Harum tapi Berbahaya

09:46, 07/11/2009

Cairan Pembersih Vagina

Vagina merupakan bagian tubuh wanita paling sensitif. Permasalah organ intim ini biasanya muncul akibat salah perawatan. Berkat kemajuan teknologi dan produk perawatan yang makin berkualitas, masalah organ ini mulai bisa diatasi.

Munculnya keputihan, bau tak sedap, gatal-gatal menandakan pada organ yang tidak terawat. Secara alami, organ ini memiliki pelindung yang disebut Ph derajat keasaman. Pada umumnya, Ph derajat keasaman pada organ yang normal adalah 3,5 sampai 4,5 Ph. Ph ini bisa rusak dan menimbulkan berbagai keluhan, bila cara merawatnya salah. Dengan terlalu seringnya dibersihkan dengan sabun atau ramuan rempah pewangi, justru bisa merusak Ph-nya.

Membersihkan vagina yang mempergunakan rempah atau sabun wangi sebaiknya dilakukan sebulan sekali setelah menstruasi atau datang bulan. Perawatan ini perlu, selain membuat aroma harum, ph menjadi lebih segar dan sehat. Memberi uap rempah bisa dilakukan pada perempuan, baik bagi yang belum pernah berhubungan seks, maupun yang sudah.

Perawatan vagina tidak hanya bagian luar saja, pada bagian dalam yaitu seputar mulut rahim pun perlu dirawat. Perawatan mulut rahim ini diawali dengan pemeriksa pap smear. Perawatan ini dapat mendeteksi secara dini kanker leher rahim.

Namun dewasa ini, banyak wanita memilih produk pembersih vagina yang lebih praktis yang banyak dijual di pasaran dengan aroma yang beragam. Mulai Dari aroma duan sirih, aroma manggir atau aroma tumbuh-tumbuhan lainnya. Padahal, menggunakan pembersih berbahan kimia belum tentu membuat sehat vagina. Bisa jadi malah menimbulkan efek buruk. 

Salah satu wanita yang rutin menggunakan pembersih vagina, Lita (31), warga Jalan SM Raja Medan. Alasannya menggunakan pembersih wanita bukan karena organ vitalnya tersebut bermasalah, tapi karena ia peduli dengan kesehatan organ intimnya tersebut. “Saya menggunakan pembersih vagina karena saya ingin vagina menjadi sehat dan harum. Sebab, organ intim wanita sangat perlu dirawat demi kesehatan,” katanya kepada wartawan koran ini, Jumat (6/11).

Menurut Lita, menggunakan cairan pembersih vagina berbeda ketika memakai sabun biasa. Setidaknya, karyawan toko buku ini mengaku organ intimnya tersebut jadi terasa lebih bersih dan wangi.

“Memang rasanya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata kalau kita menggunakan cairan pembersih wanita. Kalau pakai cairan pembersih wanita rasanya lebih fresh, harum dan wanginya tahan lama. Sedangkan menggunakan sabun, tidak fresh dan harumnya hanya beberapa menit saja,” kata dia.

Diakui Lita, ia sudah dua tahun menggunakan pembersih khusus ini. Namun, hingga saat ini Lita mengaku belum mendapati efek sampingnya. Sejauh ini justru Lita justru merasakan perbedaan positif selama menggunakan cairan khusus pembersih wanita. “Jadi lebih harum. Belum ada tuh efek sampingnya seperti yang dikatakan orang-orang kalau menggunakan cairan pembersih wanita bisa keputihan berlebihan,” pungkasnya. (del)

Agar Vagina Bersih dan Sehat

Banyak cara sehat yang bisa dilakukan untuk menjaga vagina agar tetap sehat. Beberapa cara sederhana bisa dilakukan. Di antaranya:

  1. Saat membersihkan vagina, bilas dari arah depan (vagina) ke belakang (anus), untuk menghindari terbawanya bakteri dari anus ke vagina. Air untuk membersihkan sebaiknya langsung dari keran. Air yang terkumpul di ember atau bak mandi bisa saja terkontaminasi air kencing orang lain, spora jamur, atau bakteri.
  2. Jika menggunakan tisu, harus hati-hati karena tidak semua tisu terjamin kualitasnya. Tisu yang terbuat dari serbuk kayu ada yang tercemar jamur kalau proses pembuatannya kurang baik.
  3. Jaga vagina agar tidak lembab setelah buang air kecil atau besar. Vagina dibilas sampai bersih, lalu dikeringkan sebelum memakai celana dalam. Bila lembab sangat disukai jamur.
  4. Gunakan celana yang kering dan diganti minimal 2-3 kali sehari. Celana yang basah atau lembab memberi peluang tumbuhnya jamur.
  5. Gunakan celana dalam yang tidak terlalu ketat dan bahannya dapat menyerap keringat, seperti katun. Celana dari bahan satin, nilon dan bahan sintetik lain membuat suasana di sekitar organ panas dan lembab.
  6. Pakaian luar juga perlu diperhatikan. Celana jeans tidak dianjurkan karena pori-porinya sangat rapat. Namun, gunakan rok atau celana berbahan non-jeans agar sirkulasi udara di sekitar vagina lebih lancar.
  7. Ketika haid, sesering mungkin mengganti pembalut dalam 4 jam sekali. Darah yang keluar bisa menjadi media tumbuhnya bakteri.
  8. Jika membersihkan vagina dengan cairan pembersih, pakai pembersih yang tidak mengganggu kestabilan pH di sekitar vagina. Salah satunya produk yang terbuat dari bahan dasar susu. Produk tersebut dapat menjaga keseimbangan pH, meningkatkan pertumbuhan flora normal dan menekan pertumbuhan bakteri tidak baik. Sabun antiseptik umumnya bersifat keras.
  9. Hindari pemakaian bedak pada organ kewanitaan dengan tujuan agar vagina harum dan kering. Bedak memiliki partikel-partikel halus yang mudah terselip di banyak tempat sehingga mengundang jamur dan bakteri bersarang di tempat tersebut.
  10. Gunakan panty liner di saat perlu saja dan jangan terlalu lama swampai 3 hingga 4 jam saja.
  11. Jaga berat badan normal. Jangan sampai kegemukan karena dapat menyebabkan vagina tertutup lipatan lemak sehingga lembab. Jaga kesehatan tubuh dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang.
  12. Sesudah berhubungan seks, bagian luar vagina harus selalu dibersihkan. Lakukanlah hubungan seksual hanya dengan satu orang. Sering berganti pasangan seks akan menambah kemungkinan terinfeksi.
  13. Perawatan vagina tidak hanya bagian luar saja, pada bagian dalam yaitu seputar mulut rahim pun perlu dirawat. Perawatan mulut rahim ini diawali dengan pemeriksa pap smear. Perawatan ini dapat mendeteksi secara dini kanker leher rahim. (ila/net)

[subberita]

Keasaman Berubah, Kuman Jahat Berkembang Biak

Setiap hari bermunculan iklan yang menawarkan khasiat ampuh pembersih vagina. Hampir semua produk yang ditawarkan terbuat dari sirih. Bahan itu telah lama dikenal mengandung antiseptik (pembunuh kuman).

‘’Jangan dikira pemakaian sabun pembersih tidak membawa efek samping,’’ kata dr Dwi Murtiastutik SpKK(K), spesialis kulit dan kelamin ini. Efek samping tersebut bisa menyerang siapa saja, tanpa batasan usia.

Menurut Dwi, secara alamiah dalam setiap vagina (Miss V) terdapat bakteri baik (flora normal vagina). Bakteri baik itu berfungsi mengusir kuman yang merugikan. “Pemakaian sabun vagina berlebihan justru membunuh bakteri baik yang kemudian mempermudah kuman masuk ke vagina,” paparnya.

Penggunaan sabun pembersih vagina secara berlebihan, lanjut Dwi, bisa mengurangi keasaman vagina. Dampaknya, kuman jahat hidup subur. Jamur salah satunya. Vagina yang terserang jamur candida memiliki ciri-ciri keputihan seperti susu pecah, gatal, dan terasa perih saat kencing. Bahkan, dalam kondisi parah, bisa terjadi candidiasis vulvovaginalis.

Pada kondisi itu, sambungnya, candida mengenai vagina dan bibir kemaluan. Tandanya, vagina bengkak, kadang memerah, dan terasa gatal. “Bahkan, beberapa pasien mengalami luka karena kelamin digaruk terus. Pasien harus segera berobat. Jika tidak, ada kemungkinan jamur merambat menuju rahim dan mengganggu kerja organ tersebut,” tegasnya.

