tentang perdagangan sabu selama hampir dua pekan. Dari relasi yang dibangun dengan seorang bandar sabu di seputaran Mongonsidi Medan, terungkap kenyataan miris itu. Bagaimana pihak kepolisian dan penegak hukum lainnya turut andil dalam peredaran narkoba jenis psikotropika ini?

Sesuai kesepakatan, Selasa (8/2) tepatnya pukul 13.06 WIB, narasumber tiba di salah satu kafe seputaran Jalan dr Mansur Medan. Setelah melihat kode yang diberikan, Bambang (bukan nama sebenarnya, Red) langsung menuju meja di pojok sebelah kanan, lokasi yang dirasa nyaman melakukan pembicaraan berisko ini. Siang itu Bambang mengenakan sweater gombor dengan penutup kepala, seolah ingin menutupi jati dirinya.

”Jujur saja saya tidak sendiri di bidang ini. Kalau tidak ada orang dalam yang membantu, saya tidak beranilah,” buka Bambang setelah selesai menyantap hidangan yang dipesan.

Dalam melakoni pekerjaannya sebagai bandar sabu, Bambang mengaku diback up seorang oknum anggota Polri. “Dia anggota tekab (tim kesatuan anti bandit) di Poldasu. Dia tinggal di kompleks dekat rumah saya, jadi mudah komunikasinya,” kata pria berkulit hitam manis ini dengan tetap menutupi identitas sang petugas.

Bambang mengaku, dari petugas itulah dia mendapatkan informasi yang akurat sehingga dengan mudah menghindar bila ada razia. Biasanya setelah mendapatkan informasi, Bambang bergerak terlebih dulu satu langkah. Bambang menghilang untuk sementara ke tempat yang dianggap aman, atau menghilangkan semua barang bukti dari rumah yang ditinggali bersama anak dan istrinya.

Apakah hanya sebatas pemberian informasi? Ternyata tidak. Ini yang membuat lebih  miris.
Seperti penuturan Bambang, untuk menjalankan bisnisnya, sang petugas juga berperan sebagai penyuplai, yaitu menyediakan sabu untuk dijual. Hasil penjualan sendiri dibagi rata antara petugas dan Bambang.
“Biasanya dari barbut (barang bukti, Red) yang ketangkap saat mereka razia. Kan penangkapan itu tidak semua dilapor ke kantor. Kadang delapan-enam (sandi polisi untuk menyebut kondisi aman terkendali/berdamai, Red) di TKP (Tempat Kejadian Perkara). Tapi barbutnya tetap sama tekab tadi kan. Itu lah yang dikasi untuk saya jual,” paparnya.

Karena dari barbut tadi, penjualan Bambang pun tidak menentu. Dia mengaku tidak dipatok target oleh sang petugas. Hanya saja hasil penjualan tetap dibagi rata antara mereka berdua. Dari satu paket Rp200 ribu yang dijual, Bambang hanya mendapat setengahnya yaitu Rp100 ribu. Begitulah Bambang menghidupi istri dan anak semata wayangnya.
Namun kebaikan hati itu bukan tanpa sebab. Selain menjadi penjual barbut yang menjadi masukan bagi sang petugas, Bambang juga memiliki kewajiban bagi kebutuhan akan sabu dari petugas tadi. Tak heran bila dia kerap mengakali konsumennya dengan cara mengurangi isi paket dari ukuran seharusnya. Konsumen sabu Bambang menyebar di kalangan muda, mulai dari pelajar hingga mahasiswa, juga anak gedongan juga yang tinggal di kost-kostan. (baca laporan lengkapnya di halaman 4,5 dan 6 http://www.hariansumutpos.com/rubrik/liputan-khusus-2) .

Apa tanggapan Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Oegreseno terkait hasil investigasi ini yang menyatakan ada oknum polisi yang menjual barbut dari hasil 86 (damai di tempat)? Jenderal bintang dua itu meminta pemberi informasi tersebut bersedia bekerja sama dengan polisi untuk memudahkan pihaknya menitindaklanjuti penemuan. “Informan tidak perlu melakukan penyamaran, polisi saja yang akan melakukan penyamaran untuk mengungkapnya. Informan tetap kita lindungi,” kata Kapolda pekan lalu.

Sedangkan terkait pengakuan anak kost yang terlalu gampang memiliki narkoba seperti membeli kacang goreng, Oegreseno mengharapkan kepada sumber untuk melapor langsung ke Mapoldasu untuk menjumpai Kapoldasu Irjen Pol Oegreseno. “Suruh sumber tersebut datang ke Poldasu untuk menjumpai saya agar bisa diungkap. Jadi polisi akan menyamar untuk bisa mengungkapnya. Sumber pasti akan kita lindungi,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan data Direktorat Narkoba Polda Sumut, terdapat sebanyak 116 tersangka berstatus pelajar sampai mahasiswa yang terlibat Narkoba (Narkotika dan obata-obatan terlarang) di wilayah hukum jajaran Poldasu. Data itu sejak Januari hingga Desember tahun lalu.

Dari data tersebut, sebanyak 70 orang berstatus pelajar dan sebanyak 46 orang berstatus mahasiswa. “Ada sebanyak 70 orang berstatus pelajar dan 46 mahsiswa yang terlibat dengan narkoba,” ujar Dir Narkoba Poldasu Kombes Pol Jhon Thurman Panjaitan di Mapoldasu tanpa merinci jenis narkoba yang terlibat dengan tersangka, baru-baru ini.
Dia menegaskan, Dit Narkoba Poldasu dan jajarannya sudah melaksanakan sosialisasi ke sekolah dan sejumlah lapisan masyarakat untuk mengurangi keterlibatan generasi mudan dari bahaya Narkoba. “Setiap bulan kita terus melakukan sosialisasi ke sekolah untuk mengantisipasi merebaknya narkoba di tengah mereka akibat bahayanya dampak narkoba,” ucapnya.

Menurutnya, dari bulan ke bulan Poldasu bersama Sat Narkoba jajaran Polres turun ke sekolah dan masyarakat hingga keperguruan tinggi untuk melakukan sosialisasi anti narkoba, termasuk memasang baliho di pinggir jalan. “Semuanya bertujuan mendidik masyarakat bahwa narkoba adalah musuh negara yang membahayakan generasi penerus bangsa. Jadi diharapakan pelajar dan masyarakat jangan mau diiming-imingi, narkoba sangat menyesatkan penerus bangsa,” ujarnya. (jul/mag-1)

Posted in Berita Foto, Metropolis | Tagged | Comments Off

Awas Terjerat di Usia Remaja

News Analisis

Anak kos yang masih berstatus sebagai pelajar, banyak yang terjeremus ke dalam dunia narkoba dan sex bebas akibat terpengaruh lingkungan dan sistem pengajaran yang kurang efektif dari orangtua.

Hal ini menurut Dra Irna Minauli Msi, Selaku psikolog, merupakan fenomena yang sangat meresahkan khususnya bagi para orang tua yang memiliki anak bersekolah di luar daerahnya. Apalagi adanya temuan terakhir seorang mahasiswa tewas terbunuh dan ditemui adanya narkoba di dekat jasad mahasiswa tersebut.

Irna menyatakan ada beberapa faktor kecendrungan yang memperengaruhi seseorang anak nekat melakukan tindakan yang menyimpang terhdap norma agama dan budaya. Kurangnya pengawasan dari orang tua akibat faktor jarak yang jauh, serta kurang efektifnya komunikasi yang terbina antara orang tua dan anak adalah faktor pemicu seorang anak nekat melakukan perbuatan yang menyimpang tersebut.

Selain itu faktor lingkungan dan kurangnya pemahaman agama, khusunya akidah dan akhlak, juga mempengaruhi anak remaja yang terbilang labil di usianya sehingga mudah terpengaruh dengan tindakan yang menyimpang dan tergolong dosa.

“Usia 17 hingga 21 tahun, dalam ilmu psikologi merupakan usia remaja. Pada usia tersebut anak remaja masih terbilang labil dan belum memiliki pertimbangan antara baik dan buruk. Sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan, jika mereka tidak memiliki bekal pemahaman ilmu agama dan komunikasi yang baik dengan orang tua,” sebut Irna.

Komunikasi yang terbina baik antara orang tua dan anak sedikit banyaknya sangat membantu anak yang mendapatkan pengawasan super ketat dan mengarah kepada pola pendidikan otoriter justru mengarahkan tindakan anak lebih menjurus kepada bentuk perlawanan secara tidak langsung. Ditambah fase belajar yang terkesan membosankan serta mendapatkan hasil nilai buruk di kuliah ataupun sekolahnya.

Hal ini membuat prilaku para remaja mencari solusi kesenangan sesaat tanpa memikirkan akibat dengan mengkonsumsi narkoba serta melakukan hubungan seks bebas.

Irna juga mengakui jika kebanyakan para orang tua yang belum mengetahui arti kebutuhan dan keinginan dalam memberikan bentuk kasih sayangnya. Selama ini para orang tua memenuhi semua keinginan anak adalah bentuk kasih sayang yang seutuhnya. Seharusnya semua keingianan anak tak harus menjadi kewajiban untuk dipenuhi, melainkan harus difikirkan terlebih dahulu kebutuhannya.

“Ketika semua keinginan seorang anak dipenuhi para orang tua, justru mengarahkan kepada sikap anak yang manja, mudah boring (bosan,Red), kesepian serta tidak mandiri. Setidaknya orang tua harus memahami bentuk kebutuhan yang menjadi prioritas hidup,” terang Irna.

Untuk itu orang tua diharapkan mampu membangun komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Dengan begitu akan terjalin sebuah hubungan yang harmonis dengan pemberian vaksin yang kuat dalam membentengi kehidupan anak di dalam lingkungannya.

Dengan vaksin yang telah diberikan para orangtua tadi setidaknya dapat mencegah virus kejahatan yang bisa mempengaruhi anak yang hidup di lingkungan tempat tinggalnya.

Selain itu pendidikan agama sejak dini seharusnya diberikan para orang tua kepada anaknya. Sehingga, anak usia remaja bisa mengetahui mana prliaku negatif yang harus dihindarkan serta prilaku positif yang harus dilakukannya.
“Jika sudah terbangun komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, maka seorang anak cenderung memiliki kecerdasan emosional dalam dirinya. Ditambah keimanan yang kuat dengan pemahaman agama yang telah ditanamkan sejak dini membuat anak mampu menangkal segala bentuk prilaku yang menyimpang di lingkungannya,” pungkasnya. (uma)

Posted in Liputan Khusus | Comments Off

8 Rumah dan 3 Mobil Hangus

Si Jago Merah Mengamuk di Mandala By Pass

MEDAN- Sijago merah kembali mengamuk, pukul 23.30 WIB tadi malam di Jalan Mandala By Pass, Kecamatan Medan Tembung. Setidaknya, 8 unit rumah termasuk usaha bengkel dan rumah makan, habis terbakar. Tidak hanya itu, 3 unit mobil yang berada didalam bengkel juga ikut terbakar. Asal api masih simpang siur.

Pantauan wartawan Sumut Pos di lokasi, suasana di Jalan Mandala By Pass, mendadak ramai dan macet. Pemadam kebakaran sebanyak 15 unit silih berganti datang memadamkan apin
Sejumlah warga turut serta memadamkan api.

Tanah dan bangunan yang berada dipinggir jalan merupakan milik dari keluarga TP Malau/D br Gultom, yang tinggal di dekat lokasi kebakaran.

Pengakuan Wahyu (23), dia tiba-tiba saja melihat api sudah membesar dari belakang sebuah rumah makan. “Api awalnya kecil kemudian api langsung membesar bang tapi suara ledakan tidak ada. Dari belakang rumah makan itu bang,” tukas Wahyu.

Sedangkan menurut U Manurung (27), pemilik warnet di dekat lokasi kebakaran, api berasal ari lantai II di belakang bengkel. “Asal api dari rumah lantai II yang dibelakang bengkel Bang. Kemudian api mengarah ke bengkel dan menyambar ke tempat lain,” ujarnya sambil mengevakuasi komputer miliknya.

Sementara itu, Ucok Simanjuntak (33), warga saat kejadian sedang main warnet menuturkan, dia melihat api sudah membesar dari arah belakang bengkel. “Kalau asal kebakaran belum tahu apsti bang,” tukasnya.
Kanit Reskrim Polsekta Percut Seituan, AKP Antoni Simamora SH mengaku menyelidiki asal api. “Belum tahu karena kita sama-sama di lokasi ini sekarang. Apinya juga belum padam dan kita sedang mengumpulkan informasi,” ungkap Antoni Simamora. (jon)

Posted in Metropolis | Tagged , | Comments Off

Rela Ditiduri Demi Sabu

Untuk mendapatkan kebahagiaan, sekalipun kebahagiaan itu sesaat, tak sedikit orang memilih jalan pintas. Nilai dan norma pun tertinggal jauh di masa kecil yang indah. Jauh dari orangtua, tetap dapatkan subsidi, beralasan nuntut ilmu, faktanya sang anak harus terjebak dalam gemerlap pesta narkoba dan seks.

Sabtu (5/2) pukul 09.00 WIB, penulis dibangunkan suara ketukan. Di depan pintu berdiri, seorang pria, Putra (25) dan seorang wanita berambut sepunggung dicat pirang. Kemeja biru bermotif bunga dan celana jeans biru muda, memperjelas kulitnya yang putih. Sepatu Prada berwarna hitam dengan high hell pun seolah menegaskan kaki yang panjang menopang tegak tubuhnya. “Tari,” ucap bibir mungil itu memperkenalkan diri.

Penulis sengaja mengundang keduanya. Tanpa melepas alas kakinya Tari (19) melangkah menuju ruangan yang disiapkan untuk kehadirannya pagi itu. Setelah melepas sepatu di pintu ruangan tadi, wanita yang baru memasuki semester persiapan di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Kota Medan, langsung menuju tempat tidur untuk kemudian merebahkan tubuhnya yang terlihat sedikit pucat. “Duh, cepat lah jemput Bang Put. Nggak tahan lagi Tari ini,” ucapnya gemetaran.

Pria yang disebut Putra tadi pun pamit sembari menitipkan Tari untuk ditinggal sesaat. Sementara Tari mulai gelisah dalam duduknya. Sebatang rokok yang disulut tak juga meredakan tubuhnya yang gemetar. “Sabar ya, Bang, nanti habis make aja ya, ga pa-pa kan, Bang,” ucapnya lemah tapi manja.

