Dimarahi, Santri Bunuh Diri
08:44 | Saturday, 14 November 2009MEDAN-Santri bernama Yudi Cahyadi Cibro (15) nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di toilet asrama Pesantren Al-Manar, Jalan Karya Bhakti Medan Johor, Jumat (13/11) siang. Siswa Tsanawiyah (setara SMP) dikeluarkan dari asramanya karena berulang kali ketahuan merokok, ngelem dan keluar asrama tanpa izin.
Mayat Yudi, siswa kelas III itu pertama kali ditemukan Ulil Azmi (14), siswa kelas I. Ketika itu ia mencari ember penampung pakaiannya yang baru dicuci. Melihat ada yang tergantung di toilet, Ulil menemui abang kandungnya, siswa kelas III SMU pesantren tersebut, Hasan Habib. Mendengar pengaduan adiknya, Habib tak percaya.
Keduanya sama-sama melihat ke toilet dan mendapati Yudi sudah tak bernyawa lagi. Habib dan Ulil berinisiatif memotong tali yang digunakan untuk bunuh diri. Kejadian ini dilaporkan ke Polsekta Deli Tua dan membawa jenazah ke RSUPH Adam Malik Medan untuk diperiksa tim forensik Kepala Sekolah Pesantren Al-Manar, Ustad Indra Laksana Muda SAg menerangkan, sebelum Yudi meninggal, ia jadi pendiam dan tidak seperti biasanya. “Tanggal 11 November lalu, Yudi menerima surat pemecatan dirinya dari asrama, sebab korban sudah melakukan pelanggaran kedisiplinan asrama,” jelasnya membuka cerita.
Pelanggaran yang dilakukan korban antara lain merokok, ngelem dan sering ke luar asrama tanpa izin.”Empat bulan yang lalu Yudi sempat membuat perjanjian, bila bermasalah orangtuanya akan dipanggil. Surat pemecatannya ini ditandatangani oleh Ustad Bambang,” terangnya.
Setelah itu, kata Indra, pihaknya membahas permasalahan ini dan mengatakan Yudi harus dikeluarkan dari asrama karena dapat mengganggu yang lain. “Tapi sekolahnya tetap berjalan karena ia tidak melanggar disiplin sekolah,” ucapnya.
Sejak saat itu korban menjadi murung dan pada Kamis (12/11) malam, korban mendatangi rumah Ustad Indra dan memohon untuk membantunya. “Saya bilang, jangan terlalu dipikirkan, pokoknya kamu tetap bisa sekolah,” tuturnya.
Kamis malam, Yudi masih sempat menelepon orangtuanya. Sepuluh menit kemudian orangtuanya menelepon Ustad Indra. “Orangtuanya memohon apakah tidak bisa lagi dibantu, lalu saya bilang itu keputusan dari pihak pengasuh, cobalah hubungi pihak pengasuh,” anjuran Ustad Indra kepada orangtua korban.
Selang beberapa menit kemudian, Yudi meminjam telepon seluler Ustad Indra untuk menelepon orangtuanya. “Lantas saya sambungkan, dan keputusannya minggu depan orangtuanya akan datang. Namun Yudi malah bertanya, mengatakan, untuk apa keluarganya datang. Lalu dia bilang, “Saya tak mau pulang, saya lebih baik tinggal di rumah nenek di Singkil,” beber Indra.
Kata Indra, Yudi sempat mengikuti kegiatan wirid yasin di rumahnya. Keesokan harinya, usai Yudi bangun tidur, dia langsung mandi di rumah Indra. “Padahal dia tidak pernah mandi di rumah saya dan saat itu juga dia permisi mau melihat anak-anak tanding futsal,” bilangnya.
Rupanya, Yudi mengakhiri hidupnya dengan seutas tali jemuran di kamar mandi. Tragisnya, sebelum mengakhiri hidupnya, dia sempat memegang tali jemuran dan bertemu dengan temannya dan menjelaskan bahwa tali yang dipegangnya ini mau dibuat untuk jemuran dan untuk buat ayunan.
Entah apa yang ada dalam pikiran Yudi, yang jelas, Hasbi, temannya mengaku sering menasehati Yudi. “Sejak dipecat dari asrama si Yudi sering menyendiri dan sepertinya sering memikirkan masalah itu. Mungkin dia takut sama orangtuanya,” tambahnya.
Hingga tadi malam jenazah Yudi masih tergolek di ruang instalasi jenazah RSUPH Adam Malik Medan. Kedua orangtua Yudi tak bisa datang ke RSUPH Adam Malik Medan. Kabarnya yang datang untuk menjemput mayatnya adalah pamannya yang berasal dari Aceh. Selama jenazah berada di rumah sakit, Ustad Indra yang menjagainya hingga keluarga Yudi tiba di RSUPH Adam Malik Medan.
Terpisah, Dosen Psikologi UMA, Irma Minauli MPsi mengungkapkan, bahwa kematian korban diduga karena sering menghirup lem (ngelem) dan cenderung berbuat yang negatif dan berpikiran dangkal. “Faktor lainnya karena mungkin ia mempunyai keinginan yang lain dan tidak tercapai atau ia marah, kesal dengan orangtua ataupun dengan yang lain sehingga ia melampiaskan kemarahan kepada dirinya sendiri, yaitu dengan cara mengakhiri hidupnya,” jelasnya kepada wartawan koran ini, Jumat (13/11).
Sementara itu, Polsekta Delitua sudah memeriksa Ustad Bambang Sutrisno, pengasuh asrama yang memecat korban. Kapolsekta Deli Tua, AKP Yoris Marzuki, mengatakan, dugaan sementara korban tewas bunuh diri. Karena dari tubuh korban tidak ditemukan tanda bekas luka yang mencurigan.
Sementara Bambang Sutrisno mengatakan, beberapa hari yang lalu Yudi dipecat dari asrama karena telah berulang kali melakukan kesalahan yang cukup fatal diantaranya merokok dan ngelem. Bambang mengatakan, setelah dipecat Yudi belum diperbolehkan meninggalkan asrama karena orangtuanya belum datang dari Pekanbaru, Riau. “Siswa kan masih tanggungjawab sekolah. Jadi tidak mungkinlah kita membiarkan almarhum pergi begitu saja sebelum orangtuanya menjemput,” katanya.
Sebelumnya, kata Bambang, Yudi sudah berulang kali dimaafkan. Rupanya tidak membuat korban menjadi insyaf malah mengulangi perbuatannya. Karena melanggar aturan pesantren, atas sidang dan mufakat dewan pengajar Yudi dikeluarkan dari pesantren.
Sementara itu, pihak keluarga Yudi belum percaya korban bunuh diri. Siti (46), uwak Yudi mengatakan perlu dilakukan otopsi. “Setahu saya kalau yang namanya bunuh diri itu pasti lidahnya terjulur, tapi kata kawan-kawannya tidak begitu. Begitupun dengan tali ikatan pada lehernya, kata kawan-kawannya begitu ketat mengikat leher. Tapi entahlah, seharusnya dilakukan otopsi,” ujarnya Siti yang kebetulan di RSUPH Adam Malik Medan, karena anaknya sakit dan dirawat di sana. (del/rud)
Tags: medan
Beri komentar
1. Apakah Anda Yakin Pembentukan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Sumut akan Efektif Menekan Potensi Korupsi Pejabat Publik?
- Tidak Yakin (61%, 118 Votes)
- Yakin (34%, 65 Votes)
- Tidak Tahu (5%, 10 Votes)
Total Voters: 193

