Yuliana dan Yuliani, Kembar Siam Dempet Kepala Pertama di Indonesia

Dua puluh dua tahun lalu, untuk yang pertama di Indonesia, dua bayi kembar dempet kepala bisa dipisahkan. Kini, mereka sudah beranjak dewasa dan tergolong berprestasi di kampusnya. Inilah kisah mereka yang penuh liku.

Jumat lalu (31/7) adalah hari ulang tahun Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani, dua saudara kembar yang ketika lahir dalam kondisi dempet kepala (craniopagus). Anak pasangan Tularji-Hartini itu lahir di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada 1987.

Kondisi Ana dan Ani (panggilan akrab untuk Yuliana dan Yuliani) saat itu tentu menyedihkan kedua orang tuanya. Setelah bertanya ke sana kemari, mereka dirujuk ke Jakarta. Akhirnya, pada 21 Oktober 1987, dilakukan operasi pemisahan oleh tim dokter di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Saat itu, operasi dipimpin Prof dr RM Padmosantjojo yang melibatkan 96 dokter, memakan waktu 13 jam, dan menelan biaya sedikitnya Rp42 juta.

Kasus Ana-Ani tersebut dicatat sejarah kedokteran di Indonesia sebagai kembar siam pertama yang sukses menjalani operasi pemisahan. Kini Ana dan Ani sudah beranjak dewasa. Bulan depan, mereka memasuki semester lima masa perkuliahannya di Universitas Andalas, Padang. Dasar kembar, dalam banyak hal mulai pilihan pakaian, aksesori sampai gaya rambut yang dibiarkan tergerai panjang selera mereka sama.

Sejak kecil, keduanya punya cita-cita yang sangat kuat untuk menjadi dokter. Itu dipengaruhi oleh sosok Padmosantjojo, ketua tim dokter yang sukses memisahkan mereka. Namun, hanya Ani yang berkesempatan masuk ke fakultas kedokteran. Ana berkuliah di fakultas perternakan jurusan nutrisi dan makanan. Meski beda fakultas, mereka satu kampus.

“Kami sudah sepakat, pokoknya harus satu universitas. Apa pun jurusannya. Pokoknya, yang penting salah satu dari kami ada yang di kedokteran,” kata Ani ketika ditemui Jawa Pos (grup Sumut Pos) di rumah Prof Kamardi Talut, orang tua wali Ana-Ani yang tinggal di Jalan Jati IV, Padang, akhir pekan lalu. Selama di Padang, Ana-Ani memang tinggal di rumah dokter spesialis bedah urologi Universitas Andalas itu.
***
Setelah lulus dari SMU Katolik Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada 2006 Ana-Ani mengikuti tes masuk PTN (perguruan tinggi negeri). Karena bercita-cita jadi dokter, keduanya memilih Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI). Itu pilihan pertama. Pilihan kedua adalah Fakultas Kedokteran Universitas Riau. Sayang, hasil tes mengumumkan, mereka tidak lulus.
Ana-Ani kemudian pulang kampung dan kuliah di LP3I Tanjung Pinang. Meski lulus tes di jurusan IT dan komputer, tak lama kemudian keduanya pindah ke jurusan akuntansi. “Kami pindah ke akuntansi. Sebab, di jurusan IT dan komputer, yang perempuan di kelas cuma kami,” tutur Ani.
Setahun berjalan tak menyurutkan mimpi keduanya untuk menjadi dokter. Pada 2007, Ana-Ani kembali menjajal keberuntungan. Mereka kembali ikut tes masuk PTN. Pilihannya tetap kompak, fakultas kedokteran. Tapi, kali ini atas saran Padmosantjojo, pilihannya di Universitas Andalas. Asumsinya, persaingan masuk di Andalas tak seketat di UI.

Hubungan Padmosantjojo dengan Ana-Ani memang terjalin sejak mereka menjalani operasi pemisahan. Meski tak ada hubungan famili, Padmosantjojo sudah menganggap Ana-Ani seperti anak kandungnya. Begitu juga di mata dua saudara kembar itu, sosok Padmosantjojo sudah dianggap sebagai bapak kandung mereka. Karena itu, untuk cita-cita pun, mereka ingin menjadi seperti Padmosantjojo, yakni menjadi dokter ahli saraf.

Padmosantjojo juga sangat perhatian kepada anak-anak angkatnya tersebut.  Karena itu, ketika tahu Ana-Ani ingin sekali menjadi dokter, dia dengan penuh ketulusan membantu. Termasuk membantu pembiayaan.

Saat tes masuk PTN ke Universitas Andalas, keduanya memilih fakultas kedokteran. Untuk pilihan kedua, mereka kompak mengambil jurusan nutrisi dan makanan fakultas peternakan.

