Selalu Dapat Emas SEA Games

Sinyo Supit, Legenda Hidup Tenis Meja Indonesia

Prestasi tenis meja Indonesia di kawasan Asia Tenggara redup. Padahal, beberapa tahun lalu, Merah Putih sangat disegani. Salah seorang petenis meja yang bisa dibanggakan adalah Sinyo Supit.

ORANG mungkin merasa sangat asing dengan nama Yap Mien Fong. Berbeda dengan nama Sinyo Supit. Kebanyakan pasti sudah mengenal nama tersebut. Terutama penggemar tenis meja.

Sinyo adalah mantan petenis meja Indonesia yang sangat legendaris. Dia merupakan satu-satunya petenis meja Indonesia yang pernah menembus peringkat 56 dunia. “Peringkat itu saya raih pada 1979,” kata bapak empat anak tersebut saat ditemui pada Senin lalu (26/10).
Saat itu, pria kelahiran Surabaya tersebut mengalami tahun keemasan. Atlet kelahiran 23 September 1959 itu benar-benar merajai dunia tenis meja Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Bisa dibilang, medali emas selalu menjadi milik Sinyo di setiap kejuaraan pada level tersebut.
“Saya ikut SEA Games pada 1977 sampai 1987 dan selalu dapat emas,” ungkap petenis meja yang sekarang genap berusia setengah abad itu.

Dalam sekali mengikuti SEA Games, dia tidak hanya meraih satu atau dua emas. Tapi, dia langsung memborong tiga atau empat emas sekaligus. Prestasi tersebut diraih pada 1979, 1981, dan 1983. Saat itu, dia diturunkan di empat nomor sekaligus. Yakni, nomor beregu, ganda pria, ganda campuran, dan tunggal pria.

Pria yang sekarang tinggal di Desa Peh Kulon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, tersebut tidak hanya berprestasi di lingkup Asia Tenggara. Saat menjadi duta Indonesia di ajang Asian Games 1978 di Bangkok, Thailand, bapak empat anak itu juga mampu berprestasi. “Waktu itu, saya dapat perak di ganda pria,” kata pria yang pensiun pada 1987 tersebut.

Saat itu, Sinyo berpasangan dengan Empi Wuisan. Prestasi gemilang ditorehkan petenis meja dengan tipe permainan menyerang tersebut. Hal itu tidak lepas dari gemblengan yang dia dapatkan saat “bersekolah” di Yugoslavia. Dia dikirim untuk menimba ilmu tenis meja selama empat tahun di negara tersebut. Dia akhirnya benar-benar menjadi petenis meja yang diandalkan Merah Putih.

Bahkan, saat bersekolah di negara itu, Sinyo pernah menjadi raja di negeri orang. Pada 1976, dia menjuarai Yugoslavia Terbuka. Dia berhasil mengalahkan para petenis meja di negeri tersebut. “Rasanya, luar biasa sekali,” ungkapnya.

Sinyo mulai belajar tenis meja saat masih belia. Saat itu, dia berusia tujuh tahun. Berbekal seperangkat alat tenis meja yang dimiliki orang tuanya, dia mulai berlatih. “Orang tua saya bukan atlet. Kalau ngajari, ya hanya main biasa. Selebihnya, saya belajar sendiri,” jelasnya.
Sinyo memang memiliki bakat yang luar biasa. Dia akhirnya dimasukkan ke klub tenis meja Shuang She di Surabaya. Di tangan pelatih Ping Tjien, dia menjadi petenis meja andal yang memiliki tipe menyerang. (Antuji H. Masroh/diq)

——-

 Sedih Ketika PTM Surya Bubar
SINYO Supit telah melalui berbagai macam pahit manisnya menjadi seorang atlet. Juga perputaran dunia yang kadang di atas dan kadang di bawah. Dari semua kesedihan dan penderitaan yang dialami, Sinyo Supit tampaknya merasakan kesedihan yang luar biasa pada akhir 2008.

Itu terjadi saat dirinya menyaksikan Perkumpulan Tenis Meja (PTM) Surya milik PT Gudang Garam, Kediri, ambruk. “Saya tak pernah membayangkan. Tempat lahirnya para petenis meja nasional kita dan pembinaan petenis meja muda bisa tutup,” katanya dengan nada sedih.
Sangat wajar jika Sinyo merasa begitu menyesalkan tutupnya klub tenis meja terbesar di Indonesia itu. Meski sudah tidak bergabung lagi dengan PTM Surya, bisa dikatakan Sinyo adalah tokoh kunci lahirnya klub tenis meja yang selama ini menjadi ajang pemusatan latihan petenis meja Jawa Timur maupun nasional itu.

