Kisah Noordin yang Berhasil Pikat Hati 4 Wanita
14:37, 09/08/2009Dari rumah dua lantai dan setengah jadi itu, di Desa Pesuruan, Binangun, Cilacap, Jawa Tengah, cerita roman Noordin M Top, si tersangka teroris itu, mulai tersibak. Dia pernah menikahi seorang dara di sana, dan lalu bersembunyi dengan tenang.
Noordin dicari polisi karena dia diduga otak serangan teror bom laknat sejak di Bali, dan terakhir diduga berperan besar di balik peledakkan Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di Mega Kuningan Jakarta tiga pekan lalu. Polisi terus mengendus jejaknya, sampai ke para perempuan di sekeliling lelaki penebar aksi jahat itu.
Satu di antaranya adalah Arina Rahma. Dia putri Badruddin Latif alias Baridin, pemilik Pondok Pesantren Al-Muaddib di Desa Pesuruhan itu. Arina, perempuan yang kerap bercadar hitam itu, diduga dinikahi Noordin pada 2006.
Dari mana cerita suami Arima adalah Noordin? Adalah Watim Suseno, Kepala Desa Pesuruan, yang berkisah ihwal lelaki di rumah Arina. Dia sempat bertanya kepada Arina soal suaminya itu. “Dia bilang suaminya Ade Abdul Halim, orang Makassar,” kata Watim.
Dari mulut Arina juga Watim mendengar bahwa si lelaki itu bekerja sebagai guru. Mereka sudah memiliki dua anak, yaitu Haula (2,5) dan Daud (1). “Tapi saya yakin 70 persen, bahwa suaminya itu Noordin,” kata Watim.
Tapi wajah suami Arina yang diduga oleh Watim sebagai Noordin itu tak pernah jelas terlihat. Hajatan pernikahan Arina juga tak biasa. Pada 2006 lalu, Baridin hanya mengumumkan di masjid, bahwa dia sudah menikahkan anaknya. Sesuai adat, maka dia mengundang warga untuk makan-makan di rumahnya.
Suatu hari, Watim pernah bertanya soal suami Arina pada Baridin. “Saya hanya ditunjukan kelompok orang asing yang saat itu ada di masjid, yang mana suami Arina saya sampai saat ini tidak tahu,” kata dia. Jangankan Watim, Lin yang mengaku bibi Arina, juga tak tak pernah bertemu suami Arina.
Cerita soal Noordin kawin dengan anak Baridin mulai terkuak akibat satu soal. Persis tiga hari sebelum peledakan di Hotel Marriot, di belakang rumah Baridin polisi menemukan alat-alat elektronik, kabel-kabel, lengkap dengan petunjuk rangkaian yang diduga alat membuat bom rakitan.
Tiga hari setelah peledakan, polisi menahan Arina dan ibunya, Anggreini Astuti. Tetapi Baridin sudah kabur. Kepolisian Resor Kota Probolinggo, Jawa Timur, telah menangkap orang yang mirip Baridin pada Minggu 26 Juli 2009.
Kepada polisi, seperti dikutip Sidney Morning Herald 27 Juli 2009, Arina mengatakan perawakan suaminya mirip Noordin M Top. Tapi, selama tiga tahun berumah tangga, dia hanya tahu suaminya bernama Ade Abdul Halim.
Dia juga jarang bertemu suaminya. Terakhir mereka bersua pada Maret 2009. Pengacara Arina, Asluddin Hajani, mengkonfirmasi bahwa kliennya sudah melihat foto Noordin M Top yang disodorkan polisi. “Arina mengatakan, suaminya mirip foto Noordin. Ada banyak kesamaan,” kata Asluddin.
Arina yakin suaminya sibuk karena pekerjaannya sebagai humas pondok pesantren. Sebelumnya kepada Watim, kepala desanya, Arina bilang suaminya adalah seorang guru.
Hingga kini Arima masih berada dalam genggaman polisi. Kepala Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, mengatakan perempuan itu masih berstatus sebagai saksi. Dia juga dalam perlindungan polisi.
Selain Arina, polisi juga memeriksa seorang perempuan warga Cianten, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Dia juga diduga isteri Noordin. Namun hingga kini identitas perempuan tersebut pun belum diketahui.
Bagan Siapi-api, Riau. Inilah pelabuhan primadona bagi imigran gelap. Lokasinya strategis, di pinggir celah selat Malaka, berhadap-hadapan dengan Malaysia. Kapal tongkang hilir mudik dan perahu bermuatan 20 orang itu, sering dipakai mengangkut mereka yang melintas perbatasan diam-diam.
