Home Industry Sepatu, Modal Tipis Untung Besar

Kawasan Setia Budi mulai meng-embangkan home industry sandal dan sepatu. Hal ini ditandai dengan munculnya produsen sandal dan sepatu di rumah-rumah, seperti halnya yang dilakukan Zainuddin, warga Jalan Perjuangan Gang Indah No 17 B, Medan.

Dengan bermodal meminjam uang sebesar Rp5 juta dari program KUR (Kredit Usaha Rakyat) tersebut, maka home industri tersebut mampu memproduksi 60 sandal dan sepatu untuk diorder ke sejumlah toko langganannya.

“Sepatu-sepatu yang saya buat ini diambil sama toko-toko sepatu yang ada si Medan, salah satunya toko sepatu yang ada di Pasar Petisah Medan,” ujarnya saat ditemui wartawan koran ini di kedimannya.

Menurutnya, sepatu yang dijual, baik yang ada di toko ataupun yang ada di mall-mall serta plaza-plaza tidak terlepas dari tangan dingin pengrajin sepatu. Baik pengrajin sepatu yang bekerja di sebuah pabrik sepatu atau juga yang bersifat home industri.
Sejak tahun 2007 yang lalu, ayah enam orang putra ini membuka usaha pembuatan sepatu. Usaha sepatu yang menspesifikasikan pada pembuatan sepatu perempuan tersebut. Dia mengaku, usaha ini lumayan menjanjikan. Sebab selain modalnya yang tak begitu besar, namun untungnya lumayan besar yakni bisa mencapai 50 persen dari modal produksi.

“Setiap dua kali seminggu, saya me-ngantarkan pesanan sepatu ke toko yang biasa mengambil kepada saya. Dalam sekali antar biasanya sejumlah 30 pasang, kalau dua kali antar berarti 60 pasang,” terang pria yang pernah tinggal di Kelurahan Kota Matsum tersebut.
Jenis sepatu yang diproduksinya cukup bervariasi, ada yang disebut sepatu lepes dan yang menggunakan hak. Untuk jenis sepatu lepes rata-rata berharga Rp42,500 ribu dan untuk sepatu yang menggunakan hak rata-rata dijual seharga Rp50 ribu. Sementara, biaya operasional dari pembuatan sepasang sepatu diperkirakan memakan bia-ya sebesar Rp35 ribu. “Sepatu lepes  Rp42,500 ribu dan yang pakai hak rata-rata Rp50 ribu sepasang,” ungkapnya.

Dari usaha itu, pria yang mengaku bisa membuat segala jenis sepatu perempuan dan pria tersebut, ia bisa meraih omzet mencapai Rp300 ribu. “Dari pesanan tersebut, Alhamdulillah bisa dapatlah Rp300 ribu,” bilangnya.

Selain itu, pria yang dari tahun 1983 telah berkecimpung di dunia pembuatan sepatu tersebut juga menerima tempahan. Menyangkut pesanan, hari-hari besar biasanya membuatnya sibuk dan kerja ekstra. Karena saat itu biasanya permintaan semakin melonjak. Menyiasatinya, Zainuddin biasanya memanfaatkan warga sekitar untuk membantunya.

“Kalau hari besar kadang saya bisa kerja sampai jam 1 atau jam 2 dinihari,” tandasnya. (mag-13)

usaha-sepatu

[ketgambar]KERJA: Zainuddin pengrajin sepatu di Jalan Setia Budi sedang menyiapkan sepatu pesanan pelanggan. //ARI/SUMUTPOS [/ketgambar]

This entry was posted in Metropolis and tagged , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.