Guru Beretika Jadikan Pendidikan Bermartabat

Harga diri seseorang bukan terletak pada statusnya, melainkan pada potensi etika lisan, potensi etika laku, dan potensi etika pikir. Harga diri yang lahir karena status, melahirkan kepura-puraan, sedangkan penghargaan yang berasal dari penilaian etika yang positif, akan melahirkan sebuah kepercayaan, penanaman prinsip, dan keakraban yang tulus.

Begitupun antara guru dan murid, akan terjalin hubungan yang memiliki dasar yang kuat, bukan sekadar status “guru” dan “murid”. Potensi etika pikir adalah sudut pandang atau cara melihat suatu permasalahan dengan positif.   Ia buah yang tumbuh dari analisa mendalam.  Pada guru, dia akan berpikir tindakan apa yang bisa membuahkan nilai plus, bukan hanya dia sebagai seorang guru saja, namun nilai plus dari statusnya sebagai manusia. Potensi ini adalah awal dari sebuah prinsip. Potensi yang positif akan membuahkan pola pikir yang baik, potensi pikir yang negatif akan membuahkan pola pikir yang buruk.

Hal inilah yang menjadi langkah awal pada setiap keputusan yang diambil manusia, baik atau buruk, berkualitas atau hampa, prestasi atau gagal.
Potensi etika pikir pada guru, membuahkan pertimbangan matang untuk melahirkan apa saja hal yang harus dilakukannya, membuahkan hal apa saja yang harus dilisankannya, serta pola pikir siapa saja yang akan melihat perbuatannya. Hal ini sangat penting, karena dasar prinsip akan melahirkan keteladanan yang berasal dari diri seorang guru terhadap muridnya.

Potensi etika pikir pada murid, membuahkan analisa tajam terhadap apa yang dipandangnya. Menghasilkan cara pandang dari pikir yang tajam, memiliki sudut pandang positif atau negatif. Objektifitas masa-masa muda sangatlah labil, terombang-ambing mencari arah untuk berlabuh. Sudut pandang itu memerlukan keteladanan, manusia yang paling dekat dengan murid adalah guru.

Sosok guru adalah sosok yang setiap hari ia jumpai, bukan hanya pelajaran saja yang ia serap, melainkan sudut pandang pribadi untuk menumbuhkan sebuah prinsip pada diri seorang murid.  Terbanglah pada dua puluh tahun silam, atau bahkan lebih pada garis usia kita. Tengoklah mana pelajaran SMP yang kita sukai, semua akan mengatakan, pelajaran yang disukai adalah Matematika, Bahasa Inggris, Menggambar, atau lainnya. Pertanyaan berikutnya, mengapa suka?  Pelajarannya memang agak sulit tapi suka gurunya. Kenapa suka gurunya? Karena Bapak itu…atau Ibu itu…. Baik, ramah, murah senyum, sederhana, punya rumah bagus tapi kalau pergi sekolah selalu naik angkot, dan masih banyak hal lagi yang mampu menggambarkan betapa sudut pandang kita positif terhadap guru kita. Tetapi tak sedikit pula kita mengingat pelajaran yang tidak disukai, sebenarnya mudah namun gurunya galak atau killer, jadi karena sudah tidak senang dengan gurunya maka sulit menerima pelajaran dengan mudah. Bukankah kita pernah berpikir seperti itu?

Sebuah prinsip hidup yang kita serap secara tidak langsung dari Bapak Ibu guru kita, mampu melekat pada pribadi-pribadi kita hingga sekarang. Dan kita sudah tidak ingat lagi pelajaran apa yang diajarkan guru kita saat itu, namun sikap dan karakter guru kitalah yang masih kita ingat sampai sekarang. Hanyalah prinsip yang menjadi warisan untuk kita dan anak didik kita. Melalui guru, keteladan itu tertular dengan sendirinya.
Potensi etika lisan, tak jarang lisan mampu tajam melebihi pedang, mampu menyakiti dan membekas hingga waktu yang lama. Lisan guru adalah penyampai ilmu dari sekian tahun lebih dulu memahami pelajaran melalui mata kuliah di kampus. Dari lisan inilah ilmu terurai untuk membentuk karakter pada diri murid.

Lisan yang lembut akan menghasilkan hati yang lembut, namun lisan yang kasar akan membentuk hati yang keras.  Potensi etika lisan pada sosok guru adalah kunci murid merasa dihargai. Jika etika lisan tidak dijalankan, guru akan terbiasa bersuara keras. (*)

Penulis: Drs Anton Siagian
Wakasek SMK TI Raksana Medan

This entry was posted in Pendidikan and tagged . Bookmark the permalink.