DBL Indonesia

Sunday, 7 March 2010

Penyadap Getah

Cerpen Oleh Joni Lis Efendi

Asap tipis mengepul dari bibir lelaki penyadap getah itu. Berulang lenguh datar napasnya membentur pagi Desember yang lembab. Sesekali dijauhkan batang berasap itu dari bibir hitamnya. Hari ini terasa kelat. Beberapa hari ini hujan rajin menyirami batang-batang balam yang tak putus sepanjang hari.

Hentakan kaki yang menghujam lantai kayu rumah panggung tak sedikit pun mengusik ketenangan abah yang sedap memainkan asap tembakau di paralon tenggorokannya. Gerimis masih membalut pagi. Bersepakat dengan kabut memburamkan diorama permulaan hari.
“Lekaslah Bah. Hari sudah tinggi,” kata emak sambil menenteng dua pisau penakik getah. Di tangan kirinya, bergelayut derigen 5 liter.
Abah menggulung sarungnya. Berjalan menuju dipan, meletakkan sarung bersama kopiahnya di atasnya. Lalu berganti baju dinas penakik getah, yang di punggungnya bertuliskan nama perusahaan karet.
“Romat, sudah bangun budak...

Sunday, 7 March 2010

Para Pencerita yang Baik

A.S Laksana

JIKA Anda senang hati, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk ‘’melanjutkan’’ tulisan minggu lalu tentang menulis dan berpikir jernih. Saya sungguh tidak menduga bahwa tanggapan yang saya terima atas tulisan tersebut akan cukup banyak. Pak Suparto Brata, penulis yang saya kenal namanya sejak saya masih belajar menulis, telah membuat saya ‘’mabuk-mabuk lalat’’ karena ia sangat menyepakati apa yang saya sampaikan. Sampai hari ini kepala saya masih terasa berat menanggung kegembiraan.

Sebagai penulis, mau tidak mau saya harus memercayai kekuatan cerita, dalam arti bahwa cerita yang baik bisa melekat kuat di benak orang dalam waktu lama, atau bahkan selamanya. Dengan demikian, sebagai bentuk komunikasi, sebuah cerita akan dengan enak diterima ketimbang perintah yang terasa memaksa atau nasihat yang cenderung diabaikan orang. Sekiranya otak manusia menyukai perintah atau nasihat langsung, tentu urusan kita akan menjadi sangat...

Sunday, 28 February 2010

Manusia Bayangan

Cerpen Oleh Miftah Fadhli

Pergilah. Dengan siluet sayap-sayap. Meski aku tak mengharapkan. Selamatkan dirimu. Setelah itu temui aku lagi. Di pebukitan entah. Di bawah pohon burung-burung berbayang-bayang. Temui aku dari kanvas di jendela. Dari warna yang bergelombang di benakku.
Pergilah!

Manusia bersayap laba-laba itu melangkah ke arahku. Menyelimutiku dengan benang-benang transparannya. Aku tidak takut, kubilang. Aku semakin nyenyak. Kali ini, aku terbang ke negeri pohon bayangan. Negeri dengan daun-daun yang hitam. Berkelebat. Menyinggahi burung-burung pemakan bisa yang sedang berternak bulu domba. Mereka mengembik saat aku lewat. Aku tersentak. Mereka punya empat mata. Memerhatikanku dengan serius.

”Siapa kalian?” tanyaku.

Mereka berlari. Anak-anak gadis yang sedang menimba bidadari terkejut. Kemudian lari.
Pergilah. Pergilah.

Seakan semua orang menjauhiku. Semua hal tak ingin berada di dekatku.
Aku siuman....