Tak berapa lama suara sepeda motor pun terdengar pertanda Putra sudah kembali. Sesampai di dalam kamar tadi, Putra mengeluarkan plastik kecil layaknya pembungkus obat. Isinya butiran-butiran kristal yang dikenal dengan sabu-sabu, narkoba jenis psikotropika.

Melihat bungkusan tadi, Tari pun menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan. Seolah lega karena tak lama lagi siksaan yang dialaminya akan hilang, meskipun hanya sementara. Seketika Putra melanjutkan aktivitasnya menyiapkan perlengkapan seperti bong (sejenis pipa yang didalamnya berisi air) dengan dua pipa yang dihubungkan dan alat pembakar dari mancis dengan tingkat pembakaran yang sangat halus.

Setelah perlengkapan siap, Putra pun menyerahkan kepada Tari, sebelumnya meletakkan sejumlah sabu bagian pipa yang terbuat dari kaca. Bibir mungil Tari kemudian menempel di pipa satunya dari plastik untuk menghisap sabu yang berubah menjadi asap karena proses pembakaran tadi. Dibutuhkan 20 detik bagi Tari untuk menyedot habis asap sabu tadi dan mengepulkan sebahagian yang tersisa ke udara.

Tari mengulangi hal itu sekali lagi lalu menyerahkan peralatan bong tadi kepada Putra. Air yang memang disiapkan diteguk kemudian menyulut sebatang rokok sebelum memulai kisahnya. “Gitu lah, Bang kalau lagi pengen. Tapi memang kebetulan aku lagi bokek aja. Malas minta sama bonyok (bokap-nyokap, bahasa prokem untuk kedua orangtua, Red),” akunya.

Tari yang lahir di Komplek Mewah di jalan Tubagus daerah Dago Bandung, 19 tahun silam dan satu unit rumah yang dikontrakkan kedua orangtuanya di Komplek TPI Jalan Gagak Hitam (Ringroad) Medan menunjukkan bahwa dirinya bukan datang dari kalangan bawah. Hal itu mempertegas kesan pertama yang timbul dari busana maupun parfum yang dikenakannya.

Dengan keberadaan orangtua sebagai pengusaha sukses di Kota Kembang, masa kecil Tari pun terbilang bahagia. Apalagi sebagai putri tunggal seluruh permintaannya mustahil tidak terpenuhi. Hingga Tari tumbuh dengan kesempurnaan fisik, tinggi 170 centimeter dan berat sekitar 55 kilogram, langsing. Rambut ikal dan wajah opal berkulit putih yang ditopang kaki jenjang dengan betis bunting padi. Karunia yang menjadi awal bencana.
Seperti remaja lainnya, di usia 16 tahun Tari merasakan getar asmara saat berkenalan dengan Hendra yang merupakan kakak kelasnya di salah satu SMA Negeri terkenal di Bandung. Hubungan yang dibina selama satu tahun setengah itu pun membuat Tari yakin untuk menyerahkan harta yang paling berharga darinya. “Aku sudah yakin bangat kalau dia (Hendra) bakal jadi suami aku. Tapi ternyata aku salah,” ucapnya tertunduk.

Tampak genangan air di kedua mata Tari saat dia mendongak, mencoba menahan genangan itu tidak jatuh. Tangannya pun dengan cepat menyambar tisu yang ada untuk menyeka kedua matanya. Airmata itu tak terbendung, jatuh. Seperti kejatuhan Tari pasca dikhianati sang pacar yang tanpa merasa bersalah meninggalkannya untuk menikah dengan wanita lain.

Mengingat kebaikan yang didapatkan selama ini, Tari pun menutupi masalah itu dari kedua orangtuanya. Dirinya mulai mencari pelarian dari gemerlapnya dunia malam. “Memang aku tahu beberapa teman di sekolah sering dugem, selama ini hanya sekadar berteman dengan mereka. Jadi pas masalah itu, mereka welcome saja aku datang,” kenangnya.

Jalan Tari pun berubah. Kursus musik dan kurikulum yang sebelumnya kerap diikuti hanya sebagai alasan untuk keluar dari rumah. Dirinya menghabiskan waktu tadi untuk berkumpul dengan teman-teman di mal. Tari pun mulai memperhatikan penampilannya. Sembari ngumpul biasanya dia singgah ke salon atau belanja pakaian yang terbaru untuk digunakan saat dugem.

Tari pun harus berbohong kepada kedua orangtuanya bila ada tugas kelompok yang harus diselesaikan di rumah salah satu teman sekolah. Padahal saat itu lah dia dan teman-teman badung lainnya menjalankan rencana dugemnya. Hingga menamatkan pendidikannya di SMU Tari mengaku masih bisa bertahan untuk tidak terjun ke dalam seks bebas.

Namun, saat dirinya melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Kota Bandung, perubahan dunia dan pola pergaulan membuat Tari ingin lebih bebas menikmati hidupnya. Alasan ingin mandiri, Tari lalu dicarikan rumah kontrakan oleh kedua orangtuanya. Sengaja memilih di lokasi kampus, kedua orangtua Tari berharap putri tunggalnya lebih giat menuntut ilmu.

Ternyata salah, hal itu justru memberi kebebasan yang sebebas-bebasnya. Dugem yang biasa dilakukan bersama teman-teman wanita sudah dibumbui dengan beberapa pria. Rata-rata kenalan di lokasi dugem yang didatangi Tari dan kawan-kawan. “Kenalan-kenalan, terus kita jalan nyari makan, habis makan bersama cowok itu, lupa aku, ngajak check in. Kita yang sudah enak bawakannya mau aja,” bebernya lagi.

Di rumah yang terletak di kawasan Bandung Utara itu Tari berkenalan dengan narkoba jenis sabu. Rasa penasaran yang tinggi pun membuatnya terlibat dan turut menikmati barang haram tadi. “Kok waktu itu aku merasa badan ini jadi fit aja dan horny. Jadi waktu tinggal kita berdua, soalnya yang lain keluar, aku mau aja diajak gitu,” cetusnya sembari memberi kode untuk menyedot sabu lagi sebelum melanjutkan ceritanya.

Pengalaman baru itu terus ditelusuri dan dengan keuangan yang ada hal itu, bukan hal yang mustahil. Kegiatan di ranjang yang melelahkan seolah menjadi menu penutup setelah mengkonsumsi sabu tadi. Hingga satu penggerebekan di akhir 2009 membuatnya harus berurusan dengan pihak berwajib. Hasil tes urine yang dilakukan sebenarnya mengharuskan Tari menjalani hukuman di lembaga permasyarakatan.

Begitu pun kekecewaan yang ditimbulkan, Tari tetap mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya. Tak ingin putrinya jadi pesakitan, sang Bapak pun memanfaatkan relasinya untuk melepaskan Tari dari semua tuntutan. Sekalipun dengan catatan, Tari harus menghilang dari Kota Kembang. “Aku pernah ada kenalan dari Kota Medan. Itu lah ceritanya kenapa aku bisa sampai di sini,””paparnya kembali menyulut sebatang rokok.

Awal 2010 tepatnya Februari, Tari pun terbang ke Medan setelah sebelumnya mengontak Rini warga Kampung Baru Medan untuk mencarikan rumah kontrakan untuknya. Rumah tipe 45 di Jalan Gagak Hitam itu rupanya cocok dengan kedua orangtua Tari sehingga kontrak langsung diteken. Setelah semua urusan kontrakan dan kebutuhan dipenuhi, Tari pun melanjutkan hidupnya dengan keuangan yang tidak sebebas dulu lagi.

Seringnya aktivitas yang dilakukan di kota kelahiran ternyata membawa dampak kecanduan bagi Tari. Karena belum menemukan kampus yang tepat untuk melanjutkan pendidikannya kegiatan Tari pun lebih banyak kosong. Gemerlap lampu dan dentuman audio selalu menggelitik panca inderanya. Lewat temannya Rini, Tari pun kembali mengulang kebiasaan dugem di Kota Medan.

“Pertama itu diajak Rini ke Zone. Beberapa kali masuk dapat kenalan yang ngajak ke tempat lain. Sejak itu kita pun main di Tobasa dan sekarang seringan di Entrance,” lanjutnya setelah kembali meneguk air di gelas pelastik.
Namun, keuangan yang terbatas menjadi kendala bagi Tari untuk menyalurkan hobinya itu. Terlebih setelah dirinya mendaftar di salah satu perguruan tinggi swasta seputaran Stadion Teladan Medan. Bukan dengan hobi dugem, dimana dirinya sebagai wanita memiliki akses untuk masuk. Begitu juga dengan minuman yang masih mampu dibelinya. Bahkan tidak sedikit pria hidung belang yang suka-rela menawarkan minuman kepadanya.

Tapi, di akhir bulan saat jatah keuangannya sudah menipis, sementara serangan berupa nyeri di tulang sebagai dampak kecanduan sabu semakin sering menyapa. Tak ayal, mulailah Tari mengizinkan lelaki hidung belang menikmati tubuhnya demi imbalan sejumlah uang membeli sabu.

“Lebih sukak diajak tubang (tua bangka). Duitnya tebal tapi tenaganya cepat habisnya. Makanya sebelum masuk, aku make dulu. Jadi kalau dia sudah keluar, ya aku tinggal aja minta duitnya. Kalau mood aku masuk lagi untuk tambah-tambahan biar stok beberapa hari aman,” beber Tari. Ternyata kebutuhan Tari akan sabu sudah semakin besar. Strategi menjajakan tubuhnya tadi pun tidak selamanya dapat menyelamatkannya dari rasa ngilu layaknya rematik tadi. Hingga dirinya pun melakoni status barunya yang dikenal dengan cewek STP. Asalkan bisa mendapatkan sabu, Tari merelakan tubuhnya sebagai imbalan. (indra juli hutapea)

Posted in Liputan Khusus | Tagged | Comments Off

Tertibkan Reklame Jangan Gertak Sambal

Wali Kota Diminta Buktikan Janji

MEDAN- Rapat pembentukan tim pembongkaran reklame liar dan tak berizin yang berlangsung di Ruang Rapat I Lantai II Balai Kota Medan, Rabu (16/2), berlangsung tertutup. Bahkan, sebelum rapat dimulai, Kepala Bagian Humas (Kabag Humas) Pemko Medan Hanas Hasibuan meminta wartawan koran ini, dan beberapan
wartawan media cetak dan elektronik lainnya untuk meninggalkan ruang rapat tersebut sesaat setelah Wali Kota Medan Rahudman Harahap dan Wakilnya Dzulmi Eldin serta Sekretaris Daerah (Sekda) Medan Syaiful Bahri dan Kapolresta Medan Tagam Sinaga memasuki ruang rapat.

Situasi seperti itu, membuat sejumlah wartawan unit Pemko Medan menjadi kecewa, karena merasa dibatasi untuk meliput. “Ala, tertutup-tertutup segala. Sudah tahunya kami banyak reklame yang tak berizin, liar,” teriak seorang wartawan yang kecewa dengan Kabag Humas Pemko Medan yang meminta wartawan keluar.
Akhirnya, para wartawan menunggu di luar ruang rapat. Selang lebih kurang 30 menit, Wali Kota Medan Rahudman Harahap dan Wakilnya Dzulmi Eldin beserta Kapolresta Tagam Sinaga keluar ruang rapat dan langsung diserbu wartawan.

Dengan entengnya, Rahudman menyatakan, tidak bolehnya wartawan meliput rapat mengenai pembentukan tim penertiban reklame tak berizin itu, dikarenakan keterbatasan bangku yang tersedia di dalam ruang rapat tersebut.
“Bukan dihalang-halangi, bangku di dalam terbatas,” katanya singkat kepada wartawan.
Terkait rapat tersebut, Rahudman menuturkan, rapat tersebut merupakan rapat Muspida antara Pemko Medan, Kodim dan Polresta Medan serta semua pihak terkait, yang telah sepakat untuk membentuk tim penertiban reklame.
“Saya tidak bicara relklame liar. Rapat hari ini adalah rapat Muspida yang sepakat untuk membentuk tim membongkar reklame yang tak berizin dan yang tak sesuai dengan letaknya. Tim ini akan diperkuat dengan keputusan Wali Kota, Kodim dan Polresta Medan,” ujarnya.

Dikatakannya, dalam melakukan penertiban tersebut, akan ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak pengusaha advertising. “Actionnya akan dimulai dalam dua hari ini. Sebelumnya akan kita kasih peringatan,” tegasnya.
Rahudman juga menegaskan, jika ada reklame yang berdiri berdasarkan adanya Memorandum Of Understanding (MoU) maka tetap akan dianjurkan untuk mengurus izin terlebih dahulu.
Sementar itu, usai Rahudman dan Eldin serta Kapolresta Medan meninggalkan ruang rapat, rapat seterusnya dipimpin Sekda Medan Syaiful Bahri, terdengar dari balik pintu bahwa Sekda memimpin rapat tersebut dengan suara yang lantang alias berang kepada para peserta rapat.

Sementara itu, desakan terhadap Wali Kota Medan untuk melakukan pembongkaran seluruh papan reklame yang menyalahi perizinan dan menganggu kepentingan umum, dilontarkan Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kota Medan Muslim Maksum. Muslim mengatakan, apa yang dijanjikan Walikota Medan jangan hanya sebatas “gertak sambal” saja.

“Dia (Wali Kota, Red) jangan naïflah dengan hanya menggertak pengusaha advertising yang menyebutkan kalau akan menggergaji reklame yang menyalahi aturan, tapi buktinya pasca cakapnya itu muncul lagi reklame persisnya di simpang Jalan Gajah Mada, Medan yang memampangkan wajah Rahudman, apakah reklame itu sebagai kompensasi,” tegasnya.

Sambung anggota komisi D DPRD Medan tersebut, kalau kondisi seperti itu semuanya dilandasi karena lemahnya penegakan hukum di Kota Medan. Sehingga, membuat pengusaha advertising terkesan tidak takut untuk mendirikan reklame-reklame yang letaknya melanggar aturan yang ad
“Selain itu, penguasa di Kota Medan memang tak “ikhlas” untuk menertibkan reklame dan menata reklame di Kota Medan, kalau memang mau buat kota Medan ini “bersih” dari reklame tanpa izin seharusnya Wali Kota jangan hanya banyak cakap, alias No Action Talk Only (NATO),” tandasnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRD Kota Medan Aripay Tambunan juga menunjukkan sikap yang sama, di mana agar Wali Kota Medan untuk merealisasikan bukti yang diucapkan Rahudman, untuk menggergaji reklame liar.

