Letusan Sinabung Mirip Krakatau

Pengungsi Kelaparan, Dua Meninggal

TANAH KARO-Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, memperlihatkan aktivitas vulkaniknya. Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung mirip dengan letusan Gunung Krakatau pada 127 tahun lalu.

“Gunung Sinabung termasuk gunung berapi tipe B. Artinya, masih aktif namun tidak dikenali letusannya sejak tahun 1600,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Penanganan Bencana dan Sosial, Andi Arief, kepada wartawan.

Kemiripan lain antara Gunung Sinabung dengan Gunung Krakatau, kebetulan meletus di bulan yang sama, Agustus, pada tanggal 26, 27, dan 28 tahun 1883.

Letusan mahadahsyat Gunung Krakatau di Selat Sunda itu menelan korban 36.000 jiwa. Suara Krakatau terdengar sampai Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Ini merupakan letusan gunung terbesar sejak populasi manusia sudah cukup padat.

“Kalau kita lihat beberapa sumber bacaan terjadinya letusan krakatau 1883 hampir mirip, dimana air laut masuk kawah,” kata dia. Ada pula kemiripan kedua yakni, dinding-dinding mulai runtuh.

“Lalu (uap air) mendidih bertekanan tingi dan meletup meruntuhkan dinding Krakatau. Mudah-mudahanan ini hanya mirip,” ujar Andi.

Kendati demikian, hingga kini Gunung Sinabung masih hanya mengeluarkan asap dari kawah saja. Belum ada aktivitas gunung akan meletus. Gunung Sinabung ini masih memiliki manifestasi asap dari uap air maupun belerang. Karena tidak membahayakan, gunung itu tidak dipantau sebelumnya.

Uap air itu diduga berasal dari air yang masuk ke kawah gunung. Kemudian, karena intensitas hujan yang tinggi, air masuk kawah Sinabung dan berubah menjadi uap bertekanan tinggi. Lalu terjadi letusan freatik atau uap air yang diikuti abu vulkanik.

Menjadi Tipe A
Aktivitas Gunung Sinabung yang menggeliat, meletus dan menyemburkan lava panas pukul 00.10 WIB, Minggu (29/9) meningkatkan status Sinabung menjadi tipe A dan awas atau level IV.
“Sejak ditetapkan sebagai tipe A, kita  akan melakukan pantauan 24 jam.,” ungkap Kepala PVMBG Badan Geologi, Dr Surono, kepada wartawan di posko sementara pengawasan.

Lokasi pemantaua di desa Sukanalu, Kecamatan Naman Teran, sekitar 4 kilometer dari lokasi kelurnya magma. PVMBG juga merekomendasikan agar warga yang bermukim dan beraktivitas di radius 6 Km dari kawah aktif diungsikan ke lokasi aman.
“Ada efek sekunder dari letusan Gunung Sinabung ini, yaitu banjir lahar yang sewaktu-waktu bisa muncul pada sejumlah sungai yang mempunyai hulu dari kawasan tersebut,” ucap Surono.

Menurut Surono, kemungkinan munculnya ancaman banjir lahar pada sejumlah sungai yang memiliki hulu ke Gunung Sinabung, semakin menguat di saat curah hujan tinggi seperti saat ini.

Banjir lahar pada sungai tidak akan memunculkan ancaman yang cukup serius, apabila DAS (daerah aliran sungai) tersebut tidak dihuni manusia. “Jadi, yang perlu waspada bukan sungainya, melainkan orang yang tinggal di DAS,” ungkap Surono.
Kepala Dinas Energi dan Pertambangan Sumut, Untungta Kaban mengatakan hal yang sama. “Apapun makluk hidup yang berada dalam radius 6 km dari kawah gunung, harus disterilkan. Dan hal ini sudah dilakukan kepada seluruh warga dari 12 desa di empat kecamatan,” kata Kaban.

Surono belum bisa memastikan kemungkinan munculnya ledakan lebih besar. “Siapa pun tidak dapat mengetahui kapan letusan terjadi. Alat yang dipasang ini (seismograf), hanya mendeteksi geteran. Ibarat mendung, sipa yang dapat memastikan akan turun hujan atau tidak,” ungkapnya.

Terkait hubungan dengan Gunung  Sibayak yang letaknya tidak jauh dari Gunung Sinabung, pihaknya akan berkoordinasi lebih lanjut dengan Pemkab Karo. “Walau masih berstatus tipe B, Gunung Sibayak perlu pengawasan. Kita tidak ingin terulang lagi kejutan seperti Sinabung,”  katanya.
———

Ketua Ikatan Ahli Geologi Sumut, Ir Jonathan Tarigan, memastikan status Gunung Sinabung dalam kondisi aman. “Secara ilmu geologi yang pernah saya pelajari, serta  keberadaan Sinabung yang selama ini saya ketahui, kondisi saat ini dipastikan sudah aman. Sinabung tidak akan pernah mengeluarkan letusan dasyat. Dapur magmanya dangkal. Dibutuhkan  kurun waktu 10 hingga 20 tahun mendatang untuk mengulang kejadian serupa,” ujarnya kepada wartawan koran ini di Berastagi, tadi malam pukul 22.00 WIB.

Menurutnya, jika magma sudah  keluar, maka energi di dapur magma akan berkurang. Sehingga secara ilmu geologi, dapat dipastikan tidak akan berbahaya.
———

Sebelumnya, pernyataan  Kepala PVMBG Badan Geologi Dr Surono soal Sinabung, dinilai kontroversial. Sempat dinyatakan aman, Sabtu (28/8), akhirnya meletud Minggu (29/8) dini hari. Hujan debu sulfur dari gunung tertinggi di Sumut itu bahkan sampai ke kota Berastagi.

