Okto Atlet Lari, Bukan Finisher
10:59, 02/07/2009KESALAHAN fatal dibuat oleh Oktovianus Maniani. Winger lincah asal Papua itu gagal mengeksekusi penalti, sama dengan Zada yang juga gagal mengelabui kiper Persebaya. Akibatnya, PSMS degradasi ke Divisi Utama musim depan.
Pada babak playoff degradasi kontra Persebaya 30 Juni lalu, Okto memang berhasil merepotkan pertahanan Persebaya. Namun dalam hal kelincahan saja. Begitu pemain bertinggi 159 cm itu mencoba mengumpan atau melesakkan bola ke gawang lawan, akurasinya pun tak terjaga.
Hal itu sudah terjadi sejak ia dipercaya menjadi starter. Rudi Keltjes arsitek PSMS beberapa waktu sebelum playoff kerap menyayangkan kondisi itu. Terlebih di luar lapangan, Okto merupakan pemain yang kurang disiplin. Saat menggelar tur ke Papua awal Juni lalu, Rudi Keltjes tidak bisa berbuat apa-apa atas tingkah anak asuhnya itu.
“Karena tidak ada pilihan lain, maka saya tetap mempertahankannya dalam skuad inti. Kalau ada pilihan, saya tidak akan memasangnya,” beber Rudi saat itu.
Akibat tak disiplin, proses latihan pun menjadi tak maksimal. Ujung-ujungnya PSMS degradasi. Memang tidak fair juga kalau hanya menyalahkan satu orang. Hingga saat ini, manajemen PSMS masih termenung. Termasuk pelatih belum ingin berkomentar. Ibarat disambar petir di siang bolong, PSMS memang akhirnya gagal. Padahal PSMS optimis benar bisa mengandaskan Persebaya. Sayang, dewi fortuna tak berpihak.
Pada strategi penalti, Rudi Keltjes juga dinilai kurang tepat. Zada dipasangkan sebagai pengeksekusi pertama, dan Okto juga masuk dalam line up pengeksekusi. Oktolah satu-satunya penendang kidal malam itu dan gagal. Sebelumnya, Affan Lubis yang juga dipercaya menjadi penendang berhasil menendang dengan kepercayaan diri tinggi. Dia mencip bola, dan bola terbang sangat lamban. Berutung kiper Persebaya sudah terkecoh.
Di saat Okto gagal mejadi algojo, penalti itu sudah memasuki babak sudden death. Siapa yang gagal, maka langsung kalah. Nah, di saat bersamaan, penendang terakhir Persebaya, Anderson berhasil menceploskan bola dengan sempurna. PSMS dinyatakan degradasi. Sungguh memilukan.
Masalahnya, apakah skuad PSMS yang ada saat ini akan tetap setia kembali ke PSMS dan membawa Ayam Kinantan ke super liga musim depan? Sepertinya tidak. Karena Sihar Sitorus manajer PSMS mengaku akan segera mengembalikan mandat pengelolaan PSMS. Namun belum diketahui kapan pastinya. (ful)


Jgn cari kambing hitam lah broo…OKTO masih 18 thn, masih sangat muda. Kegagalan dia eksekusi penalti bukan berarti kegagalan PSMS lolos dari degradasi di alamatkan ke dia.Hendaknya kegagalan PSMS bertahan di ISL jgn di lihat hanya pada perjuangan 1 partay di play off..TAPI HARUS BIJAK MELIHAT JAUH KEBELAKANG KENAPA NASIB PSMS seperti ini???? Apa maunya PEMKOT setelah PSMS degradasi??? Apakah mereka puas???? Kenapa PEMKOT tidak bersedia merenovasi teladan, padahal Sihar Sitorus juga bersedia menghibahkan 2.5 M khusus perbaikan stadion…Knapa seolah2 PSMS jd milik para pejabat PEMKOT..Jelas2 PSMS adalah milik masyarakat MEDAN Khususnya,..simbol kota Medan,..kebanggaan kota MEDAN, yang sudah punya sejarah yang panjang.PEMKOT tidak menghargai para pejuang pendiri PSMS yang jauh terdahulu,..yang sudah mengangkat nama besar kota MEDAN di indonesia.APA MAU MU PEMKOT….???
Betul, jangan salahkan okto. Ga ada yang salah dari okto. Penalti siapaun bisa berbuat salah !
Kesalahan PSMS, kenapa harus sampai ke play off ???????????????
setuju!!!
Ini bukan slah Okto seorang….
ini kesalaha dari semua pasukan psms…
mengapa mereka tidak memiliki semangat juang yang tinggi…
psms yang sekarang sanagat beda dengan psms pada saat mahyadi cs masih ada di psms…
ini merupakan prestasi yang sangat memalukan…!!
selama saya menjadi salah satu fans PSMS, saya tidak pernah melihat permainan yang seperti sekarang ini…
saya berharap Psms dapat meningkatkan kembali kreativitas bermain_a…
hidup PSMS…!!!