“Kita mendukung penuh jika Walikota mau gergaji reklame liar, namun buktinya mana?. Katanya, ada beberapa titik kawasan yang terdapat reklame yang tak berizin, mana titik-titik itu, harus di ekspos dong, data itu, dan kalau Walikota tak sanggup menggergajinya maka kita (DPRD-red) mau mencarikan tukang gergaji untuk menggergaji reklame tak punya izin itu, “ tandasnya.(ari)

Posted in Metropolis | Comments Off

Kasus Syamsul Besar, ICW Maklumi KPK Lamban

JAKARTA-Hingga kemarin (16/2), proses penyidikan kasus dugaan korupsi APBD Langkat dengan tersangka Gubernur Sumut Syamsul Arifin, belum juga kelar. Tim penyidik masih berkutat pada pemberkasan, untuk selanjutnya dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU), yang juga dari KPK. Target semula, pertengahan Februari ini sudah disidangkan dan ternyata meleset.

Koordinator Bidang Hukum ICW Febry Diansyah menganggap kelambatan penyidik menangani perkara Langkat ini sebagai hal yang wajar. Dua alasan dikemukakan Febry. Pertama, perkara korupsi APBD Langkat ini bukan perkara korupsi di tingkat lokal yang biasa saja. “Ini korupsi besar,” tegas Febry kepada koran ini di Jakarta, kemarin (16/2). Maklum, dugaan kerugian negaranya saja mencapai Rp102,7 miliar. Jumlah saksi yang dimintai keterangan KPK pun dalam kisaran 300-400 saksi.

Alasan kedua yang dikemukakan Febry, perkara ini tidak hanya ditangani KPK, tapi juga ditangani Kejaksaan Tinggi Sumut (Kejatisu). Karena ada dua instansi yang menangani, meski sudah ada pembagian tugas, tetap saja setiap tahapannya harus terkoordinasi dengan baik. “Dan mungkin saja ada hambatan-hambatan koordinasi, sehingga terkesan lambat,” ujar Febry.

Dijelaskan Febry, kelambanan proses penyidikan tidak menjadi persoalan tatkala waktunya tidak melampaui masa penahanan. Selama tidak ada ketentuan penahanan yang dilanggar, maka tidak ada masalah. “Saya kira penyidik sudah memperhitungkan masa penahananannya,” ujar Febry.

Sebelumnya, Senin (14/2), sekitar 50-an massa yang menamakan diri Gerakan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (Gemaki), menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta.
Massa yang dipimpin Aji ini mendesak agar tim penyidik KPK bisa cepat menyelesaikan proses penyidikan. Tujuannya, agar kasus dugaan korupsi APBD Kabupaten Langkat dengan tersangka Syamsul Arifin ini bisa segera diadili.  “Adili secepatnya. Jangan terlalu berlama dan berlarut-larut,” ujar Aji, koordinator Gemaki, dalam orasinya yang lantang.

Aji menilai, KPK lamban dalam menangani kasus dugaan korupsi senilai Rp102,7 miliar itu. “Sudah berbulan ditahan sebagai tersangka, namun tidak juga disidangkan,” ungkap Aji, yang menenteng pengeras suara.(sam)

Posted in Nasional | Tagged | Comments Off

Penerbangan Masih Ditunda

Akhir Februari Kabut Asap Diperkirakan Habis

Meski hujan deras sempat mengguyur Kota Medan beberapa saat, namun tidak membuat asap kabut hilang. Hingga saat ini, asap kabut yang disebabkan kebakaran hutan di beberapa titik di Sumatera, masih terus menyelimuti udara Kota Medan.

Bahkan, beberapa maskapai penerbangan domestik di Bandara Polonia Medan,
masih menunda kebarangkatannya khususnya jurusan Medan-Pekanbaru.

Hingga saat ini, Maskapai Lion Air masih menunda keberangkatan penumpangnya untuk jurusan Medan-Pekanbaru dengan alasan tidak mau mengambil resiko keselamatan penumpang, karena asap tebal yang menyelimuti udara di Pekanbaru.

Berdasarkan pantuan Sumut Pos di Terminal Keberangkatan Domestik Bandara Polonia Medan, Rabu (16/2), ratusan calon penumpang yang menggunakan Maskapai Lion Air harus kecawa karena untuk jurusan Medan-Pekanbaru dibatalkan keberangkatannya.

Pihak Lion Air sendiri membuka loket, untuk pengembalian uang tiket milik calon penumpang.

Begitu juga dengan maskapai Wings Air. Penerbangan komersial yang melayani rute Medan-Pekanbaru ini, terpaksa harus menunda keberangkatan penumpangnya ke Pekanbaru. Bahkan Wings Air juga terpaksa mengembalikan uang pada calon penumpang yang dibatalkan keberangkatannya ke Pekan Baru, karena asap kabut yang cukup tebal.
“Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, masih mengeluarkan warning penerbangan. Mungkin karena inilah, membuat penerbangan Lion Air dan Wings Air tidak terbang, karena mereka tidak mau mengambil resiko,” beber Staff Airport Duty Manager (IOC) Andi Mulyono pada wartawan, Rabu (16/2).

Mulyono juga belum bisa memaparkan kapan kedua maskapai ini akan terbang kembali ke Pekanbaru. “Yang pasti, menunggu asap kabut ini tidak melanda lagi,” tegas Mulyono.

Sementara di tempat terpisah, Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorogi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara Polonia Medan Firman mengatakan, asap tebal yang menyelimuti Kota Medan diperkirakan hingga akhir Februari 2011.

“Kabut asap ini akan berakhir diperkirakan akhir Februari. Karena ada 13 titik kebakaran tersebut masih menyala,” tegas Firman.

Ke 13 titik tersebut, sambung Firman, di antaranya kebakaran hutan di Kabupaten Langkat, Kabupaten Tanah Karo, di semenanjung Malaysia, Jambi dan Dumai dan beberapa daerah di Kepulauan Riau,” tegas Firman.

“Sebenarnya kebakaran hutan ini, sudah terjadi lebih kurang satu minggu ini. Dan bukan hanya di Riau, tapi terjadi juga di Sumatera Utara seperti di Madina, Labuhan Batu dan bahkan di Medan. Ini baru akan berakhir, jikalau ada hujan yang deras yang mampu mematikan titik-titik api tersebut. Artinya, sejauh tidak ada hujan deras, maka potensi kebakaran hujan tidak akan berhenti sangat terbuka,” ungkap Firman.

Ditambahkannya, dengan adanya kebakaran tersebut, secara otomatis akan mengganggu jarak pandang. Terutama lagi bagi aktifitas penerbangan. Jarak pandang yang ada sekarang hanya 2.000 meter, sementara untuk jarak pandang normal dalam melakukan penerbangan adalah 5.000 meter.

Potensi penerbangan juga akan semakin terganggu, karena dalam rentang waktu tiga hari ke depan, diprediksi akan turun hujan deras. Di mana hujan deras tersebut, akan membawa uap air yang relatif besar, yang secara otomatis akan bercampur dengan asap kebakaran hutan.

“Hujan deras tersebut membawa uap air yang relatif besar, yang menyebabkan udara menjadi basah. Jadi uap air itu akan bercampur dengan asap kebakaran, yang akhirnya jadi kabut asap. Maka, dengan kondisi ini secara otomatis akan mengganggu penerbangan,” terang Firman lagi.

Lebih lanjut Firman menuturkan, potensi hujan yang deras baru akan turun dalam waktu dua atau tiga hari mendatang yakni, Jum’at, Sabtu dan Minggu ini.

“Curah hujannya memang sekitar 50 milimeter per harinya, dan hujannya kemungkinan hanya akan berlangsung dalam rentang waktu satu atau dua jam saja. Tapi hujan yang akan turun itu, berpotensi hujan yang deras,” ungkapnya.

Terkait apakah alangkah lebih baiknya, dengan kondisi seperti ini agar penerbangan di cancel seperti beberapa hari lalu ?. Mengenai hal tersebut, Firman tidak bersedia memastikannya, karena yang memiliki wewenang terkaitv penerbanan adalah pihak Bandara Polonia Medan.
“Itu yang bisa menjawabnya pihak bandara, kalau saya hanya menjelaskan sejauh mana kondisi cuaca dan sebagainya,” tegasnya.(rud/ari)

Posted in Metropolis | Tagged | Comments Off

Sweeping Mobil Dinas, 9 Tahun Terseret Hukum

Ironi Penggiat Antikorupsi di Jember

Gara-gara men-sweeping mobil dinas pejabat, seorang aktivis LSM antikorupsi di Jember, Jawa Timur, dipolisikan lalu dimejahijaukan hingga tingkat MA. Hasilnya, dia dinyatakan bersalah dan harus ditahan.

NUR FITRIANA, Jember

Tetapi, sudah empat tahun ini terpidana yang berstatus buron itu tak juga dieksekusi. Padahal, dia tidak kabur dan malah sering tampil di hadapan umum.

Aktivis LSM antikorupsi itu bernama Sudarsono. Di Jember, namanya sudah tak asing lagi. Melalui LSM Indonesia Bureaucracy Watch (IBW) yang didirikannya pada 2002, dia dikenal sebagai aktivis yang sering tampil di hadapan umum. Tak jarang dia memimpin aksi demonstrasi yang membuka borok korupsi di lingkungan Pemkab Jember dan juga di lembaga lain.

Salah satu aktivitas Sudarsono yang membuatnya tersandung masalah hukum adalah ketika dia bersama teman-temannya men-sweeping mobil-mobil dinas milik pejabat. Mobil pelat merah yang di-sweeping adalah yang digunakan untuk keperluan pribadi atau dibawa keluar di luar jam kerja atau pada saat hari libur.

Ketika melakukan sweeping pada Juli 2002, Sudarsono mengajak beberapa wartawan untuk menjadi saksi jika ditemukan adanya mobil dinas yang berkeliaran pada Sabtu, Minggu, dan juga malam saat jam kerja usai.
Jika ada mobil dinas yang melanggar, para aktivis IBW yang digerakkan Sudarsono itu tak segan-segan menempeli kendaraan itu dengan poster bertulisan: Mobil ini dibeli dengan uang rakyat. Salah satu mobil yang ditempeli poster karena kedapatan melanggar adalah mobil dinas milik Suhardianto yang saat itu menjadi kepala dinas PU pengairan.
“Kami waktu itu memang bersemangat mencatat setiap mobil dinas yang digunakan pejabat eselon II. Sebab, rata-rata mereka adalah kepala dinas yang selain mobil dinas juga punya mobil pribadi,” tutur Sudarsono ketika ditemui Radar Jember (grup Sumut Pos) di dekat Kantor Pemkab Jember Kamis pekan lalu (10/2).

Sudarsono masih ingat, mobil dinas milik Suhardianto yang kena sweeping adalah Soluna. “Saya masih ingat, waktu itu Minggu siang sekitar pukul 11.00. Mobil itu lewat di Jalan Samanhudi. Mobil dinas kan seharusnya hanya digunakan pada hari kerja. Tapi, ini dipakai pas hari libur,” cerita pria 49 tahun itu.

Ternyata, aksi sweeping Sudarsono tersebut berbuah masalah. Gara-gara mobilnya ditempeli poster oleh IBW dan diliput pers setempat, Suhardianto, si pejabat pemilik mobil dinas, tidak terima. Dia melaporkan Sudarsono ke polisi karena dianggap telah melakukan pencemaran nama baik. Sejak saat itu, Sudarsono terlibat proses hukum. Saat itu, satu-satunya kelemahan yang dimiliki Sudarsono adalah saat sweeping dia tak memiliki dokumentasi berupa foto.
“Sebenarnya saat itu si pejabat (Suhardianto) sempat ragu-ragu untuk membawa persoalan ini ke proses hukum. Tapi, saya menduga dia saat itu ditekan oleh bupati (kala itu dijabat Bupati Syamsul Hadi Siswoyo) untuk melaporkan saya ke polisi,” papar pria yang pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Filsafat UGM itu.

Kala itu, Sudarsono menjadi target bupati karena dia getol sekali menyoroti dugaan korupsi eks gedung BHS senilai Rp5 miliar dan kasus korupsi Best FM milik Pemkab Jember. Kasus Sudarsono akhirnya dibawa ke meja hijau.
Pengadilan Negeri Jember memutuskan bahwa dia bersalah, dijerat dengan pasal 310 KUHP, dan dijatuhi hukuman 3 bulan penjara. Namun Sudarsono bersikukuh tidak bersalah dan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Timur.

Majelis hakim PT menolak banding itu sehingga Sudarsono mengajukan kasasi. Sialnya, hakim MA juga menolak permohonan kasasi Sudarsono. Melalui keputusan yang dikeluarkan pada 2007, MA malah menguatkan putusan Pengadilan Tinggi Jawa Timur. Bapak dua orang putra dan putri itu juga menolak meminta maaf.
Tidak berapa lama setelah turun kasasi, Sudarsono mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri Jember. Maksudnya, dia menantang untuk segera ditahan. Anehnya, oleh petugas di kejaksaan, Sudarsono malah disuruh pulang. “Padahal, saat itu saya sudah dibawakan pakaian oleh istri saya,” tuturnya mengenang.

Yang lebih aneh, setahun berikutnya (2008) nama Sudarsono malah masuk DPO (daftar pencarian orang). “Saya sudah mendatangi kejaksaan, tapi tak juga ditahan. Saya malah ditetapkan sebagai buron. Padahal, saya tak ke mana-mana,” ujarnya, seraya tersenyum geli.

Memang, meski berstatus buron, Sudarsono tetap bebas berkeliaran di Jember. Sehari-hari dia juga tinggal bersama istri dan dua anaknya di kediamannya, Perumahan Kodim V, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Jember.
Pada 14 Desember 2009, dengan status buron yang disandangnya, Sudarsono kembali mendatangi Kejari Jember untuk menyerahkan diri agar dieksekusi. Kala itu, dia digotong di dalam keranda mayat, diiringi ratusan aktivis LSM dan mahasiswa. Pada aksi itu, para aktivis tersebut membubuhkan cap jempol darah di lantai keramik depan pintu masuk Kantor Kejari Jember.

Untuk kali kedua, saat Sudarsono berniat menyerahkan diri agar dieksekusi, petugas kejaksaan tak juga mengeksekusi. Mereka memilih menunda mengeksekusi.

Hingga kemarin pun, eksekusi terhadap Sudarsono tak kunjung dilaksanakan. Padahal, pria yang pernah malang melintang di dunia politik lokal itu kerap tampil di depan umum. Bahkan, setiap ada aksi unjuk rasa, dia hampir selalu hadir.

