Tak Mampu Bayar Rp60 Juta, Pujilestari Bertahan di Rumah Sakit
10:28, 17/06/2009
Adelina S- Medan
Wahyuningsih Pujilestari (24) tergolek lemah di ruang Gelatik RSU Herna Medan. Dia tidak diijinkan pulang ke rumah karena orangtuanya tak mampu membayar biaya hingga hampir Rp60 juta.
Wahyuningsih Pujilestari (24) tergolek lemah di ruang Gelatik RSU Herna Medan. Tubuhnya semakin kurus. Kalau dulu berat badan Ayu adalah 46 kilogram, kini berat badannya 25 kilogram, jauh dari berat normal anak gadis seusainya.
Setidaknya sudah dua bulan, gadis ini dirawat di rumah sakit tersebut akibat penyakit TB Usus yang dideritanya ini. Gadis yang akrab disapa Ayu ini sebetulnya sudah sangat ingin pulang. Namun, kedua orangtuanya yang pensiunan tak mampu lagi membayar sisa biaya perobatan di rumah sakit. “Mak, ayolah kita pulang saja,” lirih Ayu kepada ibunya.
Menurut Wagimin Hendra, sang ayah, Ayu diijinkan pulang, bila mereka melunasi sisa biaya perobatan sebesar Rp59.972.034, dari total biaya sebesar Rp70.972.034 sejak dirawat inap di rumah sakit tersebut 8 April 2009. Sebetulnya, persediaan uang mereka saat membawa Ayu hanya Rp20 jutaan, termasuk membayar deposit saat pertama Ayu rawat inap di RS Herna sebesar Rp11 juta.
Hingga 5 Juni 2009 lalu, pihak rumah sakit menyatakan mereka masih memiliki utang Rp59.972.034.
“Bukannya apa-apa, kalau ada uang, pastilah kami bayar, namun uang kami sudah habis. Saat begini tak ada saudara dan kawan yang membantu, semua hilang ditelan bumi,” ungkap Wagimin, Selasa (16/6).
Kedua orangtua Ayu sudah membicarakan hal tersebut kepada pihak rumah sakit atas ketidaksanggupan mereka. Namun apa daya, sesuai aturan yang berlaku mereka harus bayar. Apalagi Ayu terdaftar sebagai pasien umum, bukan pasien Jamkesmas atau pun pasien Kartu Medan Sehat.
Mengapa harus ke Rumah Sakit Herna? Wagimin bilang, mereka sangat sayang anak mereka. Ketika sakit, mereka ingin agar anak mereka mendapat pelayanan terbaik. Karena itu sejak pertama masuk, mereka memasukkan Ayu ke ruang kelas VIP. Dalam pikiran mereka, uang senilai Rp20 juta cukup untuk membiayai perawatan dan biaya obat.
Menurut Wagimin, anaknya ini sakit usai diwisuda tiga bulan lalu dari LP3I. “Setelah mendapat gelar pendidikannya, dia malah jatuh sakit. Padahal sudah tiga perusahaan yang menyahuti surat lamarannya.
Dua bulan lalu, saat dibawa ke rumah sakit ini, Ayu masih bisa jalan. Sekarang jangankan untuk duduk membalikkan badannya pun dia tak mampu,” ucap Wagimin.
Warga Jalan Setia Budi No 9 Tebing Tinggi ini mengaku, pihak rumah sakit sudah memberikan alternatif untuk melunasi biaya perobatan Ayu.
“Selain biaya perawatan yang didiskon 25 persen, pihak rumah sakit bilang, kasih saja berapa jumlah uang yang bapak dan ibu punya. Nanti biar kami urus. Namun masalahnya kami kini tak punya apa-apa lagi, namun kalau kami terus ditahan di rumah sakit ini biaya akan terus bertambah,” ucap Wagimin.
Sesuai peraturan, RSU Herna menetapkan standar harga biaya rawat inap di rumah sakit tersebut. Dari informasi yang diterima wartawan koran ini, rumah sakit ini menetapkan tarif ruangan VIP Rp500 ribu per hari, dengan panjar Rp3 juta. Untuk kelas I, dikenakan biaya sebesar Rp400 ribu dengan panjar Rp2 Juta, untuk kelas II dikenakan biaya sebesar Rp200 ribu dengan panjar Rp1,5 juta, sedangkan kelas III dikenakan tarif Rp125 ribu dan panjarnya Rp1 juta.
“Ini memang salah kami. Karena sudah bodoh dan nekat memasukkan anak kami ke ruang VIP, padahal tak punya uang. Maafkan kami. Tapi sungguh kami sangat ingin pulang,” pungkas Wagimin.
Penderitaan Ayu mengundang simpati Abdul Hakim Siagian (Anggota Fraksi PAN DPRD Sumut), Ahmad Ikhyar Hasibuan (Anggota Fraksi Demokrat) serta Budi Mulia Bangun (Anggota Fraksi PDI Perjuangan). Budi bahkan langsung menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Sumut, dr Chandra Syafii guna mencari solusi.
Sebelumnya anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sumut Parlindungan Purba yang kini berada di Jakarta berjanji mengontak dinas kesehatan untuk menjembatani penyelesaian tagihan perawatan Ayu. (*)

