Ketika Tato Tak Lagi Brutal

Seni melukis tubuh yang karib disapa tato kini tak lagi mencerminkan kriminalitas. Desain manis yang berseni tinggi, bahkan telah menjadikan tato sebagai salah satu pemanis fesyen.

Seni tingkat tinggi yang belakangan jadi ciri khas tato, pelan-pelan mulai bisa diserap oleh generasi muda. Meskipun anggapan negatif tampaknya tak bisa ditutupi hingga saat ini.

“Aku pasang tato dengan pemikiran matang. Dan aku rasa tidak ada yang salah. Toh ini seni,” ungkap Kiki salah seorang mahasiswa swasta Kota Medan kemarin (22/10).

Hal senada diungkapkan Kent, salah seorang pemilik gerai tato. Menurutnya, dulu tato memang identik dengan kriminal. Namun apabila konsep yang dijalankan baik, tato tak lagi layak dijadikan simbol kebrutalan.
“Hal-hal seperti medical, fungsi, dan estetiknya juga harus diperhatikan. Selain itu saya rasa sekarang tidak sulit yah menjelaskan kepada masyarakat luas kalau tato bukan hal yang tabu lagi,” katanya.

Bagi kent, tato itu adalah simbol yang berfungsi untuk filsafat menutupi kelemahan tubuh seseorang (cacat sehabis operasi misalnya). Dan untuk fasyen tentunya. “ Tato itu seni kok. Dengan tato kita bisa berkreasi melukiskan keindahan,” ungkapnya.

Kent pun mengakui bahwa tato justru dijadikan simbol untuk berfilsafat atau mengenang peristiwa tertentu. Misalnya jika ada orang yang ingin ditato dengan bentuk hati, maka orang tersebut lebih memaknai tato tersebut sebagai wujud dari rasa cintanya kepada pasangannya. “Macam alasan untuk mentato. Tapi sejauh ini saya tak menemukan tato sebagai alat gagah-gagahan,” katanya.

Beberapa kawula muda Kota Medan pun tampaknya sependapat dengan hal itu. “Saya kira sah-sah saja. Karena orang yang tatoan badannya belum tentu hatinya jahat. Tidak fair menilai orang dari fisiknya,” kata Alvin warga Medan Perjuangan yang punya tato di lengannya. (ful/bbs)

Pilih Tato yang Temporer

Seperti diketahui, tato banyak jenisnya. Yang paling tenar adalah tato permanen dan tato temporer. Bagi yang belum punya keberanian kuat untuk mentato badan selamanya, maka tato temporer bisa dipilih.

Tren ‘Temporary tatto’ atau tato sementara bahkan mencuat tahun ini. Seni melukis tubuh ini bahkan menjadi aksesori fasyen yang digandrungi para wanita.

Bagi wanita yang tidak tahan dengan jarum untuk membuat tato, tato temporari ini bisa jadi pilihan. Berbagai motif unik yang bisa mempercantik penampilan.

Sejumlah label fasyen ternama dunia juga ikut berpartisipasi memamerkan tren aksesori ini di peragaan busana. Hal itu pernah dilakukan Chanel awal tahun 2010 lalu.

Berikut sejumlah koleksi tato tempores favoritnya Chanel.

Pertama jenis Rodarte. Motif ini merupakan model tato gaya rodarte yang cocok untuk dikenakan pada musim panas. Motif tato ini bisa dilukiskan mulai dari lengan hingga jari tangan.

Kemudian da Jean Paul Gaultier. Model ini memberikan kesan berbeda. Tato yang dilukis tidak hanya ditempatkan pada lengan tangan namun juga di dada dan wajah.

Lantas ada pula Marchesa. Bagi mereka yang tidak memiliki kesabaran untuk melukis tato, Marchesa baru menciptakan tato tanpa harus dilukis. Kaos kaki panjang motif tato ala Marchesa bisa membuat penampilan lebih stylish dan memikat.

Bahkan yang tak kalah tenar adalah Tato Henna. Tato henna atau mehndi adalah pilihan yang cerdas untuk membuat temporary body art. Tato temporer henna sangat populer sejak zaman kuno. Pasta ini biasanya ditemukan dalam bentuk contong sehingga desainnya dapat dilukis dengan mudah di atas kulit. Tato henna sangat aman diaplikasikan ke kulit. Sekali tato ini mengering, bersihkan saja dengan air. Henna akan meninggalkan warna oranye di atas kulit sesuai dengan pola yang dilukis.

