Dari Bengkel Sastra Balai Pustaka Sumut dan Lembaga Pendidikan Sumut

10:04, 03/07/2009
Dari Bengkel Sastra Balai Pustaka Sumut dan Lembaga Pendidikan Sumut

Seni dalam segala perwujudannya merupakan ekspresi proses kebudayaan manusia, sekaligus pencerminan dari peradaban masyarakat pada suatu kurun waktu tertentu. Namun, tak bisa dipungkiri, seni di Medan belum mendapat pengakuan bagi masyarakat luas.

INDRA JULI, Medan

Inilah yang menjadi keprihatinan dari Balai Pustaka Sumut dan Lembaga Pendidikan Sumut yang menggelar Bengkel Sastra.  Inilah sajakku, pamplet masa darurat, apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan, apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. Sepenggal sair dari puisi Rendra yang berjudul ‘Sajak Sebatang Lisong’ di atas begitu mendapat antusias saat dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta” sutradara Sumandjaya di kampus Institut Teknologi Bandung, 19 Agustus 1978. Makna lain akan seni sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan masyarakat. Karena seni, bagaimanapun, merupakan bagian langsung dari kehidupan manusia yang sama penting dengan aspek-aspek kehidupan lainnya.  Oleh karena itu, memperluas wawasan tentang (ke)seni(an) merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Selain untuk mendekatkan diri dengan masalah-masalah seputar seni, juga untuk menghilangkan pandangan dan pretensi negatif yang menganggap seni dan seniman sebagai sesuatu yang kurang manfaat, urakan, kumuh, rombeng, pengangguran, dan hidup seenaknya.

Mengangkat fenomena di atas, Balai Pustaka Sumatera Utara bekerjasama dengan lembaga pendidikan se Sumut menggelar Bengkel Sastra di Taman Dewi Sibolangit, 23-25 Juni lalu. Kegiatan yang diikuti oleh 50 peserta dari lembaga perguruan tinggi dan SMA terbaik di Sumut. “Ini diikuti oleh seluruh lembaga pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Perguruan Tinggi pilihan. Artinya, sekolah maupun kampus yang memiliki sanggar teater,” jelas Ketua Panitia Agus Mulia SS.

Dalam hal ini, lanjut Agus lembaga pendidikan seharusnya mampu menciptakan, memelihara dan mengembangkan seni, mampu memperkaya nilai-nilai kemanusiaan dan lingkungan hidup dalam dimensi kultural dan spiritual serta peka dan tanggap terhadap fenomena perubahan. Sayangnya, materi pembelajaran bagaimana seni seperti teater terbilang masih kurang mendapat perhatian di sekolah.

Untuk itu, kegiatan yang dikemas dalam format diklat ini difokuskan pada dunia seni drama dan pementasan. Menghadirkan lima materi dengan pembicara yang sudah tidak asing di kegiatan berkesenian baik Sumut maupun kota Medan membuat seluruh peserta dapat menangkap makna yang ingin disampaikan dari setiap materi.

“Kali ini kita memang menfokuskan pembahasan pada seni drama dan pementasan mengingat di Medan drama sudah menjadi salah satu kegiatan ekskul maupun kampus yang paling digemari,” terang Agus yang juga seorang aktor ini.

Diawali oleh Apresiasi Drama di Sekolah oleh Nurelide M Hum, dilanjutkan Drama dan Nasionalisme oleh Sahril SS, Proses Kreatif Penulisan Drama oleh Yusrianto, Akting atau Keaktoran oleh Edi Siswanto, dan Penyutradaraan dan Pementasan oleh Muklis Win Aryoga. Seluruh pembahasan yang dilakukan kemudian coba diaplikasikan dalam pementasan yang mengangkat empat naskah.

Seperti yang disampaikan Bambang Rianto, peserta dari Teater O Universitas Sumatera Utara. “Sangat positif, kita jadi banyak belajar sekaligus menambah wawasan mengenai seni drama dan pementasan. Pemateri juga sangat menguasai bidangnya sehingga kami bisa paham,” jelas Bambang.
Suksesnya kegiatan, nantinya akan mengawali pembentukan Alumni Bengkel Sastra di Sumut dengan agenda mensosialisasikan seni drama dan pementasan di seluruh sekolah yang ada di Medan. (*)

Kata kunci pencarian berita ini:

Beri komentar

 
PLN Bottom Bar