Ternyata, hasil tes mengumumkan bahwa mereka diterima di pilihan kedua. Tentu saja mereka kecewa. Karena saking kepengin masuk di kedokteran, mereka lantas menjajal jalur extension. Sebenarnya, melalui jalur itu, keduanya bisa saja diterima. Tapi, Ana-Ani sadar, jika mereka sama-sama kuliah di jalur extension fakultas kedokteran, biayanya sangat mahal.

Sebagai gambaran, biaya masuknya saja di extension mencapai Rp 80 juta. Belum lagi SPP per semester Rp 6 juta. Kalau di peternakan jalur reguler, biaya masuk pada 2007 itu hanya Rp 3 juta dengan SPP Rp 1.450.000 per semester.

Ana-Ani sadar bahwa mereka tak ingin membebani Padmosantjojo dengan sama-sama memaksa masuk di jalur extension. Apalagi, saat itu Padmosantjojo yang biasa mereka panggil pakde akan segera memasuki masa pensiun.
Sejak lahir hingga sekarang, sang pakde itulah yang membiayai pendidikan mereka. Atas pertimbangan tersebut, Ana mengalah. Dia memilih tetap kuliah di fakultas peternakan dan Ani yang masuk ke kedokteran dari jalur extension. Apalagi, menurut mereka, Padmosantjojo sempat menyampaikan bahwa Ani lebih cocok di kedokteran. Ana dianggap tidak tegaan dan gampang merasa jijik daripada si Ani. 

Selama menjalani kuliah, prestasi akademik keduanya cukup membanggakan. Nilai IPK terakhir si Ana 3,42 dan Ani 3,00.

***
Gara-gara beda fakultas, Ana-Ani tidak bisa lagi selalu berpenampilan kompak. Ada peraturan khusus di fakultas kedokteran. Semua mahasiswinya wajib mengenakan rok. Padahal, Ana maupun Ani sama-sama paling benci memakai rok. “Ya sudah, Ani harus pakai rok. Mau bagaimana lagi, soalnya peraturan. Kalau aku, nggak bakalan deh,” tutur Ana, lantas tertawa.
Di kampus, keduanya juga sering mendapatkan perhatian istimewa dari para dosen. Apalagi Ana-Ani memang cukup aktif di kelas. Tak jarang, dosen mengajak untuk membantu bila ada proyek-proyek penelitian. “Ada nggak enaknya. Meskipun ada teman-teman yang suka, lebih banyak yang nggak suka. Banyak yang jealous (iri, Red),” tuturnya.

Bagaimana soal biaya bulanan? “Ada dari pakde (Padmosantjojo, Red) dan dari keluarga di Tanjung Pinang juga. Pokoknya, lebih dari cukup,” jawab Ana.
Ani menceritakan, dirinya ingin menjadi dokter spesialis bedah saraf seperti Padmosantjojo. Dia sangat kagum dengan kepiawaian orang tua angkatnya itu. Apalagi, di kedokteran dia mempelajari betapa rumitnya saraf-saraf di kepala. Dengan segala keterbatasan teknologi kedokteran dulu, Ani sangat sadar bahwa peluang hidup mereka saat dipisahkan sebenarnya sangat kecil.
“Ternyata, Tuhan sangat baik sama kami. It’s a miracle,” kata Ani. Dia menyadari, sampai sekarang, pemisahan bayi kembar siam masih menjadi operasi yang berisiko tinggi. Terutama kembar dempet bagian kepala seperti dia.

Sebut saja kembar siam craniopagus asal Iran, Ladan dan Laleh Bijani, yang meninggal dunia karena kegagalan operasi pemisahan mereka di RS Raffles, Singapura, pada 8 Juli 2003. Padahal, saat operasi dilakukan, mereka sudah berusia 29 tahun.

Secara terpisah, Padmosantjojo menjelaskan, berdasar data yang dimilikinya, baru Ana-Ani satu-satunya kembar dempet kepala yang sukses dipisahkan, hidup sampai dewasa dan kuliah. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga dunia.
Sekitar enam tahun lalu, Padmosantjojo mendapat kabar bahwa ada kembar dempet kepala yang juga sukses dipisahkan di Zimbabwe. Tim dokter di sana, ternyata, menggunakan teknik seperti saat Padmosantjojo memisahkan Ana-Ani. Caranya adalah membelah pembuluh darah (sinus sagitalis) di daerah otak si bayi kembar.

“Saya dengar karena membelahnya ragu-ragu, keduanya selamat. Tapi, ada cacat mental,” katanya.

Ketua Umum Yayasan Nakula-Sadewa “sebuah perhimpunan bagi orang-orang kembar di Indonesia” Seto Mulyadi mengatakan, di dunia ini memang baru Ana-Ani kembar dempet kepala yang sukses dipisahkan dan tumbuh sehat hingga dewasa. “Sampai sekarang, saya berpendapat mereka “termasuk Prof Padmosantjojo” sebagai harta kekayaan bangsa ini,” ujar Seto, yang juga ketua Komnas Anak. (pri/kum/jpnn)

This entry was posted in Nasional and tagged . Bookmark the permalink.