Ombak laut Selat Malaka cukup tinggi. Angin juga kuat. Kalau berlayar dengan kapal kecil, jarak tempuh dari Rohil ke Malaysia sekitar 9-10 jam. Mereka biasanya menuju Dumai dan Rokan Hilir. Di sinilah pertama kali Noordin M. Top menjejakkan kakinya ke Indonesia.
Noordin terusir dari negaranya, Malaysia, lantaran pesantren Luqmanul Hakiem di Johor, tempatnya berdiam dan mengajar, disatroni polisi. Dia kabur. Pilihannya ke Indonesia. Perbatasan negara ini gampang ditembus dengan cara gelap.
Selain itu, isterinya Siti Rahmah, memang berasal dari Riau. Siti Rahmah adalah adik Mohammad Rois, anggota Jamaah Islamiyah yang juga guru di Luqmanul Hakiem. Mereka kemudian menetap di Dusun Pendekar Bahan, Desa Pematang Ibul, Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir. “Benar, dia pernah tinggal di sini,” kata Kapolres Rokan Hilir AKBP Rohmat Nursaid.
Pematang Ibul adalah kampung yang rukun. Kebanyakan warga di sana petani. Tapi ada juga yang pedagang serta profesi lainnya.
Seorang bekas pejabat kecamatan, dia minta namanya dirahasiakan, mengatakan perkawinan Siti dengan Noordin melahirkan seorang anak. Si anak pernah sekolah di Dusun Pendekar Bahan. Adapun Siti, menjalani profesi sebagai guru di salah satu madrasah di dusun itu.
Tapi Noordin hanya terlihat beberapa bulan di sana. Lalu, tak ada yang tahu keberadaannya. Siti juga sempat bermukim di Medan. Ternyata dia tak bersama Noordin. Sebab, data dari kepolisian menunjukkan Noordin bersama Mohammad Rois, setelah di Rokan Hilir, mereka pindah ke Bukit Tinggi, Sumatera Barat, lalu ke Bengkulu dan Lampung.
Di sana dia dan teman-temannya para alumni Luqmanul Hakiem –pesantren yang dipimpin Noordin di Johor, Malaysia— dan Pondok Ngruki –pesantren pimpinan Abubakar Ba’asyir di Jawa Tengah—merancang peledakan Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta Selatan.
Selama Noordin merancang pengeboman, warga setempat mengetahui Siti pernah balik lagi ke rumahnya itu. Tetapi setelah aksi bom bunuh diri Asmar Latin Sani meledak di Hotel Marriot pada Agustus 2003, Siti pun menghilang.
Hingga kini, tak ada warga yang tahu keberadaannya lagi. Lambat-laun kampung ini mulai menjauh dari pantauan media massa. Tetapi setelah Marriot diledakkan lagi pada 17 Juli 2009, semua mata kembali tertuju ke sini. Tentu saja, kediaman Noordin sudah kosong. “Mereka sudah tak berada di sini lagi,” kata Kapolres Rokan Hilir AKBP Rohmat Nursaid.
Pengawasan di daerah ini mulai diperketat. “Kami terus mengawasi dan memeriksa setiap kapal yang lewat. Sejauh ini belum ada yang dicurigai,” kata Komandan Pos TNI AL Rokan Hilir (Rohil), Lettu Laut Almufid.
Kapal yang diperiksa bukan saja kapal penumpang, tapi juga pengangkut barang ekspor. “Kita tidak mau kecolongan ada penumpang gelap keluar masuk melalui kapal yang melintasi Rohil,” katanya.
Selain mengidentifikasi penumpang, TNI AL Rohil juga melakukan pemeriksaan terhadap barang keluar masuk Rohil. “Siapa tahu dalam kapl-kapal itu ada barang terlarang, seperti bahan peledak dan lainnya,” ujarnya.
Penjagaan juga dilakukan oleh Departemen Hukum dan HAM Riau. Staf Kasi Penindakan Departemen Hukum dan HAM Riau, M Sudirman, menyatakan, setiap pintu masuk yang berpotensi menjadi jalur teroris wajib siaga satu. “Berhasilnya pendatang gelap masuk ke Riau selama ini harus dijadikan pembelajaran,” katanya.
Adapun rumah yang pernah ditempati keluarga Noordin kini berada dalam pengawasan polisi. Kabar terakhir, Siti diduga sudah berada di Malaysia.
Setelah peristiwa pengeboman di Hotel JW Marriott pada 5 Agustus 2003, Noordin bersama teman-temannya lebih banyak bersembunyi di Pulau Jawa. Dia memanfaatkan koneksi para alumni Luqmanul Hakiem, dan sejumlah alumni Pondok Ngruki. Selain itu, dia punya hubungan dengan veteran mujahidin Afganistan, dan mereka yang pernah ikut pelatihan militer di Mindanao, Filipina. Noordin juga pernah berlatih militer di Filipina.