Iritasi pada vagina ditandai dengan kulit meradang, merah, terasa gatal, panas, perih dan bengkak. Biasanya disebabkan keringat berlebihan karena terlambat mandi, gesekan pakaian dalam yang ketat dan garukan kuku. Masalah ini juga bisa timbul karena terobsesi ingin selalu bersih hingga kebanyakan menggunakan sarana pembersih organ intim. Iritasi juga bisa terjadi bila mencuci organ intim dengan air panas, mempergunakan sabun yang berlebihan, atau pun menggunakan kompres larutan obat yang terlalu pekat.

Untuk penyembuhan, diberikan obat antijamur. Bentuknya, mulai tablet minum, krim, dan sejenis kapsul yang dimasukkan ke liang vagina. “Tapi, pasien gadis sebaiknya menggunakan tablet minum. Sebab, penggunaan krim atau kapsul dikhawatirkan merusak vagina,” ungkap Dwi.
Lantas, bagaimana mencegahnya? Dokter 48 tahun itu menyarankan, sabun pembersih vagina hendaknya tak digunakan setiap hari. “Gunakan pada saat-saat tertentu. Misalnya, sesudah menstruasi atau sesudah berhubungan seks,” jelasnya.

Bisa juga menggunakan daun sirih alami bila memang muncul bau tak sedap di bagian kemaluan. Caranya, rebus daun sirih dan ambil sarinya. Kemudian, gunakan sari daun sirih untuk membasuh vagina. Setelah itu, keringkan menggunakan handuk yang hanya untuk membersihkan kemaluan. “Hindari bertukar pakaian dalam dan handuk dengan orang lain. Sebab, hal ini berpotensi menularkan penyakit,” tegas Dwi.
Hal penting lain terkait cara membersihkan kelamin, kata Dwi, adalah membasuh harus dari arah depan ke belakang. “Jangan pula malas mengganti pakaian dalam,” ujarnya.

Dwi bilang, jamur dapat pula tumbuh dengan mudah bila rambut vagina terlalu panjang dan banyak. Rambut yang terlalu panjang dan banyak selain menutup bibir atas organ intim ini, juga akan tampak kurang sehat dan cantik, karena bisa sebagai sumber iritasi. Hindari rambut yang tumbuh terlalu lebat. “Tapi jangan terlalu pelontos karena akan menghilangkan daya tarik sensualnya,” pungkasnya. (ila/net)

Dr Beni Satria, Dokter Umum

Sebabkan Infeksi Organ Reproduksi

PEMAKAIN secara rutin cairan pembersih vagina (vagina douche), tidak dianjurkan karena akan mengganggu kondisi alami vagina. Penggunaan vagina douche malah akan membawa masuk mikroorganisme ke dalam mulut rahim dan dapat menimbulkan infeksi pada organ reproduksi. Demikian dikatakan dr Beni Satria.

Pria yang bertugas di RSU Pirngadi Medan ini mengatakan, dalam keadaan normal, pH vagina adalah asam. Keasaman ini penting untuk menjamin vagina dalam keadaan bersih dan bebas dari gangguan mikroorganisme yang patogen (menimbulkan penyakit).

“Cairan atau lendir yang keluar dari vagina biasanya adalah keadaan yang normal. Keluhan gatal atau keputihan yang datang sehabis berhubungan intim, harus dikaji terlebih dahulu agar dapat ditentukan apakah hal tersebut merupakan keadaan normal atau merupakan kelainan,” tuturnya.
Menurutnya, kondisi gatal dapat terjadi karena dua kemungkinan. Yaitu, infeksi (misalnya oleh jamur) dan alergi. “Sabun anti jamur sebaiknya digunakan bila terdapat indikasi,” pungkasnya. (del)

[/subberita]

6-merawt-organ-intim1

Comments (1)

  1. SanTi says:

    aQyu baRu tW Lw gnTi pembaLut haRus 4 jam sekaLi,,,,, biasaY aQyu gnTi pembeLut cuma 3 kaLi seTiap haRi…
    MakasiH yAaaa aTas infoRmasiY,,,

Beri komentar

 
PLN Bottom Bar