Letusan yang diawali suara menyerupai bunyi guntur itu terjadi di saat masyarakat baru saja sedikit tenang dengan pernyataan kontroversial Bupati Karo, Daulat Daniel Sinulingga saat melaksanakan wawancara langsung melalui salah satu stasiun televisi swasta di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Jalan Veteran Kabanjahe, Sabtu malam.

Seperti diutarkan Ikuten Sitepu, warga Desa Suka Nalu Teran, pasca kehadiran letusan pertama dengan api menyala nyala di langit dan menyisakan jilatan lainnya di punggung gunung, masyarakat desanya dan desa tetangga lain spontan histeris bercampur panik dan ketakutan. Masing–masing warga bergerak cepat bersama penduduk lain menuju Kabanjahe dan Berastagi.

Munculnya arus pengungsian ini berlangsung setelah letusan ke dua terjadi lagi di puncak Gunung Sinabung, malah kemudian berkembang pada terbentuknya lokasi pusat penampungan pengungsi di Desa Singgamanik Munthe serta Desa Perbesi dan Kelurahan Tiga Binanga, Kecamatan Tiga Binanga. Mereka baik di Kabanjahe, Berastagi, Munthe dan Tiga Binanga hampir rata mengisi jambur jambur Desa dan gedung gedung milik pemerintah daerah.

Pengungsi Kelaparan

Sedikitnya 12.000 warga dari 12 desa di empat kecamatan Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Minggu (29/8), sudah dievakuasi dari sekitar Gunung Sinabung di Kecamatan Naman Terang. Sebagian besar warga yang diungsikan ini mulai terserang Inspeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), sedangkan yang lainnya terserang diare.

Hingga Minggu siang, gelombang pengungsi terus berlangsung. Sementara 12.000 warga yang sudah lebih dulu dievakuasi, saat ini ditempatkan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karo di Kabanjahe, dan Jamburta Ras di Berastagi.

Sekretaris Daerah Provinsi Sumut RE Nainggolan usai memimpin rapat persiapan tanggap darurat untuk bencana letusan Gunung Sinabung di Mess Pemprov Sumut Jalan T Daud, kemarin menjelaskan, penanggulangan dampak letusan.

“Karena ancaman itu, maka kita sudah mempersiapkan obat-obatan, khususnya ISPA, diare dan lainnya. Di samping itu, seluruh kabupaten dan kota juga kita imbau untuk mendirikan posko kesehatan di daerah bencana,” ucap Nainggolan.

Selain itu, pendirian dapur umum, pengadaan fasiltas air bersih, toilet umum, mobil pemadam kebakaran, ambulance, truk, dan kehadiran aparat TNI dan Polri untuk pengamanan juga sangat dibutuhkan.

Bantuan yang sudah disalurkan antara lain beras  50 ton, sardencis 14.000 kaleng, air mineral satu mobil tangki, kain sarung dan selimut delapan bal, masker 20.000 unit, dan 100 unit tenda.

“Juga didirikan Media Center di Pendopo Bupati Karo, Posko Induk di Lantai VIII Kantor Gubsu, Posko Taktis yang ditempatkan pada radius 6 km dari Gunung Sinabung, dan sejumlah posko pengendali,” kata Nainggolan.

Meski bantuan sudah disalurkan, kemarin siang, ratusan pengungsi berunjuk rasa karena kelaparan. Aksi dilakukan dengan memblokade jalan di depan rumah dinas Bupati Karo itu kontan mengundang sorotan media lokal dan nasional. Pemerintah Karo akhirnya memberikan jatah makan pengungsi.

Sementara itu, N Surbakti (54) meninggal dalam perjalanan dari Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Merdeka menuju pengungsian ke Kecamatan Berastagi, Minggu (29/8) dinihari.

“Kami naik sepeda motor, kemudian saat melintas di Peceren, dia sesak nafas dan berhenti. Kami cari rumah sakit tidak ada. Dalam perjalanan menuju Brastagi, meninggal dunia,” kata Susila Ernawati, suami Surbakti data ditemui di Brastagi.
Jenazah korban saat ini disemayamkan di RS Amanda, Jalan Jamim Ginting, Brastagi. Keluarga masih belum menentukan kapan pemakaman.

Menyusul bencana ledakan gunung Sinabung di Tanah Karo, Telkomsel menginformasikan bahwa, lebih dari 3600 BTS yang tersebar di Sumut dan Aceh, sebanyak 133 BTS mengcover daerah Brastagi, Kabanjahe, Sidikalang, Kutacane dan Blang Kejeren tetap berjalan normal. “Secara umum coverage layanan masih berfungsi dengan baik,” ujar VP Area Telkomsel Sumatera Mirza Budiwan melalui siaran persnya yang diterima koran ini kamarin.

Dikatakannya, core network Telkomsel melonjak hingga 30 persen. Telkomsel, juga membuka posko pelayanan di pusat pengungsian warga di Kabanjahe, di mana masyarakat bisa menikmati layanan telepon umum gratis dan pelayanan pelanggan lainnya seperti air bersih, mie instan dan makanan ringan. (wan/ari)

This entry was posted in Berita Foto, Daerah and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Letusan Sinabung Mirip Krakatau

  1. noraz disambi says:

    bwt bpak,mbk mas n kponakanku yg da dsana smoga sllu dlm lndungan Alloh..
    bwt bpk sutji,mbk siti nur hasanah,mas luki n dek hera,, yg tggal disedampah
    smoga dlm lndungn Alloh
    amien..

  2. wantri stg says:

    mohon kpd pemerintah agar lebih mmprhtkn para korban dan pengungsi..thx.

  3. rachel says:

    waduhhhhh mnurut saya kasihan bngt dehh …. aQ hanya BIsa doA aja ya

Comments are closed.