Penyadap Getah
Cerpen Oleh Joni Lis Efendi
Asap tipis mengepul dari bibir lelaki penyadap getah itu. Berulang lenguh datar napasnya membentur pagi Desember yang lembab. Sesekali dijauhkan batang berasap itu dari bibir hitamnya. Hari ini terasa kelat. Beberapa hari ini hujan rajin menyirami batang-batang balam yang tak putus sepanjang hari.
Hentakan kaki yang menghujam lantai kayu rumah panggung tak sedikit pun mengusik ketenangan abah yang sedap memainkan asap tembakau di paralon tenggorokannya. Gerimis masih membalut pagi. Bersepakat dengan kabut memburamkan diorama permulaan hari.
“Lekaslah Bah. Hari sudah tinggi,” kata emak sambil menenteng dua pisau penakik getah. Di tangan kirinya, bergelayut derigen 5 liter.
Abah menggulung sarungnya. Berjalan menuju dipan, meletakkan sarung bersama kopiahnya di atasnya. Lalu berganti baju dinas penakik getah, yang di punggungnya bertuliskan nama perusahaan karet.
“Romat, sudah bangun budak...

