Pelaksanaan Program Remedial (Perbaikan)

Pendekatan pembelajaran yang paling cocok untuk melaksanakan pendidikan berbasis kompetensi antara lain adalah Pembelajaran Tuntas (mastery learning), belajar melalui kegiatan yang nyata (learning by doing), dan pembelajaran yang memperhatikan kemampuan individu (individualized learning).

Dalam Pembelajaran Tuntas prinsipnya semua anak memiliki kemampuan yang sama dan bisa belajar apa saja, hanya waktu yang diperlukan untuk mencapai kemampuan tertentu berbeda. Jika setiap siswa diberikan waktu sesuai dengan yang diperlukan, maka besar kemungkinan siswa akan mencapai tingkat penguasaan Kompetensi Dasar (KD).
Pokoknya setiap siswa memiliki hak untuk mencapai ketuntasan dalam belajar.

Selanjutnya seorang siswa yang mempelajari unit satuan pelajaran tertentu dapat berpindah ke unit satuan yang lain, jika siswa yang bersangkutan mencapai sekurang-kurangnya 75% dari KD yang ideal. Namun, guru dan sekolah dapat menetapkan nilai ketuntasan minimal per mata pelajaran, misalnya Matemtika 60%, Pendidikan Agama 70%, ditetapkan berdasarkan tingkat kesulitan dan kedalaman kompetensi yang harus dicapai setiap siswa (setiap mata pelajaran dapat berbeda batas Kriteria Ketuntasan Minimalnya yang di  Rapor tertulis KKM ).

Siswa yang belum tuntas harus mengikuti Program Remedial, sedang yang dinyatakan tuntas dapat diberikan Program Pengayaan atau Program Percepatan. Namun yang dibahas di sini hanyalah siswa yang belum tuntas saja. Program Remedial (perbaikan) dimaksudkan adalah untuk memberikan bantuan pertolongan khusus kepada siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan penguasaan pada Ulangan Harian (Ulhar) atau Ulangan Blok yang ditempuh pertama kali.  Maksudnya siswa tersebut belum mencapai angka KKM yang ditetapkan oleh sekolah seperti yang disebutkan di atas.

MASALAH

Di lain pihak, untuk melakukan Program Remedial itu ternyata masih banyak guru yang enggan melaksanakannya. Mungkin keengganan ini disebabkan belum dipahaminya secara memadai bagaimana melaksanakan Program Remedial itu sendiri. Seorang guru yang tidak melaksanakan Program Remedial dimaksud dapat dinilai belum melaksanakan kewajibannya secara maksimal sebagai guru profesional. Hal ini menyebabkan hak-hak siswa yang belum tuntas itu jadi terabaikan. Berarti juga membiarkan prestasi siswanya dalam keadaan tidak memenuhi kompetensi.

Hal ini dapat berakibat kurangnya kepercayaan orangtua terhadap sekolah. Untuk itu mau tidak mau para guru harus melaksanakan remedial terhadap siswanya. Guru yang tidak melaksanakan Program Remedial dapat dikategorikan sebagai melanggar hak asasi anak. Di sinilah letak pentingnya melaksanakan Program Remedial itu.

Tujuan dan Manfaat

Sejalan dengan itu agar teman sejawat guru termotivasi dan sekaligus mendapat informasi masukan tambahan dari apa yang telah diketahui tentang Program Remedial, maka dipaparkanlah di sini bagaimana cara melaksanakan Program Remedial itu. sehingga memiliki kesamaan persepsi. Dengan kesamaan persepsi itu dapat dilakukan diskusi sewaktu-waktu. Buah diskusi itu diharapkan Program Remedial dapat dilaksanakan lebih berhasil. Lebih dari itu sekolah secara keseluruhan merasakan manfaatnya dimana sekolah tidak memiliki beban terhadap siswa-siswa yang belum memenuhi kompetensi. (bersambung)

