Karir Jalan Terus, Kodrat Wanita Jangan Lupa

AKBP Dra Rina Sari Ginting, Kapolres Perempuan Pertama di Sumut

Rabu 17 Maret 2010 , AKBP Dra Rina Sari Ginting resmi dilantik Kapoldasu Irjen Pol Oegroseno SH sebagai Kapolresta Binjai menggantikan AKBP Robert Kennedy SIK. Dalam catatan sejarah di lingkungan Polda Sumut, Rina Sari Ginting adalah perempuan pertama yang pernah menjabat sebagai Kapolresta. Meskipun di luar Polda Sumut, tentunya ada ‘kartini-kartini’ lain yang sudah pernah menduduki jabatan sebagai orang nomor satu di tingkat kabupaten/kota.

Bagi Rina Sari Ginting, menjadi Kapolresta Binjai adalah amanah dari pimpinan
Polri kepadanya. Di luar itu, Rina Sari Ginting juga tidak pernah melupakan kodratnya sebagai istri dan ibu dari ketiga anaknya.

Selain itu sebelum menjadi pimpinan di kota rambutan itu, istri Willem Bangun SH MSi ini sudah banyak pengalaman, baik dari segi pendidikan khususnya pendidikan kepolisian dan pengalaman tugas di lingkungan Polri.

Sebab, 17 Mei 2001 yang lalu Rina Sari Ginting juga tercatat sebagai Kapolsek perempuan pertama di lingkungan Poltabes Medan. Amanah itu diembannya dengan baik hingga akhirnya dipindahkan lagi menjadi Kapolsek Medan Kota, 1 Oktober 2001 dan beberapa jabatan penting lainnya di jajaran Polda Sumut. Singkatnya, karir Rina Sari Ginting terus melambung. Berikut petikan wawancara wartawan koran ini, Adi Candra Sirait kepada AKBP Dra Rina Sari Ginting di ruang kerjanya Mapolresta Binjai, Kamis (22/4).

Sekarang Anda menjadi Kapolresta Binjai, dan menurut sejarah baru Anda perempuan pertama yang menjadi Kapolres di jajaran Polda Sumut, apa tanggapan Anda?

Wah, biasa saja. Memang, setiap anggota Polri punya keinginan menjadi pimpinan, termasuk menjadi Kapolres. Demikian juga dengan saya. Saat saya mengikuti SESPIM Polri dan terakhir kursus jabatan (susjab) Kapolres, sudah terlintas dalam benak saya bakal menjadi Kapolres. Ternyata terkabul dan ditempatkan di Binjai. Sebagai prajurit dan Kapolresta tugas pokok dan fungsinya menjadi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di wilayah hukum Polresta Binjai.

Anda kan seorang perempuan, sementara bawahaan Anda setingkat Kasat dan Kapolsek mayoritas pria. Bagaimana Anda menyesuaikan diri?

Tidak masalah, dan biasa saja. Toh, saya memulai karir dari tingkat bawah dan sudah terbiasa bergaul dengan laki-laki. Banyak teman-teman kantor saya yang laki-laki, tetapi bergaul saya biasa saja, dan tidak ada yang canggung terutama dengan bawahan saya semisal setingkat Kasat dan Kapolsek, demikian juga sesama Kapolres di jajaran Polda Sumut. Di tubuh Polri sendiri sudah diatur tugas pokok dan fungsi masing-masing, jadi tidak ada masalah apakah pimpinannya perempuan atau laki-laki. Kemana pun saya melangkah dan jabatan apa pun yang saya eman, saya tetap percaya diri (PD) dalam mengemban amanah itu.
Selain itu, di wilayah hukum Polresta Binjai ada delapan polsek dan salah satu Kapolseknya perempuan. Tapi bagi saya itu tidak masalah, pokoknya bekerja sesuai dengan tugas masing-masing.

Menjadi Kapolresta Binjai pastilah menyita banyak waktu. Implikasinya waktu dengan keluarga berkurang, apa tanggapan keluarga?

Saya bersyukur, sampai saat ini suami dan ketiga anak masih terus mendukung karir saya. Bahkan mereka yang mendorong agar saya terus berkarir. Hal ini sejalan dengan prinsip hidup saya yakni ketika kita sudah masuk dalam sebuah lingkungan pekerjaan, jangan tanggung-tanggung terus berkarir dan manfaatkan segala kesempatan.

