Berebut Tanda Tangan

Grand Prix Malaysia dari Sirkuit Sepang

Bagi Dewo Pratomo, F1 Mania yang jadi peliput resmi untuk kali pertama di Grand Prix Malaysia, banyak pelajaran berharga telah didapat. Ternyata berat juga bekerja untuk media dan berupaya memuaskan para penggemar.

Kalau Anda penggemar berat Formula 1 dan punya kemampuan finansial, kemungkinan besar Anda pernah nonton langsung Grand Prix Malaysia di Sirkuit Sepang. Mungkin juga Anda sudah nonton lebih dari sekali, sejak lomba ini kali pertama diselenggarakan pada 1999 lalu.
Memang, penyelenggaraan di Sepang mungkin hanya ’heboh’ pada tahun-tahun awal. Belakangan, situasi memang cenderung ’biasa’. Penonton tak pernah membeludak, buntutnya kemasan pun jadi biasa-biasa saja.

Beberapa tahun lalu, istri saya yang tidak suka F1, saya ajak mampir nonton. Komentarnya? “Biasa!”

Maksudnya, F1 yang selama ini image-nya glamor dan heboh, ternyata tidak mampu membuat surprise istri saya yang awam soal F1.
Tahun ini? Bisa dikatakan suasana lebih ’biasa’ lagi. Untuk perbandingannya gampang. Datang saja ke kawasan Mall Area, tempat banyak stan merchandise dan ekshibisi biasanya terpasang. Karena ini sudah kali kesembilan saya ke Sepang, saya dengan akurat bisa bilang kalau kawasan ini sudah kehilangan sekitar 50 persen tenant bila dibandingkan tahun-tahun yang lalu.

Kebetulan, saya termasuk penggemar merchandise ’tim gurem’. Orang lain pakai Ferrari, saya pakai Minardi. Orang lain cari baju Mercedes GP, saya cari Hispania Racing Team. Nah, kali ini, penggemar baju tim gurem seperti saya terpaksa gigit jari. Hampir tidak ada sama sekali.
Yang paling mencolok baru hanyalah kaus Michael ’Schumi’ Schumacher dan Nico Rosberg yang disediakan Petronas, sponsor Mercedes GP. Atau kaus Jarno Trulli dan Heikki Kovalainen, yang membela tim Lotus, yang punya penyokong dana dari Malaysia.

Untungnya, pihak penyelenggara dan sirkuit tetap mencoba menyelenggarakan banyak even menghibur atau menarik. Misalnya, anak-anak diberi kesempatan gratis menjajal go-kart, atau memberi mereka kesempatan jalan-jalan bebas di pit lane pada hari Jumat lalu (2/4).
Sebenarnya ada pula pameran mobil-mobil klasik, antara lain Benetton-Renault bekas Schumi (1994-1995) atau mobil bekas Ayrton Senna. Sayang, letak pameran ada di bagian dalam, sehingga pemilik tiket ’standar’ tidak bisa menikmatinya.

Even menarik lain adalah sesi tanda tangan, yang memang rutin diselenggarakan tiap tahun. Kali ini, kata Fyreen Hanim Kamarullah, PR Sepang, semua pembalap kebagian slot waktu menyapa dan memberi tanda tangan untuk penonton.

Minggu kemarin (4/4), minat untuk tanda tangan ini luar biasa. Jam masih menunjukkan pukul 09.00 pagi, tapi antrean penonton sudah terbentuk. Padahal, para pembalap baru nongol beberapa jam kemudian, dan balapan baru berlangsung pukul 16.00 sore harinya!Pukul 11.00, Schumi dan Nico Rosberg yang muncul. Bergantian dengan pembalap-pembalap lain. Saya sendiri ikutan cari tanda tangan, tapi tak perlu antre. Hehehe. Cukup di paddock saja. Lumayan, kaus Nonton Bareng Flexi One (F1) kebanggaan F1 Mania Surabaya berhasil dicoret-coret oleh Karun Chandok, Jaime Alguersuari, Adrian Sutil, Vitantonio Liuzzi, dan Nico Rosberg.

Bicara soal hoki tanda tangan, beberapa kali saya dikabari teman-teman di Surabaya, kalau batang hidung saya nongol di media-media internasional. Kamis lalu misalnya (1/4), saya terpotret pakai batik bersama Schumi, dan foto itu di-broadcast oleh Associated Press, kantor berita internasional. Kemarin, ada yang bilang foto saya waktu menunjukkan harian Jawa Pos kepada Schumi juga muncul di salah satu situs populer F1, www.planetf1.com.

Hore! Meski tak ada yang kenal saya, tapi minimal ada ribuan, mungkin jutaan, penggemar F1 yang pernah lihat wajah saya!
Terus terang, pengalaman liputan resmi pertama ini tak akan pernah saya lupakan. Bukan hanya senangnya, juga susahnya. Sekarang saya jadi lebih apresiasi terhadap sulitnya menjadi peliput F1 yang serius. Setiap hari harus datang pagi-pagi ke sirkuit, terus keliling dan mengikuti kegiatan sampai sore, lalu menulis sampai malam.

Apalagi, lomba resmi pertama saya ini diguyur hujan. Sebagai rookie, saya sadar kalau perlengkapan harus benar-benar matang sebelum berangkat. Termasuk yang sederhana, seperti jas hujan untuk diri sendiri maupun kamera dan kawan-kawannya.

Teman-teman dari Jawa Pos sudah memberi banyak pembekalan sebelum saya berangkat. Teman-teman peliput lain di sirkuit juga terus memberikan bantuan. Tapi ya memang harus merasakan dulu baru menyadari betapa pentingnya segala saran tersebut.
Kesalahan-kesalahan gampang saya: Beli jas hujan ’pre-paid’ alias sekali pakai ternyata tak berguna. Kedua, jangan lupa untuk selalu membekali diri dengan botol air minum dan handuk. Hujan atau tidak, Sepang itu sangat panas dan lembab. Azrul Ananda yang bi

sa meliput F1 untuk Jawa Pos dulu pernah bilang, dia bisa minum sepuluh botol air sehari dan sama sekali tidak butuh pergi ke toilet. “Semua keluar jadi keringat,” katanya.
Yang lainnya: Harus selalu sadar situasi dan waktu. Segalanya berlangsung on time di F1. Gara-gara salah perhitungan waktu saat memotret, saya sempat ketinggalan shuttle kembali ke media center, sehingga kelewatan satu sesi konferensi pers.

Tapi ya lumayanlah, ini tetap pengalaman tidak terlupakan. Terima kasih untuk semua, dan semoga tulisan karya saya tidak mengecewakan. (*)

michael-schumacher

[ketgambar]TEMU FANS: Pembalap Mercedes Michael Schumacher (kanan) dan rekannya Nico Rosberg (2 kanan) memberikan tanda tangan usai temu fans di Sirkuit Sepang, Malaysia. // REUTERS/Stringer[/ketgambar]

This entry was posted in All Sport, Berita Foto and tagged . Bookmark the permalink.