Pelaksanaan Program Remedial (Perbaikan) (2)
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan Program Remedial, yaitu: tingkat kesulitan yang dihadapi siswa, jumlah siswa dan tempat, cara pelaksanaan, materi dan waktu pelaksanaan, metode dan media serta ringkasan Program Remedial .
Tingkat kesulitan yang dihadapi siswa: Secara umum tingkat kesulitan belajar yang dialami siswa dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu: tingkat kesulitan ringan, tingkat kesulitan sedang, dan tingkat kesulitan berat.
Tingkat kesulitan ringan
Siswa yang mengalami kesulitan pada tingkat ringan biasanya hanya disebabkan oleh karena kurangnya perhatian siswa pada saat diberikan penjelasan guru. Contoh, ketika guru sedang memberikan penjelasan mengenai suatu konsep, siswa yang bersangkutan sedang berbicara sendiri dengan temannya. Oleh karena itu, bagi siswa yang mengalami kesulitan pada tingkatan ringan, langkah pemecahannya tidak terlalu rumit. Misalnya cukup dengan diterangkan kembali secara sederhana konsep yang kurang dimengerti tersebut.
Tingkat kesulitan sedang
Siswa yang mengalami kesulitan pada tingkat sedang biasanya disebabkan oleh masalah serius. Contoh, karena kurangnya perhatian siswa pada mata pelajaran tertentu gara-gara sedang menghadapi masalah keluarga, murung atau kurang konsentrasi. Untuk siswa yang mengalami kesulitan pada tingkatan sedang ini, mungkin tidak cukup hanya diselesaikan oleh guru mata pelajaran, namun mungkin perlu adanya pendekatan khusus yang melibatkan guru BK (Bimbingan Konseling) atau pihak-pihak terkait lainnya.
Tingkat kesulitan berat
Siswa yang tergolong mengalami kesulitan pada tingkat berat misalnya jika ada siswa yang terkena musibah atau kecelakaan, sehingga menyebabkan siswa mengalami gegar otak atau cacat fisik. Penanganan siswa yang mengalami kesulitan berat ini harus sangat hati-hati dan dilakukan secara terus menerus oleh berbagai komponen terkait, seperti guru mata pelajaran, BK, wali kelas, atau personil tertentu, agar rasa percaya dirinya dapat dipulihkan kembali.
Jumlah siswa dan tempat
Adapun tempat untuk pelaksanaan kegiatan remedial, guru harus pandai-pandai memilih tempat yang tepat. Mungkin kegiatan tersebut dilaksanakan di kelas, di perpustakaan, di laboratorium, di taman, di ruang BK, di rumah dan sebagainya. Masing-masing tempat yang dipilih hendaknya mempertimbangkan ketersediaan alat dan sarana penunjang lainnya.
Cara pelaksanaan
Masalah pertama yang akan timbul dalam pelaksanaan remedial adalah ‘bagaimana guru menangani siswa-siswa yang lamban atau mengalami kesulitan dalam menguasai KD tertentu’.
Ada beberapa model/cara yang dapat ditempuh untuk pelaksanaan kegiatan remedial, yaitu:
Jika sebagian besar siswa belum dapat mencapai ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan dalam pencapaian KD tertentu, maka guru dapat melakukan kegiatan remedial dengan cara menjelaskan kembali secara klasikal KD yang bersangkutan, dengan menggunakan strategi yang lebih disederhanakan.
Bentuk penyederhanaan dapat dilakukan guru antara lain melalui: Penyederhanaan isi / materi pembelajaran untuk KD tertentu. Penyederhanaan cara penyajian (misalnya: menggunakan gambar, model, skema, grafik, memberikan rangkuman yang sederhana, dan lain-lain). Penyederhanaan soal/ pertanyaan yang diberikan. Pemberian bimbingan secara khusus dan perorangan bagi siswa yang belum atau mengalami kesulitan dalam penguasaan KD tertentu. Cara ini merupakan cara yang mudah dan sederhana untuk dilakukan karena merupakan implikasi dari peran guru sebagai tutor.
Pemberian tugas-tugas atau perlakuan (treatment) secara khusus, yang sifatnya penyederhanaan dari pelaksanaan pembelajaran reguler.
Bentuk penyederhanaan dapat dilakukan guru  antara lain melalui penyederhanaan isi / materi pembelajaran, cara penyajian, maupun soal, pertanyaan yang diberikan sebagaimana telah disebut pada butir a diatas.
Guru dapat memanfaatkan modul pembelajaran “tutor sejawat” (pecr tutor), di mana siswa-siswa yang telah mencapai ketuntasan dapat diminta menjadi tutor bagi teman sekelasnya yang belum mencapai ketuntasan, dengan memanfaatkan menggunakan bahan-bahan yang telah disediakan oleh guru.
Materi dan waktu pelaksanaan
Materi untuk Program Remedial diberikan hanya pada KD yang belum dikuasai, yaitu siswa yang belum mencapai skor 75 atau yang belum mencapai KKM.
Ada beberapa alternatif waktu untuk pelaksanaan Program Remedial antara lain: Setelah mengikuti Ulhar terhadap KD tertentu. Setelah mengikuti Ulangan Blok atas sejumlah KD dalam satu kesatuan. Setelah mengikuti Ulhar atau Ulangan Blok terakhir. Khusus untuk remedi terakhir ini hanya diberlakukan untuk KD atau blok terakhir dari KD atau blok-blok yang ada pada semester tertentu.

Sampai berapa kalikah remedi dianggap layak untuk dilakukan?

Setelah mengikuti Ulhar, seorang siswa dapat mengikuti 2 (dua) kali remedial (remedi pertama dan remedi kedua). Jika pada remedi pertama seorang siswa masih juga gagal mencapai kompetensi, siswa dapat mengikuti remedi yang kedua. Namun jika pada remedi kedua siswa belum juga mencapai ketuntasan (skor 75 atau skor yang ditetapkan), maka kegiatan remedi tidak perlu diteruskan, karena kemungkinan potensi siswa untuk bidang tertentu memang hanya sebatas yang dapat dicapai pada remedi kedua.

