Sumut Susun Travel Pattern

MEDAN- Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Firmansyah Rahim menjelaskan, Travel Pattern harus melibatkan stakeholder pariwisata antara lain Asita, PHRI dan lainnya. “Karena mereka ini yang lebih mengetahui tentang wisatawan,” ujarnya pada acara workshop penyusunan Travel Pattern Tahap III, di Garuda Plaza Hotel (GPH), Jumat (26/11).

Dia berharap, Travel Pattern Sumatera Utara dijual di Jakarta. “Sebab tahun depan 20 propinsi juga menyusun Travel Pattern,” tegasnya.

Sementara, Ketua DPP Asita, Ben Sukma mengatakan, Travel Pattern dibentuk agar wisatawan tidak tertipu dengan paket yang dijual. “Jadi, nanti akan tertera paket-paket wisata lengkap dengan harganya sehingga memudahkan para wisatawan untuk mengetahui biaya yang harus dikeluarkan, dalam memilih paket wisatanya,” ujar dia.
Sedangkan Praktisi Pariwisata, Joe Nazrul SSos MAP mengatakan, Travel pattern sangat perlu dan menjadi pedoman untuk wisatawan dan pelaku wisata untuk menjual pariwisata Sumut. Oleh karena itu, dalam menyusun paket wisata yang menjadi agenda ketiga kalinya Travel Pattern, diharapkan semua yang terlibat mempelajari karateristik wisatawan dan daerah objek wisata. “Dengan memahami kedua karateristik itu, maka objek wisata yang ditawarkan dapat produktif dan Travel Pattern menjadi efesien,” katanya.

Dia menilai, menurunnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumut khususnya Medan karena para wisatawan menganggap pariwisata Kota Medan sangat menjenuhkan. “Bahkan, terkadang telinga kita panas mendengar wisatawan mengatakan pergi ke Medan nggak level (tren) lagi,” ujarnya. Kata dia, saat ini wisman mengalihkan kunjungan wisatanya ke Kamboja dan Vietnam. “Karena produk wisata Medan/Sumut sangat menjenuhkan. Makanya wisatawan mengalihkan kunjungannya. Padahal, Sumut daerah yang berpotensi namun tidak produktif,” pungkasnya. (uma)

This entry was posted in Weekend. Bookmark the permalink.