Ketahanan Pangan dan Pola Pangan Harapan (2)

Oleh:
Ir. Hotman Manurung,MS        

Dosen Fakultas Pertanian
Universitas HKBP Nommensen
Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan

Masih segar dalam ingatan kita lebih dari 5 miliar dolar AS atau setara Rp50 triliun devisa kita terkuras untuk import pangan. Kita sangat ramah terhadap barang import.

“Garam sajapun diimport,” begitu komentar pengamat pada harian Kompas pada September 2009. Memang membiarkan harga beras tanpa kendali pemerintah akan menimbulkan masalah. Petani hanya membutuhkan harga yang pantas- hanya itu- tidak berlebihan.

Banyak permasalahan teratasi bila pemerintah dapat memberikan harga yang pantas terhadap produk hasil panen dan hasil tangkapan oleh nelayan (ikan dalam arti luas dan rumput laut), apalagi bila informasi harga tersebut diketahui petani dan nelayan sebelum musim tanam. Petani cukup pintar mengatur jenis komoditi yang akan ditanam dan berapa luas bila ada kepastian harga dan pada tingkat yang pantas.  Ke depan, arah pengembangan pertanian, perikanan maupun peternakan harus ke industrialiasasi baik pada tingkat on farm maupun off farm. Tidak sekadar meningkatkan produktivitas tetapi meningkatkan nilai tambah bahan baku, bahan setengah jadi, dan bahan olahan akhir.

Terwujudnya ketahanan pangan sangat tergantung kepada banyak faktor.  Saluran irigasi/pengairan untuk lahan pertanian diurus oleh dinas pengairan, penyediaan dana dengan suku bunga rendah diurus oleh perbankan, sarana distribusi oleh dinas perhubungan dan lain-lain. Sehingga komitmen yang tinggi dan kerja sama yang harmoni dari dinas terkait dan stake holder lainnya merupakan persyaratan untuk mewujudkan ketahanan pangan.

Di sinilah peranan Gubsu, sehingga rakyat tidak lapar lagi. Ibarat seorang konduktor yang memimpin orkestra yang menyanyikan lagu dengan harmoni. Penonton akan bertepuk tangan karena merasa terhibur. Rakyat senang karena merasa tidak lapar lagi.
***
Berdasarkan survei sosial ekonomi nasional tahun 2008, masyarakat Sumut telah mengkonsumsi energi 2.074 kilo kalori per kapita per hari. Sedangkan kecukupan energi secara nasional rata-rata 2.200 kilo kalori per kapita per hari. Angka konsumsi sudah mendekati angka kecukupan. Tetapi skor pola pangan harapan (PPH) rakyat Sumut hanya 79.4 (Setyo Purwadi, 2009).

Apa itu PPH? Bagaimana kaitannya dengan ketahanan pangan, dan indeks sumber daya manusia untuk membangun Sumut? Pertanyaan tersebut dapat terjawab melalui penjelasan ini. PPH adalah susunan beragam pangan yang didasarkan pada sumbangan energi, baik secara absolute maupun relative terhadap total energi yang mampu mencukupi kebutuhan konsumsi pangan dan gizi baik secara kuantitas, kualitas maupun keragamannya.

Susunan PPH secara nasional telah ditetap seperti terlihat pada tabel. Dari tabel, terlihat susunan menu dan jumlah yang harus dikonsumsi seseorang agar mencukupi kebutuhan 2.200 kilokalori. Sumut dengan konsumsi kalori 2.074 kilokalori telah mendekati kebutuhan kalori secara nasional, tetapi belum mengkonsumsi makanan yang beragam dan belum berimbang. Ada kelompok pangan yang dominan pada pola pangan orang Sumut, yaitu kelompok padi-padian, lemak, dan gula. Pola pangan seperti ini menunjukkan ketahanan pangan belum kuat. Bila terjadi perubahan misalnya harga beras naik, maka terus terjadi keguncangan di tengah-tengah masyarakat. Hal ini harus kita cegah jangan sampai terjadi. Kemudian Ilmu gizi mengajarkan kepada kita bahwa konsumsi pangan yang beragam lebih bergizi dari makanan tunggal, karena masing-masing makanan mempunyai keunggulan dan kekurangan. Bila kita mengkonsumsi makanan yang beragam maka kebutuhan zat gizi terpenuhi, indeks sumber daya manusia pun meningkat. Membangun Sumatera Utara pun menjadi lebih mudah.

Pangan merupakan kebutuhan dasar setiap orang yang harus dipenuhi. Mewujudkan rakyat Sumut tidak lapar adalah dengan membangun ketahanan pangan yang kuat dengan melakukan penganekaragaman pangan. Konsumsi pangan yang berimbang, bergizi, dan beragam dapat meningkatkan ketahanan pangan. Parameter untuk mengetahui profil pola pangan suatu daerah adalah skore dari PPH. Semakin tinggi skor PPH, maka ketahanan pangan semakin kuat dan menu makin beragam, bergizi, dan berimbang. (Habis)

This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.