Siswa semacam ini perlu dicatat oleh guru dan dilaporkan pada profil hasil belajarnya. Catatan-catatan siswa semacam ini kiranya akan bermanfaat untuk menentukan bakat siswa selanjutnya.

Metode dan media
Pemilihan/penentuan metode dan media dalam melaksanakan Program Remedial, perlu memperhatikan hal-hal berikut ini.

Guru dapat memilih satu atau kombinasi di antaranya, apakah melalui pembelajaran individual, pembelajaran sejawat, kerja kelompok, atau tutorial. Yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan program remedial adalah, apapun strategi yang dipilih, termasuk metode dan media, sifatnya adalah penyederhanaan dari pembelajaran reguler. Oleh karena itu baik materi, metode, media, maupun tesnya harus merupakan penyederhanaan dari pembelajaran regulernya. Dalam kaitan dengan banyaknya jumlah siswa pada setiap kelas (+ 40 orang), apalagi kalau seorang guru mengajar di sejumlah kelas, maka mungkin sekali jumlah peserta program remedial, akan banyak sekali. Untuk itu guru dapat mengimplementasikan strategi pembelajaran tuntas ini dengan memperhatikan asumsi-asumsi dasar berikut ini:

Siswa yang paling memerlukan bantuan/bimbingan serius adalah mereka-mereka yang karena sesuatu hal tidak dapat mencapai ketuntasan (nilai 75), tentu dengan berbagai kategori, ada yang berat, sedang dan ringan. Jika pembelajaran reguler dilakukan dengan benar, maka dapat diasumsikan, siswa yang bermasalah tidak akan melebihi 16% dari jumlah siswa dalam kelas. Jika dalam satu kelas berisi 40 orang siswa, maka dimungkinkan ada 6 siswa yang bermasalah. Dari 6 siswa yang bermasalah tersebut, mungkin hanya 2 orang saja yang mengalami kesulitan berat, sedang 4 orang lainnya termasuk kesulitan sedang dan ringan.

Dengan demikian, dalam kelas yang normal, mungkin guru cukup berkonsentrasi pada 6 orang yang bermasalah, atau harus berkonsentrasi pada 2 orang yang mengalami kesulitan berat. Sementara 34 siswa lainnya yang termasuk kategori normal dan (mungkin) unggul, dengan perhatian yang wajar saja mereka sudah mampu menuntaskan kompetensi yang dituntut.

Ringkasan Program Remedial.
Setelah mempelajari dua atau tiga Standar Kompetensi (SK), siswa diberi Ulangan Blok. Bila tiap SK ada tiga KD, maka tiap Ulangan Blok ada sekitar 9 KD.

Secara berurutan kegiatan guru dan siswa adalah sebagai berikut: Siswa melakukan pembelajaran untuk beberapa KD. Guru memberi tugas Pekerjaan Rumah (PR) dan Kuis. Hasil PR dan Kuis dianalisis untuk merancang Program Remedial. Siswa mempelajari KD berikutnya. Guru memberi tugas PR dan Kuis. Setelah belajar sejumlah KD, yaitu sekitar 4 minggu, guru mengadakan Ulangan Harian. Guru menilai Ulangan Harian, dan menganalisis hasil Ulangan Harian. Siswa yang belum mencapai semua KD, mengikuti Program Remedial, yaitu belajar lagi dan kemudian mengikuti Ulangan Harian. Setelah siswa mempelajari sejumlah KD yaitu sekitar 6 minggu, diberi Ulangan Blok. Guru menilai Ulangan Blok dan menganalisis hasil Ulangan Blok untuk menentukan Program Remedial. Demikian seterusnya: belajar, siswa diberi tugas, diberi Ulangan Harian, dan diberi Ulangan Blok.

PENUTUP
Kesimpulan dari apa yang dipaparkan di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa dalam melaksanakan Program Remedial perlu diperhatikan beberapa faktor penting berupa: tingkat kesulitan yang dihadapi siswa, jumlah siswa dan tempat, cara pelaksanaan, materi dan waktu pelaksanaan, metode dan media serta ringkasan Program Remedial. Remedial atau perbaikan dimaksudkan harus mampu memberikan bantuan hingga mencapai tingkat penguasaan yang ideal .

SARAN
Kepada para teman sejawat guru disarankan agar benar-benar melaksanakan Program Remedial ini dengan penuh ketabahan dan kerajinan. Kepala Sekolah hendaknya menata pelaksanaan Program Remedial bagi semua guru, berupa tempat, waktu daan fasilitas administrasi, ketersediaan alat dan sarana penunjang lainnya untuk guru. (habis)

Oleh :Surinta Nur
Guru SMA Negeri-1
Tanjung Morawa

Oleh :Surinta Nur Guru SMA Negeri-1
Tanjung Morawa

This entry was posted in Pendidikan and tagged . Bookmark the permalink.