Sunday, 28 February 2010

Gerakan Cinta Sastra

Bramma Aji Putra

DISADARI atau tidak, kehidupan saat ini kian tenggelam dengan pelbagai karut-marut persoalan yang seolah terus membenamkan negara hingga titik nadir. Kiranya tepat apabila solusi atas permasalahan yang kita hadapi saat ini, salah satunya, adalah melahirkan generasi yang memiliki kepekaan hati. Kepekaan hati amat diperlukan sebagai wujud simpati dan empati kepada sesama yang kini mulai mengalami kemerosotan.
Kepekaan semacam itu dapat dilatih kepada generasi muda melalui gerakan cinta sastra. Apa itu? Yakni, sebuah gerakan yang mendorong para generasi muda, baik pelajar maupun mahasiswa, untuk mencintai sastra yang pernah dilahirkan oleh anak bangsa ini. Sastra di sini dapat dimaknai cerita pendek (cerpen), novel, dan puisi serta ragam sastra lainnya yang pernah dibuat oleh sastrawan besar yang kita miliki. Atau dengan lain perkataan, sudah tinggi waktunya bagi kita untuk membumikan karya sastra. Membumikan gerakan cinta sastra.

Untuk...

Sunday, 21 February 2010

Di Mana Posisi Kolektor dan Kurator Medan?

Ramadhan Batubara

Masih ingat dengan Pak Tino Sidin? Ya, pelukis yang memiliki ciri khas topi baret hitam ini pada tahun 80-an begitu dikenal karena mengasuh acara ‘Gemar Menggambar’ di TVRI.  Dalam acara ini Pak Tino mengajar anak-anak bahwa menggambar itu mudah, dan merupakan perpaduan dari garis-garis lurus dan garis-garis lengkung. Pada akhir setiap acara beliau menunjukkan gambar-gambar yang dikirim oleh pemirsanya dan kemudian menambahkan komentar yang sangat dikenal, “Bagus!”

Kenangan pada Pak Tino ini seakan menyeruak seketika dibenak saya kala ingin menulis soal seni rupa di Medan. Ya, saya ingin menjadi Pak Tino – yang bisa mengatakan ‘bagus’ pada setiap gambar yang diterimanya. Pasalnya, saya bukanlah seorang kurator, pun bukan seorang praktisi seni rupa. Nah, jika saya bukan sosok yang tepat untuk memvonis sebuah karya bagus atau tidak, adalah sangat lancang jika saya berpendapat seni rupa Medan telah mati. Atas dasar ketidaktahuan...

Sunday, 21 February 2010

AS’ MUR

Oleh Cerpen Bono Emiry

Bung, dua hari ke depan aku menikah. Hadirlah. Bawa perbincangan kita pada malam-malam beku. Bawalah semua dalam kehadiranmu. Itu akan menjadi satu kado indah di hari bersejarah istimewa hidupku. Undangan ini mendadak, tapi aku yakin kau memiliki kuasa atas jadwal harian dan agenda kegiatan. Bukankah kau dibentuk oleh kebebasan?

Aku tunggu Sabtu ini di Hotel Garuda Medan.
Salam,
Trah Huma

Vick Mivtha tersenyum membaca surel yang dikirimkan Trah Huma. Trah Huma menikah. Keningnya mengkerut. Penyair yang menjadi rekannya berbincang dan berdebat di dunia maya itu pun ternyata menyerah dalam ikatan perjanjian tertua yang pernah ada di dunia.
Entahlah, pikir Vick kemudian. Ia beranjak dari kursi dan layar monitor komputer menuju meja telepon. Ada banyak nama yang harus dihubungi untuk mengkoordinasikan pekerjaannya esok hari. Disiplin waktu orang-orang yang bekerja dengannya di kota tempat...

Sunday, 14 February 2010

Gembel

Oleh Diana Saragih

Sudah pukul 10.10 malam. Mata telah sayu menunggu angkutan kota lini ke arah rumahku, tapi tak muncul-muncul juga.

Aku tahu kalau jam-jam segini, angkotku susah didapat. Tapi tadi aku berlagak santai di meja warung mie aceh Tengku dan asyik ‘kombur’ dengan 2 teman yang gelisah karena tak punya karya tulis apapun yang dapat dibanggakan sewaktu ngumpul-ngumpul seperti ini. Alhasil, karena rindu berdiskusi, akhirnya kami cukup puas memaki-maki karya orang lain yang berhasil diterbitkan secara komersil oleh penerbit nasional. Kurang inilah, kurang itulah, dia beginilah, dia begitulah. Mengkritisi orang untuk mempertahankan eksistensi di tengah kekosongan. Dan kami merasa cukup puas dengan itu, lalu membubarkan diri.