Pada 5 Januari lalu, dia ikut aksi menyegel gedung DPRD Jember. Kemudian, pada 9 Februari lalu, dia kembali berorasi di depan umum dalam aksi teatrikal memperingati Hari Pers Nasional. Meski sering tampil di hadapan umum, dia tak juga dieksekusi.

Kejaksaan Negeri Jember ketika dikonfirmasi melalui Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Achmad Sujayanto mengatakan, pihaknya saat ini memberikan toleransi kepada Sudarsono untuk mengajukan peninjauan kembali (PK) atas vonis MA. Namun, dia mengatakan belum mengetahui yang bersangkutan telah mengajukan PK ke MA atau belum.

“Hingga saat ini, kami belum tahu apa ada PK atau tidak. Yang pasti, kami belum diundang oleh pengadilan untuk menghadiri sidang PK Sudarsono,” ungkapnya. Karena itu, Kejari Jember menilai, Sudarsono tidak mengajukan PK atas putusan dari MA tersebut.

Achmad Sujayanto berangapan, pengajuan PK tidak akan menghentikan kegiatan eksekusi. “PK tak menghentikan eksekusi,” tambahnya. Karena itu, pihaknya menegaskan akan langsung berkoordinasi dengan aparat Polres Jember untuk mengeksekusi Sudarsono.

Nama Sudarsono memang cukup dikenal di kalangan aktivis Jember. Sebelum mendirikan IBW, dia malang melintang di dunia politik. Sejak 1987, dia bergabung dengan PDI. Saat partai tersebut berubah menjadi PDIP, dia juga aktif di partai yang diketuai Megawati Soekarnoputri itu. “Pada 1999 dan 2004, saya menjadi caleg PDIP untuk DPRD provinsi,” ujarnya suatu ketika. Tetapi, dia gagal menjadi anggota legislatif.

Pada 2008, dia berpindah partai dan bergabung PAN. Pada Pemilu 2009, dia mencalonkan diri sebagai caleg untuk partai tersebut. Lagi-lagi dia gagal menjadi anggota dewan.

Sejak mendirikan IBW pada 2002, sudah banyak kasus yang berhasil dia bawa hingga diproses secara hukum. Selain kasus dugaan korupsi eks gedung BHS dan Radio Best FM milik Pemkab Jember, dia juga mengungkap kasus korupsi lain. Di antaranya, kasus dugaan korupsi sekoci senilai Rp1 miliar, kasus korupsi dinsos soal Losisi (lokalisasi prostitusi) Puger, kasus pembangunan sekolah di Ponpes Al Qodiri, kasus pemalsuan surat kenaikan pangkat di dinas tenaga kerja, kasus plesterisasi, dan kasus korupsi dana operasional DPRD Jember.

Sudarsono mengatakan, dirinya sudah melaporkan apa yang dialaminya itu ke Komnas HAM di Jakarta. “Komnas HAM menilai, kasus saya ini adalah kasus pelanggaran HAM,” katanya.

Dia berjanji segera menempuh upaya PK dan menyertakan bukti-bukti konkret mengenai penistaan nama baik yang ditujukan kepada dirinya. Namun, dia tetap bersikeras dengan pendiriannya untuk tetap lantang menyuarakan kebenaran yang diyakininya. Jika dia diciduk, semua yang terdaftar sebagai DPO dan pelaku-pelaku korupsi harus segera ditindak tegas. Penegakan hukum tidak boleh pandang bulu.

“Ada beberapa pejabat yang jelas-jelas korupsi dan berstatus DPO, tapi sampai sekarang belum juga dieksekusi,” ungkapnya.

Meski masuk DPO, Sudarsono bersikeras tak mau diam jika melihat ketidakadilan. Pria yang kini menekuni profesinya sebagai guru pengajar teologi di sebuah pesantren dekat rumahnya itu tidak pernah gentar selama menyuarakan kebenaran yang sejati demi martabat bangsa dan perbaikan negeri tercinta. Dia secara tegas menyebutkan bahwa yang dilakukannya adalah perjuangan ideologis.

Sang istri, Nurwati, ketika ditanya Radar Jember menyatakan bahwa dirinya akan selalu berada di belakang suami. “Anak saya pernah ditanya oleh temannya yang kebetulan membaca koran. Mengapa ayahnya ditetapkan masuk DPO oleh Kajari. Anak saya justru menjawab, bapak saya bukan penjahat, bukan juga tukang korupsi, tapi justru membela rakyat,” ujar perempuan 47 tahun yang selalu setia menemani Sudarsono dalam suka dan duka itu. (jpnn/c4/kum)

Posted in Nasional | Tagged | Comments Off

Rektor: Kampus Saya Pernah Jadi Pusat Peredaran Narkoba

Peredaran narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) di sekolah maupun kampus merupakan satu fenomena yang sangat sulit diberantas.

Selain pihak kepolisian yang tak boleh memasuki kawasan pendidikan ini, penangkapan pengedar yang diusahakan pihak institusi juga berjalan cukup sulit.

Pengamat pendidikan Sumut, Dr Ir Jongkers Tampubolon MSc mengatakan, hal tersebut di atas yang menjadi kendala utama dalam pemeberantasan narkoba di institusi pendidikan. “Usaha yang dilakukan harus benar-benar detail, pihak sekolah dan kampus harus bisa menangkap basah pengedar. Ini satu usaha yang benar-benar sulit untuk dilakukan,” katanya, Selasa (8/2).Jongkers yang juga Rektor Universitas HKBP Nommensen (UHN) menceritakan, pada 2007 lalu UHN sempat menjadi tempat distribusi peredaran narkoba dengan jumlah yang cukup banyak. Pihaknya sempat mendapati barang bukti ganja hingga 1,5 kg. Namun, pengedarnya tak tertangkap.

“Pada masa itu saya berusaha bersama semua perangkat rektorat untuk menjerat pengedar yang meupakan mahasiswa UHN sendiri. Kita merekam berbagai kegiatan terlarang ini, hingga video-video transaksinya,” ungkapnya.

Alhasil, pihak UHN menangkap pengedar ini dan memberikan sanksi akademik kepadanya. Namun, memang dasar sudah terinfeksi barang haram, mahasiswa ini akhirnya marah dan merusak fasilitas kampus. “Akhirnya ia dipidana dan dijerat dengan pasal pengrusakan fasilitas kampus, bukan karena pengedaran narkoba,” ujar Jongkers.
Menurut Jongkers, hal ini merupakan permasalahan umum, yakni masyarakat, dan yang paling mudah terpengaruh adalah pelajar baik itu siswa maupun mahasiswa. Dan mahasiswa biasanya telah kecanduan sejak ia masih menjadi seorang siswa.

“Mahasiswa sulit dipengaruhi, jadi mereka biasanya memang sudah kecanduan sejak sekolah. Kalau tingkat sekolah, inilah yang paling mudah dipengaruhi. Diberikan gratis untuk coba-coba dan akhirnya kecanduan,” jelasnya.
Kalau sudah kecanduan, lanjutnya, biasanya individu akan cenderung bisa melakukan apa saja demi memenuhi hasrat candunya tadi. “Jadi melacurkan diri untuk mendapatkan narkoba juga merupakan hal biasa bagi mereka. Dari sini pula asal sex bebas dan penyakit kelamin maupun HIV/AIDS berkembang dengan subur,” tutur Jongkers.

Lebih lanjut Jongkers menjelaskan, misalnya kita telah mengetahui seorang siswa atau mahasiswa ini pengedar narkoba, akan sia-sia jika menangkapnya saat tak sedang melakukan transaksi. Karena dia bisa berdalih hanya sebagai pemakai bukan pengedar. “Itulah sulitnya memberantas peredaran narkoba di institusi pendidikan,” katanya. (saz)
Untuk solusinya, menurut Jongkers, pihak kepolisian harusnya sudah memiliki program-program dan kiat. Mereka dapat mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dan bisa menangkap basah pengedar. “Namun, pastinya pengedar ini tak mau kalah pintar dengan polisi. Mereka juga memiliki cara untuk lepas dari jeratan pidana. Jadi polisi-pengedar saling kejar-kejaran dan saling lomba pintar,” ujarnya.

Jika pihak kepolisian menawarkan kerjasama dengan institusi pendidikan, akan bentrok pada masalah tak bolehnya pihak kepolisian memasuki kampus. Dan ini merupakan masalah serius. (saz)

Posted in Liputan Khusus | Comments Off

Semudah Mencari Rokok

Gugur satu tumbuh seribu. Demikian pula yang terjadi dengan peredaran narkoba di negara ini. Genderang perang yang ditabuh Polri memang menutup jalan bagi peredaran ganja. Namun justru menjadikan sabu seperti primadona.
Ya seperti Eben yang tidak bisa lagi mencari tambahan keuangan dari menjual ganja begitu pula narkoba golongan I itu semakin sulit ditemukan. Bahkan, di beberapa daerah yang dulunya surga bagi penggunanya kini berubah menjadi daerah terlarang. Seperti perumahan di seputaran Jalan Setia Budi dan Jalan Sunggal yang sempat terkenal dengan paket es lilin-nya. Begitu juga di seputaran Tanjung Sari yang dikenal dengan Pondok, atau di salah satu kampus swasta yang cukup terkenal. Belanja barang haram di daerah itu bahkan dapat dilakukan dengan tenang.

Usai penggerebekan besar-besaran yang dilakukan aparat Polri beberapa waktu lalu ganja yang juga dijuluki rumput Aceh itu pun menghilang. Tapi itu tidak berarti masyarakat bebas dari ancaman narkoba. Bahkan, ancaman itu kian dasyat dengan kehadiran sabu yang jelas-jelas dibuat dari bahan kimia itu. Dari informasi yang diperoleh, satu gram (ji) sabu dipatok harga Rp1.600.000. Mengingat harga yang begitu besar, layaknya strategi pemasaran, sabu tadi dipecah ke dalam paketan. Dimulai paket Rp250 ribu untuk tiga orang, Rp400 ribu untuk seperempat ji, dan Rp800 ribu untuk setengah ji.

Paket Rp250 ribu yang banyak beredar di kalangan pelajar baik di kampus maupun di sekolah-sekolah di Kota Medan. Dengan patungan tiga orang, masing-masing Rp100 ribu, paket ekonomi itu bisa diperoleh. Dengan ukurannya yang kecil barang tersebut gampang dibawa atau pun mengedarkannya.

Ya, untuk mendapatkan sabu tadi bisa dibilang mudah. Buktinya Frans hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 20 menit untuk mendapatkan sabu tadi. Begitu juga ketika Vicky hanya membutuhkan waktu 15 menit. Mencari sabu-sabu sudah semudah mencari rokok. “Tinggal kontek, langsung dijemput atau janji di satu tempat,” bebernya.
Sumut Pos pun berkesempatan mengikuti Vicky untuk diperkenalkan dengan seorang warga Jalan Jamin Ginting Medan yang dikabarkan juga seorang bandar. Dari pria bertubuh tambun ini lah cerita yang lebih miris lagi terungkap. Bagaimana perananoknum penegak hukum di kota ini terlibat dalam peredaran narkoba. “Ya  asalkan ada kenal orang dalam semua itu pasti bisa didapat. Tau kan di pengadilan itu ada barang bukti. Itu tidak semua dimusnahkan. Pandai-pandai kita lah mendekati orang di situ. Karena mereka pun pintar mengolah itu jadi uang masuk,” ucap Fredo (bukan nama sebenarnya) saat janji bertemu di salah satu café seputaran Jalan Ngumban Surbakti Medan.

Sayangnya Fredo enggan menyebut apakah orang kenalannya di pengadilan tadi dari kalangan hakim atau jaksa. Ha nya saja kenyataan bagaimana bebasnya akses masuk ke ruang penyimpanan barang bukti cenderung  sudah menjawab semua itu. (jul)

Posted in Liputan Khusus | Comments Off

Uma Tobing Dapat Ciuman Afgan

Uma Tobing dapat dukungan penuh dari Afgan saat tampil sebagai bintang tamu di ajang Indonesia Mencari Bakat 2 di Trans TV itu.

Afgan bahkan memberi ciuman kepada penyanyi belia yang masih berstatus siswi SMA Negeri 1 Medan ini.
Afgan memang sudah mengetahui bakat dan talenta Uma sejak tampil bersama di acara ’Miracle with Afgan’. n
Dalam acara yang diselenggarakan Afganisme, sebutan untuk fans Afgan dan Honda itun
Afgan juga mencium kening Uma sebagai pertanda kekaguman.

Dukungan tersebut tentunya memberikan kegembiraan yang luar biasa bagi Uma The BeAT, panggilan Uma saat itu. The BeAT merupakan panggilan  kehormatan yang disandang Uma setelah berhasil keluar menjadi pemenang Honda Idol pada tahun 2009.

Keberhasilan tampil sebagai juara Honda Idol memberikan kesempatan bagi Uma tampil di panggung akbar atau panggung roadshow Honda dibeberapa daerah. Kesempatan inilah yang menjadi salah satu wadah Uma mengasah kemampuannya.

Kegembiraan Uma Tobing mendekati puncak minggu lalu, setelah berhasil masuk ke babak grand final. Tinggal beberapa langkah lagi Medan bersiap diri menyambut Uma sebagai bintang baru di dunia hiburan tanah air.
Keberhasilan Uma masuk ke babak grand final sendiri sebenarnya telah memberikan kebanggaan yang luar biasa bagi Kota Medan. Kota ini kerap menyubang penyanyi bertalenta dalam ajang pencarian bakat yang diselenggarakan televisi nasional. Sebut saja Ikhsan Idol, Rini Idol dan Putri Ayu.