Pada 1981, kibaran nama Sinyo menarik perhatian salah satu putra mahkota PT Gudang Garam yang hobi dengan olahraga tenis meja, Susilo Wonowidjojo. “Saat itu saya dipanggil. Saya diminta menemani Pak Susilo main tenis meja. Ya, nemani saja,” kenangnya.

Setelah itu, hari-hari Sinyo dihabiskan di kompleks perusahaan rokok raksasa itu. Dia menemani anak kedua pendiri PT Gudang Garam itu bermain tenis meja, mencari keringat.
“Lama-kelamaan saya mikir, saya jadi tak punya teman sparring,” katanya. Padahal, saat itu dirinya masih menjadi atlet harapan Indonesia. “Saya lalu minta didatangkan teman sparring untuk menemani saya,” akunya. Seketika itu juga duetnya saat merebut medali perak Asian Games 1978 dan emas SEA Games 1979, Empi Wuisan, didatangkan.

Sejak saat itu, Sinyo pun menghabiskan hari-harinya berlatih di kompleks PT Gudang Garam. Akhirnya dibangunkan gedung olahraga (GOR) Sanjaya yang menjadi markas PTM Surya. Selain menjadi atlet, Sinyo sempat melatih di tempat itu.

Dari situ dia menjadi saksi hidup lahirnya para petenis jagoan Indonesia setelahnya. Mulai Rossi Pratiwi, Arkam, Dedy da Costa, Adi Susilo, hingga Putri Hasibuan. “Kasihan atletnya. Ke mana mereka kalau PTM Surya sampai bubar,” keluhnya.

Salah satu anaknya yang menjadi petenis andalan Indonesia selama ini juga menimba ilmu di PTM Surya. Dia adalah Vicky Supit yang sekarang menjalani pemusatan latihan di Tiongkok untuk persiapan SEA Games Laos 2009.

Untuk itu, dia berharap PTM Surya bisa bangkit lagi. Atau, mungkin ada klub lain yang bisa berdiri dan melakukan pembinaan secara konsisten untuk kemajuan tenis meja Indonesia di Kediri. (jie/jpnn/diq)

—-
 Pernah Rasakan Jadi Buruh Tani
PERJALANAN Sinyo Supit di dunia tenis meja mengalami pasang surut yang luar biasa. Bahkan, petenis meja yang selalu mendapatkan medali emas di ajang SEA Games yang diikutinya itu pernah menjadi buruh tani di kampungnya.

Sinyo Supit mengalami keterpurukan karir itu pada periode 1987-1990 setelah tenaganya tak lagi dipakai oleh PTM Surya akibat permasalahan intern. Terdepak dari PTM Surya benar-benar menjadi pukulan berat baginya.

Sebab, saat itu PTM Surya telah menjadi tempat pemusatan latihan para atlet Jawa Timur maupun nasional. Dengan demikian, kesempatannya untuk melatih pun nyaris tertutup.
Setelah itu, nama Sinyo perlahan-lahan meredup. Sampai akhirnya, dia tak lagi bisa mencari nafkah dari dunia tenis meja. Namun, hidup harus dilanjutkan.

“Apa pun saya lakukan untuk menghidupi keluarga saya dan membesarkan anak-anak saya,” kenangnya.

Atlet yang pernah menaikkan bendera Indonesia di berbagai ajang internasional itu menjadi seorang buruh tani. “Ya, ke sawah. Disuruh orang untuk mencangkul dan menanam. Pokoknya ke sawah,” katanya.

Dari pekerjaaan barunya tersebut, Sinyo mendapatkan penghasilan Rp 9.000 per hari. Uang itulah yang dipakai untuk membesarkan empat anaknya. Termasuk Vicky Supit yang sekarang ganti menjadi andalan Indonesia di bidang tenis meja.

Nasib Sinyo kembali berubah pada 1990. PTM Surya kembali memanggilnya untuk bergabung. Saat itu, dia menjadi tenaga kontrak sebagai pelatih. “Pada 1993, saya keluar lagi karena kontrak saya tidak diperpanjang,” ujarnya.

Namun, periode keduanya bersama PTM Surya tersebut membuka jalan untuk kembali mencari nafkah dari dunia tenis meja. Setelah itu, dia melanglang Indonesia, terutama Jakarta, untuk menemani para pengusaha maupun pejabat bermain tenis meja. “Yang jelas sudah tidak jadi buruh tani lagi saat itu,” kenang Sinyo.

Dia pun mulai merajut hidupnya agar lebih baik. Namun, nasib berkata lain. Saat mulai merasakan jerih payah, ujian menimpanya sekitar tiga tahun lalu.
“Inginnya menunjukkan bahwa saya sudah bisa beli motor, eh ternyata di jalan kecelakaan,” katanya.