30 menit berlalu, kakiku mulai pegal. Di tempat aku berdiri, lalu lalang orang dan kendaraan masih terbilang ramai. Maklum, ini kawasan kampus terbesar di kota ini. Kesibukan mahasiswa selain belajar, yah berkeliaran...

Sunday, 14 February 2010

Ketika Pena tak Bertinta

Apa jadinya kalau pena yang mau kita goreskan kata tak bertinta? Sehuruf pun tentu tak bakal terlihat. Cuma bayang  goresan pangkal pena saja yang pasti membekas di atas kertas. Tentunya, siapapun tak dapat membaca makna dari bayang goresan di kertas itu, kecuali si penulis sendiri. Ide seluar biasa apapun tak akan dapat dinikmati pembaca. Ironisnya, ide itu kandas hanya dalam benak sang penulisnya sendiri.

Kondisi ini tentu sangat awam dialami banyak penulis. Bagi saya masing-masing penulis memiliki penanya sendiri, cuma tintanya berbeda.  Bagi penulis yang punya banyak amunisi tentu bisa menggunakan  tinta bermerek Parker. Dengan begitu, ide dalam benaknya bisa mengalir deras bak air bah di atas kertas menciptakan karya spektakuler atau paling tidak populer bagi pembacanya. Lalu, bagaimana dengan penulis bertipe ibarat ‘mati segan hidup tak mau?’, tinta yang digunakan pun standar dan sering macet. Karya yang dihasilkan tentu saja juga standar, paling tidak...

Sunday, 7 February 2010

Antara Jimbaran dan Lovina

Cerpen Sunaryono Basuki Ks

Tahun 2005. Mas Tri mengajak Vely makan ikan dan udang bakar di pantai Jimbaran dengan pemandangan ke laut lepas yang hitam pekat serta sesekali kelap kelip lampu pesawat pesawat terbang yang hendak mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai di tingkah debur ombak menghempas pasir pantai.

Mas Tri memandang ke dalam mata Vely lampu-lampu hatinya yang cemerlang dengan suara musik angin atau gamelan atau simfoni yang seolah dia hadapi sebagai seorang konduktor, hati dan kepala berayun-ayun bagai lengkingan biola tergesek-gesek, denting piano dan petikan cello, dan orkestra raksasa dalam dua diri manusia itu menjadi di dalam sebuah pernikahan suci yang melahirkan buah cinta pertama bernama Jimbaran.
Waktu lahir, Mas Tri membungkus ari-ari Jimbaran dengan kain putih setelah bersih, dan menempatkankannya pada sebuah kuali gerabah yang bertutup lalu melarungnya ke karang pantai Jimbaran, kuali dihempas ombak menghantam karang...

Sunday, 7 February 2010

Identitas yang Hilang

Panda MT Siallagan

Banyak sastrawan dan kritikus Indonesia terjangkit ‘sindrom luar’. Ada cerpenis, penyair atau novelis yang gemar menulis tentang Amerika, Jepang, Eropa bahkan Timur Tengah. Ada yang mengeksplor latar dan tema itu secara intens berikut kultur dan kondisi sosial masyarakatnya, tapi tak sedikit yang hanya mencantol nama. Sementara kritikus, hampir pasti selalu bicara tentang sastra Indonesia lewat kacamata teori dan filsafat Barat.
Maka ketika muncul diskusi atau polemik tentang sastra atau produk seni secara umum, pemikiran atau karya-karya ‘merek luar’ itu seperti lagu wajib dilantunkan sebagai referensi. Mungkin agar terkesan mewah, intelek, elegan, cerdas dan berbudaya. Atau mungkin kita memang sudah tertakdir jadi objek percaturan global di segala bidang. Wah…!