“Terima kasih dukungan dari warga Sumateraa Utara khususnya Kota Medan yang berhasil membawa Uma tampil di babak grand final. Uma berharap tetap memberikan penampilan – penampilan terbaik Uma. Tetap dukung Uma ya,” ungkap Uma

Gunarko Hartoyo, Promotion Manager CV. Indako Trading Co, main dealer Honda di Sumatera Utara berharap Uma Tobing tampil menjadi yang terbaik. Dalam beberapa kesempatan Honda tidak segan mengajak partisipasi masyarakat luas memberikan dukungan bagi Uma. Bahkan Bonita IMB1, yang juga merupakan runner up Honda Idol 2009 ikut meminta dukungan bagi Uma saat berlangsungnya Honda Oriental Romance pekan lalu.
“Keberhasilan Uma The BeAT menjadi kebanggaan tersendiri bagi Honda. Kegiatan Honda Idol akan kembali dilaksanakan mulai April  2011 ini. Kita akan mulai seleksi di sekolah sekolah di beberapa Kabupaten Kota. Semoga kegiatan Honda Idol bisa menjadi acara kebanggaan bagi remaja di tingkat Sumatera Utara. Ada rasa bangga melihat bakat muda dapat menyatukan hati meraih mimpi bersama Honda,” ungkap Gunarko Hartoyo. (rel/mag-9)

Posted in Berita Foto, Sportainment | Comments Off

Cukup 15 Menit untuk Beli Sabu di Kampus

Maraknya Pemakaian Narkoba di Kalangan Mahasiswa

“Acem?” teriak Yudha (bukan nama sebenarnya) kepada beberapa mahasiswa yang berkumpul di kantin salah satu kampus swasta di kawasan Stadion Teladan Medan. Setelah bergabung dengan rekan-rekan yang disapa tadi, Yudha yang bertubuh semampai dan berkulit putih ini pun merogoh sakunya. “Seratus dari sini. Acem di situ?” lanjutnya.
“Acem” dan “seratus dari sini” yang diucapkan Yudha adalah kode bagi yang lainnya untuk berpesta narkoba.

Buktinya setelah selembar uang seratus ribu disodorkan diikuti lembaran lainnya yang datang dari dua temannya, Bobi dan Frans (juga bukan nama sebenarnya) yang selanjutnya pergi entah ke mana. Sementara itu Yudha dan Bobi menuju ke salah satu ruangan masih di lingkungan kampus tersebut. Tampaknya ruang itu adalah tempat yang sering digunakan untuk berpesta narkoba khususnya sabu.

Sesampai di dalam ruangan Bobi langsung menuju pojok kiri belakang ruangan dan membuka tutup lantai yang terbuat dari papan. Tempat penyimpanan bong (alat isap sabu, Red). Hanya butuh waktu sebentar bagi Bobi untuk merangkai peralatan tadi. Sekitar 15 menit, Frans bergabung setelah sempat menghilang. Setelah menutup pintu ruangan tadi, Frans merogoh saku celananya dan mengeluarkan plastik berukuran 1 x 2 centimeter. Di dalamnya terlihat butiran-butiran kristal berwarna bening. Ia baru saja membeli sabu di lingkungan kampus itu.
Setelah menakar menjadi tiga bagian pesta pun dimulai dari Bobi. Mancis dengan api kecil didekatkan untuk membakar butiran-butiran kristal yang diletakkan di pipa bong berisi air. Butiran tadi pun larut menguap menjadi asap yang disedot mengisi bong de ngan air untuk kemudian melalui pipa lainnya masuk ke mulut Bobi yang terlihat kian mengempot. Hingga butiran tadi larut Bobi mengakhiri kegiatannya dengan mengepulkan asap sembari mendongak. “Pas bah,” ucap pria asal Kisaran itu.

Hal yang sama pun dilakukan oleh Yudha dan Frans mendapat urutan yang terakhir. “Gampang sekarang nyari ‘itu’ (sabu, Red) di mana-mana ada yang jual. Malah lebih gampang pun dari nyari ganja. Apalagi paket 400 seperti tadi,” papar Yudha tanpa melepaskan tatapan dari Frans yang tengah menikmati bagiannya.

Setelah selesai, ketiganya pun keluar tanpa perasaan asing dengan sekeliling yang memang tampak tak acuh. Seolah mereka semua sudah tahu apa yang telah dilakukan ketiganya di salah satu ruangan tadi. Seperti hal nya sekumpulan orang yang terlihat bercengkrama di taman, masih di lingkungan kampus yang sama. Aroma ganja yang khas terhirup saat mulai mendekati kelompok itu. Ketiga nya memang bermaksud bergabung. Aktivitas pun berlanjut. Seorang dari kelompok tadi sebut saja Arman menyerahkan lintingan kecil dan rapi yang tengah menyala kepada Bobi. Setelah mengagumi bentuk lintingan tadi, Bobi pun menariknya. Tiga kali isapan, lintingan itu dikembalikan kepada Arman. Sementara yang lainnya Yudha dan Frans mendapat bagian dari yang lainnya.

“Bagus juga barangnya, Bro. Tempat biasa ya?” tanya Frans yang dibalas anggukan oleh Arman. “Tapi agak parno juga tadi, Bro,” katanya. Arman pun mengakui bila mendapatkan ganja sudah sangat susah. Tidak seperti sebelum 2005-an. Dimana ganja layaknya kacang goreng yang begitu gampang ditemukan di kampus. “Lebih gampang sekarang beli sabu pun,” ucap Eben yang konon sempat menjadi pengedar di kampus tersebut kepada Sumut Pos.
Dari Eben, wartawan koran ini mendapatkan informasi bagaimana masuknya barang haram itu ke lingkungan kampus. Diawali dari perkenalan mahasiswa asal Rantau Parapat ini dengan seorang bandar dari Aceh, kesepakatan pun dibuat.

Dengan modal Rp1 juta, Eben mendapatkan satu kilo ganja yang kemudian dipecah menjadi bungkusan kecil (ketengen) di kamar kosnya yang tak jauh dari kampus tempatnya menuntut ilmu itu. Ketengan tadi pun dibawa ke kampus untuk dijual kepada mahasiswa lainnya yang memang pemakai.

Bahkan, konsumen (pasien) Eben juga ada yang datang dari luar lingkungan kampus. Untuk kategori ini dirinya mengaku ekstra selektif, bungkusan ketengan ganja tadi pun diletakkan tersembunyi dan jauh dari kantin kampus tempatnya menunggu pembeli.

Eben membatasi jumlah ketengan yang dibawa, biasanya hanya 100 keteng yang dijual dengan harga Rp6.000 per ketengnya. Dalam satu hari itu, dagangannya selalu habis, Eben bisa membawa pulang uang Rp500 ribu karena sebanyak Rp100 ribu sengaja dia habiskan untuk mentraktir teman-teman yang diistilahkan ‘menyejahterakan’. Bila dikalkulasikan, ganja seberat satu kilogram tadi yang dipecah menjadi 400 keteng, memberi Eben pendapatan Rp2 juta hanya dalam tempo dua hari. Fantastis.

Namun, genderang perang yang ditabuh Polri menutup kran penghasilan Eben. Tetapi, hal itu pula yang menjadi pertanyaan bagaimana justru narkoba jenis sabu tadi menggantikan posisi ganja dalam peredarannya di lingkungan pendidikan dan kampus hingga kamar kost-kosan mahasiswa dan pelajar tadi.

Pemandangan yang kontras de ngan Yudha, Bobi, dan Frans tadi yang cenderung individualis. Bahkan sempat terlihat mimik tidak senang dari Frans saat Yudha membagi satu paket sabu ke dalam tiga bagian. Tidak senang kalau bagiannya lebih sedikit.

Hal itu pun seolah dibenarkan kenyataan saat Sumut Pos menyambangi salah satu kos-kosan di daerah Medan Baru. Kos-kosan yang dikabarkan milik orang kuat di Kota Medan ini memang dihuni oleh mahasiswi dan pelajar putri. Tapi dilihat dari fasilitas yang dimiliki, fasilitas mewah di setiap kamar yang hanya berjumlah 15 kamar berukuran 3×4 meter itu, status pelajar mereka tadi hanya kedok. Mahasiswi dan pelajar di pagi hingga siang hari dan mulai sore hari mereka menjadi wanita malam. Ada yang menjadi istri simpanan tua bangka (tubang). Semen tara yang lainnya menjadi pemuas nafsu dengan cara yang elegan.

Tapi yang bisa dipastikan sebagian besar mereka adalah pengguna narkoba jenis sabu tadi. Bagi wanita-wanita muda ini, begitu juga pada umumnya, sabu sudah menjadi dopping. Dengan bantuan sabu tadi mereka pun dapat memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pemesannya. Satu paket akan mereka bagi dengan ukuran yang sama banyaknya. Mereka pun tidak terlihat vulgar dan cenderung menjaga perasaan teman lainnya yang juga pemakai.

“Sensitif memang, Bang, bawaannya kalau make sabu ini. Pernah kawan itu merajuk karena gak bisa ikut makek. Soalnya kita cuma beli paket 500 dipakai empat orang. Satu minggu gak diomonginnya kita,” ucap Nana (bukan nama sebenar nya), mahasiswi di salah satu perguruan tinggi pariwisata Kota Medan ini.

Bahaya narkoba atau narkotika telah diketahui secara luas. Namun masih, saja banyak yang suka menikmati barang laknat itu. Bahkan, penggunaannya makin tak terkendali meski hampir setiap hari ada saja yang ditangkap aparat. Hingga kini penyebaran narkoba sudah hampir tak bisa dicegah. Mengingat hampir seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Misalnya saja dari bandar narkoba yang senang mencari mangsa di daerah sekolah, diskotik, tempat pelacuran, dan tempat-tempat perkumpulan genk. Upaya pemberantas narkoba pun sudah sering dilakukan, namun masih sedikit kemungkinan untuk menghindarkan narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa, bahkan anak-anak usia SD dan SMP pun banyak yang terjerumus narkoba.

Bahaya itu pun kian mendalam karena keberadaan narkoba tadi sudah masuk ke tengah-tengah ke lompok pelajar dan mahasiswa. Ke lompok yang menjadi tumpuan harapan bangsa ini ke depan. Ke nyataan miris itu terungkap dalam kasus pembunuhan Muhammad Agus Widyta Lubis alias Awit (20), seorang mahasiswa Institut Teknologi Medan (ITM) jurusan Teknik Mesin Semester IV, yang ditemukan tewas di kamar kosnya, Senin, 24 November 2010 lalu. Seperti yang diberitakan di harian Sumut Pos, Awir ditemukan tewas dalam kondisi menggenggam bong, alat untuk pengisap sabu-sabu. Meskipun ia tewas bukan karena sabu, namun dipastikan narkoba tersebut memiliki andil.
Vicky (bukan nama sebenarnya, Red) seorang mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi terkenal di Kota Medan pun tak mengelak soal narkoba yang makin marak. Menurut Vicky, kegiatan mengkonsumsi sabu di kos-kosan sudah bukan hal yang asing. “Sudah gak asing lagi lah itu, Bang. Selain makek (mengkonsumsi sabu, Red) di kampus ya di kos. Sebenarnya lebih aman di kampus. Kalau di kos agak jantungan,” jelas Vicky yang ditemui di kantin kampus yang terdapat di seputaran Jalan Jamin Ginting ini.

Dari pengakuan Vicky bisa dibayangkan bagaimana maraknya peredaran narkoba jenis psikotropika ini di Kota Medan. Menurut data yang diperoleh Sumut Pos, yang ada sekitar 100 perguruan tinggi terdapat di Kota Medan, diantaranya dua perguruan tinggi negeri yaitu Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Negeri Medan (Unimed).  Meski belum tentu semua mahasiswa adalah pemakai narkoba. (jul)

Posted in Liputan Khusus | Tagged , | Comments Off

Kumpulkan Rp1 M untuk Biayai Teroris

Sidang Pembacaan Dakwaan Abu Bakar Ba’asyir

JAKARTA-Sempat tertunda, sidang pembacaan dakwaan terhadap terdakwa tindak pidana teroris Abu Bakar Ba’asyir digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) kemarin (14/2). Tim Jaksa Penuntut Umum menyebut Ba’asyir  merencanakan dan menggerakkan orang melakukan tindak pidana terorisme. Terungkap, aktivitas Ba’asyir tersebut menelan anggaran Rp1 miliar lebih.

Secara bergantian, 15 personel JPU membacakan surat dakwaan setebal 93 halam itu di depan Ketua Majelis Hakim PN Jaksel Hery Suwantoro. Dalam dakwaannya, ketua tim JPU A. Muhammad Taufik menerangkan, jika Ba’asyir  telah mempersiapkan fisik maupun sumber daya manusia untuk keperluan tindak pidana terorisme dengan serangkai kegiatan.

Ujung dari kegiatan itu, JPU mengancam Ba’asyir  dengan pasal 14 Jo. Pasal 9 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-undang. Dengan pasal tersebut, Ba’asyir  terancam pidana mati atau kurungan seumur hidup.

Aktivias pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki tersebut, direkam JPU mulai 27 Juli 2008. Saat itu, Ba’asyir  bersama Afif Abdul Majid (buron), Luthfi Haidaroh alias Ubaid, Abdul Haris alias Haris Amir Falah, Akhwan, Abdurrahman, dan Abdurrohim berkumpul di Ngruki, Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.
Dalam pertemuan itu, mereka merumuskan oraganisasi yang bernama Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT). Selanjutnya, pada 17 September 2008 JAT dideklarasikan di Islamic Centre Bekasi. “Abu Bakar bin Abud Ba’asyir  alias Abu Bakar Ba’asyir  menjadi amir atau pimpinan JAT,” terang anggota JPU.

Di dalam persidangan, jaksa Taufik menjelaskan tujuan utama berdirinya JAT adalah memperjuangkan tegaknya Daulah Islamiyah atau negara Islam. Tujuan JAT selanjutnya adalah memperjuangkan Khilafah Islamiyyah atau pemerintahan Islam dengan cara melalui dakwah, jihadi, amar makruf, dan nahi mungkar.

Aktifitas JAT mulai mengarah pada aksi terorisme tercium pada Februari 2009. Saat itu, Joko Pitono alias Yahya Ibrahim alias Dulmatin alias Pak Bos meminta bantuan kepada Ubaid, anggota Majelis Syuro JAT untuk difasilitasi bertemu Ba’asyir . Akhirnya, Dulmatin dan Ba’asyir  bertemu di ruko tempat tinggal Ali Miftah yang letaknya tidak jauh dari pondok pesantren Ngruki. Pada lembar ke tiga surat dakwaan JPU, tertulis jika pada pertemuan tersebut Ba’asyir  dan Dulmatin merencanakan untuk mengadakan pelatihan militer atau disebut tadrib asykari di Aceh. Ba’asyir  pun menyampaikan kepada Ubaid untuk melkaukan pelatihan militer di Aceh seuai yang diusulkan Dulmatin.

Sebagai tindak lanjutnya, Abu Tholut diminta untuk dilibatkan dalam proyek latihan militer di Aceh. Pertimbangannya, Abu Tholut karena banyak pengalaman. Rencana latihan militer ini diawali dengan adanya survey lokasi. Untuk melakukan survey ini, dibutuhkan anggaran Rp 15 juta. Akhirnya, Ba’asyir  menyerahkan Rp 5 juta kepada Ubaid. Sementara sisanya sebesar Rp 10 juta diambil Ubaid dari Joko Daryono alias Thoyib sebagai bendahara JAT Pusat di Surakarta. Setelah dana terkumpul, Dulmatin, Ubaid, dan Abu Tholut berangkat ke Aceh untuk melakukan survey.

