Para Wanita Pendamping Dakwah Suami

Menjadi istri ustad yang masih muda dan sedang naik daun butuh kesabaran ekstra. Seperti yang dialami para wanita ini.

jeffry-al-buchoriPADA Ramadan tahun ini Pipik Dian Irawati harus bersabar. Sebab, baru tahun ini sang suami, Ustad Jeffry Al Buchory, tak berada di rumah saat hari-hari pertama puasa, karena melaksanakan umrah. “Baru tahun ini, awal puasa tidak ada ustad,” kata Pipik ditemui Jawa Pos (grup Sumut Pos) di rumahnya di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, Rabu pekan lalu (19/8).
Uje, sapaan akrab Ustad Jeffry, bakal berada di Tanah Suci hingga 26 Agustus. Karena itu, Pipik pun harus melewati hari-hari pertama bulan suci bersama empat buah hatinya, hasil pernikahan dengan Uje pada 1999.
Saat Ramadan, Pipik dan Uje selalu berupaya memanfaatkan waktu untuk lebih dekat dengan keempat anaknya. Terutama mengajarkan aktivitas selama menjalani ibadah puasa. Itulah sebabnya, Uje selalu

mengosongkan jadwal di hari-hari pertama Ramadan, kecuali tahun ini. “Hari-hari pertama puasa ustad tidak terima job karena waktunya untuk keluarga, ngajak tarawih bersama,” terang perempuan 32 tahun itu.

Hari-hari pertama puasa memang menjadi waktu yang paling tepat bagi Uje untuk berkumpul dengan istri dan anak-anaknya. Di luar itu, ustad yang dikenal sebagai ustad gaul itu akan berkutat dengan aktivitas dakwah yang padat. Menurut Pipik, tahun ini suaminya bakal mengisi ceramah menjelang puasa bersama Unyil di salah satu stasiun televisi swasta. “Acaranya sudah direkam dulu,” katanya.

Selain itu, berbuka puasa diusahakan untuk bisa bersama. “Kalau ada jadwal buka puasa di luar, pasti ajak anak-anak di tempat ceramah, jadi bisa selalu bareng,” urai Pipik.

Sahur puasa kali ini, Uje juga di rumah. Menurut Pipik, suaminya memilih tidak menerima job di stasiun televisi karena dinilai lebih banyak humor dibanding taushiyahnya. “Karena dirasa kurang manfaat. Sekarang lebih banyak di masjid,” kata mantan model gadis sampul majalah Aneka itu.

Pipik mengaku, saat puasa tidak berbeda dengan hari-hari biasa. Dirinya yang lebih banyak bersama dengan anak-anak. Dua anaknya sudah duduk di bangku sekolah dasar. Yakni, Adiba Khanza Az-Zahra, 9, dan Moh. Abidzar Al Ghifari, 8. Dua lainnya masih tergolong balita, yaitu Ayla Azura, 2, dan Ataya Bilal Risqullah, 1.

“Pagi sampai malam saya yang banyak bareng dengan anak-anak, tapi ustad tetap komunikasi lewat telepon,” ungkap perempuan asal Semarang itu. “Kalau tidak ada jadwal (ceramah), ustad lebih banyak ke anak-anak,” sambungnya.
Pendidikan anak-anak memang menjadi perhatian Uje dan Pipik. Bahkan, Uje meminta kepada manajemen untuk mengosongkan jadwalnya saat Sabtu dan Minggu. Biasanya saat itu digunakan untuk mengajak anak-anak refreshing ke Bandung.

Anak-anak, lanjut dia, juga mulai diajar untuk peduli dengan sesama yang kurang beruntung. Misalnya, selalu bersedekah. Bahkan, saat hendak meminta dibelikan baju atau mainan baru, anak-anak Uje dan Pipik sudah sadar untuk memberikan mainan lama ke anak yatim piatu. “Mereka pilih dan kumpulkan sendiri mainannya. Jadi, boleh minta baru, tapi ada syaratnya,” jelasnya.
Menurut Pipik, anak-anaknya sudah memahami profesi Uje sebagai ustad yang banyak diidolakan kaum muda itu. Bahkan, saat Uje harus berceramah hingga ke luar kota, anak-anak juga tidak menanyakannya. “Malah pernah dijuluki Bang Toyib kayak di lagu-lagu,” kelakarnya.

Bagaimana penggemar Uje yang didominasi ibu-ibu muda dan remaja? Pipik mengaku wajar jika dirinya merasa cemburu. Namun, dia berusaha menempatkan diri sebagai istri seorang dai muda. “Suami saya masih muda, jadi wajar jika banyak audience-nya yang muda,” katanya.