Mengapa gairah bisa meluap secara hebat ketika kita bicara tentang Octavio Paz, Pablo Neruda, Samuel Beckett, Federico García Lorca, Yasunari Kawabata,...

Sunday, 31 January 2010

Penulis Prancis Kritik Seniman Indonesia

Penulis asal Prancis, Jean Couteau, mengkritik sudut pandang seniman Indonesia yang melihat dunia dari Kacamata Barat. “Seni rupa kontemporer khas China dan India begitu diapresiasi. Identitas lokal tumbuh di lahan global, namun apa yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya,” katanya di Surabaya, Sabtu (23/1) lalu.

Ia mengungkapkan hal itu saat berbicara dalam simposium internasional tentang budaya urban bertajuk “The 2nd International Symposium, Urban Studies: Arts, Culture, and History” yang digelar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Dalam simposium yang juga menampilkan peneliti Jawa, Romo Koentoro Wirjomartono, dan periset pustaka dari Belanda, Freek Colombijn (Vrije University), ia mengatakan prediksi McLuhan tentang “Global Village” atau “World City” tidak berlaku untuk budaya.

“Budaya itu tidak mudah menjadi global. Faktanya, apa yang terjadi di Eropa dan di Indonesia justru terbalik,” ucapnya menegaskan....

Sunday, 31 January 2010

Satukan Remaja Lewat Musik

Festival Band Persaudaraan 2010 dari Yayasan Indah Medan

Untuk mempersatukan remaja dan menghindari mereka dari hal-hal negatif seperti seks bebas, penyalahgunaan narkoba dan tawuran, perlu dibuat suatu wadah untuk menyalurkan ekspresi. Untuk itu, Yayasan Indah Medan menggelar festival band bertajuk Persaudaraan 2010.

“Kegiatan yang pertama kali digelar di Yayasan Indah Medan ini juga bertujuan untuk menjaring dan mengembangkan minat dan bakat anak-anak se-Sumatera Utara,” kata Ketua Panitia Pelaksana Drs H Mustafa R Lubis MSi Apt didampingi Pimpinan Yayasan Indah Medan, H Abdul Harris Sy Hasibuan SE, di sela-sela kegiatan, kepada wartawan,  Jumat  (29/1).

Dijelaskannya, tema persaudaraan yang diangkat dalam festival band ini dimaksudkan untuk mempersatukan remaja dan menghindarkan mereka dari hal yang negatif dengan kegiatan yang positif. Sekaligus untuk mengembangkan minat dan bakat mereka dalam berkesenian khususnya musik....

Sunday, 31 January 2010

Konser Mini untuk Toba

Martahan SG Sitohang bersama Etno Voice Star dan Komunitas Seniman Muda Batak (SIMUBA), menyajikan konser mini seni pertunjukan tradisional Batak Toba dalam bentuk folklore, musik tradisional, dan musik garapan. Hajatan itu digelar di Sanggar Tari Taman Budaya Sumatera Utara, Senin (25/1) lalu pukul 16:00 WIB.

Pertunjukan itu juga didukung Incidental, khusus menyuguhkan bebrapa reportoar bagi penonton. Tak kalah menarik, di sela pertunjukan terselip penampilan seorang pengrajin alat musik Batak Toba.

Martahan mengatakan, pertunjukan itu merupakan wujud penghargaan terhadap keragaman kebudayaan dan kesenian Indonesia, terutama di Sumatera Utara. Sumut memiliki banyak suku dan masing-masing memilki ciri khas kebudayaan masing-masing. Etnis Batak Toba, misalnya, kaya akan seni budaya, meski kebudayaan itu mulai dipengaruh budaya impor.

“Di sinilah kita sebagai generasi muda bangsa harus menghargai dan mempertahankan kebudayaan kita masing-masing. Banyak media yang...