Pos anggaran lainnya untuk keperluan pendanaan latihan militer juga muncul pada September 2009. Setelah survey benar-benar matang, JAT membutuhkan dana segar sebesar Rp 60 juta untuk mulai latihan militer. Dana tersebut akhirnya didapat dari Hafid, bendahara JAT wilayah Bima. Selang beberapa hari kemudian, Ba’asyir  memerintahkan kepada Ubaid untuk mengambil uang sebesar Rp 60 juta di bendahara JAT pusat.

Sebulan kemudian, pada Oktober 2009, Ba’asyir  mengabari Ubaid jika ada dana lagi yang terkumpul mencapai USD 5 ribu. Masih di bulan yang sama, ada kucuran bantuan lagi sebesar Rp 100 juta. Bantuan ini langsung dikirim berkala ke Dulmatin yang menjadi koordinator lapangan latihan militer. Dul Matin menggunakan nama Sus Hidayat saat membuka rekening di Bank Syariah Mandiri.

Jaksa Taufik menjelaskan, secara keseluruhan untuk melaksanakan pelatihan militer di Aceh pada November 2009, Ubaid membawa uang sebesar Rp 180 juta dan USD 5 ribu dari Ba’asyir . Selanjutnya uang tersebut dibelikan bermacam-macam senjata api, magazine, dan peluru yang sudah dipesan oleh Dulmatin dari Abdi Tunggal dan Abu Ayyas melalui M. Sofyan Tsauri dan Ahmad Sutrisno. Total belanja senjata ini menelan anggaran Rp 325 juta. Uang kekurangan belanja senjata yang mencapai 24 pucuk senjata, amunisi dan magazine sebesar Rp 115 juta dibayar oleh Ubaid kepada M. Sofyan Tsauri melalui Abdullah Sunata.

Diantara senjata api itu adalah, sembilan pucuk senjata api jenis Armalite (AR)-15, empat pucuk Avtomat Kalashnikova (AK)-47, dua pucuk AK-58, dan enam pucuk senjata Revorver. Selain itu juga pistol FN Browning, Challenger, dan Remington masing-masing satu pucuk. Tidak ketinggalan juga 19.999 peluru dan 93 buah magazine. Tercatat 40-an orang mengikuti pelatihan militer di
Kucuran sumbangan latihan militer belum berhenti. Setelah Ba’asyir  mengeluarkan menyampaikan rencana untuk mengadakan jihad, diperlukan anggaran Rp 150 juta. Selain dari sumbangan, uang untuk operasional juga didapat dari hasil perampukan. Diantaranya perampokan Bank CIMB Niaga Medan pada 18 Agustus 2010. Dalam perampokan ini, Pamriyanto dan kawan-kawannya berhasil mendapatkan uang rampokan sebesar Rp 340 juta dan merampas senjata api M-16 dari Manuel Simanjuntak, anggota brimob yang tewas tertembak.Secara keseluruhan, tim JPU mencatat jika selama proyek pelatihan militer di hutan belantara Aceh, Ba’asyir  berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp 1.039.500.000. Selain untuk melakukan pembelian senjata api guna keperluan latihan militer, Taufik menerangkan jika uang tersebut juga digunakan untuk berdakwah yang bermuatan hasutan memprovokasi untuk melakukan teror atau irhab.

Seperti ceramah Ba’asyir  pada Juli 2009. Saat itu, Ba’asyir  melakukan cemaran di rumah Alex alias Asep alias Gunawan di Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.. Dia adalah ketua Asykari (militer) JAT wilayah Sumatera Utara. Alex sudah tewas setelah ada penyergapan pasca penyerbuan Polsek Hamparan Perak.

Jaksa Taufik membacakan dakwaannya, pada ceramahnya Ba’asyir  mengatakan bahwa dalam berjihad pertama kali harus memiliki wilayah walaupun kecil. Dalam surat dakwaan, Ba’asyir  juga menjelaskan jika fa?i (perampokan mencari dana perjuangan) itu termasuk dibenarkan dalam Islam. Sementara untuk mendirikan negara Islam, bisa menggunakan aksi-aksi teror atau irhab. Dengan aksi tersebut, akan menimbulkan suasana panik di masyarakat dan pemerintah. Setelah muncul situasi ini, bisa memudahkan aksi pengambilalihan kekuasaan.

Selain terancam pidana mati atau penjara seumur hidup, tim JPU juga menjatuhkan dakwaan subsider. Dakwaan ini merujuk pada pasal 13 huruf a Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-undang. Ancaman dalam pasal tersebut adalah penjara paling lama 15 tahun.
Setelah agenda pembacaan dakwaan rampung, Ba’asyir  mengaku tidak mengetahui dengan tujuh dakwaan yang dibacakan JPU. “Setelah saudara mendengar dakwaan, saudara mengerti maksud dakwaan tersebut? Anda akan ajukan eksepsi keberatan”? ujar Ketua Majelis Hakim Herry Suwantoro.

“Ya jelas (keberatan, red),” jawab Ba’asyir . Dia mengakui tidak mengerti dengan semua tuduhan yang disampaikan jaksa kepada dirinya. “Jadi begini Bapak majelis hakim saya tidak mengerti hukum, jadi (dakwaan) macam-macam tadi, saya dituduh seolah pelopori Aceh. Secara garis besar saja mengerti dalam pengertian tadi, tapi saya minta dakwaan sejelas-jelasnya soal mempelopori Aceh. Apa benar itu? Dakwaan yang lebih jelas bagaimana”? tambah dia. Agenda sidang pembacaan eksepsi dari kubu Ba’asyir  diputuskan digelar sepuluh hari kerja lagi.

Sementara itu, pengacara Ba’asyir  yang tegabung dalam Tim Pembela Muslim M. Assegaf mengatakan sudah menyiapkan beberapa item keberatan dalam agenda sidang eksepsi. Assegaf menerangkan, item itu antara lain mereka menilai dakwaan yang disampaikan JPU kabur. “Dakwaannya tidak fokus. Tumpang tindih,” jelas dia. Selain itu, keberatan lainnya adalah dakwaan tersebut menyangkut tempat kejadian yang berbeda-beda. Dia tetap yakin, Ba’asyir  akan bebas dari segala dakwaan yang dibacakan JPU. (wan)

Posted in Berita Foto, Nasional | Tagged | Comments Off

Sedang Garang

AC MILAN vs TOTTENHAM

Genderang perang babak 16 besar Liga Champions mulai ditabuh dini hari nanti. Dimulai dengan pertarungan antara juara tujuh kali AC Milan melawan kuda hitam asal Inggris Tottenham Hotspur pada first leg babak 16 besar di San Siro (siaran langsung RCTI pukul 02.30 WIB).

Memang, bila menilik tradisi, Milan jauh lebih unggul atas lawannya dari Inggris itu. Namun, bila melihat performa Tottenham sepanjang musim ini, maka Milan harus waspada. Rival sekota Milan sekaligus juara bertahan Inter Milan pernah merasakan kegarangan Tottenham di fase grup

Bukan hanya itu, Tottenham juga memiliki momen indah kontra klub berjuluk Rossoneri itu. Pada semifinal Piala UEFA edisi 1971-1972, mereka menang atas Milan 2-1 pada first leg di laga kandang dan menahan seri 1-1 pada second leg di San Siro.

Nah, manajer Tottenham Harry Redknapp berharap hasil seri dalam pertemuan kedua tim yang terjadi 39 tahun lalu di San Siro dapat terulang. “Namun, Milan adalah klub yang kuat. Makanya, kami harus pastikan agar tidak kalah,” kata Redknapp, seperti dikutip Soccernet.

“Bila kami bisa memberi kepastian modal berharga jelang melawan mereka di White Hart Lane (markas Tottenham), maka peluang kami untuk lolos terbuka. Milan punya banyak pemain hebat, tapi bukan tim yang tidak terkalahkan,” lanjut Redknapp.

Tentu saja, tak akan mudah bagi Spurs, julukan Tottenham, berharap mendapat hasil positif. Sebab, sekarang Milan sedang garang. Setelah dalam dua laga sebelumnya selalu ditahan seri, pada pekan ke-25 Serie A, mereka menghajar Parma 4-0 (12/2).

Lagipula, Tottenham tidak bisa datang dengan kekuatan terbaiknya. Itu tidak lepas dari cedera yang menerpa Gareth Bale, Rafael van der Vaart, Luka Modric, dan Tom Huddlestone. Keadaan Bale dan Van der Vaart agak membaik, tapi sulit untuk dimainkan.

Soal pemain absen, Milan juga mengalami masalah serupa. Banyak pemain Milan yang terkapar cedera, mulai dari posisi kiper, bek, gelandang, hingga striker. Paling parah tentu di lini tengah lantaran kehilangan Andrea Pirlo, Massimo Ambrosini, dan Kevin-Prince Boateng.

Selain itu, tiga pemain baru mereka, yakni Mark van Bommel, Urby Emanuelson, dan Antonio Cassano tidak bisa dimainkan. Tanpa Cassano, variasi serangan di lini depan sedikit berkurang dan berharap pada Robinho, Alexandre Pato, dan Zlatan Ibrahimovic.

Milan juga sedang berada dalam kondisi bagus. Mereka saat ini telah melalui sepuluh laga di semua ajang tanpa kalah. “Kami tetap membutuhkan keberanian, konsentrasi, dan kualitas untuk bisa lolos. Hasil melawan Parma punya arti besar,” kata Clarence Seedorf, seperti dikutip Reuters.

Terlepas dari itu, Milan memiliki problem lain, yakni minimnya jam terbang Allegri di pentas Eropa. Selain itu, belum-belum Allegri telah bicara soal target utama Milan dan Liga Champions bukanlah target utama mereka musim ini.

Apalagi, saat ini Milan sedang berada di puncak klasemen sementara dengan 52 poin. “Kami memimpin di Serie A untuk kali pertama dalam beberapa tahun terakhir. Jadi, masuk akal bila target utama adalah merebut scudetto,” kata Allegri, seperti dikutip AFP. (ham/jpnn)

Posted in World Soccer | Tagged | Comments Off

Jelang Ajal, Ibu Renta Rindu Anak Kembarnya

34 Tahun Lalu Diadopsi Mantan Rektor USU

BINJAI-Sugiyem, seorang wanita lanjut usia (lansia) berusia 76 tahun dan kini sedang didera berbagai penyakit, terkenang kembali ketika ia menyerahkan dua anak kembarnya pada usia 3 bulan, Supriadi dan Supriono, kepada dr Chairuddin P Lubis, tahun 1976 lalu. Saat ini, di usia senjanya, Sugiyem sangat ingin bertemu kedua anaknya itu sebelum ajal menjemput.

Sugiyem tinggal di Kota Binjai, tepatnya di KM 19, Kelurahan Tunggorono, Kecamatan Binjai Timur. Di rumahnya itulah dia menghabiskan masa tuanya bersama suaminya, Gimin. Sugiyem menjadi janda saat Gimin meninggal dunia tahun 1996 lalu. Pasangan suami istri (pasturi) ini dahulunya tinggal di lahan perkebunan tembakau yang saat ini menjadi lahan HGU PTPN II Sei Semayang.

Tomino (50), anak kedua pasutri itu, Senin (14/2), mengisahkan, ayah dan ibunya bekerja sebagai buruh kebun yang dahulunya ditanami tambakau dan saat ini sudah ditanami tebun
Menjadi buruh kebun, katanya, tak membuat Pasturi itu takut menghadapi hidup susah. Pasalnya, sang pencipta mengaruniakan 10 orang anak. Saat mengandung anak kesembilan, Sugiyem tak menyangka ia mengandung anak laki-laki kembar.

Selama sembilan bulan, Sugiyem tak merasa curiga dan aneh atas kandungannya itu. Tepat pada 28 Desemer 1976, bayi yang dikandungnya dilahirkan di RS Bangkatan, Jalan Sultan Hasanuddin, Binjai Selatan. Kedua bayi laki-laki kembar mereka beri nama Supriadi dan Supriono.

Namun, setelah melahirkan kedua anak kembar, Sugiyem merasakan sakit dan keanehan di rahimnya. Ditemani suaminya Gimin, Sugiyem dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Tembakau Deli, Jalan Putri Hijau. Di rumah sakit itu Sugiyem dioperasi dan dirawat selama tiga bulan. Masih segar di ingatan Sugiyem, nama dokter yang menanganinya adalah dr Chairuddin P Lubis (mantan Rektor USU, Red).
Karena tidak memiliki anak, akhirnya Chairuddin meminta kedua anak kembar dari pasturi itu. Awalnya, Gimin dan Sugiyem menolak. Namun karena iba Chairuddin tak punya anak, pasangan suami istri itu akhirnya setuju memberikan kedua buah hatinya.

Pada 13 Januari 1977, Charuddin dan pasutri tersebut membuat surat pernyataan yang disahkan Kepala Kampung dan ditanda tangani oleh saksi. Isi pernyataan itu, hak orangtua atas kedua anak kembar Supriadi dan Supriono diberikan dari Gimin-Sugiyem kepada Chairuddin.

Lama berselang, Gimin sebagai ayah biologis kedua bayi kembar itu meninggal dunia di usia 76 tahun. Untuk selanjutnya, Sugiyem tinggal bersama delapan anaknya hingga dewasa dan menikah semuanya.
Karena Sugiyem tinggal seorang diri, seorang anaknya membawanya ke Aceh di Simpang Kiri, Seumedoem, lebih dari 7 tahun lalu. Selama tinggal di rumah anaknya itu, Sugiyem mulai sakit-sakitan karena penyakit tua. Saat sakit tak kunjung sembuh, Sugiyem teringat kedua bayi laki-laki kembar yang pernah dilahirkannya pada 1976 silam. Kepada ke delapan anaknya, Sugiyem mengungkapkan kerinduannya kepada anak yang sudah berpuluh tahun tak pernah disentuhnya. Sugiyem kemudian meminta kedelapan anaknya mencari tahu keberadaan Supriadi dan Supriono.
Sejak tahun 2004, kedelapan anaknya sudah mencari keberadaan adik laki-laki kembar tersebut. Selama mencari, Tomino (50) sempat berhubungan dengan seorang bidan di RS Tembakau Deli yang juga anggota keluarga terdekat dr Chairuddin. Bahkan, kontak sudah terjalin.