Suatu hari pada Juni 2004, dia berkenalan dengan seorang perempuan di Malang, Jawa Timur. Namanya Munfiatun. Perempuan itu asli Pecangakan Kulon, Jepara. Dia sebetulnya punya ijazah sarjana pertanian. Tapi Munfiatun juga fasih sebagai pengajar bahasa Arab di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Subang, Jawa Barat.
Ketika berkenalan itu, Noordin mengaku dia buronan polisi, dan namanya bertebaran di media massa. Noordin meminta Munfiatun bersedia menjadi isterinya. Munfiatun mengangguk. Noordin menasihati Munfiatun agar siap menjadi isteri mujahid (ini artinya pejuang di jalan Allah). Pada bulan itu juga mereka menikah di Kapas Madya, Surabaya.
Pernikahan ini tak tercatat di Kantor Urusan Agama setempat. Para saksi pernikahan, dan pembaca kotbah, semuanya adalah rekan Noordin. Di antara mereka ada yang terlibat dalam aksi terorisme. Pengantin baru Noordin dan Munfiatun berbulan madu di vila di Tretes, Pasuruan. Dari situ, mereka pindah ke Dinoyo, Malang. Pengantin itu menginap di sana tiga malam. Mereka lalu mengontrak rumah di Jalan Patiunus, Desa Krampayangan, Bugul Kidul, Pasuruan.
Di sini, mereka menikah lagi di Balai Nikah KUA Kraton, Pasuruan pada 7 Juli 2004. Pernikahan ini tercatat dalam Buku Akad Nikah. Noordin disebutkan seorang perjaka dengan nama Abdur Rahman Aufi, warga negara Indonesia kelahiran 3 Maret 1972, anak ketiga dari Muhammad Aufi dan Hamidah, serta beralamat di Tuwowo Rejo, Keluarahan Gading, Tambaksari, Surabaya.
Keterangan itu kemudian dipakai Noordin mengurus Kartu Keluarga Sementara dan Kartu Tanda Penduduk. Mereka menetap di Pasuruan hingga 20 Juli 2004. Setelah itu Noordin menghilang dari kampung ini.
Rupanya selama menghilang itu, Noordin dan teman-temannya, merancang peledakan kantor Kedutaan Besar Australia, Kuningan, Jakarta Selatan. Aksi ini diwujudkan pada September 2004. Seorang rekannya, Heri Gulon, meledakkan diri di depan kedutaan itu. Setelah beraksi, Noordin kabur. Seperti biasa, dia selalu berpindah-pindah tempat.
Adapun isterinya, Munfiatun, akhirnya ditangkap polisi. Dia diadili di Pengadilan Negeri Pasuruan, Januari 2005. Dia didakwa menyembunyikan buronan Noordin M. Top. Majelis hakim menghukumnya tiga tahun penjara, pada 9 Juni 2005.
Munfiatun sempat dikirim ke penjara wanita di Malang. Dia menutup diri dari pergaulan. Mulutnya terkunci rapat kalau bicara soal Noordin. Waktunya dihabiskan dengan membaca buku-buku Islam, yang dipinjam dari mobil perpustakaan keliling milik Pemerintah Kota Malang.
Saat Bom Bali II meletus –yang juga diduga dilakukan oleh Noordin bersama teman-temannya—, Munfiatun masih dalam penjara. Dia dapat remisi sembilan bulan, dan Munfiatun menghirup udara bebas pada 1 Januari 2007. Dia kembali ke rumah orang tuanya di Jepara.
Setelah bebas, wartawan sempat bertanya soal kelangsungan perkawinannya dengan Noordin M. Top. “Akan memikirkannya nanti. Ini sudah takdir, saya pasrah,” katanya. Setelah itu, kabar tentang Munfiatun meredup dari media massa. Kini keberadaannya gelap. Jejaknya di beberapa tempat lenyap.
Setelah meledakkan tiga kafe di Bali pada 2005, Noordin kembali menghilang. Dia tampaknya menyelinap di antara jejaring rekan-rekannya. Mereka, para rekannya itu seperti yang berhasil disisir polisi, pernah berlatih di Afganistan, Mindanao, atau terlibat dalam konflik bersenjata di Ambon dan Poso.
Dalam pelariannya ini, Noordin meninggalkan isteri pertamanya, dan mengincar istri baru. Dia sempat menggaet gadis dari Cilacap, Jawa Tengah, dan dara Bogor, Jawa Barat.
Lalu setelah mencuri hati para perempuan itu, dia menghilang lagi. Namanya lalu disebut-sebut lagi oleh polisi sebagai otak tersangka peledakkan Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, 17 Juli 2009. (berbagai sumber/jpnn)