Sunday, 31 January 2010

Festival Film Pelajar Indonesia di TVRI

Kegiatan Festival Film Pelajar Indonesia (FFPI) TVRI Jakarta tahun 2010 mulai digelar. Kegiatan memberikan peluang kepada para pelajar memperoleh akses dan kesempatan bersaing sesuai minat, bakat dan kemampuan yang dimilikinya.

Sutradara profesional Sudibyo JS mengatakan, FFPI harus mampu mendorong motivasi pelajar mendalami film menuju profesionalisme, selaras dengan amanah UUD 45, UU Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 terkait model pengembangan diri Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas RI.

Untuk itu, Sudibyo bekerjasama dengan Stasiun TVRI Jakarta menyiapkan program  FFPI yang dapat diikuti seluruh pelajar Sekolah Lanjutan Atas (SLTA) sederajat se-Indonesia. Untuk tahap awal, festival dilakukan untuk pelajar se-Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi). Setelah seluruh peserta mengikuti proses persiapan dan pendidikan sinematografi (perfilman), hasil film seluruh peserta yang murni karya pelajar difestivalkan melalui tayangkan di TVRI sepanjang tahun...

Sunday, 31 January 2010

Membeli Liang Lahat

Cerpen Miftah Fadhli

Akibat kematian yang suka datang tiba-tiba dan sifatnya yang tak suka menunggu barang sedetikpun, ibu memutuskan untuk membeli sepetak tanah lebih awal. Begitu semangat ia memilih kapling makam yang kelak akan diisi dengan pelbagai kenangan hidup. Tak lelah ia menyusuri jalan setapak ditemani petugas makam, di bawah terik yang menusuk.

Aku hanya mengikutinya dari belakang sambil sesekali menyeka keringat yang terus menerjun di dahiku. Setetes keringat sempat menembus mataku. Pedih, lelahnya bertambah-tambah. Kulihat ibu seperti tak punya masalah dengan rasa lelah. Bahkan Pak Teno, sesekali, sambil terus berjalan membengkok-bengkokkan kakinya secara bergantian. Punggungnya basah diguyur keringat yang sejak tadi menetes tanpa henti. Sesekali ia juga menoleh kepadaku sambil menyunggingkan senyum maklum.

Maklum karena Pak Teno sendiri sudah terbilang tua. Meski tidak setua ibu, tapi dilihat dari caranya berjalan, tertatih-tatih,...

Sunday, 31 January 2010

Ya, Kami di Sini

Ramadhan Batubara

Judul di atas merupakan kutipan dari portal dengan alamat www.eriaserver.com. Sudah kehabisan judulkah saya? Tidak. Di kepala saya masih tersimpan beribu judul, persis dengan jumlah kata yang saya tahu artinya.

Lalu, kenapa mengutip judul tersebut? Menarik sekalikah judul tersebut? Jawabnya, bisa iya dan juga bisa tidak. Tapi, tampaknya, tulisan ini lebih ke arah jawaban yang mengatakan ‘iya’ saja.

Maka, sikap ini pun menjadi pertanyaan: mengapa mengarah ke ‘iya’ saja? Nah, untuk menjawab hal ini, sebaiknya Anda buka internet dan mencoba memasuki portal sastramedan.com. Dari apa yang Anda dapati, maka Anda bisa menjawab pertanyaan tadi. Namun, setelah itu, akan muncul pertanyaan baru dibenak kita bersama: di mana sastramedan.com itu? Bukankah portal tersebut seharusnya tampil dan memuaskan pembaca yang mencintai seni (sastra khususnya) di Kota Medan ini?

Kalau kembali ke belakang, portal seni yang digarap seniman-seniman...

Sunday, 24 January 2010

Sang Pengelana

Oleh Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

Hari itu dia datang. Tanpa mengetuk pintu, langsung masuk ke dalam rumah menghampiriku yang sibuk menulis di ruang tamu. Tanpa basa-basi, mulutnya berceloteh tanpa henti. Cepat seperti kijang. Wajahku mengernyit. Bingung bercampur heran. Tak mengerti maksud bicaranya. Dia berdiri sambil menyandang tas ransel kumalnya berwarna hitam, sudah luntur jikalau tak dibilang sudah lapuk.