Namun, meski sudah sering berhubungan via telepon seluler selama empat kali, bidan tersebut enggan meberitahukan di mana alamat dr Chairuddin. “Tahun 2004 seorang bidan, kerabat dokter Charuddin datang ke rumah kami. Namun, selama berhubungan, bidan itu enggan memberi tahukan kepada saya di mana alamat Dr Charuddin itu. Sampai akhirnya, nomor HP Bidan itu sudah tidak aktif lagi,” ungkap Tomino dengan wajah sedih.
Akhirnya Tomino melupakan bidan itu dan mencoba mencari cara lain, yakni mendatangi sejumlah alamat dr Chairuddin yang pernah diketahuinya. “Rumah dr Charuddin ini banyak, jadi saya mencoba menjumpai di rumahnya di Jalan Kapten Sumarsono, Perumahan Putri Hijau, dan di Perumahan USU di Jalan Dr Mansur. Namun, saya tetap tidak menemukan adik kembar kami itu,” terang Tomino sambil tertunduk.

Karena belum lepas dari tanggung jawab sebagai seorang anak, setiap hari Tomino tidak bisa tenang dan terus berpikir di mana sekarang adiknya itu. Tomino yang belum menemukan adiknya, terus berusaha mencari. “Kalau saya bertemu, apakah saya kenal dengan wajahnya. Sebab, sewaktu diambil umurnya masih tiga bulan, itulah yang saya pikirkan setiap hari,” ujarnya.

Meskipun begitu, Tomino tetap percaya diri, kalau berjumpa dengan adiknya itu, ia yakin akan mengenalinya. “Kami satu keluarga, postur badan dan wajah tak jauh berbeda. Badannya lumayan besar dan kulit sawo matang seperti badan saya ini. Saya rasa adik saya ini tak jauh beda dengan saya,” kata Tomino.

Pencarian Tomino tidak ada kaitannya dengan materil. Ia semata-mata menjalankan perintah ibunya yang saat ini sakit dan meminta untuk dijumpakan kepada adik kembarnya itu, sebelum menghembuskan napas terakhir. “Kalaulah adik kami menjadi orang sukses, kami merasa senang. Tetapi kesenangan kami bukan karena kesuksesannya itu, kami lebih senang jika dapat bertemu dengannya,” ucap Tomino.

Selama adik kembarnya itu belum ditemukan, ibunya yang sedang sakit dan saat berada di Aceh, terus mengingat dan menyebut-nyebut anaknya tersebut. “Kami sampai kasihan melihatnya. Hampir setiap hari ibu kami menyebut-nyebut nama anaknya dan memanggil: ’nak.. dimana kamu sekarang? ibu mau ketemu’,” ungkap Tomino menirukan kata-kata ibunya.

Untuk itu, Tomino dan seluruh keluarga sangat berharap kesediaan dr Charuddin membawakan adik kembarnya itu kembali ke pangkuan ibunya untuk sesaat, guna melepaskan rasa rindu. “Kami tak perduli adik kami itu menjadi apa, mau jadi TNI, dokter, pegawai atau apa saja. Saat ini kami hanya ingin adik kami itu kembali sesaat untuk dijumpakan dengan ibunya yang sedang sakit. Setelah itu, kami akan serahkan kembali kepada dr Chairuddin,” terangnya.
Meski diasuh seorang dokter, Tomino juga memiliki kekhawatiran mendalam. Pasalnya, dr Chairuddin tak ingin diketahui di mana alamat rumahnya dan selama 35 tahun dr Chairuddin tak pernah menjenguk kedua orangtua anak kembar itu.

“Kalau tidak ada masalah, kenapa bidan yang menjadi kepercayaan Dr Chairuddin enggan memberikan alamatnya. Apakah benar adik kami itu diasuh oleh Dr Chairuddin atau diberikannya lagi kepada orang lain,” ujar Tomino resah. Dia berharap tidak terjadi apa-apa dengan adiknya, dan dapat pulang sesaat untuk melihat ibunya yang sedang sakit.
Ada apa sebenarnya sehingga anak kembar Sugiyem tak dipertemukan dengan ibunya? Wartawan koran ini kemarin petang mendatangi tempat praktik Prof Dr Chairuddin Dtm & SpA (K) di Jalan Abdullah Lubis No 8/2B sekira pukul 18.00 WIB, karena baru pada waktu tersebut yang bersangkutan datang ke tempat praktiknya.

Wartawan koran ini kemudian ditemui petugas yang mengaku sebagai ajudan Pak Dokter, begitu dia biasa dipanggil. “Panggil saja Nasution,” ujar petugas itu tak mau menyebutkan nama, hanya marga saja.

Setelah menjelaskan maksud kedatangan, wartawan koran ini diminta menunggu. Alasannya masih banyak pasien, dan Pak Dokter lagi sibuk. Wartawan koran ini menunggu hingga 15 menit. Kemudian pasien habis, kondisi tempat praktik pun sepi. Namun wartawan koran ini tetap tak diperkenankan ketemu. “Tunggu aja, masih sibuk,” ujar Nasution lagi.

Setengah jam kemudian saat suasana semakin sepi dan malam semakin pekat, dr Chairuddin tetap menolak ditemui, meski telah menjelaskan identitas dan maksud kedatangan. Kepada wartawan koran ini, Nasution menjelaskan, dia telah menyampaikan maksud kedatangan wartawan koran ini, namun yang bersangkutan tidak bersedia ditemui. Tak kehilangan akal, wartawan koran ini kemudian menitipkan sejumlah pertanyaan kepada ajudan tersebut, terkait anak kembar Sugiyem yang diminta dr Chairuddin pada tahun 1977 silam.

“Sudah saya bilang ke Pak Dokter (Chairuddin, Red) mengenai kisah orangtua yang melahirkan anak kembar tahun 1977 silam seperti yang Abang ceritakan tadi. Namun Pak Dokter bilang, dia tidak ingin dijumpai karena repot dan mengenai hal tersebut, bukan urusannya lagi,” kata Nasution.

Lalu kenapa Pak Dokter tak mau menemui wartawan dan menjelaskannya secara langsung? Nasution masuk ke dalam kamar dr Chairuddin, tak lama kemudian dia keluar sambil menirukan ucapan bosnya. “Aku dah gak jabat apapun (sekarang ini memang tak ada jabatan formal yang dijabat Chairuddin, Red), jadi aku gak berhak menjawab,” ujar pria berbadan tegap tersebut menirukan pernyataan Chairuddin.

Meski telah mendapat jawaban tersebut, wartawan koran ini tetap bertahan. Berharap Chairuddin keluar kamar dan memberikan penjelasan. Setelah ditunggu beberapa menit, tanda-tanda itu tak ada. “Jangan ditunggu, Pak Dokter masih lama, jam sembilan (21.00 WIB) belum tentu keluar, dan pasti tak mau memberikan keterangan,” kata Nasution sambil setengah memaksa agar wartawan koran ini segera pergi. (dan/uma)

Posted in Daerah | Tagged | Comments Off

Apa Kau, Main Kita…

Karena Angkot, Dua Perwira Polisi Bersitegang

MEDAN-Kisruh supir angkot Binjai dan supir angkot Medan terus berlanjut. Uniknya, di tengah aksi sweeping supir angkot Binjai terhadap supir angkot Medan, dua perwira masing-masing Iptu Hendrik Saragih (Panit I Reskrim Polsekta Medan Sunggal) dan Kompol Budiardo Saragih terlibat pertengkaran. Keduanya sempat mengeluarkan kata-kata ancaman dan saling bentak.

Aksi itu sempat menjadi tontonan sejumlah personel polisi. Keduanya hampir bergumul saat sejumlah perwira kemudian melerainya.

Aksi itu terjadi saat Iptu Hendrik Saragih melakukan penangkapan terhadap seorang supir angkot Binjai, Kasdim Silaban (25), warga Jalan Pabrik Tenun, Medan Petisah, Selasa (14/2) di kawasan Megawati, tepat saat ratusan supir angkot Binjai berkumpul sesaat setelah melakukan sweping.

Namun, dalam penangkapan yang dilakukan petugas dari Polsekta Sunggal, belum berkoordinasi dengan pihak Polres Binjai. Apalagi, dalam penangkapan tersebut, petugas Polsekta Sunggal, seperti melakukan penculikan terhadap seseorang. Sebab, tak seorangpun yang mengetahui alasan penangkapan, baik pihak Polres Binjai mapaun para supir angkot Binjai itu sendiri.

Akibatnya ratusan supir angkot Binjai nyaris bertindak anarkis. Petugas Polsekta Sunggal sempat dikejar sampai ke mobil Dalmas tempat Kasdim diamankan. Meski teman-teman Kasdim berupaya untuk menahan agar tidak dilakukan penangkapan, petugas Polsekta Sunggal tetap mengamankan Kasdim. Pasalnya, Kasdim yang tak ingin naik ke mobil Dalmas, langsung dipaksa dengan cara diangkat dan dilemparkan ke dalam mobil Dalmas tersebut.
Melihat tindakaan yang tidak manusiawi itu, ratusan supir angkot Binjai berang. Petugas Polsekta Sunggal yang mengancam akan memukul para supir jika berani mendekat. Hal itu membuat supir angkot Binjai mundur dan akhirnya Kasdim dibawa ke Mapolsekta Medan Sunggal.

“Apa salah teman kami, kok tiba-tiba dibawa. Kalau mau menangkap itu harus jelaslah, sampaikan apa alasannya kepada kami ini. Kenapa supir kami saja yang diamankan, kenapa supir angkot Medan tidak ada yang diamankan. Sementara, mereka yang memulai masalah ini,” keluh ratusan supir.

Karenakan belum ada jawaban yang pasti, akhirnya supir angkot Binjai mendesak Kasat Intel Polres Binjai, AKP Sofyan untuk mencari tahu alasan Kasdim ditangkap. Berselang beberapa menit, Sofyan dapat SMS dari petugas Polsekta Medan Sunggal terkait alasan ditangkapnya Kasdim. Untuk selanjutnya, Sofyan membacakan isi SMS itu kepada para supir angkot Binjai, bahwasanya Kasdim ditangkap karena dituduh sebagai provokator atas aksi para supir Binjai.

Mendengar alasan itu, seorang supir merasa tak percaya dan sempat bersitegang dengan Sofyan. Bahkan, Sofyan tampak tak terkendali dan mengajak supir angkot itu berkelahi. “Hebat kali udah kau rasa, saya di sini tidak ada kepentingan, jadi alasan ini bukan saya buat-buat. Kalau kau tak sor ayok main kita,” kata Sofyan kepada sorang supir. Duel tak sempat terjadi, karena dilerai sejumlah supir angkot Binjai lainnya.

Tak sampai di situ, karena alasan yang belum jelas atas penangkapan yang dilakukan petugas Polsekta Medan Sunggal dan cara penangkapannya juga tak manusia. Membuat Waka Polres Binjai, Kompol Budiardo Saragih, berang. Apalagi Wakapolres melihat bagaimana Kasdim diperlakukan petugas Polsekta Medan Sunggal. Dia sempat protes dan adu mulut dengan Iptu Hendrik Saragih, namun tak dihiraukan.

Tak terima dengan hal itu, Kompol Budiardo Saragih mendatangi sejumlah perwira Polresta Medan dan Polsekta Medan Sunggal di Kilometer 15, tepatnya di depan Perumahan Padang Hijau. Di tempat itu terdapat Kabag Ops Polresta Medan, Kompol Yufti, Kasat Reskrim Polresta Medan, Kompol Fadillah, Kasat Intelkam Polresta Kompol Ahyan, Kasat Lantas Kompol Madari, Kapolsekta Medan Sunggal, Kompol Sony Marisi Nugroho dan Kanit Jahtanras, AKP Yudi serta sejumlah perwira lainnya, termasuk Iptu Hendrik Saragih.

Seperti berada di ring tinju, Kompol Budiardo Saragih dan Iptu Hendrik Saragih berada di tengah lingkaran para perwira tersebut. Keduanya adu mulut dan jadi tontonan para perwira. “Apa kau, Ayo main kita satu lawan satu, aku juga perwira dan aku mendapat perintah dari komandanku, masa bapak menghalangi tugasku. Aku siap dipecat, kalau salah karena menjalankan perintah komandanku. Mana ada saya lemparkan dia (Kasdim, Red) ke dalam mobil. Apa komandan melihat saya melemparkannya, jangan begitulah komandan,” ujar Iptu Hendrik marah.

Mendapat tantangan seperti itu, Kompol Budiardo yang berpostur tubuh lebih kecil dari Iptu Hendrik tidak banyak berkomentar. Budiardo yang tadinya garang, terlihat melemah. “Ini tidak beretika terhadap komandan, masak ada perwira yang melawan komandannya,” ujar Kompol Budiardo pelan di tengah-tengah para perwira Polresta Medan. Ucapakan komandan yang dilontarkan Budiardo, karena dia menganggap pangkatnya lebih tinggi. Sejumlah perwira kemudian melerai, namun sebagian lainnya tersenyum.

Tak ingin terjadi hal-hal yang tak diinginkan, petugas lainnya mencoba menengkan Iptu Hendrik yang membentak-bentak Waka Polres Binjai. Kompol Budiardo kemudian meninggalkan kerumunan perwira Polresta Medan dan menuju mobilnya. Tapi sebelum naik ke dalam mobil, Kompol Budiardo sempat dengan keras menendang mobilnya sendiri. “Duarr, ketepak,” demikian suara tendangan itu.

Kabag Ops Polresta Medan, Kompol Yufti, saat ditanya soal tendangan Kompol Budiardo kepada mobilnya sendiri mengatakan. “Ndak mungkin dia kesal sama saya, tetapi kalau sama anggota saya itu memang dia kesal,” ujarnya.
Kapolresta Medan, Kombes Pol Tagam Sinaga, saat dikonfirmasi mengungkapkan, pemicu konflik tersebut akibat kurangnya komunikasi antara Polres Binjai dengan Polresta Medan. “Alah… konflik sesama perwira itu terjadi karena adanya mis komunikasi antara Polresta Medan dengan Polres Binjai. Namun saya sudah berkoordinasi dengan Kapolres Binjai tadi dan dia terima kenyataan itu. Tidak ada kepentingan di situ, jangan dibesar-besarkanlah ya,” ujar Tagam.