Pipik tidak menampik merasa kesal jika ada penggemar suaminya yang berlebihan. Namun, kekesalan itu lebih didasari karena sosok Uje sebagai manusia biasa. “Takut kalau terlalu dipuja karena suami saya juga manusia biasa yang tidak sempurna meski mengena ceramahnya,” kata Pipik yang rutin mengikuti pengajian bersama ibu-ibu kompleks dan artis itu.

Saat Ramadan, Pipik tetap menyiapkan sendiri urusan dapur bersama pembantunya. Sesekali Uje menemani belanja ke supermarket jika ada waktu luang.

Bagaimana menu masakan? Pipik mengaku tidak ada yang diistimewakan dengan masakan saat berbuka. Menurut dia, Uje juga tidak banyak permintaan soal menu. “Asal jangan yang pedes karena ustad suka yang manis-manis. Dan, yang wajib ada, air zamzam dan kurma,” kata bungsu dari enam bersaudara itu.(fal/kum/jpnn)

 

Ya Dakwah, Ya Kelola Butik

Hj Siti Maemunah, Istri Ustad Yusuf Mansyur

yusuf mansyur Selain menjadi ibu rumah tangga, Hj Siti Maemunah mengelola butik di lantai 2 ITC, Kuningan, Jakarta. Nama butik itu YM Collection. “YM singkatan dari Yusuf dan nama saya, Maemunah,” kata Mumun -panggilan akrab Maemunah- kepada Jawa Pos (grup Sumut Pos). Wanita 24 tahun itu adalah istri Ustad Yusuf Mansur.
Gerai yang dibuka sejak Maret lalu itu selalu ramai pengunjung. Sebelum Ramadan, tiga hari sekali Mumun mengunjungi butiknya. Namun, karena sang suami meminta ibu empat anak itu mendampingi di pesantren, intensitas kunjungan ke toko jauh berkurang. “Ustad memang full di pondok (pesantren) selama Ramadan. Kami juga mengadakan open house bagi yang mau berbuka dan tarawih bersama. Silakan, siapa saja boleh berkunjung,” katanya.
Yusuf Mansyur mempunyai Pondok Pesantren Daarul Qur’an di kawasan Ketapang, Tangerang. Setiap malam selama bulan puasa dia memimpin salat tarawih bersama santri-santri dan masyarakat sekitar. ‘’Insya Allah, tiap malam menyelesaikan satu juz (dalam salat). Ustad memang tidak ke mana-mana selama Ramadan,’’ ujar ibu Wirdas Salamah Ulya, Qu­mii Rahmatul Qulub, Muhammad Kun Syafii, dan Muhammad Yusuf Al Hafiz itu.

Padahal, biasanya order pengajian Yusuf Mansyur mengalir deras. Sehari bisa tiga tempat majelis taklim yang mengundang lulusan IAIN itu untuk berdakwah. Ustad yang dikenal sebagai pakar ilmu sedekah itu juga mengisi acara-acara rutin di televisi. Misalnya, acara Damai Indonesiaku di TV One.
Kali ini Yusuf menjadi host acara Mukjizat Shodaqoh di Trans TV tiap hari menjelang azan magrib untuk wilayah DKI Jakarta. Tapi, syuting atau pengambilan gambarnya dilakukan jauh-jauh hari dan hanya di lingkungan Pondok Daarul Qur’an.
Butik YM Collection bermula dari hobi Mumun yang suka mendesain baju muslimah. ‘’Tidak belajar khusus, hanya hobi sejak kecil,’’ kata Mumun yang dinikahi Yusuf Mansyur pada bulan Ramadan tahun 1999 itu.

Kisah pernikahan Maemunah dan Yusuf Mansyur tergolong unik. Dalam berbagai kesempatan, Yusuf sering menceritakan kisahnya itu kepada jamaah dengan maksud agar diambil hikmahnya.

Mumun awalnya adalah anak yatim yang akan dibiayai sekolah oleh Yusuf. Mungkin sudah jodoh, berkat jasa seorang kepala sekolah SMP, tempat sekolah Mumun, Yusuf menjadi dekat dengan Mumun.