Di sana-sini kantongnya sudah robek, kotor berdaki tak pernah dicuci. Suatu  hari aku sempat tergoda untuk merogoh tas ranselnya, mau tahu isinya apa. Ketika dia tidur, diam-diam aku ambil tas kumal itu. Panasaran. Oh…ternyata isinya beberapa kaus yang sudah pudar, celana pendek, dan beberapa buku. Cukup banyak buku di sana. Di antaranya ada novel, buku sejarah, filsafat dan kumpulan puisi dari beberapa penyair kesukaannya.

“Duduk, Rio,” kataku, spontan menggeser kursi disebelahku.

“Tak usah! Aku datang membawa kabar,...

Sunday, 24 January 2010

Seperti Air Terjun

Panda MT Siallagan

Satu hal luar biasa tentang Frank adalah kemampuannya menulis di ruangan yang penuh orang-orang. Jika punya ide, dia akan beranjak mengambil tempat duduk yang lain sembari berkata, “Sebentar ya!”. Lalu dia menulis puisi. Contoh mengagumkan tentang hal itu kuingat ketika kami menghadiri sebuah pesta di East Hampton. Ada kira-kira 40 orang di ruangan itu, dan Frank duduk di sudut ruangan. Dengan mesin tik, ia menulis sebuah puisi yang cukup bagus. Ia melakukan hal itu tanpa pretensi. Aku coba melakukan hal yang sama, tapi tak berhasil.
Kalimat di atas dilontarkan Kenneth Koch dalam wawancara dengan Radio Voices of Amerika (VOA) tentang Frank O’Hara dan puisi-puisinya, termaktub dalam buku  American Writing Today. Vol.1. Forum Series, 1982. Siapakah Frank O’Hara?

Dia adalah penyair Amerika terkemuka. Lahir pada 27 Maret 1926 di Baltimore dan meninggal dalam usia muda karena sebuah kecelakaan pada 24 Juli 1966. Frank...

Sunday, 17 January 2010

Tentang Ayam Jantan yang Jatuh Cinta pada Bulan

Cerita Oleh Yanusa Nugroho

‘’BULAN purnama,’’ begitu bisik seekor musang, sesaat ketika hendak menggigit leher ayam jantan muda itu, ‘’…memberimu pesona luar biasa. Sungguh malang, makhluk di bumi ini yang tak bisa bahkan menyaksikan cahayanya. Seperti kau ini…’’ Lalu musang pun tergelak-gelak penuh kemenangan.

‘’Dunia ini sungguh adil. Di malam hari, kau dibutakan, sementara mataku dinyalangkan. Alam menjadikanmu sebagai santapanku. Hahahahaha… Sejak matahari tenggelam, kau buta. Dan aku yakin benar bahwa kisah tentang rembulan yang kini tengah bertengger megah, cantik, mempesona itu, belum pernah kau dengar sama sekali.

Makhluk malang. Tapi, barangkali saja, kau sedikit lebih beruntung daripada cacing. Dia bahkan tak bisa membedakan cahaya matahari dan bulan… Hahahahahahahaa…’’

Mendidih darah muda ayam jantan itu, demi mendengar penghinaan yang melumuri jiwanya. Dia, keturunan ketujuh...

« Kembali

  • USD Jual: 9250.00 Beli: 9100.00 » SGD Jual: 6639.25 Beli: 6508.25 » HKD Jual: 1193.15 Beli: 1171.85 » CHF Jual: 8704.65 Beli: 8540.65 » GBP Jual: 14009.00 Beli: 13727.00 »
  •  

    Copyright © 2009 HarianSumutPos.com
    REDAKSI: Graha Pena Medan Lt.3 Jl. SM Raja KM 8.5 No. 134 Medan - Sumut Telp: +62-61-7881661 Fax: +62-61-7883060
    redaksi-a-hariansumutpos.com - iklan-a-hariansumutpos.com