Terpisah, Kapolres Binjai, AKBP Dra Rina Sari Ginting, saat dikonfirmasi, membantah hal tersebut. “Penangkapan sudah berkoordinasi, tidak ada yang cekcok mulut. Karena banyaknya massa, jadi suara agak besar,”ujarnya.

Poldasu Cek Satker Masing-masing

Terkait salah paham antara petugas satuan polisi dari Polsekta Medan Sunggal dan Wakapolres Binjai hingga mengundang perhatian masyarakat, Polda Sumut akan mengecek Satuan Kerja (Satker) masing-masing. “Intinya pengamanan yang koderatif tidak dilakukan. Namun, sudah koordinasi,” ujar Kabid Humas Poldasu, Kombes Pol Heri Subiansaori.

Sedangkan Wakil Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Muslim Muis melihat ketegangan itu sebagai gambaran bahwa jajaran polri sendiri belum memiliki kesadaran hukum. “Bagaimana mungkin jajaran polri bisa melakukan penegakan hukum, kalau kedua penegak hukum tidak sadar akan hukum. Kapoldasu harus melakukan evaluasi terhadap kedua oknum perwira ini,’’ tegas Muis. (dan/mag-1/mag-8/rud)

Posted in Metropolis | Tagged | Comments Off

Rizki Ingin Jadi TNI, Anto Bekas Orang Kaya

Menjenguk Korban dan Pelaku Penculikan Anak

Rizki (9), korban penculikan oleh Anto alias Heher (50) ternyata punya cita-cita tinggi. Anak yang terkenal periang ini kelak ingin menjadi seorang Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Ria Hamdani, Binjai

Rizki yang sempat dipaksa mengemis oleh Anto selama tiga pekan, sejauh ini kondisinya fisik dan psikisnya sudah tampak membaik. Dari yang sebelumnya takut melihat orang tak dikenal kini sudah mulai timbul rasa berani, yang tadinya tak mengenali adiknya sendiri kini sudah dikenalinya. Hanya saja, watak Rizki yang dulu lembut, sampai saat ini belum berubah dan masih tetap kasar.

Saat wartawan koran ini kembali menyambangi rumahnya di Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Binjai Timur, Minggu (13/2) sekitar pukul 16.00 WIB, Rizki terlihat lagi asyik bermain dengan sejumlah teman-temannya. Bahkan, Rizki tampak ramah dengan menegur wartawan koran ini. “Om.., udah sehat saya sekarang Om,” ujar Rizki tersenyum sambil menyedot minuman gelas.

Rizki yang belum pernah melihat wartawan koran ini, tidak terlihat ada rasa takut dan Rizki membangunkan ibunya yang sedang tertidur. Selanjutnya, Rizki yang didampingi ibunya Cut Khatijah menceritakan semua kejadian yang dialaminya.

Menurut Rizki, kejadian yang dialaminya berawal saat ia bermain guli (klereng) di depan rumahnya. Tak disangka, Anto yang baru dua bulan tinggal bertetangga bersama Rizki menarik tangan Rizki dan membawanya ke Titi Kuning dengan berjalan kaki.

“Aku tak tahu, tiba-tiba aja dia menarik tanagn aku, dan mulut aku ditutupi. Udah itu, aku dipaksa berjalan dari rumah sampai Titi Kuning. Aku juga tak dikasi minum, dan berjalan tidak berhenti-henti. Kaki aku pun jadi pegal, orang sampai di Titi Kuning sudah pagi,” ungkap Rizki polos.

Selama dieksploitasi Anto, Rizki punya pengalaman yang sangat tidak mengenakkan bagi anak pasangan dari Cut Khatijah dan Zulkarnaen ini. Selama tiga minggu mengemis, Rizki mengaku dapat menghasilkan Rp50 sampai Rp100 ribu. Dari penghasilannya itu, Anto sudah membeli radio, “Setiap kali aku minta-minta, aku disuruhnya memanggil dia bapak. Tangannya aku pegang dan aku juga memegang mangkok sambil aku goyang-goyangkan. Asal mintak-mintak, aku dapat Rp50 sampai Rp100 ribu. Karena kami banyak dapat uang, dia sudah beli radio besar. Kalau makan, satu hari dua kali saya diberikan nasi bungkus harga Rp8 ribu,”terang Rizki.
Rizki yang periang itu, juga mengaku akan masuk sekolah lagi. Sebab menurut Rizki, ia memiliki cita-cita menjadi seorang TNI seperi kakeknya dahulu, “Aku besok sekolah lah, udah besar nanti aku mau jadi TNI. Biar berani aku sama bapak Anto itu,”ucapnya dan meminta cicin neneknya, yang menurut Rizki akan dipakainya untuk memukul Anto.

Selama bersama Anto, Rizki selalu dipukuli, baik menggunakan tangan maupaun wayar. Penganiyaan yang dilakukan Anto, menurut Rizki karena ia selalu menyebut-nyebut nama ibunya, “Setiap hari aku kenak pukul, asal aku sebut ibu ku, dia langsung memukul, kadang pakai wayar besar, dan pakai tangan. Gigi aku pernah berdarah dipukulnya, sakit kali Om ,”ungkap Rizki sambil menunjuk gigi depannya yang dipukul Anto.

Sementara itu, Cut Khatijah mengatakan, pertama kali sampai di rumah dan tidur sejak pagi hari. Hingga pukul 19.00 WIB baru terbangun, “Karena kelelahan anak saya sangat pulas tertidur. Bahkan, anak saya ini sempat mengigau dengan menjerit memanggil saya, ibu…,” kata Cut menirukan teriakan anaknya.

Setelah kejadian ini, Cut mengaku sangat senang dan tak menyangka kalau anaknya dapat kembali lagi di pangkuannya, “Rasanya seperti mimpi. Maka dari itu, sekarang ini saya menjaga anak saya dengan baik. Jika saya tidak melihat Rizki selama lima menit di rumah, saya sudah sangat khuatir. Setiap kali mau pergi dari rumah, saya selalu tanyakan mau kemana dia, kalau tempat tetangga sebelah saya biarkan. Tapi kalau sudah jauh, tidak saya kasi,”ujar Cut dengan wajah yang terlihat bahagia.

Anto Keluarga Senang

Percaya atau tidak, Anto yang menjadi pelaku penculikan terhadap Rizki (9), ternyata dahulunya hidup dari keluarga yang senang. Pasalnya, kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru, ayahnya sebagai guru SMA dan ibunya sebagai guru TK. Hal itu dikatakan Anto kepada wartawan koran ini, di tahanan Polres Binjai, Minggu (13/2).
Anto yang kondisi matanya tidak nomar itu, kepada wartawan koran ini menceritakan sedikit masa lalunya. Menurut Anto , ia dilahirkan kedua orang tuanya di Tanjung Sari. Ia adalah anak ke lima dari enam bersaudara. Saat dilahirkan, kondisi mata Anto memang sudah tidak normal.

Meski kondisi mata Anto tidak normal, orang tuanya yang berprofesi sebagai guru, tetap mengurusnya dan memebesarkan Anto. Bahkan, Anto sempat di sekolahkan. Namun, Anto hanya dapat menikmati Sekolah Dasar (SD) sampai di bangku kelas V, disebabkan kedua orang tuanya meninggal dunia.

Setelah orang tuanya meninggal dunia, lima orang saudara Anto ternyata tak ingin mengurusinya. Bahkan, saudara kandungnya yang nomor tiga, tidak pernah memperhatikan Anto lagi. Padahal kata Anto, abangnya itu menempati rumah yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.

Dikarenakan tak diperhatikan, akhirnya Anto memilih untuk pergi dan tidur di kaki lima . Selama tidur di kaki lima , Anto terpaksa memakan nasi sisa yang ada di tong sampah, “Kita sudah tak diurus lagi, untuk apa di rumah. Lebih baik saya pergi dan tidur di kaki lima . Kalau sudah lapar, saya terpaksa memakan nasi sisa,”ungkap Anto dengan dahi yang masih terluka.

Namun, tak lama Anto tidur di kaki lima dan memakan nasi sisa. Keluarganya ternyata sibuk mencari dan akhirnya Anto berhasil ditemukan. Untuk selanjutnya, Anto dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di daerah Pancur Batu, Tuntungan, “Saya masih kecil sudah dibawa ke rumah sakit jiwa. Karena banyak orang jahat disana saya takut. Akhirnya, setelah dua minggu saya di rumah sakit jiwa, saya sempat merobek-robek pakaian perawat rumah sakit itu dan saya keluar. Selanjutnya saya kembali tidur di kaki lima dan sekarang ini saya sudah bisa cari uang dari mengemis untuk menyewa rumah,,”ungkapnya.

Anto yang bermarga Simatupang ini, juga mengakui belum pernah menikah, disebebkan tidak ada yang mau dengannya, “Saya belum pernah menikah, kayak mana saya mau menikah, kalau kondisi saya seperti ini. Lagian, mana ada yang mau,”kata Anto, seraya menambahkan, sudah tidak pernah terpikir dengan keluarganya dan sudah terpikir ingin bunuh diri.

Disinggung perbuatanya terhadap Rizki selama dijadikan pengemis, Anto mengaku tidak pernah memukul atau menyakiti Rizki, “Pertama kali saya bawa anak itu, karena dia datang kepada saya dan meminta dibelikan bola. Ya udah saya bawa naik angkot sampai Titi Kuning. Saya juga tidak pernah memukul dia. Bahkan, kalau ada uang, saya belikan motor-motoran, dan pedang-pedangan. Kalau saya sodomi, sumpah demi Allah dan Al-Quran, saya tidak pernah melakukan itu. Bapak boleh tanya sama tetangga saya yang ada di Titi Kuning, seperti apa saya perlakukan anak itu,”ucapnya.

Posted in Daerah | Tagged , , | Comments Off

Donita Mengaji di Hari Valentine

Pesinetron Donita selalu menggelar pengajian pada Hari Valentine. Bukan untuk merayakan hari kasih sayang itu, tetapi hari itu memang bersamaan dengan ulang tahunnya.

“Setiap tanggal 14 Februari kan aku ulang tahun, jadi di rumah saja karena biasanya pengajian,” ujar Donita.
Perempuan kelahiran Bandung 22 tahun lalu itu merasa beruntung lahir bertepatan dengan hari Valentine. Ia mengaku, selain gampang dihapal orang, ia juga selalu mendapat jatah hadiah lebih.

“Yang seru itu saat SMA, aku itu orang yang paling banyak coklatn Karena pas hari ulang tahunku juga,” kisahnya.
Sibuk dengan sinetron kejar tayang membuat Donita jarang berkumpul bersama keluarga. Ia pun berharap, pada hari jadinya bisa berkumpul dengan keluarga besarnya yang berada di Bandung.

Banyak pujian yang mengalir ke Donita. Selain cantik, banyak teman dan penggemar yang memuji badannya yang tidak gemuk.

“Kalau dari sahabat, aku selalu mengomentari badan aku. Mereka tuh bingung, badan aku kurus. Padahal aku banyak makan, tapi enggak gemuk-gemuk,” tutur Donita.

Artis yang sedang digosipkan dekat dengan Adly Fairuz ini mengaku, menjaga bentuk tubuh dengan memperhatikan pola makan. Donita mengaku mengurangi jajan dan membiasakan diri membawa makanan dari rumah.
“Aku biasa bawa makan dari rumah, karena makanan yang dibawa dari rumah itu lebih bagus. Biasanya mama yang masakin. Aku sendiri bisa masak, tapi lebih suka bikin kue,” guraunya.

Selain menjaga pola makan, Donita juga sebisa mungkin membiasakan untuk beristirahat atau tidur sejenak. Biasanya, kata dia, sering mencuri waktu agar bisa tidur di lokasi syuting.

“Kalau lagi enggak take atau nganggur, aku biasa untuk tidur,” tambahnya.
Model iklan body lotion ini pun tak pelit berbagi tips untuk menjaga kecantikan. Menurutnya, semua itu mudah untuk dilakoni.

“Hal-hal sepele kayak mandi. Sudah gitu, menjaga makan, tidur yang cukup. Disarankan tidur sampai delapan jam. Jadi, yang seperti itu yang aku perhatiin malah,” tandasnya. (bbs/jpnn)

Posted in Berita Foto, Sportainment | Tagged , | Comments Off

Syamsul tak Kunjung Disidang, KPK Didemo

JAKARTA-Ternyata ada yang tidak sabar ingin segera melihat Gubernur Sumut Syamsul Arifin duduk di kursi terdakwa di pengadilan tipikor. Kemarin (14/2), sekitar 50-an massa yang menamakan diri Gerakan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (Gemaki), menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta.
Massa yang dipimpin Aji ini mendesak agar tim penyidik KPK bisa cepat menyelesaikan proses penyidikan.

Tujuannya, agar kasus dugaan korupsi APBD Kabupaten Langkat dengan tersangka Syamsul Arifin ini bisa segera diadili.  “Adili secepatnya. Jangan terlalu berlama dan berlarut-larut,” ujar Aji, koordinator Gemaki, dalam orasinya.
Aji menilai, KPK lamban dalam menangani kasus dugaan korupsi senilai Rp102,7 miliar itu. “Sudah berbulan ditahan sebagai tersangka, namun tidak juga disidangkan,” ungkap Aji, yang menenteng pengeras suara.

Dalam orasinya, para pentolan aksi memberikan penekanan terhadap perlunya tim penyidik KPK segera menyelesaikan tugasnya dan agar Syamsul segera disidangkan. Selain itu, massa aksi juga mendesak agar KPK menyita seluruh harta milik Syamsul dan para pejabat lainnya, yang diduga berasal dari hasil korupsi.

“Makanya biar KPK masih dipandang warga, tolong Syamsul dan kroninya diseret ke Pengadilan. Sita harta kekayaan hasil dari korupsi mereka,” tandas Aji.

Aksi yang dimulai pukul 10.40 WIB itu tidak berlangsung lama. Pasalnya, sejak pagi hingga sore kemarin, Jakarta diguyur hujan. Mulanya, massa aksi tampak tak begitu peduli dengan guyuran hujan. Namun, begitu hujan terasa semakin deras, massa pun membubarkan diri dengan tertib.

Informasi yang dihimpun  dari sejumlah sumber, hingga kemarin tim penyidik belum menyelesaikan proses penyidikan. Penyidik masih berkutat pada pemberkasan, yang jika sudah beres, diserahkan ke penuntutan, yang juga ditangani KPK. Dengan tahapan seperti itu, target untuk menyidangkan Syamsul awal Februari sudah meleset. (sam)

Posted in Nasional | Tagged , | Comments Off