Inilah yang saya lakukan, sejak masuk Kepolisian tahun 1982 hingga sekarang setiap ada kesempatan pendidikan saya selalu ikut. Makanya tak heran, jika semasa saya bertugas saya selalu banyak mengikuti pendidikan. Inilah kesempatan yang tak pernah saya lewatkan, meskipun kadang kala saat mengikuti tes pendidikan saya kalah.

Soal waktu dengan keluarga sejauh ini tidak ada masalah. Meskipun saya telah menjadi Kapolresta Binjai waktu dengan keluarga tetap ada, kemarin malam (21/4) saja contohnya. Anak-anak saya main ke Binjai dan kami makan malam bersama, soalnya anak-anak tinggal di Medan dan saya tinggal di rumah dinas Kapolresta Binjai. Selain itu, jika ada waktu yang luang saya juga sering ke Medan untuk melihat anak-anak.

Selama bertugas di Polri, Anda pasti pindah-pindah tugas. Apakah ada pengalaman menarik dengan keluarga saat bertugas?

Tentu banyak. Bahkan, anak saya lahir pada saat saya mengikuti pendidikan di Fakultas Keguruan Ilmu Keolahragaan IKIP Jakarta. Dapat dibayangkan pada waktu saya hamil, harus kuliah dan bekerja, pastilah repot. Tapi itulah saya, harus menempatkan diri menjadi peran ganda, sebagai wanita dan sebagai anggota Polri.

Bisa pun saya kuliah di IKIP Jakarta waktu itu, karena saya mendapat beasiswa atas prestasi olahraga judo yang saya geluti. Soalnya saya pernah mengharumkan DKI Jakarta di PON ke-11 dan mendapat perak. Lagi-lagi ini kesempatan yang harus saya raih, jadi prinsipnya karir jalan terus, anak juga harus diurus.

Apakah menjadi Polisi cita-cita Anda?
Betul. Sejak duduk di kelas II SMEA Negeri 1 Kabanjahe saya sudah bercita-cita sebagai Polisi. Soalnya ada kakak sepupu saya yang sudah menjadi Polisi terlebih dahulu. Saat dia pulang kampung ke Tanah Karo, penampilannya selalu gagah, apalagi saat memakai baju dinas. Makanya, pada waktu itu sebelum saya menerima ijazah SMEA, saya ikut testing Secaba Polri, dan ternyata lulus. Jadi saya tidak sempat menganggur. Begitu lulus saya langsung pendidikan di Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan) di Lebak Bulus Jakarta Selatan. Di sana yang mengikuti pendidikan hingga akhirnya ditempatkan di Sepolwan sebagai kakak pembina dari tahun 1983 hingga 1988. Kemudian saya dipindahtugaskan ke Polda Metro Jaya dan setelah itu bertugas di lingkungan Polda Sumut. Setelah bertugas, beberapa pendidikan saya ikuti yakni Sekolah Calon Perwira, (D-3) PTIK yang dilanjutkan dengan (S-1) PTIK dan terakhir SESPIM tahun 2007. Menariknya pada saat tes SESPIM tahun 2006, saya kalah dan ikut lagi tahun 2007 baru menang.

Terakhir apa pesan Anda dengan perempuan-perempuan lain, terlebih Hari Kartini 21 April, yang baru saja kita lalui?

Tetap semangat. Meskipun kondratnya sebagai perempuan tetapi harus mampu menjadi seorang pemimpin seperti kaum laki-laki. Hal ini juga sudah diajarkan oleh pahlawan perempuan RA Kartini. Jadi kita harus mengikuti jejak beliau, dan satu pesan saya, jika kita sudah terjun dalam satu pekerjaanjangan pernah puas dengan apa yang sudah didapat, tetapi teruslah berkarya, manfaatkan segala kesempatan yang ada dan jangan pernah menyerah.(*)

Rawat Tubuh dengan Olahraga

Sebagai anggota Polri, penampilan harus senantiasa terjaga. Pasalnya, bisa menentukan wibawa seseorang. Hal itu disadari betul oleh AKBP Rina Sari Ginting.