Akibat kecelakaan dengan becak itu, Sinyo kembali merasakan periode pahit dalam hidupnya. Kecelakaan tersebut membuatnya koma selama 14 hari. Kepalanya mengalami pendarahan dalam dan harus dioperasi. “Saat itu, untuk beli beras saja tidak bisa,” imbuhnya.
Beruntung, saat itu, anak keduanya sudah bisa mendapatkan penghasilan. Vicky Supit berhasil mengikuti jejaknya menjadi atlet nasional. Dengan demikian, Vicky bisa membantu kedua orang tuanya maupun menyekolahkan adik-adiknya. (jie/jpnn/diq)

—-

Salurkan Hasrat yang Tak Pernah Padam
BAGI Sinyo Supit, tenis meja tak sekadar sebuah olahraga yang bisa menyehatkan. Tapi, jalan hidup yang dipilihnya untuk mengarungi kehidupan.

Dari olahraga itu, Sinyo terus menyambung hidup dan membesarkan anak-anaknya. Usianya sekarang sudah mencapai separo abad.

Petenis andalan Indonesia era 1970-an dan 1980-an itu tak pernah henti berlatih. Prestasi pun masih dirajutnya.

Memang pukulannya tak sekeras 30 tahun lalu. Gerakannya juga tak selincah saat dia menjadi andalan Indonesia. Namun, akurasi pukulan dan ketenangannya mengembalikan bola smes lawan seperti tak berubah. Bola nyaris tak pernah keluar meja maupun menyangkut di net.
Tak heran, dia terus berprestasi sampai sekarang. Terakhir, petenis yang menjadi andalan Indonesia selama satu dekade itu berhasil menjuarai kejuaraan tenis meja veteran se-Jatim yang diselenggarakan di Surabaya Agustus lalu.

“Setelah ini mewakili Jatim ke tingkat nasional untuk memperebutkan Piala Presiden,” katanya.
Di usia yang memasuki senja, Sinyo memang tak pernah lepas dari dunia tenis meja. Setelah “tersingkir” dari PTM Surya, suami Nila Ambarwati itu terus menekuni dunia tenis meja.
Saat kemampuannya tak lagi dibutuhkan Indonesia sebagai pelatih atau semacamnya, dia mencari jalan sendiri untuk tetap bisa mendapatkan uang dari tenis meja.

Dia memilih jalan dengan cara melatih atau lebih tepatnya menemani bermain orang-orang yang gila dengan olahraga bola kecil tersebut. Sekarang dia merasa sangat beruntung karena masih ada orang yang memakai jasanya, yakni dua dokter di Kediri, dr Iskandar Nawawi dan dr Hanafi. Saat ini hari-hari Sinyo dihabiskan dengan “melayani” dua dokter penggila tenis meja itu. Setiap hari bapak empat anak tersebut stand by di RS Melinda di Kelurahan Balowerti, Kota Kediri, milik dr Iskandar Nawawi yang memiliki seperangkat alat tenis meja plus tempatnya di belakang rumah sakit.

“Pokoknya, saya selalu siap. Kalau Pak Iskandar dan Hanafi mau main, saya temani,” tuturnya. Dengan cara itulah saat ini Sinyo bertahan hidup, menghidupi keluarga, dan membesarkan anaknya serta menyalurkan hasratnya di dunia tenis meja yang tak pernah padam. (jie/jpnn/diq)

[subberita]
BIODATA

Nama Lengkap     : Yap Mien Fong
Tempat Lahir         : Surabaya
Tanggal Lahir        : 23 September 1959
Alamat         : Ds Peh Kulon, Papar, Kabupaten Kediri
Julukan         : Sinyo Supit
Orang Tua         : Imam Santoso dan Lanny Santoso
Istri        : Nila Ambarwati (40)

Anak :
            1. Vivrid Supit     (20)
            2. Vicky Supit     (18)
            3. Vino Supit     (16)
            4. Vicko Supit    (14)

PRESTASI

-    Masuk 8 besar kejurnas di Semarang (1974)
-    Juara kejurnas junior di Palembang 1975)
-    Dikirim berlatih ke Yugoslavia(1975)Juara Yugoslavia             Open(1976)
-    Emas SEA Games Malaysia(1977)Perak ganda putra Asian         Games Bangkok(1978)
-    Tiga emas SEA Games Jakarta(1979)
-    Tiga emas SEA Games Manila(1981)
-    Ikut mendirikan PTM Surya, Kediri(1981)
-    Empat emas SEA Games Singapura(1983)
    Pensiun(1987)
-    Mengusulkan pendirian PTM Surya, Kediri(1981)
[/subberita]


[ketgambar]Sinyo Supit dan Pialanya[/ketgambar]
[ketgambar]Sinyo Supit sedang main tennis meja[/ketgambar]

This entry was posted in Top Figure. Bookmark the permalink.