Akhirnya, setelah melalui proses taaruf sing­kat, pasangan itu menikah secara siri pada Ramadan tahun 1999 di kediaman guru Yusuf di bilangan Bogor, Jawa Barat. Setahun kemudian, tepatnya 9 September 2000, mereka meresmikan pernikahan di KUA Tangerang. (rdl/kum/jpnn)

 

Kata Orang, Kami Seperti Baru Pacaran

Wahyuniwati Al-Wali, 12 Tahun Dampingi Suami Berdakwah

Menjadi istri ustad ternyata cita-cita Wahyuniwati Al-Wali. Karena itu, ketika ditanya suka dukanya menjadi istri Ustad Arifin Ilham, dengan cepat dia mengatakan: tak ada. Ada tugas tambahan yang harus dilakoni Wahyuniwati. Yakni, mendampingi setiap langkah suami saat berdakwah. “Kapan pun saya diminta mendampingi Kak Arifin, pasti saya ikut,” katanya di kediamannya, Perumahan Mampang Indah, Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Arifin Ilham memang dai kondang. Dia kerap mengisi acara religius di sejumlah stasiun televisi. Terutama, saat Ramadan seperti ini. Dalam seminggu, Arifin memiliki tiga kali jadwal siar agama. Jadwal itu belum termasuk berbagai undangan ceramah ke luar kota maupun ke luar negeri. “Semua dikerjakan pagi hingga sore. Maksimal hingga asar. Itu merupakan komitmen kami,” ujarnya. Komitmen itu mereka cetuskan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Sebagai istri, Yuni (panggilan akrab Wahyuniwati) kerap dimintai saran oleh sang suami. Keputusan dalam rumah tangga hasil diskusi bersama. Selama 12 tahun mendampingi suami berdakwah, Yuni mengaku tidak pernah ada duka menyelimuti perjalanannya. Tak jarang mereka “berduet” berdakwah di panggung.

Untuk menjalin kepercayaan di antara mereka, setiap kali berdakwah, Arifin selalu menelepon dan mengirim pesan singkat kepada sang istri. “Kami selalu sms-an. Kata orang-orang, kami seperti orang yang baru pacaran,” ungkap perempuan asli Aceh itu.
Yuni menyadari, sebagai ustad, Arifin milik sejuta umat. Karena itu, ketika suami berdakwah, Yuni sadar betul bila sang suami adalah mi­lik publik. Tiap hari selalu ada masyarakat yang datang untuk berbagi persoalan. “Jika yang datang perempuan, biasanya Kak Arifin minta agar didampingi suami atau orang tuanya,” tutur perempuan kelahiran 18 Maret 1974 itu. Pasangan ini juga memiliki tip dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Sebagai milik umat, Arifin menyadari gelombang godaan bisa menerpa biduk rumah tangga mereka. Karena itu, tiap kali diajak foto bersama, Arifin tak pernah foto berdua dengan seorang perempuan.

Ketika tampil dalam berbagai acara televisi, Arifin juga tidak bersedia di-make up oleh perias wanita. “Karena memang bukan muhrim. Dan, semua stasiun televisi tahu hal itu. Jadi, yang make up pasti laki. Kalau nggak ada laki, saya sendiri yang make up,” ujar alumnus Universitas Nasional itu.

Yuni dan Arifin membiasakan anak-anaknya salat Subuh berjamaah di masjid. Karena itu, pukul 04.00 kedua anak laki-lakinya wajib bangun dan bersiap pergi ke masjid bersama rombongan ayah mereka. “Itu rutinitas wajib. Setelah dari masjid, anak-anak mengaji dan menghafal Al Quran. Entar ayahnya yang ngetes mereka,” ujarnya.

Sambil menunggu para buah hatinya mengaji, Yuni menyiapkan sarapan buat keluarga. Rutinitas sarapan mereka lakukan pukul 05.30.

Yuni mengatakan, mereka memiliki komitmen untuk memenuhi pengundang terlebih dahulu. “Kalau yang ngundang orang kampung duluan, ya kita utamakan, meskipun presiden juga mengundang. Kita tak boleh menyakiti hati umat,” ucapnya. Komitmen itulah yang mereka jaga.

Yuni mengaku bangga menjadi seorang istri ustad. Di benaknya tak pernah terlintas sedikit pun penyesalan untuk memilih sebagai ibu rumah tangga. “Sejak kecil saya sudah memiliki keinginan untuk menjadi istri ustad, karena saya memang dibesarkan dalam keluarga ulama. Karena itulah, saya memilih jadi ibu rumah tangga,” ungkapnya.

Pernikahan Yuni dan Arifin dilaksanakan pada 28 April 1998. Yuni menuturkan, hubungan mereka sebelum menikah tidak diawali dengan pacaran. Keduanya bahkan tidak pernah bertatap muka. “Sebelum menikah, kami hanya bertatap muka dua kali. Itu pun secara tidak sengaja,” kata ibu tiga anak itu. (kit/aga/kum/jpnn) 

This entry was posted in On Focus. Bookmark the permalink.

Comments are closed.