“Yang henna aku paling suka. Karena katanya tetap bisa dibawa beribadah bagi yang muslim. Lagian jenis ini terjangkau,” kata Yeyen mahasiswa Universitas swasta di Medan. (ful/bbs)

Sekarang Zamannya Tato 3 Dimensi

Perkembangan seni melukis tubuh yang satu ini memang seolah tak ada matinya. Kini perkembangan kualitas gambar yang lebih hidup menjadi tren. Adalah tato dengan model tiga dimensi, yang kini pelan-pelan mulai dilirik para penggemar tato. Khususnya di Kota Medan.

Siong, pemilik Siong Bali Tattoo Studio, yang buka praktek di Jalan Jemadi menuturkan hal itu Jumat (22/10) lalu. Saat dihubungi, Siong tak menyangkal kalau tato tiga dimensi mulai diminati. Meskipun hal ini terbilang terlambat.
“Tato tiga dimensi sudah lama dikenalkan di Medan. Tapi para costumernya aja yang masih asing,” katanya.
Yup, sejauh ini Siong menilai para penggemar tato di kota ini masih lebih senang dengan yang tradisional alias tato biasa. “Banyak juga yang sudah mulai suka,” katanya lagi.

Siong yang juga pentato ini mengatakan, seni yang dibutuhkan untuk membuat gambar di tubuh berkualitas tiga dimensi, membutuhkan akurasi tersendiri.

Pembuatan tato tiga dimensi dikatakannya benar-benar menuntut skill sang pentato. Wajar kalau harga yang ditawarkan relatif mahal.

“Tapi untuk ukuran kecil saya bandrol cukup murah kok. Hanya Rp250 ribu. Kalau ukuran besar, tergantung ukurannya,” katanya sembari menjelaskan harga tato berwarna dan tidak dibandrol dengan harga sama.
Siong yang sudah 8 tahun lebih menekuni dunia tato mentato ini memulai usahanya berdasarkan hobi. Dengan demikian, proses pentatoan dikatakannya lebih bisa dihayati. “Mulanya hobi. Lalu saya belajar, baik otodidak maupun melihat orang lain,” pungkasnya. (ful)

Fungsi Tato pada Suku-Suku Dunia

  • Etnis Maori di New Zealand: Suku ini merajah wajah dan bokong berbentuk spiral sebagai tanda keturunan yang baik.
  • Di Kepulauan Salomon: mereka mentato di wajah anak-anak perempuan sebagai ritual guna memulai tahapan baru dalam kehidupan mereka.
  • Di Sudan pada suku Nuer: Tato anak laki-laki sebagai symbol keberanian.
  • Suku Indian: melukis tubuh dan mengukir kulit mereka untuk menambah kecantikan atau menunjukkan status sosial tertentu
  • Bangsa Yunani kuno: Bagi mereka tato digunakan sebagai tanda pengenal para anggota dari badan intelijen alias mata-mata perang pada saat itu. Tato juga digunakan untuk komunikasi antara mata-mata. Tato juga jadi tanda pangkat.
  • Bangsa Romawi: Mereka memakai tato sebagai tanda bahwa seseorang itu berasal dari golongan budak, dan Tato juga dirajahi ke setiap tubuh para tahanannya.
  • Di Tiongkok: Budaya Tato terdapat pada beberapa etnis minoritasnya, yang telah diwarisi oleh nenek moyang mereka, seperti etnis Drung, Dai, dan Li, namun hanya para wanita yang berasal dari etnis Li dan Drung yang memilik kebiasaan mentato wajahnya. Demi menghindari terjadinya perkosaan, para wanita tersebut kemudian mentato wajah mereka untuk membuat mereka kelihatan kurang menarik di mata sang penculik.
  • Suku Mentawai di Indonesia: Seorang perempuan muda akan makin cantik bila memiliki banyak tato. Intinya perempuan ini akan dikagumi laki-laki bila memiliki banyak body painting.
  • Suku Dayak di Indonesia: Bagi mereka, seorang laki-laki yang ditato lengannya memiliki keberanian luar biasa, karena dianggap pernah memenggal kepala musuhnya.

Dari berbagai sumber

This entry was posted in Trend. Bookmark the permalink.