Karenanya jangan heran, diusianya ke- 47 tahun,  Rina  masih terlihat cantik dan bugar.
“Ya harus tetap dijaga dong. Terutama berat badan. Bagaimana kata orang kalau liat Kapolresnya melar,” kelakar Rina sambil membentangkan kedua lengannya memperagakan orang gemuk.

Untuk menjaga porporsional tubuh tetap ideal, Rina tidak pernah meninggalkan olahraga. “Setiap sore saya melakukan olahraga untuk mengeluarkan keringat. Di sini (Mapolresta Binjai-Red), sarana olahraga lengkap. Ada tenis, senam dan lain sebagainya,” ujarnya. Beda halnya saat tinggal di Jakarta, Rina selalu olahraga judo, karena judo adalah olahraga yang dia senangi dan bahkan mengharumkan namanya hingga tingkat nasional. “Sekarang saja saya tidak main judo lagi, tetapi hanya aktif sebagai pengurus judo di lingkungan Polda Sumut,” ungkapnya. Awal mulanya olahraga judo ini bukan hobinya, tetapi karena tuntutan saat mengikuti pendidikan di  Sekolah Polisi Wanita, akhirnya judo melekat di hati Rina.

Demikian juga untuk perawatan wajah. Meski tidak punya banyak waktu luang untuk melakukan perawatan,  Rina tetap berupaya menjaga agar  wajahnya tidak terlihat kusam. “ Saya suka melakukan perawatan sendiri di rumah. Paling tidak sebelum tidur mesti bersihkan wajah terlebih dahulu,” sambungnya.  Satu hal lagi yang mendukung penampilan ibu tiga anak ini tetap terlihat awet muda adalah keikhlasannya dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab.

Baik itu tugas-tugas di kantor, maupun tugas di rumah sebagai ibu rumah tangga.  Semuanya dia nikmati sebagai suatu berkah dan karunia. “Seberapa berat pun rutinitas kerjanya sehari-hari, saya tidak pernah menjadikannya  beban,” tuturnya.

Lantas bagaimana dengan makan?  Ditanya begitu Rina menjawab meskipun dia lama tinggal di Pulau Jawa dan berbaur dengan semua lapisan masyarakat, tapi makanan khas dari kampung halamannya di Tanah Karo tidak pernah dilupakan. Rina mengaku, sampai saat ini masih suka dengan makan arsik ikan mas. “Saya suka itu, meskipun kadang kala harus saya campur dengan makanan Jawa semisal tahu dengan tempe,” ungkap Rina.

Dia mengaku, karena kelamaan tinggal di Jakarta, dia sudah terbiasa dengan masakan Jawa yang memiliki rasa khas manis dan asem. Meski sudah tinggal di Medan tempe dan tahu masih tetap dicari juga.(dra)
—-

Biodata

Nama:
AKBP Dra Rina Sari Ginting
Tempat/Tanggal Lahir:
Juhar/ 29 November 1963
Nama Suami:
Willem Bangun SH MSi
Anak 3 Orang:

  1. Ruben Bangun
  2. Romy Bangun
  3. Wina Bangun

Jabatan:
Kapolresta Binjai

Riwayat Jabatan:

  • BA Sekolah Polisi Wanita 1983/1988
  • BA Biro Pers Polda Metro Jaya 1988/1992
  • Paur Jianma Ditlantas Polda Sumut 21-10-1993
  • Pama PTIK (Dalam Rangka Dik) 31-08-1994
  • Paur Ren Set Dit Lantas Polda Sumut 01-12-1999
  • Waka Sat Lantas Poltabes MS 01-06-2000
  • Kapolsekta Medan Barat 17-05-2001
  • Kapolsekta Medan Kota 01-10-2001
  • Kabagmin Poltabes MS 21-10-2002
  • Kasubbak Rilmat Bag Binjah Ro Pers 13-04-2005
  • Kasubbak Seleksi Bag Dalpres Ro Pres 20-10-2006
  • Wakapolres Deli Serdang 04-07-2006
  • Kabag Starbag Biro Renbang Polda Sumut 22-02-2008
  • Kapolresta Binjai 17-03-2010
This entry was posted in Sosok and tagged , . Bookmark the permalink.